43. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya

    Pukul 07.10, bus eksperimental provinsi tiba di Universitas Tunghai.

     Pukul 7.30, Jing Ji memasukkan tas sekolah ke dalam bus sesuai dengan instruksi Guru Zhao, dan berjalan ke ruang ujian dengan hanya membawa perlengkapan yang diperlukan.

     Tepat pukul delapan, kualifikasi Olimpiade Matematika Nasional secara resmi dimulai.

     Setelah mendapatkan kertas ujian, Jing Ji pertama-tama mengisi identitas, kemudian matanya menyapu dari soal pertama sampai akhir seperti biasa untuk memahami kesulitan ujian.

     Skor penuhnya adalah 120 poin, tingkat kesulitannya hanya sedikit lebih tinggi dari ujian masuk perguruan tinggi. Tetapi Jing Ji kurang beruntung, dia menemukan teori bilangan dalam pertanyaan.

     Teori bilangan bisa dikatakan menjadi batu sandungan, banyak kontestan yang akan menyerah begitu saja ketika melihat teori bilangan, memilih menghabiskan waktu untuk soal lainnya.

     Dibandingkan dengan wajah suram kontestan lain di ruang pemeriksaan, Jing Ji cukup tenang. Teori bilangan juga sulit baginya, tetapi bukan berarti tidak dapat diatasi.

     Dia menatap jam dinding, mengambil pena dan mulai menjawab pertanyaan itu.  Selama cukup waktu yang disisihkan, dia merasa bisa menyelesaikan pertanyaan ini.

     Waktu untuk lomba matematika sangat ketat, walaupun jumlah soal sepertinya tidak banyak, namun karena sulitnya soal tersebut maka waktu yang dihabiskan juga sama.

     Jing Ji telah mencari banyak topik kompetisi sebelumnya, dan sudah mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap pertanyaan. Dia dengan tenang menyelesaikan mengisi kekosongan, melewatkan teori bilangan, dan mengerjakan soal lain terlebih dahulu.

     Pada percobaan pertama, jawabannya lancar, dan pada akhirnya ia menuliskan jawaban tersebut dengan sempurna pada teori bilangan.

     Namun dalam kualifikasi, yang terpenting bukanlah uji coba pertama, melainkan uji coba kedua dengan total 180 poin.

     Meski banyak nilai pada tes kedua, sebenarnya hanya ada empat soal.

     Tiap soal mempunyai kesulitan dengan waktu yang ketat, tanpa kekuatan yang cukup, sama sekali tidak mungkin untuk mengharapkan keberuntungan besar.

     Sebelum datang, Guru Zhao sudah memberi tahu mereka. Nilai setiap soal pada tes kedua sangat tinggi, sehingga selama langkah-langkah pemecahan masalah benar, mereka akan diberikan poin, mereka wajib menulis proses pemecahan masalah secara lengkap.

     Jing Ji mengingat kalimat ini, berpikir sejenak, mengambil pena dan hendak menghitung rumus, tiba-tiba pelipisnya sakit tanpa peringatan.

     Perasaan ini terlalu familiar. Saat Jing Ji mengetahuinya, dia langsung mengerti bahwa ini adalah target jahat dari protagonis di dalam buku.

     Tapi sebelumnya, jelas bahwa dia hanya akan terluka saat melihat Qiao Anyan, kenapa ini terjadi sekarang?

     Rumus soal yang baru saja dipikirkan Jing Ji di benaknya menghilang seketika, ujung jarinya bergetar, dia menutup mata, dan mencoba menenangkan dirinya.

     Rasa sakit ini tidak berarti apa-apa, dia sering mendapat lebih menyakitkan. Waktu kecil dia sering dianiaya pengurus panti, tetapi dia berusaha keras bertahan di panti asuhan dan menjadi kebanggaan panti asuhan.

     Tidak ada yang tidak bisa dia lalui.

     Dalam delapan belas tahun hidupnya, Jing Ji telah mengalami pengabaian, kekerasan, ejekan, dan hal suram lainnya yang belum pernah dilalui orang normal, sehingga dia telah memahami hal ini sejak usia yang sangat muda--

     Matamu akan menipumu, telingamu akan menipumu. Pengalamanmu akan menipumi, imajinasimu akan menipumu, tetapi matematika tidak akan menipumu.

     Selama bertahun-tahun, Jing Ji telah bekerja keras untuk belajar dan mencoba yang terbaik untuk mengubah takdirnya, Keyakinan ini tidak berubah bahkan di dunia lain.

     Matematika adalah rekan terdekatnya.

     Beri dia harapan, beri dia kepercayaan diri, beri dia masa depan yang cerah, hibur dia dan temani dia saat dia depresi dan panik.

     Semua emosi yang tidak bisa dia ceritakan dapat dilepaskan dengan matematika.

     Tidak ada yang bisa main-mainnya selama dia tengah mengerjakan soal matematikanya, bahkan protagonis dunia sekalipun.

     Jing Ji menghela napas perlahan, menahan sakit kepala yang menyakitkan, dan mulai membaca pertanyaan lagi.

     Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah semacam ini untuk saat ini, tetapi pada hari hasil ujian kemarin, perhatian orang lain dapat menghilangkan sakit kepalanya, dan itu memberinya ide.

     Selama dia terus berada dipuncak dan mendapatkan pengakuan lebih banyak orang, akankah suatu hari pengekangan Qiao Anyan padanya akan gagal?

     Jing Ji menggambar pola geometris padat di atas kertas dengan susah payah, menenangkan diri dan terus memikirkan ide-idenya.

     Ketika pikirannya secara bertahap terkonsentrasi, dampak sakit kepalanya menjadi semakin berkurang, dan pada akhirnya, itu bahkan dapat diabaikan.

     Pada saat yang sama, di ruang kelas 11, Qiao Anyan melihat antarmuka game seluler dengan tidak percaya dan bergumam, "Apa, apa yang terjadi?"

     Wajah teman satu mejanya juga penuh dengan keterkejutan, "Kenapa kau sangat tidak beruntung hari ini? Jelas, kita bisa menarik hadiah setiap saat sebelumnya. Kita bahkan mendapat begitu banyak emas, tetapi kenapa kali ini tidak mendapatkan apa-apa?! Apa yang terjadi?!"

     “Entahlah.” Qiao Anyan mengerutkan kening tidak sabar.

     Setelah terlahir kembali, dia merasa semakin tidak bahagia.

     Jari emasnya selalu gagal dari waktu ke waktu, bahkan keberuntungan yang menyertainya juga hilang sekarang.

     Dia melempar ponsel ke laci meja dengan kesal, dan merosot dengan ekspresi suram.

     Apa yang salah?

     Di tempat-tempat yang tidak terlihat dengan mata telanjang, keberuntungan yang telah dirampas secara paksa oleh Qiao Anyan dari orang lain untuk membalikkan kehidupannya di kehidupan sebelumnya menghilang sedikit demi sedikit.

°°°


     Di Universitas Tunghai, segera setelah Jing Ji menulis nomor terakhir di lembar jawaban, bel serah terima berbunyi.

     Kedua pengawas langsung berdiri, dengan ekspresi serius, menyuruh mereka berhenti menjawab pertanyaan, dan mengumpulkan kertas secepat mungkin.

     Jing Ji mengemasi barang-barangnya, mengikuti kerumunan keluar dari kelas, dan datang ke tempat berkumpul SMA percobaan provinsi.

     Zhou Chao telah tiba lebih dulu. Dia sangat frustrasi. "Sudah berakhir, aku sudah tamat! Pertanyaannya terlalu sulit, kurasa aku bahkan tidak bisa lolos kualifikasi!"

     "Tidak." Jing Ji menghiburnya, "Aku juga merasa sulit, jangan terlalu banyak berpikir."

     "Wish." Zhou Chao menghela nafas, dan saat berjalan di dalam bus, berkata, "Ibuku sudah memperingakanku sebelumnya, mengatakan ini adalah terakhir kalinya dia mengizinkanku berpartisipasi dalam sebuah kompetisi."

*Wish disini, kondisi mental positif bagi seseorang dapat terus melangkah maju, berpikir bahwa ia masih dapat mencapai tujuan.

     “Ah?” Jing Ji tidak begitu mengerti.

     "Dia memintaku untuk fokus pada buku teks di tahun ketiga nanti," Zhou Chao menemukan tempat untuk duduk, menoleh dan berkata, "ibuku khawatir kompetisi akan menunda ujian masuk perguruan tinggiku."

     Memang, jika tidak bisa mendapatkan hasil di kedua kompetisi, lebih baik menyerah dan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

     Jing Ji tidak bisa membujuknya kali ini, jadi dia hanya bisa diam.

     Disisi lain, Zhou Chao memang mengharap tanggapan Jing Ji. Dia melirik Guru Zhao yang dikelilingi oleh beberapa siswa, dan berbisik di telinga Jing Ji, “aku takut Guru Zhao akan datang dan bertanya bagaimana hasil ujianku. Aku akan berpura-pura tidur dulu, jangan panggil aku."

     Jing Ji tersenyum dan mengangguk, "Oke."

     Jing Ji juga sedikit lelah, pertarungan melawan keinginan dunia menghabiskan seluruh energinya.

     Dia hampir tidak bersemangat, mengeluarkan ponselnya dan melihatnya. Ada banyak pesan WeChat yang datang dari Ying Jiao.

     [ Tugas fisika selesai *Gambar* ]

     [ Menunggumu kembali. ]

     [ Aku bawakan kau dessert kelapa. Aku menaruhnya di laci mejamu. ]

     [ Aku tidak tidur siang, sekarang mengerjakan beberapa soal matematika. ]

     [ Apa kau sudah menyelesaikan ujian? ]

     [ Hubungi kakak jika sudah selesai ujian. ]

     Senyum muncul di wajah Jing Ji tanpa sadar, mengetik, membalas pesan ke Ying Jiao——

     [ Sudah selesai ujian, sekarang otw kembali ke sekolah. ]

     Melihat mata Guru Zhao yang terus mengawasi dari waktu ke waktu, dia dengan cepat meletakkan ponselnya kembali di tas sekolah, menopang tangannya dan tertidur dengan bersandar di sandaran kursi dengan nyaman.

     “Kau benar-benar bisa tidur.” Zhou Chao mendorongnya hingga bangun, menunjuk ke luar dan berkata, “ayo pergi makan ke kafetaria kedua.”

     "Kafetaria Kedua?"

     "Ya." Zhou Chao mengangguk, "Guru Zhao mengatakan bahwa sekolah akan mengurus makan siang dan kantin kedua dikontrak secara pribadi, jadi kita bisa pergi ke sana."

     “Oke.” Jing Ji merasa jauh lebih nyaman setelah tidur siang. Dia membawa tas sekolahnya dan pergi ke kantin kedua bersama Zhou Chao.

     Tahu bahwa mereka semua adalah siswa yang dihargai oleh pimpinan sekolah, Stas di kantin kedua tidak berani menjadi monster, dan makanan yang mereka sajikan sangat normal.

     Jing Ji mendapat seporsi nasi babi goreng kembang kol, plus dua buah jeruk.

     Rasanya memang tidak seperti makanan kantin biasanya, tetapi porsinya lebih dari cukup. Jing Ji makan sepiring penuh sampai habis, dan kemudian merasa hidup lagi.

     "Ayo kembali," Zhou Chao meletakkan sendok hampir bersamaan dengan Jing Ji. Dia menyeka mulutnya dengan punggung tangan dan berdiri dengan ekspresi menghadapi kematian dengan ketenangan hati (idiom), "Kita harus menghadapi apa yang harus dihadapi¹."

¹menjadi optimis tentang apa yang akan terjadi, membiarkan arus mengalir dan menjadi pandai menerima.

     Keduanya membawa piring-piring itu ke tempat daur ulang dan berjalan ke ruang kelas bersama.

     Saat melewati lapangan basket, tiba-tiba teriakan terdengar tak jauh dari situ, "Jing Ji!"

     Ying Jiao melempar bola basket di tangan dan berjalan ke arahnya, "sudah kembali?"

     Jing Ji memandang orang-orang yang dikenalnya di lapangan basket, dan kemudian menyadari bahwa sekarang waktunya kelas pendidikan jasmani.

     Zhou Chao tidak bisa menahan rasa iri, sangat disayangkan bahwa kelas pendidikan jasmani di kelas luar biasa mereka telah dibatalkan sejak lama, dan mereka hanya dapat kembali ke kelas dengan ekspresi pahit.

     Ying Jiao mengambil alih tas sekolah Jing Ji secara alami dan bertanya kepadanya, "Apa kau sudah makan?"

     "Ya." Jing Ji mengangguk, "Aku makan di kafetaria kedua."

     "Kafetaria Kedua? Kenapa makan disana?" Ying Jiao mengerutkan kening dan menyentuh perut Jing Ji, "Apa kau kenyang?"

     “Aku kenyang.” Jing Ji mundur, berdiri di dekat rak bola basket, menyapa beberapa orang di Kelas 7, dan berbalik lanjut mengobrol dengannya, “Sekolah mengurus makanan, dan hanya bisa makan di kafetaria kedua, rasanya cukup enak."

     Cukup enak?

     Ying Jiao tidak bisa menahan tawa, seolah dia belum pernah makan makanan di kantin kedua.

     Dia mengulurkan tangannya dan mengusap rambut Jing Ji, dan berkata dengan lembut, "cukup enak karena di disediakan makan?"

     Jing Ji tertawa, melihat tali tas sekolahnya dibahu Ying Jiao miring ke samping, dia mengulurkan tangan untuk mengaturnya lebih rapi, "Aku tidak pilih-pilih makanan."

     Hati Ying Jiao dilembutkan oleh tawanya. Baru saja hendak mengatakan sesuatu, Zheng Que tiba-tiba berteriak dari belakang dengan suara nyaring, "Kakak Jiao, kau masih mau main lagi tidak? Ayo dengan Jing Ji!"

     Mata Jing Ji langsung berbinar.

     Tidak ada anak laki-laki yang tidak menyukai jenis olahraga yang hangat seperti ini. Di dunia sebelumnya, dia terkadang sendirian di lapangan basket.  Setelah datang ke sini, secara tidak sengaja, dia bahkan belum menyentuh bola basket.

     Ying Jiao memperhatikan pandangannya dan bertanya, "Ingin bermain?

     Jing Ji mengangguk.

     "Jika kau ingin bermain, tunggu sepuluh menit lagi," Ying Jiao membuka tutup botolnya dan meminum cola, "Tidak baik untuk perutmu, kau baru selesai makan."

     Jing Ji mendengarkannya, "Oke."

     Sepuluh menit kemudian, Ying Jiao pergi ke tengah lapangan bersama Jing Ji.

     Beberapa orang hanya bermain dengan santai, tidak ketat dalam permainan lima lawan lima seperti dalam permainan bola biasa. Jika seseorang bergabung, masih dapat terus bermain walau jumlah lawan tidak seimbang.

     Hanya saja Ying Jiao memiliki skill yang bagus, dan Zheng Que sangat senang dengannya di tim utama, jadi dia secara khusus mengajaknya bergabung.

     Ying Jiao mencetak tiga gol berturut-turut dan Jing Ji juga mencetak satu. He Yu sangat marah dengan mereka berdua. Dia membuang jaket seragam sekolahnya dan menggosok tangannya, "Ayo, lanjutkan!"

     Ying Jiao menatapnya, lalu mengoper bola ke Jing Ji.

     Zheng Que, yang sudah menggosok kepalan tangan dan mengusap telapak tangan (idiom): bersemangat untuk beraksi  dan menunggu untuk menangkap bola, "..."

     Kasihan, dalam bermain bola basket pun juga tidak dianggap!

     Jing Ji bergerak menuju ring basket sambil menggiring bola. He Yu yang sadar diri tidak bisa menahan Ying Jiao, menyerahkan tugas itu ke Peng Chengcheng dan Wu Weicheng, dan memblokir bagian depan Jing Ji.

     Dia sangat besar sehingga dia hampir bisa memblokir pergerakan Jing Ji sepenuhnya. Jing Ji mengelak dari kiri dan kanan namun tidak berhasil, melompat dan mencoba mengoper bola ke Ying Jiao yang paling dekat dengannya.

     He Yu tanpa sadar juga melompat dan mengulurkan tangan untuk memblokir.

     Sayang sekali dia melebih-lebihkan keseimbangannya, dan alih-alih memblokir bola, dia malah membentur Jing Ji.

     Tubuh kecil Jing Ji tidak bisa menahan benturannya, dia terhuyung beberapa langkah dalam sekejap, dan hampir jatuh.

     Pada saat bersamaan, Ying Jiao bergegas dan untuk meraih Jing Ji dengan kuat.

     Namun karena kehilangan keseimbangan, keduanya jatuh bersama.

     Pada saat dia akan mendarat, otak Ying Jiao belum bereaksi, tangannya sudah memeluk Jing Ji, melindunginya dengan erat di pelukannya, dan membuat bantalan yang kokoh untuk Jing Ji.

     Melihat bahwa dia dalam masalah, He Yu berjalan dengan kaki gemetar ke arah mereka, "Kakak Jiao, Jing Ji, apa kalian.. kalian berdua baik-baik saja?"

     “Aku baik-baik saja.” Jing Ji menenangkan diri sejenak sebelum menjawabnya. Dia dilindungi dengan baik oleh Ying Jiao jadi tidak terluka sama sekali.

     “Ying Jiao, apa kau terluka?" Jing Ji mengangkat kepalanya dari pelukan Ying Jiao, menopang tangannya ke tanah, dan hendak bangun, tetapi tiba-tiba merasakan sesuatu yang salah.

     Tubuhnya membeku dalam sekejap, membuat kepalanya tidak bergerak, wajahnya perlahan semakin hangat ...

     Ying Jiao benar-benar tidak memikirkan apa-apa pada awalnya, melihat Jing Ji akan jatuh, dia bergegas dengan instingnya.

     Namun, ketika tubuh keduanya saling bergesekan, semuanya mulai menjadi tidak beres.

     Jing Ji baru saja berolahraga dengan penuh semangat, dan jatuh dalam pelukannya, suara napas Jing Ji terengah-engah dan menyapu lehernya, hampir menggoda secara ambigu.

     Seorang remaja laki-laki berumur tujuh belas atau delapan belas tahun, sangat energik, dan memeluk orang yang disukainya dengan sepenuh hati dalam pelukannya, Ying Jiao bahkan tidak bisa merasakan sakit, seketika langsung bereaksi.

     Pikiran Ying Jiao mendadak kosong, melupakan situasi disekitarnya.

     Dia hanya ingin dengan gila menekan Jing Ji di bawah tubuhnya, merobek pakaiannya hingga terlepas, membelenggu tangannya, menggigitnya dengan keras, menciumnya, melakukan hal lebih berlebihan padanya ...

     "Kau ..." Jing Ji juga laki-laki, tentu saja dia tahu apa yang terjadi pada Ying Jiao.

     Jing Ji merasa canggung dan malu, antara mau bangun atau tidak, dan hanya bisa membeku, "Bagaimana kau bisa ..."

     Segala sesuatu di sekitar telah menjadi papan set, dan tampaknya hanya keduanya yang tersisa didunia ini.

     Jakun Ying Jiao bergulir beberapa kali. Dia menatap Jing Ji dengan api di matanya, "Aku kenapa?"[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments