49. Ditakdirkan untuk kekurangan 1

 

     Sampai dia duduk di jok belakang sepeda Ying Jiao, telinga Jing Ji masih merah.

     Dia menunduk dan bernapas sedikit cepat. Mengapa Ying Jiao berkata bahwa dia merindukannya?

     Apakah ... Apakah itu bercanda?  mungkin. Ying Jiao adalah karakter seperti itu, sering membuat lelucon antar teman-temannya.

     Dia menepuk wajahnya yang panas, berhenti memikirkannya, dan memaksa dirinya untuk mengalihkan perhatiannya ke tempat lain.

     Baik rumah keluarga Jing dan rumah Ying Jiao berada di dekat sekolah, jadi tidak jauh.

     Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, keduanya sampai ke tujuan.

     Ini kali kedua Jing Ji datang ke rumah Ying Jiao. Dibandingkan dengan rasa canggung saat pertama kali, ia lebih malu dan gugup saat ini.

     “Mau minum apa?” Ying Jiao membuka lemari es, “Air atau minuman?”

     "Air."

     Ying Jiao memperhatikan bahwa dia sedikit tidak wajar, berjalan duduk di sofa dengan dua botol air ditangannya, kemudian menepuk posisi di sampingnya, dan tersenyum, "bagaimana kalau santai sebentar sebelum mengerjakan pekerjaan rumah?"

     Jing Ji mengangguk, duduk untuk mengambil air dari Ying Jiao, dan menyesapnya.

     “Apa kau ingin menonton TV?” Ying Jiao mengambil remote control, “Acara apa yang kau suka?”

     Jing Ji tidak terlalu tertarik dengan acara TV, lagipula ... dia mengangkat matanya untuk melihat Ying Jiao, tersenyum. Bagaimana jika tiba-tiba lelaki itu melihat darah lagi di TV?

     Melihat senyum di matanya, Ying Jiao langsung mengerti apa yang dia pikirkan.

     "Kau..." Ying Jiao meraih bahu Jing Ji, menekannya ke dalam pelukan, dan mencubit wajahnya sebagai pembalasan, "Diam-diam menertawakanku?"

     “Tidak.” Jing Ji tersenyum, memiringkan kepalanya untuk menghindar.

     Ying Jiao juga enggan untuk mencubitnya dengan kejam, jadi melepasnya, "kau sangat senang mengetahui kelemahanku?"

     "Tidak," Jing Ji menyusun kalimat dengan baik, takut Ying Jiao salah paham, dan menjelaskan dengan lembut, "Aku tidak menertawakanmu, hanya ..."

     Di bioskop hari itu, wajah lemah Ying Jiao kembali muncul ke ingatan.

     Jing Ji mengatupkan bibirnya dan menekan sudut bibirnya yang berkedut.

     "Hanya..."

     Entah kenapa, wajah pingsan Ying Jiao hanya sedikit lucu.

     Tapi dia tidak bisa mengatakan kata-kata yang tidak menyenangkan. Setelah sekian lama, dia tidak mengatakan hal berikut.

     "Hm," Ying Jiao mengangguk, tidak berniat membuat Jing Ji tersudut, jadi tidak terus bertanya, "Aku mengerti."

     Jing Ji menghela nafas lega. Sebelum bersyukur atas empati Ying Jiao, dia mendengar lelaki itu melanjutkan, "Kau tahu rahasiaku, secara logis, bukankah kau harus mengambil inisiatif untuk mengungkapkan rahasiamu kepadaku?"

     Jing Ji tercengang, "aku tidak punya rahasia."

     Tidak?

     Ying Jiao tidak bisa menahan tawa, teman sekelas kecil ini benar-benar berani mengatakan, bukankah keberadaannya adalah rahasia terbesar?

     Sebenarnya, Ying Jiao ingin bertanya tentang asalnya, mengapa dia bisa sampai di sini, dan ingin bertanya padanya ... Apa suatu hari dia akan pergi dengan tenang seperti ketika dia datang.

     Tapi ketika kata-kata itu akan keluar, dia menelannya lagi.

     Tidak mudah baginya untuk mengembangkan hubungan dengan Jing Ji sampai ke titik seperti sekarang ini, jika dia benar-benar bertanya hari ini, dia takut Jing Ji mungkin akan menjauh darinya.

     Ying Jiao menekan dorongan di dalam hatinya dan mengangkat alis, "Benarkah tidak?"

     Jing Ji menunduk, "Tidak."

     "Itu ..." Ying Jiao sedikit meringkuk, mencondongkan tubuh ke dekatnya, dan berbisik, "bagaimana dengan buah Ping An dari Qiao Anyan?"

     Otak Jing Ji seketika mandet, dan wajahnya memerah.

     Melihat penampilannya, Ying Jiao masih tidak paham.

     Bukan keliru, tapi Jing Ji memang sengaja memasukkan apel itu ke dalam kotak miliknya.

     "Kau ..." Detak jantung Ying Jiao mulai meningkat tanpa sadar, dia menenangkan nafasnya, matanya dengan lamat menatap Jing Ji, "Mengapa kau melakukan itu?"

     Ketika dia ketahuan melakukan hal-hal buruk, rasa malu yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul dari hatinya. Pipi Jing Ji sangat panas sehingga dia hampir berasap. Dia menunduk dan tidak mengatakan apa-apa.

     Kali ini, Ying Jiao tidak melepaskannya, dan bertanya lagi, "Mengapa?"

     "Karena ..." Jing Ji menegang dan terbata, "Aku ... aku membencinya."

     Hanya karena ini?

     Ying Jiao tidak puas dengan jawaban itu, berpikir sejenak, dan berkata lagi, "Kalau begitu, tahukah kau bahwa ada surat cinta yang dia berikan padaku dalam buah Ping An itu?"

     Napas Jing Ji tercekat.

     Surat cinta? Ada surat cinta di sana!

     Buah Ping An itu telah diberikan kepada guru, bagaimana Ying Jiao bisa tahu?

     "Maaf," Jemari Jing Ji gemetar, pikirannya telah menjadi bubur, dia memaksa dirinya untuk tenang, "Apakah guru mencarimu? Ini semua salahku, saat masuk sekolah nanti aku akan menemui guru ..."

*berantakan total

     “Baiklah.” Ying Jiao awalnya ingin mengeluarkan beberapa kalimat, tapi dia tidak berharap untuk membuat Jing Ji takut. Dia mengambil tangan dingin Jing Ji dan menggosoknya, merasa sedikit menyesal, "jangan cemas, itu hanya masalah kecil. Lao Liu memang mencariku, tetapi itu tidak ada hubungannya denganku jadi melepaskanku setelah dia mengerti. Apa kau masih ingat hari ketika kita berdua dipanggil pada waktu yang sama?"

     "Betulkah?"

     “Hm,” Ying Jiao takut Jing Ji akan banyak berpikir jadi dengan sengaja menggoda, “Lao Liu tahu kau adalah istri kecilku, jadi bagaimana bisa dia salah memahami aku ada apa-apa dengan orang lain. Lebih meruntuhkan sepuluh kuil daripada memutuskan pernikahan, kau mengerti?"

     Istri kecil, Jing Jing, "..."

     Istri kecil berdiri dari sofa dengan rasa malu dan memunggungi Ying Jiao, "Tulis, tulis PR."

     Ying Jiao menikmati penampilan malunya, lalu mengangguk, "Oke."

     Keduanya pergi ke ruang belajar bersama.

     Jing Ji pergi dari dengan tergesa-gesa. Semua buku dimasukkan ke dalam tas sekolahnya dengan asal-asal. Saat ini, dia duduk dan melihat buku teks yang berantakan. Dia tidak tahan dan mengeluarkan semua isi tas, mulai menyusun satu per satu.

     Ying Jiao melihat buku Olimpiade dan bertanya, "Hasil kompetisi belum keluar?"

     "Hasil akan diumumkan di Internet pada jam 8 besok pagi." Jing Ji mengeluarkan kertas untuk ditulis dan meletakkannya di atas meja dengan rapi, "Tetapi untuk pengumuman juara harus menunggu beberapa hari lagi."

     Ying Jiao tidak mengerti, "tidak diumumkan bersamaan?"

     Jing Ji menggelengkan kepalanya, "pertama hasil ujian, dan kemudian skor kelulusan minimal untuk provinsi, dan akhirnya daftar pemenang diumumkan."

     Ying Jiao menghela nafas, "Mengapa ini sangat merepotkan?"

     Dia bertanya lagi, "Bagaimana setelah itu?"

     "Setelah itu ..." Jing Ji berhenti sejenak sebelum melanjutkan: "Jika terpilih untuk tim provinsi, dapat berpartisipasi dalam final nasional. Ada sekitar dua ratus orang yang dapat memasuki final setiap tahun. Provinsi kita ... Kata Guru Zhao tahun lalu, hanya satu."

     Ying Jiao terdiam, kompetisi ini terlalu sengit, tapi---

     "Jika tahun ini juga hanya satu orang ..." Ying Jiao dengan terampil membalikkan pena di tangannya dan tertawa ringan, "Pasti itu kau."

     Jing Ji menggelengkan kepalanya, "tunggu sampai hasilnya keluar."

     Benar saja, itu adalah jawaban Jing Ji, meskipun sekarang sudah dianggap sebagai teman terdekatnya, dia masih ragu untuk membuka diri.

     Ying Jiao menghela nafas, membalik kertas soal kimia di tangannya. Santai saja, setidaknya Jing Ji sekarang mau pulang bersamanya.

     Pekerjaan rumah Jing Ji telah ditulis lebih dari setengah kemarin, dia cepat dalam mengerjakan soal, dan telah menyelesaikan semua tugas sebelum pukul enam. Meskipun Ying Jiao juga tidak bersantai, dia masih tidak bisa mengikuti kecepatan Jing Ji, dan masih ada beberapa soal yang harus diselesaikan.

     Keduanya telah menulis selama lebih dari tiga jam. Ying Jiao melihat jam, "Pergi makan dulu, lalu kembali dan lanjutkan?"

     Jing Ji memasukkan buku-bukunya ke dalam tas sekolahsecara berurutan, menolak, "Aku akan pulang."

     Kembali ke rumah? Ying Jiao mencibir, dia menculik Jing Ji hari ini, dan tidak pernah berpikir untuk membiarkannya kembali.

     “Ini baru jam enam, apa yang kau lakukan begitu cepat ketika kembali.” Wajah Ying Jiao sangat serius, tidak tampak plot licik tersembunyinya, “Aku masih punya pertanyaan untuk ditanyakan padamu. Bagaimanapun, besok masih libur, disini lebih lama juga tidak masalah."

     Yang paling dikhawatirkan Jing Ji adalah situasi pembelajaran Ying Jiao. Mendengar apa yang dia katakan, dia mengangguk dan setuju, "Oke, kalau begitu aku akan pulang setelah menyelesaikan PRmu."

     Keduanya mengenakan jaket dan turun ke bawah, Ying Jiao membawa Jing Ji ke toko makanan Jepang yang dia dan He Yu dkk kunjungi kemarin.

     Pemilik toko ini adalah orang Jepang, dan dekorasi serta hidangan di toko ini adalah cita rasa asli Jepang.

     Ying Jiao mengambil menu yang ada dan bertanya, "Apa yang ingin kau makan?"

     Jing Ji membalik dua halaman, harganya luar biasa, dan itu semua adalah hal-hal yang belum pernah dia makan. Dia takut memesan makanan yang salah, menutup menu dan berkata, "Kau yang memesan saja, aku bisa makan apapun."

     "Jangan." Ying Jiao tanpa daya, "Kau sengaja membuatku malu, kau suka makan apa? nasi goreng duri babi?"

     “Aku belum pernah makan makanan Jepang.” Jing Ji tidak merasa malu, dan mengatakan yang sebenarnya, “apa saja yang menurutmu enak.”

     Ujung jari Ying Jiao berhenti, dia menjadi lebih yakin tentang latar belakang keluarga Jing Ji.

     Ekspresi Ying Jiao tetap tidak berubah, dia mengangguk dan berkata, "Tidak apa-apa, aku akan melakukannya."

     Dia tidak menunjuk secara langsung, tetapi pertama kali mengkonfirmasi dengan Jing Ji, "Apa kau pernah makan makanan mentah sebelumnya?"

     "Tidak."

     Jika belum pernah makan makanan mentah, dia tidak bisa makan lebih banyak sekaligus, jika tidak, Ying Jiao takut perut Jing Ji tidak bisa menerima. Dia dengan tegas membalik halaman sashimi dan memesan hotpot. Cuaca dingin, menu ini cocok untuk menghangatkan perut.

     Dia memesan sepiring sate, lidah sapi panggang, yakiniku daging sapi goreng, steak daging sapi salju, okonomiyaki, dan sukiyaki pot.

     Dia hanya memesan seporsi udang manis sebagai raw food, jika Jing Ji tidak ada respon setelah memakannya, berarti tubuhnya menerimanya.

     Setelah mengonfirmasi menu, pelayan pergi, dan kemudian hanya keduanya yang tersisa di kompartemen kecil.

     Privasi toko ini sangat baik, setiap meja dipisahkan satu sama lain. Sebuah lampu bunga sakura yang menonjol tertanam di dinding hitam murni, dan cahayanya bersinar lembut di atas meja, menambahkan sentuhan romantis.

     Ying Jiao menyesap tehnya dengan puas. Penyesalan karena tidak bisa makan enak dengan Jing Ji di Malam Natal akhirnya terbayar hari ini.

     "Pemandangan malam dari sini tidak buruk," Ying Jiao menunjuk ke luar jendela dan berkata, "kau bisa melihat jembatan lintas laut."

     Jing Ji mengikuti pandangannya dan melihat seberkas cahaya panjang, Bima Sakti tergantung di malam hari, menarik dan indah.

     Jing Ji tidak bisa menahan nafas dalam hatinya, benar saja, ada alasan kenapa mahal. Selain hidangannya, lingkungan ini sudah sangat menarik.

     Makanan dihidangkan dengan sangat cepat di restoran ini, segera setelah keduanya mengucapkan beberapa patah kata, sukiyaki pun tersaji. Pelayan membuka api untuk mereka dan meletakkan semangkuk telur mentah di depan mereka berdua, memberi tahu mereka bisa mencelupkannya daging sapi gemuk kedalamnya.

*Sapi gemuk, adalah beef in hot pot, bukan jenis sapi, juga bukan sapi yang disembelih setelah digemukkan, juga bukan sapi gemuk. Itu bagian  yang diiris tipis-tipis dan dimasak dalam panci panas setelah perawatan penghilangan asam.

     Ying Jiao adalah pelanggan tetap, mengangguk dengan santai, mengambil sumpitnya dan mulai mengaduk, tetapi Jing Ji menunjukkan penolakan terhadap makanan untuk pertama kalinya.

     "Ini adalah telur steril," Ying Jiao mengambil irisan sapi dari panci, mencelupkannya ke dalam mangkuk telur dan memasukkannya ke dalam mulutnya, "Tidak ada bau amis."

     Jing Ji menggelengkan kepalanya dengan ekspresi malu, "Aku masih tidak menginginkannya."

     “Tidak apa-apa.” Ying Jiao tahu bahwa Jing Ji tidak berani mencoba karena itu telur mentah. Dia memasukkan irisan daging sapi yang telah matang itu ke dalam cairan telur dan mencelupkannya sedikit, dan menyerahkannya ke mulut Jing Ji, “Cobalah.”

     Jing Ji ragu-ragu, dan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa, aku tidak bisa makan ini."

     "Ini tidak amis," Ying Jiao tertawa, "Kapan Kakak membodohimu?"

     Jing Ji ragu-ragu sejenak, "Kalau begitu aku akan melakukannya sendiri."

     “Makan saja, cepatlah, tanganku dari tadi menahannya.” Melihat wajah Jing Ji sedikit tidak wajar, dia berkata, “hanya kita berdua ada di bilik. Tidak perlu malu, buka mulutmu.”

     Jing Ji membuka mulutnya, menatap mata Ying Jiao yang tersenyum.

     Daging sapi gemuk terasa enak, tanpa sedikit pun bau telur.

     Ying Jiao melihatnya dengan mengangkat alisnya, "Aku tidak berbohong padamu kan?"

     Jing Ji tersenyum malu dan mengangguk.

     Sepertinya setiap kali bersama Ying Jiao, dia akan memiliki pengalaman baru.

     Berat makanan Jepang memang kecil, tetapi Ying Jiao tidak tahan untuk makan lebih banyak. Jing Ji adalah karakter yang tidak bisa melihat sisa makanan. Di akhir makan, keduanya kekenyangan.

     Di dalam lift, Ying Jiao tersenyum, "Tunggu kembali dan timbang beban untuk melihat berapa banyak kati yang sudah kita makan."

     Jing Ji sedang dalam suasana hati yang baik dan berbicara lebih santai, "Apa kau ada timbangan di rumah?"

     "Hm, aku membeli alat ukur berat ultrasonik saat bosan sebelumnya. Saat berdiri, ukuran tinggi dan berat badan bisa ditampilkan."

     Jing Ji tertarik, "Kalau begitu aku harus menimbangnya."

     Keduanya kembali ke rumah dan langsung menuju ke alat ukur.

     Ying Jiao berdiri di atasnya selama beberapa detik, lalu melihat ke angka-angka di layar, dan tersenyum, "Ini dua kati lebih berat, lumayan, makanan ini sangat berharga."

*berat sama dengan 500gram

     Jing Ji menunggu nomor di atas menghilang, dan berdiri, situasi dasarnya segera muncul di layar——

     Tinggi: 179cm

     Berat: 65kg

     Jing Ji memandang nomor teratas dengan heran, "hanya satu sentimeter lagi ke 180."

     Tingginya 178cm sebelumnya, tapi dia tidak menyangka bahwa dunia ini akan naik satu sentimeter!

     Ying Jiao menatap layar selama beberapa detik, lalu tiba-tiba tersenyum.

     Jing Ji bingung dengan senyumnya, "Ada apa?"

     Seperti kata pepatah, penuh dengan kehangatan dan nafsu, Ying Jiao bersandar di treadmill, menatap mata cerah Jing Ji.  Benar-benar tidak bisa menahannya, dengan malas bersiul nakal, mengoceh, "kau ini...... ditakdirkan untuk kekurangan 1 Ah."[]

*Interpretasi: Artinya setelah orang berpakaian hangat dan makan enak, mereka akan memiliki nafsu di hati mereka, yang membuat orang menuruti keinginan ini dan tidak bisa melepaskan diri.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments