Posts

44. Henpecked Male

      Yang lain tidak tahu bagaimana situasi keduanya sekarang.      He Yu berdiri satu meter dari mereka, dan melihat dengan waspada, karena takut Ying Jiao tiba-tiba menjadi marah dan memukul kepalanya.      Wu Weicheng memegang bola basket dengan konyol, melihat ini dan itu, tetapi tidak berani berbicara terlebih dahulu.      Peng Chengcheng seperti biasanya, tidak mengatakan apa-apa.      Sementara Zheng Que, si naif malah tertawa ngakak di belakang, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa yang kalian berdua lakukan? Bermain matryoshka ?" * boneka kayu susun asal Rusia      Jing Ji menurunkan matanya dan tidak melihat ke arah Ying Jiao, telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdebar kencang dan dia hampir tidak bisa berbicara. Ada kekacauan dalam pikirannya, tapi tanpa sadar masih mementingkan Ying Jiao, "Aku, aku tidak akan bergerak ... untuk memblokir, kau cepat atasi."      Mata Ying Jiao stagnan, dia tadinya memikirkan bagaimana berbagai macam respon Jing Ji di

43. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya

    Pukul 07.10, bus eksperimental provinsi tiba di Universitas Tunghai.      Pukul 7.30, Jing Ji memasukkan tas sekolah ke dalam bus sesuai dengan instruksi Guru Zhao, dan berjalan ke ruang ujian dengan hanya membawa perlengkapan yang diperlukan.      Tepat pukul delapan, kualifikasi Olimpiade Matematika Nasional secara resmi dimulai.      Setelah mendapatkan kertas ujian, Jing Ji pertama-tama mengisi identitas, kemudian matanya menyapu dari soal pertama sampai akhir seperti biasa untuk memahami kesulitan ujian.      Skor penuhnya adalah 120 poin, tingkat kesulitannya hanya sedikit lebih tinggi dari ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi Jing Ji kurang beruntung, dia menemukan teori bilangan dalam pertanyaan.      Teori bilangan bisa dikatakan menjadi batu sandungan, banyak kontestan yang akan menyerah begitu saja ketika melihat teori bilangan, memilih menghabiskan waktu untuk soal lainnya.      Dibandingkan dengan wajah suram kontestan lain di ruang pemeriksaan, Jing Ji cukup ten

43. Aku Merasa Tidak Senang

       Dia mencium mulutku.      Ciuman pertamaku dicuri ...      Aku tidak tahu berapa kali pria ini mencuri ... ciuman pertamaku, tapi setidaknya dia harus memberitahuku agar kami bisa menikmatinya bersama, ya kan?      Ini sangat tidak nyaman, karena ini ciuman, bagaimanapun juga dua belah pihak seharusnya saling memandang dengan penuh kasih, berpelukan mesra dan berciuman. Apa ini? Kau bersenang-senang sementara aku harus berpura-pura menjadi aktor, berbaring kaku seperti mayat.      Berpura-pura tidak tahu apa-apa sebenarnya adalah ujian akting.      Hati pahit.      Manis di mulut.      Ji Lang mungkin sangat suka menciumku hingga lupa diri. Dia menggunakan sedikit kekuatan di mulutnya, dan bahkan ingin membuka gigiku dengan lidahnya. Tepat ketika aku berpikir untuk membuka mulut, Ji Lang berhenti. Dia meremas pantatku dengan keras, dengan enggan dan hati-hati menggulingkanku kembali ke atas kasur.      Kembali ke kasur.      Hm, kembali ke kasur.      "..."

42. Maukah kau memberiku surat cinta?

       Sebenarnya, ini pertama kalinya Jing Ji datang ke bioskop.      Posisi yang dipilih oleh Ying Jiao berada di tengah baris ketiga, sudut pandang yang sangat bagus.      Karena bioskop dekat dengan sekolah, kebanyakan yang datang adalah pelajar. Semua duduk dengan tenang dan menonton film tersebut.      Filmnya oke. Abaikan beberapa plot yang tidak sesuai dan soal matematika yang salah di papan tulis. Cukup menarik untuk melihat kehidupan SMA lain yang sama sekali berbeda dari kehidupannya.      Sepertiga dari durasi telah berlalu, dan konflik plot menjadi lebih jelas. Jing Ji menyesap boba teh susu dan menunggu dengan penuh perhatian untuk episode berikutnya.      Dia tidak meletakkan teh susu, tetapi memegangnya untuk menghangatkan tangan.      Dia tidak tahu mengapa Ying Jiao selalu melarangnya minum Cola, tapi dia tidak banyak berpikir. Dia bukan tipe pemilih, minuman apapun sama saja.      Jing Ji menelan boba di mulutnya dan menyesap lagi.      Di layar lebar, plot m

41. Ciuman tidak akan terhindarkan.

      He Yu berdiri tanpa ekspresi dan menggeser kursi kembali ke tempatnya, "Maaf sudah mengganggu."      Peng Chengcheng beralih tengkurap dimeja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mengulurkan tangan untuk menutupi telinganya.      Sementara Zheng Que menatap Ying Jiao dengan kosong selama beberapa detik, lalu mengusap wajahnya, menatap langit dan menghela nafas, "Aku masih terlalu muda ..."      "Kenapa? Ada masalah?" Ying Jiao melirik mereka beberapa kali, "memangnya aku bisa mendapatkan skor ini tanpa Jing Ji?"      He Yu merasa ada yang salah, tapi dia tidak bisa mengatakannya untuk beberapa saat, dengan wajah kusut akhirnya menanggapi, "Ya, itu benar..."      Ying Jiao membalik pulpennya berulang kali, dan mencibir, "makanya..."      "Tidak benar!" He Yu akhirnya menemukan celah logis, dengan bangga menyangkal Ying Jiao, "Apanya yang Wang Fu! Sejak kapan kau menjadi suaminya!"      Dia memuta

40. Nasib baik Jing Ji

    Jing Ji yang tadinya tersentuh seketika berubah tersipu, "Kau, jangan bicara omong kosong!"      Ying Jiao menatapnya dengan heran, "Kapan aku berbicara omong kosong? Sepertinya kau lupa. Kemarilah, kakak akan membantumu mengingat."      "Dimalam yang gelap dan larut, lampu warna-warni berkelap-kelip di dalam bilik karaoke. Di bawah pengawasan lebih dari 20 orang teman sekelas, aku mendorongmu ke sofa---"      Belum menyelesaikan kalimat, buku latihan melayang ke arahnya.      Jing Ji tidak tahan, mengertakkan gigi dan berkata, "Diam!"      Ying Jiao dengan mudah memblokir buku latihan itu, mengangkat alis, "Wah, kau tidak mengakuinya, teman sekelas kecil, apa kau slag ?" * bermain-main dengan perasaan orang lain, tidak bertanggungjawab , tidak mengakui sesuatu .      Jing Ji tersendat, "kita tidak, tidak ciuman!"      "Jangan bercanda," Ying Jiao menjatuhkan buku latihan di atas meja dan berbalik, "Pada s