44. Henpecked Male

 

    Yang lain tidak tahu bagaimana situasi keduanya sekarang.

     He Yu berdiri satu meter dari mereka, dan melihat dengan waspada, karena takut Ying Jiao tiba-tiba menjadi marah dan memukul kepalanya.

     Wu Weicheng memegang bola basket dengan konyol, melihat ini dan itu, tetapi tidak berani berbicara terlebih dahulu.

     Peng Chengcheng seperti biasanya, tidak mengatakan apa-apa.

     Sementara Zheng Que, si naif malah tertawa ngakak di belakang, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa yang kalian berdua lakukan? Bermain matryoshka?"

*boneka kayu susun asal Rusia

     Jing Ji menurunkan matanya dan tidak melihat ke arah Ying Jiao, telapak tangannya berkeringat, jantungnya berdebar kencang dan dia hampir tidak bisa berbicara. Ada kekacauan dalam pikirannya, tapi tanpa sadar masih mementingkan Ying Jiao, "Aku, aku tidak akan bergerak ... untuk memblokir, kau cepat atasi."

     Mata Ying Jiao stagnan, dia tadinya memikirkan bagaimana berbagai macam respon Jing Ji di dalam hatinya.

     Apa mungkin malu, marah, atau bahkan jijik, tetapi dia tidak menyangka Jing Ji justru mengatakan hal seperti itu.

     Jing Ji sensitif, dan wajahnya sudah sangat tidak wajar saat ini, Ying Jiao mengira dia akan langsung bangkit dan ditendang olehnya, tetapi nyatanya ...

     Ying Jiao memejamkan mata, menetralkan deru detak jantungnya, tidak membiarkan dirinya terus kehilangan kesabaran.

     Bagaimana mungkin ada orang yang begitu pengertian dan baik seperti Jing Ji di dunia ini, membuatnya hari demi hari semakin menyukai Jing Ji.

     Dia menatap telinga merah Jing Ji dan menghela nafas di dalam hatinya.

     Si bodoh kecil ini, jika dia tidak bergerak, itu malah semakin tidak bisa mengatasi sesuatu dibawah sana.

     "Maaf," Ying Jiao mengusap kepalanya, "Aku membuatmu malu."

     "... Tidak," Jing Ji berbaring di dadanya, merasakan naik turun napas Ying Jiao yang tidak tenang, "Kau juga tidak sengaja."

     Ying Jiao menarik napas, tanpa daya: "Kau jangan menggodaku lagi."

     Ini benar-benar akan terbakar jika lebih lama lagi.

     “Hah?” Jing Ji bingung.

     “Bukan apa-apa.” Ying Jiao mencoba menguasai diri, mengangkat matanya untuk melihat ke arah He Yu, dan berkata dengan suara serak, “Lao He, lempar jaket seragam sekolahku.”

     “Oh oh oh.” He Yu secara sadar tanpa bertanya mengapa, dengan cepat melempar seragam sekolahnya.

     “Kau bangun dulu, jangan khawatir, tidak ada yang tahu.” Ying Jiao melepaskan pinggang Jing Ji dan merendahkan suaranya, “apa kau terluka?”

     “Tidak.” Jing Ji melihat sekeliling dengan tenang, dan bangkit sedikit demi sedikit dalam postur yang canggung untuk menutupi Ying Jiao.

     Ying Jiao merasa masam dan lembut di hati oleh gerakan lambat dan perhatiannya, ketika Jing Ji sudah bangkit, dia segera menutupi seragam sekolah di antara kedua kaki dan duduk dengan kaki lurus.

     Saat ini, Ying Jiao merasakan sakit yang luar biasa di siku dan punggungnya.

     Takut Jing Ji merasa bersalah, dia mencoba bersikap dengan tenang, menunggu reaksi menghilang dengan hampa.

     “Kakak Jiao, kau baik-baik saja?” Melihat dia cukup lama tidak bangun, He Yu menjadi cemas, “Apa kakimu sakit? Atau pinggangmu tidak berfungsi?”

     Siapa itu kakak Jiao-nya? Pisau ditikam ke lehernya pun tidak akan membuatnya takut. Sejak kapan dia tidak bisa bangun hanya karena jatuh?

     Tapi sepertinya kali ini benar-benar serius.

     "Mau aku membantumu berdiri?" Kata He Yu, mengulurkan tangannya.

     Ying Jiao meliriknya, menepis tangannya, dan mencibir, "Terima kasih, pinggangku baik-baik saja."

     Setelah dia selesai berbicara, dia menundukkan kepala dan mengikat lengan jaket seragam sekolah dibelakang agar bagian yang menggantung bisa menghalangi bagian depan.

     Ying Jiao berdiri, menarik Jing Ji dan berjalan pergi, "Kalian bermain saja, kami akan beristirahat sebentar."

     "Oh." He Yu mengangguk dengan tatapan kosong, kemudian menoleh ke Zheng Que, "Apa terjadi sesuatu yang tidak kita ketahui barusan?"

     Zheng Que menggelengkan kepalanya dengan bingung, "aku tidak tahu."

     “Lupakan, terserah mereka saja.” He Yu mengambil bola basket dari Wu Weicheng dan memantulkan dua kali di tanah, “Ayo, ayo lanjutkan.”

     Ditepi lapangan, reaksi fisiologis Ying Jiao telah mereda, dia melepas seragam sekolahnya dan hendak memakainya, namun Jing Ji menghentikannya.

     "Kenapa?"

     Jing Ji mengambil jaket seragam dari tangannya, "Tutup matamu."

     “Apa yang kau lakukan?” Ying Jiao meliriknya, kemudian menyeringai, “Ingin mengambil kesempatan untuk menciumku secara diam-diam?”

     Dia menundukkan kepalanya, mendekat di depan wajah Jing Ji, "melihat bagaimana hubungan kita berdua. Jika ingin berciuman, kau tidak perlu diam-diam, aku ..."

     Jing Ji mengulurkan tangannya untuk menutupi mulutnya, dan berkata dengan tenang, "Biarkan aku melihat lukamu."

     Ying Jiao tercengang, reflek menutup matanya dengan patuh.

     Jing Ji dengan hati-hati mendorong lengan sweternya.

     Ketika jatuh ke tanah, Ying Jiao menopang dengan sikunya. Kedua sikunya telah patah saat ini, dan mengeluarkan darah tanpa henti. Untungnya, dia mengenakan sweter hitam hari ini, jika tidak, dia akan pingsan setelah melihat darah.

     Siku saja sudah seperti ini, bagaimana dengan badannya?

     Tiba-tiba Jing Ji tidak berani untuk melihat lebih jauh lagi.

     "Tidak apa-apa," Ying Jiao tahu bagaimana cederanya. Setelah cukup lama tidak mendapat respon, dia menebak Jing Jing pasti merasa bersalah, dan berkata dengan acuh tak acuh, "sebagai pria, itu hal wajar jika terluka."

     Dia segera menurunkan lengan sweternya dan membuka matanya, "Oke, jangan dilihat. Cedera kecil ini akan sembuh dalam beberapa hari."

     Tiba-tiba Jing Ji berdiri, mengambil tas sekolahnya yang tergantung di palang horizontal, "Ayo pergi ke klinik sekolah."

     Ying Jiao tersenyum, "Tidak perlu, ini hanya masalah kecil."

     Bel sekolah berbunyi.

     Ying Jiao melanjutkan, "Kau dengar, kelas selesai, kau akan ketinggalan kelas lagi. Setelah ini adalah kelas matematika."

     Jing Ji tidak berbicara, tetapi menatapnya tanpa bergerak.

     Ketika seperti ini, Jing Ji terlihat sedikit dingin, dan orang-orang yang tidak mengenalnya secara tidak sadar akan mengambil jalan memutar jika berpapasan. Namun didepan Ying Jiao, dia mudah tersipu, lembut dan menggemaskan, membuatnya ingin memeluk dan menciumnya.

     Siapa yang bisa tahan?

     Dalam beberapa detik, Ying Jiao berkompromi, "Oke, aku mendengarkanmu."

     Setelah menerima jawabannya, Jing Ji mengangkat kakinya dan berjalan ke depan, begitu dia melangkah, tas sekolahnya ditangkap oleh Ying Jiao dari belakang.

     "Aku akan membawanya."

     Jing Ji melihat tangannya dengan ragu-ragu.

     “Ini hanya jatuh, aku tidak selemah itu.” Ying Jiao mengambil alih tas sekolah Jing Ji dan menggantung ke bahunya, menggerakkan tangannya dengan kuat, dan tersenyum, “Jangankan membawa tas sekolah, menggendongmu sampai ke klinik sekolah pun aku bisa. Mau mencoba?"

     Jing Ji berhenti, detak jantung yang baru saja tenang mulai berdebar kencang.

     Dia mengabaikan Ying Jiao, mempercepat langkahnya menuju klinik sekolah.

     Ying Jiao melihat punggungnya yang tergesa-gesa, tersenyum, dan mengejarnya.

°°°


     Akibat bentuk tubuh He Yu, saat Ying Jiao memeluk Jing Ji dan jatuh, benturannya sangat kuat, dan terluka parah.

     Selain siku, juga terdapat goresan besar di punggung, dan darah di sekitarnya terlihat sangat menakutkan.

     "Ini bukan luka kecil," dokter sekolah membersihkan lukanya dengan bola kapas yodium, dia menghela nafas, "benturan keras ini hampir membuat dagingmu hancur."

     Ying Jiao melihat Jing Ji yang menurunkan mata, tidak berkata apa-apa, dia mengerutkan kening, dan sedikit marah pada pembicaraan dokter sekolah.

     "Ini bukan masalah besar," tekan Ying Jiao sambil menarik Jing Ji duduk di sebelahnya, tidak membiarkan dia melihat luka di punggungnya, dan dengan sengaja mengubah topik pembicaraan, "Aku belum sempat bertanya, apakah ujiannya berjalan dengan baik?"

     "Sangat baik," jawab Jing Ji sederhana, mengambil kain katun medis di sebelahnya dan berkata, "Tutup matamu."

     Ying Jiao tertawa, "Tidak perlu dibalut ..."

     “Aku mau melakukannya.” Jing Ji bersikeras.

     Ying Jiao tinggal sendiri, bagaimana jika dia pingsan karena tidak sengaja melihat lukanya?

     Tak berdaya, Ying Jiao hanya bisa memejamkan mata dan membiarkannya Jing Ji membalut sikunya.

     Luka dipunggung belum selesai ditangani, bel sekolah kembali berbunyi.

     “Aku akan meminta He Yu untuk izin.” Ying Jiao mengangkat ponsel, bersamaan dengan pesan dari He Yu muncul di layar, menanyakan di mana mereka berdua dan mengapa belum kembali.

     "Ini kebetulan." Ying Jiao membuka kunci ponsel dan mengklik grup WeChat——

     [ Minta ijin pada Lao Liu untuk kami berdua. Kami akan kembali dalam sepuluh menit. ]

     Disisi lain, tangan He Yu gemetar menerima pesan itu, merasa sangat bersalah.

     Apa situasi Ying Jiao sangat serius?

     Orang yang tidak pernah mau masuk klinik sekolah itu kini pergi kesana ...

     Peng Chengcheng [ Apa yang terjadi? ]

     He Jia Songong [ Apa kau baik-baik saja kakak Jiao? ]

     Di ruang klinik sekolah, Jing Ji dengan hati-hati membantu Ying Jiao merapikan kembali lengan sweter yang dia gulung, kemudian mengikuti kata dokter sekolah untuk mengambil obat dilaci meja.

     Ying Jiao melihat Jing Ji menyibukkan dirinya untuknya, dalam suasana hati yang baik, dan berpikir bahwa meja kecil dan bantet disamping tempat tidur di ruang klinik sekolah itu sangat uwu.

     Dia melirik ponsel, pesan digrup terus merentet di layar.

     Ying Jiao sedang tidak ingin memanipulasi mereka, tetapi He Yu dan lainnya terlalu kepo, dan masih terus bertanya.

     Ying Jiao menghela napas dan mengetik, jangan heran dia melakukannya.

     [ Tidak serius, hanya luka ringan. ]

     He Yu seketika berlinang air mata.

     Walaupun Kakak Jiao ini suka membuat emosi, tapi dia begitu tulus pada adik-adiknya.

     Luka ringan? Dipikir He Yu masih belum mengenalnya apa? Seseorang seperti Ying Jiao yang pernah mengalami demam tinggi 39 derajat bahkan menolak untuk pergi ke rumah sakit, apakah dia mau masuk begitu saja ke klinik sekolah hanya karena luka ringan?

     Kakak Jiao pasti tidak ingin membuatnya cemas, jadi berkata begitu dengan sengaja.

     He Yu menyedot hidungnya dan hendak menjawab namun pesan baru dari Ying Jiao datang——

     [ Jing Ji khawatir, dan bersikeras membawaku kesini. ]

     [ Tidak ada pilihan, aku hanya bisa mengikuti kemauannya. ]

     [ Aku sarankan, kalian jangan berkencan dimasa depan. ]

     [ Ketika berkencan, kalian mendapatkan kebahagiaan sekaligus juga takut kehilangan. ]

     He Yu, Zheng Que, Peng Chengcheng, "..."

     He Yu mengertakkan gigi, ingin menusuk dirinya sendiri sedetik yang lalu.

     Apanya yang tergerak! Mengapa Lao Hooligan ini tidak mati saja sekarang?!

     Kepalanya pusing karena amarah, dan bersiap meletakkan ponsel, namun pesan baru datang lagi dari Ying Jiao——

     [ Tapi untungnya, ketika datang ke klinik sekolah kali ini, aku mengetahui bahwa aku sakit. ]

     [ Penyakit yang tidak akan pernah sembuh. ]

     He Yu sudah bisa melihat maksudnya, haha, tidak membalas.

*Haha, tertawa tapi sering mengungkapkan sarkasme dan penghinaan sambil menyangkal pihak lain.

     Penyakit apa? Sakit gila?

     Namun, Zheng Que ingat makan atau tidak, jadi dia segera melanjutkan percakapan.

*orang yang tidak belajar dari masa lalu., dalam artian merendahkan.

     Bukan Zheng Que [ Kakak Jiao, apa kau baik-baik saja? sakit apa? ]

     Ying Jiao hanya menunggu kata-kata ini dan segera menjawab——

     [ Henpecked Male. ]

*Suami yang terlalu dikontrol istri. Suami takut istri.

     He Yu, Zheng Que, dan Peng Chengcheng, "..."

     He Yu berbalik marah pada Zheng Que, "Siapa yang menyuruhmu lancang!"

     Zheng Que yang naif, menggelengkan kepalanya dan mendesah, "aku tidak begitu lancang."

     Peng Chengcheng terbatuk keras di samping dan menendang bangku He Yu, tapi He Yu dan Zheng Que yang dimanipulasi oleh Ying Jiao sekarang sedikit mengigau. Tidak menyadari situasi sama sekali. He Yu mengumpat, "Ying Jiao si anjing ini!"

     Suara laki-laki yang seperti tersenyum namun bukan senyuman (idiom) terdengar di telinganya, "Apa yang terjadi dengan Ying Jiao?"

     He Yu tidak menoleh ke belakang dan berkata, "Dia dan Jing Ji pergi ke klinik sekolah!"

     Suara laki-laki itu bertanya lagi, "Apa yang terjadi padanya?"

     He Yu berteriak tidak sabar, "Henpecked Male! Henpecked Male! Dia bilang dia menderita Henpecked Male! Kau terus saja bertanya ..."

     He Yu mengangkat matanya, suaranya berhenti tiba-tiba, dia berdiri dengan gemetar, "Gu-- guru Liu ... ?"[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments