48. Aku sangat merindukanmu

    Hati Zheng Que adalah yang paling tebal di antara ketiganya. Di waktu normal, dia terlalu malas untuk peduli bagaimana Ying Jiao pamer keuwuan dengan Jing Ji. Pada saat itu, ia lebih baik menundukkan kepala dan bermain game.

     Tapi hari ini, dia sedikit tidak bahagia, dan ingin mengalihkan perhatikan. Namun baru saja berbicara, tanpa diduga, dia seketika cengo dengan respon Ying Jiao.

     Zheng Que duduk lagi, menggali kentang tumbuk dengan perasaan tertekan dan memasukkannya ke dalam mulut.

     Ying Jiao chat dengan Jing Ji sebentar, merasa segar, mengambil sepotong Okonomiyaki, ingin melanjutkan makan. Namun melihat wajah Zheng Que yang tertekan, dia membuka ponsel lagi, mengirim chat pribadi ke Zheng Que.

     Zheng Que tidak memahaminya untuk beberapa saat, berpikir bahwa Ying Jiao akan pamer keuwuan lagi, dia bertanya dengan waspada, "kakak Jiao, apa artinya ini?"

     “Kode kunci pintu.” Ying Jiao menyesap teh hitam grapefruit panas, dan berkata dengan santai, “kau pernah ke rumahku di Cenyue Bay kan? Itu kode kunci pintu di sana.”

     Tenggorokan Zheng Que tersedak dan matanya hampir merah.

     Orang tuanya memiliki hubungan yang buruk. Terjadi pertengkaran besar selama tiga hari dan satu pertengkaran kecil selama lima hari. Dia ingin pulang malam ini, tetapi dia tidak tahan dengan pertengkaran di rumah dan suara benda jatuh, jadi dia lari lagi.

     Dia tidak ingin tinggal di rumah itu sedetik pun.

     "Kakak Jiao, aku ..." Zheng Que menyedot hidungnya, bibirnya bergerak, ingin mengatakan sesuatu. Tapi mereka terbiasa saling mengejek, jadi kata-kata emosional itu tidak bisa diucapkan sama sekali.

     "Makan." Ying Jiao menyela dan berkata dengan ringan, "Kau bisa tinggal disana selama yang kau inginkan. Jangan khawatir, itu adalah rumah ibuku, tidak ada hubungannya dengan keluarga Ying."

     Tahun lalu, Ying Jiao dan Zheng Que membuat janji untuk bermain di vila di Haoyue Bay. Tanpa diduga, Ying Shengjun juga datang dengan seorang wanita.

     Meskipun Ying Jiao akhirnya menendang Ying Shengjun keluar, namun suasana hatinya sudah hancur.

     “Terima kasih, kakak Jiao.” Zheng Que merapal kata sandi beberapa kali, menyimpannya di dalam hatinya, dan berterima kasih kepada Ying Jiao.

     Ying Jiao mengangguk dan tidak berkata apa-apa.

     Di sisi lain, setelah chat sebentar dengan Ying Jiao, Jing Ji merasa jauh lebih baik.  Dia mengemasi barang-barangnya, seperti terakhir kali, setelah berbaring di tempat tidur dan menulis sebagian besar pekerjaan rumahnya, dia pergi ke kamar mandi untuk mandi dan kemudian pergi tidur.

     Keesokan harinya, ada pertemuan antara kerabat keluarga Jing, dan tempatnya ada di rumah Jing.

     Orang tua ayab Jing sudah lama meninggal, dan tidak ada orang di kampung halamannya, yang datang adalah kerabat dari Zhao Jinfeng.

     Zhao Jinfeng adalah penduduk setempat dan kondisi keluarganya cukup baik, ketika ayah Jing membeli rumah tempat mereka tinggal, keluarga Zhao Jinfeng memberikan uang muka.

     Dia memiliki total tiga saudara perempuan, dan usia mereka tidak jauh berbeda, dan anak-anak yang mereka lahirkan hanya empat tahun di belakang, yang usianya hampir sama.

     Pada jam sembilan pagi, saudara perempuan Zhao Jinfeng datang bersama suami dan anak-anaknya.

     Ayah Jing dan Zhao Jinfeng sudah membeli bahan makanan, dan mereka sibuk di dapur. Tapi ayah Jing tidak lupa memanggil Jing Ji, dan membiarkannya menemani Jing Miao dan sanak saudaranya di ruang tamu.

     Jing Miao memiliki hubungan yang baik dengan beberapa sepupu, dan segera mengobrol dengan mereka, sengaja mengesampingkan Jing Ji.

     Suara bisikan terdengar dari waktu ke sambil melirik Jing Ji dengan ejekan di mata mereka.

     Jing Ji terlalu malas untuk berurusan dengan trik-trik kecil mereka, duduk di ujung sofa dengan tenang meninjau rumus matematika di dalam hatinya.

     Saudari tertua Zhao meliriknya, dan berbisik kepada Saudari kedua Zhao, "Lihat itu, kali ini aku akhirnya melihat penampilannya yang sedikit manusiawi."

     Saudari kedua Zhao mendengus, "¹Bantal bersulam, ²tas jerami, apa gunanya terlihat tampan."

¹Bantal bersulam awalnya berarti bantal indah yang disulam dengan bunga. Ini adalah metafora untuk orang yang memiliki penampilan tetapi tidak memiliki kemampuan intelektual.

²idiot

     Saudari tertua Zhao mengambil buah kiwi dan berkata sambil mengupasnya, "Ya, seperti ibunya. Berbicara tentang ibunya, aku bertemu wanita itu di jalan terakhir kali."

     Saudari ketiga Zhao paling suka bergosip, dan segera bergabung dalam percakapan setelah mendengar ini, "Ada apa?"

     Saudari tertua Zhao menggigit buah kiwi dan berkata, "Kau tahu tidak, wanita sombong itu, ck ck. Mengenakan gaun merah dan membawa Prada. Melewatiku dengan bangga, menggendong putrinya di satu tangan dan suaminya di tangan lainnya. Sepertinya pergi ke toko perhiasan untuk membeli kalung."

     Begitu wanita bergosip, mereka akan lupa keadaan, dan suara mereka tanpa sengaja akan menjadi lebih keras.

     Jing Ji ada di samping, mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.

     Dari dulu sampai sekarang, ini pertama kalinya Jing Ji mendengar tentang ibu tubuh asli.

     “Kehidupannya beruntung sekali sekarang.” Saudari ketiga Zhao berkata dengan nada masam, “mau bagaimana lagi, jika kau terlihat cantik, laki-laki kaya tentu saja akan memilihmu.”

     Saudari kedua Zhao menampakkan wajah dingin, "hanya wajah yang cantik, dia bahkan selingkuh sebelum anaknya berumur satu tahun. Apakah wanita seperti itu adalah manusia?"

     "Dia wanita kejam. Mereka semua berada di kota yang sama dan tidak jauh dari satu sama lain. Dia tidak pernah membiarkan putranya tinggal di rumahnya selama sehari, dia juga tidak membeli apa pun untuk putranya."

     Kakak Ketiga Zhao mendengarkan dengan penuh semangat, dan ketika dia hendak mengatakan sesuatu, dia tiba-tiba bertemu dengan mata Jing Ji.

     Dia terbatuk dengan canggung, dan dengan cepat mematikan topik pembicaraan.

     Pada pukul dua belas, semua makanan di atas meja sudah siap. Para pria duduk bersama mendorong cangkir dan mengganti cangkir, sementara para wanita diam-diam memamerkan suami dan anak mereka.

     Anak-anak dari saudari Zhao sangat giat belajar. Putra saudari tertua Zhao baru saja mengikuti ujian lokal 211 tahun ini. Putra dari saudari kedua dan ketiga berusia sama. Mereka duduk di kelas satu sekolah menengah atas di dua sekolah menengah utama di kota.

     Saudari tertua Zhao mengambil tisu dan menyeka sudut mulutnya, dengan bangga, "Belajarlah dari pengalamanku. Kalian anak-anak yang akan kuliah, jangan mengambil ujian dari kampus biasa. Jika tidak, kalian akan menderita kerugian besar jika mencari pekerjaan di masa depan."

     Dia memandang bolak-balik antara Jing Ji dan Jing Miao, dan berkata, "Nilai Miao Miao bagus, aku berharap untuk terus berkembang agar menjadi seperti kakakmu. Jing Ji ..."

*anaknya saudari tertua

     Dia tersenyum tak bisa dijelaskan, "Bibi tidak meminta terlalu banyak nilai, tapi jangan membuat masalah untuk orang tuamu."

     Zhao Jinfeng tiba-tiba tersedak, lalu memberikan tatapan sinyal pada kakak tertuanya.

     Dia telah melihat nilai Jing Ji yang meningkat, dan itu membuatnya panik.

     Siapa yang mengira bahwa si bajiangan kecil pemalas benar-benar mulai bekerja keras, dan nilainya akan sangat bagus?

     Awalnya, kedua anak dalam keluarga itu harus menindas Jing Ji dalam setiap aspek kehidupan. Tapi sekarang, jangankan Jing Miao, bahkan keponakannya, yang lulus ujian 211, digantung di hadapan Jing Ji.

     Bagaimanapun, hal semacam ini adalah hal yang mengejutkan, Zhao Jinfeng belum sempat memberi tahu saudara perempuannya, dia tidak berharap itu akan terjadi sebaliknya pada saat ini.

     Saudari Zhao tidak mengerti apa yang dia maksud, dan melanjutkan, "kau berbicara sangat sedikit, bagaimana kau akan bekerja ketika lulus dari sekolah menengah? Bahkan menjadi pelayanpun tidak akan layak dengan kepribadianmu yang seperti itu."

     Jing Ji mengangkat mata dan menatapnya, dan mengambil sayap bebek rebus terakhir favorit bibinya itu.

     Saudari tertua Zhao yang mengulurkan sumpit, "..."

     Saudari kedua Zhao juga berkata, "Bibimu benar. Bahkan adikmu masuk 50 besar di ujian terakhir. Setelah itu, Universitas 985 pasti tidak akan meleset. Kau tidak bisa belajar dengan baik, kau pasti tidak akan bisa pergi ke tempat lain ..."

     “Kakak kedua!” Wajah Zhao Jinfeng memerah, dan dia tidak bisa mendengarkan lagi, “Berhenti bicara.”

     “Ada apa, Jinfeng?” Saudari kedua Zhao dengan kalem mengenakan sarung tangan sekali pakai, mengambil tulang besar, dan melihat ke wajah ayah Jing yang tidak wajar, dan berkata, “Kalian terlalu banyak berpikir, mengkhawatirkan ini dan itu, tetapi jika tidak diucapkan secara langsung, anak tidak akan mengerti. Sama seperti Jing Ji, dalam situasinya, dia tidak akan bisa pergi bekerja setelah lulus SMA ..."

     Zhao Jinfeng menarik napas dalam-dalam dan menyela, "Kakak kedua, Jing Ji memiliki nilai yang bagus."

     Setelah mengucapkan itu, mata orang-orang di atas meja langsung menoleh padanya, dengan simpati di mata mereka.

     Sulit bersikap sebagai ibu tiri. Dengan temperamen Zhao Jinfeng, sangat langka bisa mengatakan nilai buruk Jing Ji itu baik.

     Saudari tertua Zhao hanya ingin mengatakan sesuatu, ayah Jing meletakkan sumpitnya dan berkata dengan malu, "Kakak tertua, kakak kedua, sekarang nilai Jing Ji telah meningkat dengan baik."

     Saudari tertua dan kedua Zhao tidak mempercayainya.

     Saudari ketika Zhao bahkan tertawa, dan wajahnya menjadi tegak, "Benarkah? Berapa banyak peningkatannya dalam ujian ini?"

     Melihat kelakuan si bajingan kecil ini, pasti hanya berubah dari yang terakhir menjadi yang kedua dari terbawah, karena siswa yang menempati kedua dari terbawah sebelumnya terkena diare pada hari ujian.

     Orang-orang di atas meja semua memandang ayah Jing.

     Ayah Jing menyeka wajahnya, mencoba membuat wajahnya terlihat natural, dan berkata dengan malu-malu, "Jing Ji peringkat pertama seangkatan pada ujian terakhir kali dan berpartisipasi dalam Liga Matematika Nasional."

     Seketika satu demi satu suara tertahan terdengar di atas meja.

     "Bagaimana ini mungkin?"

     "Per-pertama"

     "Peringkat pertama di seangkatan eksperimen provinsi?"

     Ayah Jing mengangguk dengan kaku.

     Tiga saudara perempuan dari keluarga Zhao berubah menjadi merah seperti bebek dengan leher terjepit, dan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

     Lebih dari itu, junior di keluarga mereka, semua menatap Jing Ji, rahang mereka jatuh ke bawah.

     Di pertengahan acara keluarga, suasana menjadi aneh dan sunyi. Setelah makan siang, ketiga saudara perempuan Zhao tidak tinggal untuk mengobrol, minum teh sore atau sesuatu seperti yang mereka lakukan di masa lalu, mereka semua segera pamit pergi karena ada sesuatu yang salah.

     Wajah ayah Jing dan Zhao Jinfeng bahkan lebih panas, dan Jing Miao merasa tidak nyaman, jadi segera pergi begitu ayah Jing selesai bicara.

     Hanya Jing Ji yang kembali ke kamarnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dan memasukkan pekerjaan rumah yang sudah selesai ke dalam tas sekolahnya. Ketika dia membuka ritsletingnya, tangannya secara tidak sengaja menyentuh ponsel di dalamnya.

     Jing Ji ragu-ragu selama beberapa detik, mengeluarkan ponsel dan membuka antarmuka WeChat, sedikit melamun.

     Tidak tahu apa yang sedang dilakukan Ying Jiao sekarang, apakah dia melakukan pekerjaan rumah dengan baik ...

     Dia sedang berpikir, ponsel berdering tiba-tiba, dan kebetulan itu adalah pesan dari Ying Jiao.

     [ Aku tidak bisa melakukan beberapa pertanyaan. ]

     Jing Ji dengan cepat menjawab——

     [ Pertanyaan yang mana? Kirimkan foto biar aku lihat. ]

     [ Aku lebih suka bertanya secara langsung. ]

     Jing Ji membeku sejenak, memikirkannya dan menjawab——

     [ Kalau begitu kamu simpan dulu. ]

     Masih mengetik 'Aku akan melihatnya setelah masuk sekolah' namun Ying Jiao telah mengirim pesan baru.

     [ Teman sekelas kecil, apa kau mau datang ke rumahku untuk mengerjakan pekerjaan rumah bersama? ]

     Ujung jari Jing Ji berhenti mengetik.

     Pergi kerumah Ying Jiao?

     Untuk beberapa alasan, Jing Ji tiba-tiba merasa sedikit gugup.

     Kursor berkedip di kotak masukan, jari Jing Ji tetap berada di keypad, namun masih tidak bergerak untuk beberapa saat.

     [ Mau datang? ]

     Jing Ji masih ragu-ragu, ayah Jing tiba-tiba membuka pintu dan masuk, "Apa yang kau lakukan bersembunyi dikamar? Jangan hari libur, bagaimana kau tidak keluar dan berbicara denganku dan ibumu sebentar, mengapa kau begitu cuek!"

     Jing Ji memejamkan mata, tidak banyak berpikir sebelum membuat keputusan dan mengetik——

     [ Oke. ]

     [ Turun. ]

     [ Kau turun sekarang. ]

     Jantung Jing Ji berdegup kencang, tangannya bengkok, dan ponselnya jatuh ke tempat tidur dengan keras.

     Ketika ayh Jing melihatnya, dia langsung marah, "Oh, kau masih bermain di ponselmu! Apa kau tidak mendengarku berbicara denganmu?"

     Jing Ji buru-buru memasukkan buku pelajaran ke dalam tas sekolahnya. Untuk pertama kalinya, dia tidak menaruhnya dalam urutan ukuran. Dia berkata kepada ayah Jing, “Aku akan mengerjakan PR dengan teman sekelasku.” Lalu dia bergegas keluar kamar.

     Ayah Jing mengikuti dan menggeram, "Apa kau masih menghubungi teman-teman berandalmu itu? Jangan pergi! Tinggal di rumah!"

     Jing Ji berjongkok untuk mengganti sepatu, "Saya sudah membuat janji dengan teman sekelasku."

     "Janji apa ..." Sebelum ayah Jing bisa menyelesaikan kalimatnya, Jing Ji sudah membuka pintu dan membantingnya.

     Jing Ji menekan tas sekolah di punggungnya, dan berlari ke bawah dengan cepat. Semakin dekat dia ke bawah, semakin cepat detak jantungnya.

     Berdiri di depan pintu keluar gedung unit, Jing Ji menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya.

     Ying Jiao sedang duduk malas di atas sepeda. Mendengar gerakan itu, dia mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Jing Ji, "Gerakanmu cukup cepat."

     Angin meniup jaket birunya yang terbuka, kemeja putih di dalamnya dekat dengan tubuhnya, dan garis pinggangnya yang tipis bisa terlihat samar-samar.

     Di depannya, ada lubang hitam di koridor gedung unit. Di belakangnya, matahari bersinar cerah.

     "Kau ..." Tenggorokan Jing Ji menegang, dan akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya, "Bagaimana kau tahu rumahku ada di sini?"

     “Terakhir kali kau menunjukkan buku latihan yang kau beli di Taobao, aku melihatnya.” Ying Jiao menyimpan ponselnya, berjalan mendekat, dan secara alami mengulurkan tangan untuk mengambil tas sekolah Jing Ji dan menggantungkannya di stang.

*Situs belanja online China

     Jing Ji bertanya lagi, "Apa kau di sini karena terjadi sesuatu?"

     “Tidak ada apa-apa.” Ying Jiao tersenyum dan menepuk jok belakang sepeda, “ayo naik.”

     Jing Ji tidak bergerak, masih menatapnya dengan lamat.

     "Baiklah." Ying Jiao tersenyum dan berkompromi, "kau bisa melihatnya, ada sesuatu yang terjadi."

     “Ada apa?” ​​Jing Ji langsung menjadi gugup. Pasti bukan hal yang sepele membuat Ying Jiao datang ke rumahnya secara khusus saat liburan kan? Apakah itu terkait dengan keluarganya?

     Di luar berangin, Ying Jiao menarik ritsleting jaket Jing Ji, mengusapkan ibu jarinya dengan lembut ke dagu, dan menatap matanya, berbisik, "Aku sangat merindukanmu, aku tidak bisa menahannya."[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments