46. Kapan aku tidak bahagia ketika bersamamu?

 

Berkat Ying Jiao, buah damaj yang diterima Jing Ji telah disingkirkan, hanya menyisakan buah pemberiannya.

     Ying Jiao sangat puas, ketika bosan mengerjakan soal, dia sesekali melirik ke laci meja Jing Ji, dan memiliki motivasi untuk melanjutkan.

     Setelah makan siang, Jing Ji sedang mengevaluasi Olimpiade Matematika di kursinya. Sementara Ying Jiao mengupas sepotong permen kelapa dan memasukkannya ke dalam mulut, Guru Liu tiba-tiba masuk.

     Kelas yang berisik seketika terdiam. He Yu dan Zheng Que yang sedang melihat ponsel mereka sangat ketakutan hingga memasukkan ponsel ke dalam lengan baju, diam-diam berdoa agar Guru Liu tidak memperhatikan.

     Untungnya, Guru Liu sama sekali tidak memperhatikan. Begitu dia memasuki pintu, dia langsung pergi ke Ying Jiao dan mengetuk mejanya dengan wajah serius, "Ikut denganku."

     Ying Jiao melempar bungkus permen ke tempat sampah dan berdiri, "Oh, oke."

     Guru Liu tidak membawanya ke kantor, tetapi pergi ke sudut di ujung koridor, melihat sekeliling untuk tidak melihat siapa pun, dan mengeluarkan kertas surat biru muda dari saku celananya.

     Ying Jiao mengangkat alisnya ketika dia melihat ini, "Apa kau juga punya anak perempuan?"

     Guru Liu tidak mengerti apa yang dia maksud, mengerutkan kening, "Apa?"

     Ying Jiao menunjuk ke kertas surat di tangannya dan tersenyum, "Bukankah kau di sini untuk mengirimkan surat cinta putrimu padaku?"

     Guru Liu, "……"

     Seketika emosi, "memangnya seluruh dunia hanya menyukaimu?"

     Ying Jiao memain-mainkan permen kelapa di mulutnya dengan ujung lidahnya, dan bersandar malas ke ambang jendela yang menonjol, "Ya."

     Guru Liu tidak tahan dengan tingkahnya, beralih berkata dengan dingin, "aku tidak punya waktu untuk menanggapi omong kosongmu! Ada hal lain yang harus dibahas."

     "Katakan."

     Guru Liu menyerahkan kertas surat dan berkata dengan wajah hitam, "Lihat ini."

     “Apa ini?” ​​Ying Jiao membuka surat itu dan membacanya sampai sepuluh baris.

     Ying Jiao mandet, ini adalah surat cinta, tepatnya surat cinta untuknya.

     “Ada apa antara kau dengan Qiao Anyan?” Guru Liu menepuk ambang jendela, mencoba meninggikan suaranya tetapi takut didengar, menekan emosi dan berbisik, “Surat cinta itu dikirimkan kepadaku!”

     Buah Ping An yang diberikan Qiao Anyan kepada Ying Jiao dipindahkan Jing Ji kedalam kotak buah miliknya.

     Ying Jiao dan Zheng Que pergi ke kantor untuk mengirimkan buah damai, tentu saja yang pertama adalah Guru Liu. Hasilnya, buah Ping An yang berada dipaling atas, bersama dengan surat cinta di dalamnya, diberikan kepada Guru Liu.

     “Apa urusanku?” Ying Jiao mencibir, “lagipula bukan aku yang menulis padanya.”

     Ying Jiao meremas kertas surat itu menjadi bola dengan kejam, dan memasukkannya ke dalam saku celana, "Bagaimana bisa sampai di sana?"

     “Ini dari buah Ping An yang kau berikan padaku!” Guru Liu tanpa sadar menjawab dan bertanya lagi, “Apa kalian berdua benar-benar tidak ada apa-apa?”

     Guru Liu mengajar selama bertahun-tahun untuk mencegah anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta awal. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan seorang anak laki-laki dan menulis surat cinta untuk seorang anak laki-laki.

     Dia merenung sepanjang pagi dan meminum dua botol besar teh krisan. Dia bahkan memikirkan hasil terburuknya. Mencoba mencadi solusi di mesin pencari di telepon selulernya dengan berbagai pertanyaan, `Apa yang harus aku lakukan jika seorang siswa diketahui gay?',' Bisakah itu diubah?', 'Haruskah siswa gay ditegur keras atau dibujuk dengan lembut?'

     Setelah melihat apa yang muncul di konten yang relevan, seorang siswa bunuh diri dengan melompat dari gedung, memotong pergelangan tangannya, atau meminum obat tidur karena perbedaan orientasi seksual. Guru Liu ketakutan karena keringat dingin, dan segera menghilangkan gagasan untuk segera memberi tahu guru kelas 11, dan memutuskan untuk berbicara dengan Ying Jiao terlebih dahulu.

     “Apa yang harus ada apa-apa?” Ying Jiao mengejek, “Jika bukan karena Jing Ji, aku bahkan tidak tahu siapa dia.”

     Karena Qiao Anyan bertengkar dengan Jing Ji, Ying Jiao secara khusus meminta Zheng Que untuk mencari tahu rupa Qiao Anyan.  Saat itulah, Ying Jiao menemukan bahwa pria yang menumpahkan air padanya setelah ujian tengah semester dan kemudian bersikeras ingin mencuci pakaiannya adalah Qiao Anyan.

     Dan sekarang...

     Ying Jiao menunduk dan mencibir, jadi terakhir kali dia memercikkan air, apakah ini dengan sengaja?

     "Tidak apa-apa, tidak apa-apa," Guru Liu menghela napas lega dan memijat pelipisnya, "Ini ... kau anggap saja tidak tahu tentang ini, dan jangan mempublikasikannya, oke?"

     "Aku memiliki perilaku yang tepat."

*Bisa menjaga rahasia

     Ying Jiao menjawab, dan hendak bertanya apakah sudah tidak ada keperluan lagi, tetapi tiba-tiba menemukan sesuatu yang salah.

     Dia mengangkat matanya dan menatap Guru Liu, "Kau bilang surat cinta ini dimasukkan ke dalam paket buah Ping An?"

     "Ya," kata Guru Liu tampak bodoh, "aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan setiap hari ..."

     Ying Jiao tiba-tiba tersenyum.

     Kotak berisi buah damai itu kiriman dari orang lain untuk Jing Ji, bagaimana bisa yang satu itu bisa tercampur disana?

     Apa Jing Ji tidak sengaja salah memasukkannya? Bagaimanapun, keduanya berada di meja yang sama, dan itu normal jika hal keliru terjadi.

     Tapi masih ada kemungkinan yang sangat kecil ...

     Memikirkan kemungkinan itu, Ying Jiao mengangkat bibirnya perlahan.

     Ketika Guru Liu melihatnya tiba-tiba tersenyum, bel alarm berbunyi di dalam hatinya. Bisakah dia tidak memahami karakter muridnya?

     Guru Liu takut Ying Jiao akan membangkitkan rasa ingin tahunya. Dan mencoba dengan anak laki-laki, jadi tidak bisa menahan diri untuk bertanya lagi, "Kau dan Qiao Anyan benar-benar tidak ada apa-apa kan? Juga tidak akan pernah masa depan?"

     “Apa yang kau pikirkan?” Ying Jiao tanpa daya.

     Entah bagaimana, dia secara naluri memiliki rasa jijik dan benci yang tak bisa dijelaskan terhadap Qiao Anyan. Mendengar pertanyaan itu, dan berkata dengan kejam, "ada banyak lubang di dikepalanya seperti terpapar radiasi nuklir. Melihatnya sekilas saja sudah membuatku merasa terkontaminasi. Jangan suruh aku menerimanya."

     Guru Liu, "………………"

     Guru Liu sekarang benar-benar percaya pada Ying Jiao.

     Dia melambaikan tangannya agar Ying Jiao kembali, dan berkata, "Kau bantu aku panggil Jing Ji."

     Ying Jiao mengerutkan kening, "Apa hubungannya dengan dia?"

     "Bukan tentang ini, tapi kompetisi."

     “Oke.” Ying Jiao mengangguk dan setuju, “Kalau begitu aku akan kembali dulu.”

     Batu besar di hati Guru Liu benar-benar jatuh ke tanah, dan dia memutuskan untuk mengangkat masalah ini dengan bijaksana kepada guru kelas 11 nanti. Dia hanya bisa melakukan ini. Adapun bagaimana tanggapan guru kelas 11 nanti, itu bukan keputusannya.

     Guru Liu sangat santai sehingga dia kehilangan kewaspadaannya. Dia tidak memikirkannya dengan hati-hati bahwa jika pria yang benar-benar lurus mengetahui dikirim surat cinta dari sesama pria, tentu saja reaksinya tidak akan seperti Ying Jiao.

     Setelah beberapa saat, Jing Ji datang.

     "Guru, kau mencariku? "

     "Ya," Guru Liu melihat ke arah Jing Ji, dan nadanya jauh lebih lembut dibandingkan saat dia menghadapi Ying Jiao, "Guru ingin memberitahumu sesuatu."

     Dia mempertimbangkan nadanya, "Jangan menjadi bersemangat atau marah setelah kau mendengarkan."

     Hati Jing Ji tegang, dan dia tanpa sadar bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang terjadi di pihak keluarga Jing. Dia mengangguk perlahan, "Katakan."

     "Mulai tahun depan, Kementerian Pendidikan akan sepenuhnya membatalkan kebijakan bonus poin Olimpiade ujian masuk perguruan tinggi." Guru Liu marah dan menyesal, "Diperkirakan berita akan dikirim besok, tapi kau jangan patah semangat. Terus lakukan yang terbaik. Saat ini, tidak ada yang bisa kita lakukan tentang hal itu."

     Setelah mendapat kabar dari kepala sekolah di pagi hari, Guru Liu bingung selama beberapa menit. Pembatalan poin bonus ujian masuk perguruan tinggi telah diperdebatkan selama bertahun-tahun sebelumnya, dan tidak ada hasil. Tidak ada yang mengira itu akan diterapkan saat ini.

     Jika ini tubuh asli, itu tidak ada pengaruhnya dengan Guru Liu. Tapi sekarang berbeda. Kelas mereka ada Jing Ji. Anak ini mengunyah buku olimpiade matematika untuk berkompetisi. Bukankah dia akan patah semangat setelah mendengar kabar tersebut?

     Guru Liu juga marah di dalam hatinya, tetapi di depan Jing Ji, dia harus bertindak lebih tenang, agar tidak memperburuk emosi negatif Jing Ji.

     Namun, diluar ekspektasi Guru Liu, Jing Ji hanya tertegun, dan kemudian berkata, “Oke, aku mengerti.” Tidak ada lagi.

     Tidak ada gangguan, tidak ada kesedihan, atau bahkan keterkejutan, hanya kalimat sederhana yang membuat Guru Liu semakin khawatir.

     Jing Ji memang selalu tidak ekspresif. Dipermukan tampak cukup tenang, namun nyatanya tidak ada yang tahu bagaimana membalikkan laut dan sungai (idiom) didalam hatinya.

*Dalam kekacauan yang spektakuler
  
      Terus saja menahan diri, bagaimana jika tidak bisa lagi menahannya dan menjadi hancur?

     Guru Liu khawatir, "kau tidak perlu bersembunyi di depan guru, guru tahu suasana hatimu. Jika ada yang kau pikirkan, beri tahu guru, guru bisa menjadi pendengar setiamu."

     “Terima kasih, aku baik-baik saja.” Jing Ji tersenyum pada Guru Liu, merasa hangat.

     Ia mempelajari Olimpiade Matematika semata-mata untuk kepentingan, poin bonus hanyalah lapisan gula di kue, tidak ada pun tidak akan membuatnya sedih.

     Guru Liu bertanya dengan ragu, "kau benar-benar tidak peduli?"

     Jing Ji mengangguk dan berkata dengan tegas, "aku bisa mendapatkan nilai bagus tanpa bonus 20 poin itu."

     Guru Liu terkejut, dan kemudian menepuk bahu Jing Ji dua kali, "Anak baik! Kau pantas menjadi muridku."

°°°


     Ketika Jing Ji kembali ke ruang kelas, bel istirahat makan siang belum berbunyi.  Namun, Ying Jiao dengan inisiatif sendiri sudah mengerjakan soal topik ujian, dengan senyum tipis di wajahnya, terlihat dalam suasana hati yang baik.

     Melihatnya kembali, Ying Jiao meletakkan penanya dan bertanya, "Mengapa Lao Liu mencarimu?"

     “Jelaskan padaku tentang pembatalan bonus matematika untuk ujian masuk perguruan tinggi tahunan.” Jing Ji duduk dan menjawab dengan tenang.

     “Apa?” Suasana hati yang baik dari Ying Jiao tiba-tiba menghilang. Dia melihat ke arah Jing Ji, sedikit sedih dalam kata-katanya, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

     “Tidak apa-apa, aku tidak bergantung pada bonus 20 poin itu.” Jing Ji membuka buku Olimpiade Matematika dan tersenyum, “Jika ada, itu lebih baik, jika tidak pun tidak masalah.”

     Ying Jiao melihat lebih dekat ke wajah Jing Ji dan lega setelah melihat bahwa Jing Ji benar-benar tidak terlalu peduli.

     Dia saja yang meremehkan Jing Ji.

     Meskipun Jing Ji selalu tersipu ketika digoda olehnya, namun hatinya tidak pernah lemah, sebaliknya, dia sangat kuat, dan dia mampu dengan tenang menahan tekanan apapun.

     Tidak ada poin tambahan, apa pentingnya?

     Teman sekelas kecilnya bahkan tidak membutuhkan poin tambahan saat menjadi peringkat satu.

     Namun, setelah dialihkan oleh masalah ini, Ying Jiao yang tadinya berniat membahas buah Ping An harus mengurungkan niatnya.

     Dia hanya bisa menyimpannya dan bertanya lagi ketika ada kesempatan.

°°°


     Keesokan harinya, ujian masuk perguruan tinggi membatalkan kebijakan penambahan poin ke olimpiade, dan itu benar-benar menyebabkan keributan di sekolah.

     Banyak siswa di kelas kompetisi yang tidak dapat menerimanya. Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun, Kementerian Pendidikan mengatakan itu dibatalkan dengan tiba-tiba. Siapa yang tahan?

     Ya, siswa kelas olimpiade itu bagus, mungkin bisa menghindari ujian masuk perguruan tinggi dan langsung mendaftar ke perguruan tinggi dan universitas secara independen. Tetapi untuk mencapai level ini, mustahil hanya memenangkan juara pertama provinsi, setidaknya bisa mencapai final dan memenangkan tiga besar tingkat nasional.

     Tetapi setiap tahun, hampir 1.000 orang memenangkan tempat pertama provinsi di Olimpiade Matematika Nasional. Di antara seribu orang ini, hanya sekitar dua ratus yang bisa masuk final.

     Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa jembatan satu papan dilintasi oleh ribuan pasukan.

     Terlebih lagi, Provinsi Donghai juga merupakan provinsi yang lemah dalam kompetisi. Setiap tahun, orang yang bisa masuk final hanya hitungan jari.

     Tiba-tiba, semua jenis postingan diskusi muncul di forum, dan semua orang sedang tidak berminat untuk belajar. Orang-orang di kelas kompetisi yang lebih meledak, dan beberapa siswa senior yang telah memenangkan penghargaan dan bersiap untuk menambah poin bahkan langsung tumbang.

     Murid-muridnya emosional, dan guru tidak dapat menahannya.

     Sekolah tidak dapat menahannya. Itu menghentikan belajar mandiri malam kedua untuk jangka waktu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah hanya satu sesi, para siswa dibiarkan bebas.

     "Teman sekelas kecil," Ying Jiao memandang Jing Ji yang mengemasi barang-barang di tas sekolahnya, dan bertanya, "Bagaimana kau menghabiskan malam ini?"

     Jing Ji berpikir sejenak dan berkata, "Makan buah Ping An lalu pergi tidur."

     Ying Jiao tertawa, "Sesederhana itu?"

     Jing Ji bertanya dengan curiga, "Kalau tidak?"

     Ying Jiao berdiri, membungkuk ke arah telinganya dan berbisik, "kakak akan membawamu keluar jalan-jalan, kau mau pergi?"

     Memang benar dia ingin menghabiskan Malam Natal bersama Jing Ji, tetapi juga benar ingin Jing Ji bersantai.

     Jing Ji terlalu giat. Wajar saja jika pelajaran normal dan perlombaan matematika. Tetapi setelah waktu kelas, dia harus membantu siswa lain dalam mengulik soal. Bahkan liburan pada dasarnya dihabiskan untuk belajar sendiri karena berbagai alasan.

     Kebetulan ujian masuk perguruan tinggi membatalkan kompetisi untuk menambah poin, dan Ying Jiao ingin membuatnya bahagia.

     “Keluar?” Jing Ji tercengang, lalu menggelengkan kepalanya, “Sekolah tidak akan membiarkan siswa asrama keluar pada malam hari.”

     "Tidak apa-apa," Ying Jiao mengambil tas sekolah di tangannya dan mengusap kepalanya dengan lembut, "Hari ini hanya ada satu sesi untuk belajar mandiri, dan sekarang masih kurang dari jam 9:30. Ayo kita keluar jalan-jalan dan makan jajanan lalu tepat waktu kembali sebelum pukul sebelas."

     Jing Ji tidak ingin melakukan apa pun yang melanggar peraturan sekolah.

     Ying Jiao terus membujuk, "Hari ini adalah Malam Natal, mungkin ada lampu berwarna-warni di jalan, yang cukup bagus."

     Jing Ji ragu-ragu sejenak, "Kau ... apakah kau benar-benar ingin jalan-jalan?"

     Ying Jiao memainkan korek api di tangannya dan tertawa, "Tidak juga."

     Jing Ji bertanya lagi, "Lalu bagaimana kita keluar?"

     “Paman penjaga pintu mengenalku dengan baik, kau lupa?” Ying Jiao menariknya dari kursi dan tersenyum, “Sapa dia saja.”

     Jing Ji masih ragu-ragu dan konfirmasi lagi, "Bisakah kita kembali sebelum jam sebelas?"

     “Jangan khawatir.” Ying Jiao mengulurkan tangannya dan mematikan lampu di ruang kelas, dan membuka pintu, “Kapan kakak menipumu?”

     Libur yang sangat jarang pada sesi kedua belajar mandiri, bahkan masih ada bayang-bayang pembatalan bonus ujian masuk perguruan tinggi pun para siswa tetap sangat bersemangat.

     Pada saat ini, seluruh lantai tiga kosong, para siswa sudah menghilang, dan hanya keduanya yang tersisa di seluruh koridor.

     Di bawah cahaya kuning yang hangat, Jing Ji mendongak dan bertemu dengan mata tersenyum Ying Jiao.

     Jantungnya berdebar kencang dan ujung jarinya melengkung tak terkendali.

     Hari ini adalah Malam Natal, Ying Jiao ingin jalan-jalan ...

     Di kedua dunia, Ying Jiao adalah orang terbaik baginya. Dia tidak memiliki imbalan untuk membalas Ying Jiao jadi hanya bisa mengikuti keinginannya.

     Jika ketahuan, dia bisa mengatakan ingin pergi. Untungnya, dia mendapat juara pertama dalam ujian bulanan, dan juga memiliki jimat.

     "Pergi." Jing Ji melihat ke bawah, "Kita tidak akan pergi jauh."

     Ying Jiao memandangi bulu matanya yang tebal dan ramping, hatinya melembut, "Oke, terserah kau."

     Jing Ji merasa sedikit tidak nyaman melakukan hal yang tidak biasa untuk pertama kalinya, ketika dia tiba di bilik keamanan, tanpa sadar dia mendekat ke sisi Ying Jiao.

     Di bilik keamanan, itu memang paman penjaga pintu terakhir kali, Ying Jiao mengucapkan beberapa patah kata sebentar dan paman penjaga melepaskannya.

     “Jangan terlambat, kembalilah lebih awal.” Paman yang entah dari mana bisa mendapatkan mawar yang setengah mekar, menaruhnya di vas sambil berkata, “Aku akan mengganti shift jam setengah sepuluh.”

     Ying Jiao segera mengerti maksudnya dan tersenyum, "Begitu, terima kasih Paman."

     Keduanya berjalan keluar dari sekolah dengan lancar.

     Mereka hanya punya waktu satu setengah jam dan hanya bisa berkeliling sekolah.

     Ying Jiao melihat-lihat waktu, lalu berpaling ke Jing Ji dan berkata, "Pergi ke game town? Apa kau suka bermain?"

     Jing Ji berhenti sebentar, lalu mengangguk sedikit, "Aku menyukainya."

     Ying Jiao memperhatikannya dan mengira dia tidak menyukainya, dan berkata, "menyembunyikannya dariku? Jika kau tidak suka, kita akan mencari tempat lain."

     "Tidak." Jing Ji tidak ingin dia salah paham, jadi dia mengatakan yang sebenarnya, "aku belum pernah kesana."

     Nafas Ying Jiao tercekat, bagaimana mungkin Jing Ji tidak pernah ke game town ...

     Apakah kondisi keluarganya buruk didunia sebelumnya?

     Ying Jiao tidak berani memikirkan masa lalu, dan khawatir dia kecewa dengan kesalahannya. Dia perlahan menghembuskan napas dan berkata sambil tersenyum, "Kalau begitu kita akan pergi ke game town."

     "Oke."

     Ada toko serba ada di dekat eksperimen provinsi, dan lantai lima adalah bioskop plus game town kecil.

     Hari ini adalah Malam Natal, dan sebagian besar pasangan pergi kencan di tempat yang lebih romantis, tetapi tidak banyak orang di tempat-tempat seperti ini.

     Ying Jiao menukar koin permainan, dan memperkenalkan Jing Ji jenis permainan saat keduanya berjalan, "Ada melawan tikus tanah dan penangkap boneka di sana, di sebelahnya ada mobil balap, dan bagian depannya adalah menembak. Mana yang ingin kau mainkan?"

     Mengingat Jing Ji tidak pernah bermain, Ying Jiao menyarankan, "Mengapa kita tidak melawan tikus tanah dulu?"

     Jing Ji menggelengkan kepalanya, "Ayo bermain menembak."

     Ying Jiao bersiul, "Tidak buruk, teman sekelas kecil, karaktermu cukup liar, ayo kita menembak."

     Sederet mesin tembak kosong. Ying Jiao memilih permainan dua pemain, mengisi beberapa koin permainan, mengganti empat senjata, dan mengajari Jing Ji cara bermain.

     Kemampuan belajar Jing Ji sangat kuat, ditambah dengan kesederhanaan permainan ini, dia bisa memulainya dengan cepat.

     Pria, cinta petualangan di tulang mereka.  Di masa lalu, Jing Ji telah menekan karakternya, tetapi menembak sesuatu seperti ini dapat sangat merangsang antusias.

     Jing Ji memegang pistol, menatap layar, dan menembak dari waktu ke waktu, tampaknya sudah terbawa suasana.

     AC sentral dihidupkan di mal, dan suhunya sedang. Gerakan Jing Ji agak berat, dan tanpa sadar keringat merembes di dahinya membuat rambut hitamnya sedikit basah. Wajahnya sedikit memerah karena kegembiraan, sisi remajanya terlihat lebih menonjol dari biasanya.

     Dia membunuh zombie dengan satu tembakan, menoleh dan menatap Ying Jiao dengan mata cerah.

     "Cakep." Ying Jiao mengikutinya dengan cermat, menyesuaikan sudut, dan menjatuhkan zombie dengan keras, "Lanjutkan."

     Meski keduanya belum pernah bermain bersama, namun seakan saling memiliki pemahaman. Satu orang menjaga satu arah, dan menembak zombie yang datang terus menerus.

     Setelah sebuah pertandingan berakhir, secara tidak terduga merek mendapatkan skor yang tinggi.

     “Wow, itu bagus.” Ying Jiao menepuk telapak tangan Jing Ji dan menjabatnya sejenak, “Tentu saja, pasangan resmi. Secara naluri saling memahami. Mainkan lagi?”

     Kegembiraan Jing Ji belum pudar, ujung jarinya sedikit gemetar, dan dia secara selektif mengabaikan kalimat Ying Jiao sebelumnya dan mengangguk.

     Di akhir ronde kedua, skor kedua pemain tersebut sedikit lebih tinggi dari ronde pertama. Jing Ji melihat ke layar dengan menyesal, "aku hampir akan membunuh zombie, jika tidak skornya akan lebih tinggi."

     Ying Jiao memandangnya terobsesi dengan mencetak skor dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melepaskan diri, dia memberikan segelas jus jeruk dan berkata, "Minumlah."

     Setelah Jing Ji sadar, dia merasa sedikit haus. Dia menatap Ying Jiao dengan malu-malu, "Kapan kau membelinya?"

     "Aku baru saja memberi tahu pelayan di sana ketika aku pergi ke toilet. Dia membawanya ke sini." Ying Jiao menyesap minumannya, dengan sengaja mengerutkan kening, "Apa ini, kenapa sangat asam?"

     Jing Ji berkata dengan heran, "aku tidak merasa asam, ini cukup enak."

     "Tidak mungkin." Ying Jiao berkata dengan serius, "Atau rasa minumanmu berbeda dari milikku."

     “Mungkin tidak?” Jing Ji bingung, “Semuanya dibuat oleh pabrik yang sama.”

     “Ini pasti berbeda.” Ying Jiao mengulurkan tangan dan mengambil jus jeruk Jing Ji, “Jika tidak percaya, coba aku mencicipi jus jerukmu.”

     Dia menundukkan kepalanya dan menyesap, "Benar saja, minumanmu lebih manis dariku."

     “Benarkah?” Jing Ji tidak mempercayainya, dia tidak banyak berpikir, menyesap gelas Ying Jiao, dan merasakannya dengan hati-hati, “Hampir sama.”

     "Menurutku ini jauh berbeda," Ying Jiao menyeringai sambil menggigit sedotan Jing Ji, "Atau ada sesuatu yang istimewa di mulutmu, biarkan aku mencobanya?"

     Jing Ji tercengang, lalu wajahnya memerah. Dia membuang muka karena malu dan berkata tidak masuk akal, "Ayo main, main game."

     Ying Jiao mengambil keuntungan verbal dan merasa puas. Tanpa memperdebatkan tentang kejadian itu, dia mengangkat senjatanya dan berkata, "Ayo, biarkan kakak menunjukkan keahlian menembak."

     Mereka berdua bermain sampai lebih dari pukul sepuluh, dan mal hampir tutup sebelum mereka pergi.

     Ying Jiao membeli seporsi besar oden di toko swalayan 24 jam di dekatnya, membawa di tangannya, dan bertanya kepada Jing Ji, "Kau mau yang mana?"

*oden, masakan Jepang yang dibuat dengan telur rebus, kue ikan olahan, lobak daikon, tahu dll dalam kaldu berbahan dasar rumput laut.

     "Tahu."

     Ying Jiao mengambil potongan tahu di tangannya dan menghindarinya saat Jing Ji mengulurkan tangan untuk mengambilnya.

     Jing Ji menatapnya dengan bingung, "Ada apa?"

     Menjelang Tahun Baru, pepohonan beringin di kedua sisi jalan ditutupi dengan lentera merah kecil, bersinar terang, menghantam wajah tampan Ying Jiao, membuatnya terlihat lebih malas dan sembrono.

     Dia melihat ke samping pada Jing Ji, dan berkata dengan malas, "Panggil aku Kakak dulu baru akan aku berikan."

     Jing Ji memelototinya, tidak berbicara, dan terus bergerak maju.

     Ying Jiao berjalan dengan dua kaki besar yang panjang, mengikutinya satu langkah di belakang, sambil merenung, "Kau tidak ingin memanggilku kakak, apa kau ingin memanggil yang lain? Ya, bagaimanapun, kau adalah istri kecilku, kau harus memanggil---"

     Jing Ji menoleh tiba-tiba, mengertakkan gigi dan menyela, "Siapa yang, yang ..."

     Cukup lama dia tidak mengucapkan kata berikutnya.

     Ying Jiao melihat pipinya yang memerah dan tertawa kecil, menebak oden tahu hampir tidak panas, dan membawanya ke bibir Jing Ji, "Makan."

     Jing Ji secara refleks membuka mulutnya, baru kemudian dia menyadari bahwa postur ini tampak seperti Ying Jiao sedang menyuapinya makan. Dia dengan cepat menghindar, dan mengambil alib untuk memegangnya sendiri.

     Tidak ada orang di sekitar lingkungn sekolah pada malam hari, kecuali kendaraan dan kadang-kadang hanya ada dua pejalan kaki.

     Di depan toko-toko kecil di kedua sisi jalan, kebanyakan terdapat pohon natal yang tinggi atau pendek. Lampu warna-warni berputar-putar mengelilingi pohon, bersinar dengan berbagai warna di malam hari.

     Ying Jiao dan Jing Ji makan oden sambil berjalan ke sekolah. Sesekali, keduanya mengobrol.

     "Apa kau ingin pentol sapi atau ikan?"

     "Pentol sapi."

     "Kau lebih suka pentol sapi, tidak suka ikan karena bau amis?"

     "Tidak juga."

     Satu demi satu, pohon-pohon Natal ditinggalkan oleh mereka, semakin kecil dan semakin kecil hingga menghilang dari pandangan, seolah-olah mereka telah bergandengan tangan untuk Natal tahun demi tahun.

     Ketika keduanya tiba ke gerbang sekolah, waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh. Sangat disayangkan bahwa penjaga pintu telah berganti shift, dan sekarang penjaga di bilik keamanan adalah seorang veteran yang dikenal sebagai pembunuh yang membolos.

     “Apa yang harus dilakukan?” Jing Ji sedikit gugup, “Akankah dia mengizinkan kita masuk?”

     Ying Jiao menatap wajah cemasnya dan tersenyum, "Berani melompati tembok?"

     Jing Ji tercengang, "Melompati tembok?"

     “Ingat di mana kita mengambil takeaway?" Ying Jiao membawanya ke arah barat, "Dari sana kita bisa melompat ke sekolah."

     Jing Ji tidak pernah melakukan sesuatu yang begitu tidak biasa sejak dia masih kecil. Dia tidak terlalu percaya diri dan berkata, "aku ... akan mencoba."

     Berdiri di luar tembok yang jelas lebih pendek daripada disisi lain, Ying Jiao menunduk dan bertanya pada Jing Ji, "Apa kau takut?"

     Bukan takut karena takut, tetapi menjadi beban psikologis tidak mampu melewati tembok.

     Jing Ji mengerutkan bibir bawahnya dan menutup matanya, "Ayo lompat."

     Ying Jiao melihatnya seakan menghadapi kematian dengan menenangkan hati, tersenyum, "aku akan melompat dulu. Kau lihat bagaimana aku melompat. Jika kau berpikir tidak bisa melakukannya, jangan agresif, kau mengerti?"

     Jing Ji mengangguk.

     Dalam beberapa tahun terakhir, Ying Jiao dibawa oleh kakeknya untuk melakukan pelatihan khusus, jangn tembok rendah, bahkan jika melipatgandakan tingginya, dia bisa melewatinya.

     Dia menggenggam tonjolan di dinding, menggunakan tangan dan kakinya bersamaan, dan dengan cepat berbalik ke ujung yang lain dengan fleksibel.

     “Apa kau melihat apa yang aku lakukan tadi?” Ying Jiao berkata di seberang tembok, "Apa kau ingin aku memberikan demonstrasi lagi?”

     “Tidak perlu.” Jing Ji tidak ingin dia melompat dua kali, jadi menolak.

     Dia mengingat tindakan yang baru saja dilakukan Ying Jiao, mencoba yang terbaik untuk menemukan fokus, dan naik dengan aneh.

     “Pintar.” Ying Jiao mengangkat mata untuk menatapnya, tanpa ragu-ragu memuji, "Lompat ke bawah.”

     Sudut mata dan alisnya dipenuhi dengan senyuman, dan wajah tampannya terlihat sangat lembut saat itu, membuat Jing Ji sedikit linglung.

     Tidak ada yang pernah peduli padanya seperti ini, dan tidak ada yang mencoba membawanya menikmati malam perayaan ...

     Melihat Jing Ji tidak kunjung turun, Ying Jiao pikir dia merasa takut. Setelah mengambil dua langkah ke depan, Ying Jiao berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, kakak jamin kau tidak akan jatuh, lompat saja."

     Jing Ji sadar, mengangguk, dan melompat dari dinding dengan satu tangan.

     Dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Ketika dia mendarat, dia sedikit tidak stabil, dan terhuyung-huyung, menabrak Ying Jiao.

     Ying Jiao yang menahan diri sepanjang malam, dan sekarang dia tidak bisa menahannya. Dia mengulurkan tangan untuk memeluk Jing Ji dan bertanya dengan lembut di telinganya, "Apa kau bahagia hari ini?"

     "Bahagia."

     "Kenapa kau bahagia?"

     "Melakukan banyak hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, menghabiskan malam Natal, menembakkan senjata, melompati tembok ... Tidak biasa tapi menyenangkan."

     Ying Jiao tertawa, dan menyentuh kepalanya.

     Teman sekelas kecil ini sangat mudah merasa puas.

     Jing Ji tidak mendorongnya, dia ragu-ragu selama beberapa detik, lalu bertanya kepada Ying Jiao, "Kalau begitu, apa kau bahagia hari ini?"

     "Bahagia."

     Ying Jiao menurunkan matanya, tanpa sepengetahuan Jing Ji, dia mencium rambutnya dengan lembut dan tersenyum "Kapan aku tidak bahagia ketika bersamamu?"[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments