41. Ciuman tidak akan terhindarkan.

 

    He Yu berdiri tanpa ekspresi dan menggeser kursi kembali ke tempatnya, "Maaf sudah mengganggu."

     Peng Chengcheng beralih tengkurap dimeja tanpa mengucapkan sepatah kata pun, mengulurkan tangan untuk menutupi telinganya.

     Sementara Zheng Que menatap Ying Jiao dengan kosong selama beberapa detik, lalu mengusap wajahnya, menatap langit dan menghela nafas, "Aku masih terlalu muda ..."

     "Kenapa? Ada masalah?" Ying Jiao melirik mereka beberapa kali, "memangnya aku bisa mendapatkan skor ini tanpa Jing Ji?"

     He Yu merasa ada yang salah, tapi dia tidak bisa mengatakannya untuk beberapa saat, dengan wajah kusut akhirnya menanggapi, "Ya, itu benar..."

     Ying Jiao membalik pulpennya berulang kali, dan mencibir, "makanya..."

     "Tidak benar!" He Yu akhirnya menemukan celah logis, dengan bangga menyangkal Ying Jiao, "Apanya yang Wang Fu! Sejak kapan kau menjadi suaminya!"

     Dia memutar mata, "Lah, tidak tahu malu!"

     Ying Jiao menyipitkan matanya dan tersenyum, "Jangan khawatir, cepat atau lambat, kami akan tercatat di KK."

*Buku kecil registrasi rumah tangga, kartu keluarga


°°°


     Di lapangan, Jing Ji dan Li Zhou kembali dari toilet. Di tengah jalan, mereka mendengar seseorang berbicara--

     "Ayo, ayo, daftar merah sudah dipasang!"

     "Wow! Ayo pergi dan lihat!"

     "Tinggal empat menit lagi kelas dimulai, cepat!"

     “Mari kita lihat juga!” Mata Li Zhou berbinar, dia berlari ke depan sambil menyeret Jing Ji, “Aku sedang mengobrol dengan orang lain di forum karena nilaimu pagi ini!”

     Jing Ji mempercepat langkah mengikuti laju Li Zhou, mencoba menenangkan, "Daftar merah baru dipasang, pasti banyak orang disana. Kita tidak akan bisa melihatnya."

     “Bagaimana mungkin!” Li Zhou terengah-engah dan berhenti di luar kerumunan. Dia mengangkat celana seragam sekolahnya dan menggosok tangannya dengan percaya diri, “Tidak ada tempat didunia ini yang tidak bisa aku masuki!"

     Dia menoleh dan menatap Jing Ji, "Jangan masuk, tunggu aku di luar. Aku akan melihat nilaimu. Tenang saja, aku bisa mengingat setiap poin dengan jelas."

     Jing Ji memandangi kerumunan depannya, hatinya berdegup, "Tidak apa-apa, aku juga ingin melihatnya."

     "Oh ~" Seru Li Zhou panjang sambil menerobos kerumunan diikuti Jing Ji, "Jadi kalian Xueba juga sama gugupnya dengan nilai."

     Jing Ji tersenyum tanpa menjelaskan.

     Li Zhou bergerak ke kiri dan kanan, akhirnya menemukan celah di dekat sisi kanan daftar merah, dan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerbu masuk.

     Jing Ji juga bisa berdiri di depan daftar merah.

     Setelah mengkonfirmasi peringkat dan skornya, dia tidak mundur, tetapi melihat ke sudut kanan bawah.

     Jing Ji ingin mencari nama Ying Jiao dari belakang, agar lebih mudah. Namun, ketika dia melihat tempat terakhir di daftar merah, dia langsung tertegun.

     519. Qiao Anyan: 199 poin.

     Meskipun Jing Ji tidak dapat mengingat berapa banyak poin yang didapat Qiao Anyan dalam ujian dan berapa banyak tempat yang dia tingkatkan setiap kali setelah dia terlahir kembali, Jing Ji ingat bahwa Qiao Anyan membuat kemajuan pesat dalam studinya, dan setiap kali ujian, dia selalu bisa melawan saingannya, membuat orang menganga karena terkejut.

     Dan sekarang, dari kelahiran kembali Qiao Anyan hingga saat ini, dua ujian telah dilaksanakan. Tapi dia masih tetap peringkat terakhir, apa yang terjadi?

     Apa dia melintasi ke dunia ini memengaruhi kemajuan keseluruhan buku?

     Tapi penjelasan ini tidak masuk akal. Meski dirinya dan Qiao Anyan saling tolak menolak, tidak ada persimpangan antara keduanya. Terlebih lagi, prestasi akademisnya tidak berpengaruh dengan plotnya, ini bukan sesuatu yang bisa dia pengaruhi.

     Lalu kenapa ini terjadi?

     Jing Ji yang sedang menganalisis dalam pikirannya, tiba-tiba mendengar suara keras Li Zhou, "Jing Ji! Nomor satu! Kau nomor satu!"

     Li Zhou sangat bersemangat. Terlepas dari orang-orang di sekitarnya, dia berteriak kepada Jing Ji, "Total skor 747!"

     Ketika Li Zhou memanggil nama Jing Ji, semua orang di sekitar tiba-tiba melirik.

     Li Zhou menyisihkan dua orang yang berdiri di samping dan menghampiri Jing Ji, "Berapa poin yang kau raih terakhir kali? Bukankah 748? Wow, kali ini kau mengalami penurunan. Kurang 1 poin dari sebelumnya!"

     Orang-orang di sekitar yang mendengarkan mereka dengan telinga tegak, "..."

      Sialan! Mendapat poin 747 kau sebut penurunan?!

     Bisakah mereka langsung melepas sepatu mereka dan menutup mulut orang ini dengan kaus kaki?!

     “Itu normal.” Jing Ji kembali sadar, tidak lagi memikirkan urusan Qiao Anyan, menanggapi Li Zhou, dan mulai mencari nama Ying Jiao lagi.

     “Ayo pergi, apa yang kau lakukan?” Li Zhou merasa puas setelah membaca skor Jing Ji. Dia ingin kembali ke kelas untuk meninjau forum. Namun melihat Jing Ji masih berdiri diam, dia bertanya penasaran.

     “Aku masih ingin melihat.” Jing Ji menjawab dengan samar, mempercepat penjelajahan.

     Li Zhou mengira Jing Ji khawatir dengan peringkat kedua, jadi dia berbisik, "Jangan khawatir, kau selisih 15 poin dari Zhou Chao di tempat kedua."

     Jing Ji hanya ingin menanggapi bahwa dia tidak peduli tentang itu, namun tepat matanya tertuju pada satu nama, sudut bibirnya melengkung.

     480. Ying Jiao: 488 poin.

     Meski soal tes kali ini lebih sederhana dari yang terakhir, skor total bisa meningkat 88 poin dalam satu bulan, itu cukup luar biasa.

     Sudah menemukan apa yang dicari, tanpa mengulur waktu, dia mengikuti Li Zhou keluar dari kerumunan.

     “Cepat, cepat!” Li Zhou memimpin, berjalan cepat, “Kelas Lao Liu berikutnya, aku tidak berani melihat ponsel, kau tadi ... Jing Ji? Ada apa denganmu?!”

     Li Zhou menatap wajahnya yang tiba-tiba pucat, tertegun selama beberapa detik, dan kemudian segera berbalik, "apa yang tidak nyaman?"

     Ada rasa sakit yang tajam dikepalanya, dan bahkan merambat berdenyut-denyut didahi. Keringat dingin Jing Ji langsung merembes keluar, dan telinganya berdengung, sampai Li Zhou bertanya untuk ketiga kalinya, dia akhirnya bisa mendengar dengan jelas.

     “Tidak apa-apa.” Jing Ji mengertakkan gigi dan menahan rasa sakit, mencoba yang terbaik untuk menjaga wajahnya tetap tenang.

     Dia melihat sekeliling, dan menemukan Qiao Anyan yang tidak jauh.

     "Ada apa denganmu?" Li Zhou bertanya dengan prihatin, "Apa aku perlu membawamu ke klinik?"

     Melihat Jing Ji tidak menjawab, dia terlalu cemas, dan mengikuti tatapannya, "Apa yang kau lihat? Sialan, Qiao Anyan? Ada apa dengan tatapannya itu?"

     Tepat di depan mereka, Qiao Anyan menatap Jing Ji dengan ekspresi suram, matanya tampak seperti sedang memakannya mentah-mentah.

     Ujian kali ini, jari emasnya gagal lagi, meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk mengisi semua kertas, dia tetap mendapat peringkat terakhir.

     Jika yang pertama adalah siswa terbaik di kelas luar biasa yang dia kenal, seperti Zhou Chao, Jiang Chong, dan lainnya, psikologi Qiao Anyan tidak akan kehilangan keseimbangan hingga saat ini.

     Namun, tempat pertama dalam ujian itu adalah Jing Ji, yang sama bobroknya dengannya.

     Dia jelas terlahir kembali, tetapi dia masih tidak dapat mengambil jalan yang direncanakan.

     Yang paling penting adalah ……

     Qiao Anyan mengepalkan tinjunya, Jing Ji menarik perhatian Ying Jiao, dan beberapa orang bahkan mengatakan di forum bahwa ada hubungan ambigu di antara mereka berdua.

     Itu adalah white moonlight dia bisa mendapat dua kehidupan, bagaimana bisa dirusak oleh seseorang seperti Jing Ji.

*Hal yang tidak mungkin

     Akan sangat bagus jika tidak ada Jing Ji, dan alangkah baiknya jika Jing Ji masih sama seperti sebelumnya ... Kebencian Qiao Anyan terus meningkat.

     Sakit kepala Jing Ji seperti akan meledak, napasnya berangsur-angsur menjadi lebih berat.

     Melihat ini, Li Zhou segera memapahnya, "Kau tidak usah masuk kelas. Aku akan mengirimmu ke klinik sekolah."

     Banyak orang di sekitar diam-diam memperhatikan Jing Ji. Melihat ada sesuatu yang salah saat ini, mereka bahkan tidak peduli apakah Jing Ji mengenali mereka atau tidak, jadi mereka berkumpul——

     "Ada apa? Apa kau membutuhkan bantuan kami?"

     "Jing Ji, apa kau sakit? Biar aku meminta cuti dari guru kelasmu."

     "Kau kenapa, tidak usah masuk kelas."

     Dalam serbuan kalimat demi kalimat perhatian ini, sakit kepala Jing Ji berangsur-angsur mereda.

     Bukan ilusi.

     Jing Ji merasakannya dengan hati-hati, dan itu benar-benar tidak sesakit tadi.

     Dia dan Qiao Anyan saling tolak-menolak, dan penargetan Qiao Anyan padanya akan membuatnya sakit kepala. Apakah perhatian tulus orang lain mengimbangi rasa sakit ini?

     Otak Jing Ji berputar dengan cepat, dan tebakannya benar, posisinya dengan Qiao Anyan adalah berlawanan. Meskipun dia masih tidak tahu alasan memasuki buku ini, itu pasti bukan kebetulan!

     “Tidak apa-apa, aku hanya memiliki gula darah rendah.” Jing Ji merasa lega sejenak, merasa jauh lebih nyaman, menjelaskan kepada orang-orang di sekitarnya, menolak tawaran mereka untuk mengirimnya ke klinik sekolah, dan dengan tulus berterima kasih kepada mereka, dan kembali ke kelas bersama Li Zhou.

     “Apa kau baik-baik saja?” Meskipun Jing Ji terlihat jauh lebih baik, Li Zhou masih sedikit khawatir. Setelah ragu-ragu sejenak, mempertimbangkan kata-kata dan kalimatnya, dia bertanya dengan halus, "Kau ... apakah tubuhmu ada masalah?"

     Faktanya, Li Zhou ingin bertanya apakah dia menderita penyakit kronis. Dia takut itu tidak akan terdengar bagus, jadi dia mengubah bahasanya.

     “Tidak apa-apa, jangan khawatir.” Jing Ji menarik kursi dan duduk, mengangkat kepala dan tersenyum padanya, “Ini benar-benar gula darah rendah.”

     Li Zhou ingat bahwa wajah Jing Ji yang pucat dan keringat dingin di dahinya memang cocok dengan gula darah rendah, jadi dia mengingatkan, "Lain kali, belilah cokelat dan sejenisnya, simpan disakumu. Makan lebih banyak jika kau merasa akan kambuh."

     "Oke."

     Li Zhou masih ingin berkata lagi, namun bel kelas berbunyi, jadi dia hanya bisa berlari kembali ke kursinya.

     “Apa kau merasa tidak enak badan?” Ying Jiao mengangkat tangan dan menyentuh dahinya. Setelah menyentuh keringat dingin, dia mengerutkan kening, “Apakah ini hipoglikemia?”

     Jing Ji menjawab jujur, "Kepalaku sedikit sakit, tapi jauh lebih baik."

     “Sakit kepala lagi?” Ying Jiao mengambil tisu, menarik rambut Jing Ji yang berkeringat ke samping, mengusap pelipisnya sambil bertanya, “bagaimana sakitnya, ceritakan padaku.”

     Awalnya, Jing Ji masih merasakan sakit di kepalanya, tetapi setelah Ying Jiao menggosoknya beberapa kali, tidak sakit sama sekali.

     Berarti dia memang tidak salah menerka, bukan?

     Baginya, sentuhan Ying Jiao lebih bermanfaat daripada perhatian siswa lainnya tadi.

     Apakah karena Ying Jiao juga salah satu protagonis dalam buku ini, atau karena alasan lain?

     “Katakan.” Ying Jiao menjadi lebih khawatir ketika melihat Jing Ji hanya diam, jadi dia menyodok pipinya dengan ringan dan bertanya lagi.

     “Tidak sakit lagi.” Jing Ji mengangkat mata dan tersenyum padanya, melemparkan tisu bekas ke dalam kantong sampah yang tergantung di antara dua meja.

     "Sungguh?"

     "Sungguh."

     Ying Jiao dengan cermat mengamati wajahnya sampai dia yakin bahwa Jing Ji tidak berbohong baru melepas topik ini.

     Tetapi dia mencatatnya di dalam hati, ketika punya waktu, dia harus membawa Jing Ji untuk pemeriksaan seluruh tubuh.

     Bel sudah berbunyi beberapa saat, namun Guru Liu masih belum datang. Jing Ji meletakkan buku matematika dengan rapi di atas meja, menoleh pada Ying Jiao, "Ngomong-ngomong, aku melihat skor totalmu. Selamat, kau melakukan pekerjaan dengan baik."

     Ying Jiao tanpa sadar menggerakkan sudut bibirnya, hanya berpikir bahwa untuk kalimat ini, kegigihannya bulan ini sangat berharga.

     "Jadi, kau setuju untuk pergi ke bioskop denganku kan?"

     Guru Liu telah mendorong pintu masuk, Jing Ji tidak berbicara, hanya mengangguk mengiyakan.

°°°


     Sepulang sekolah pada sabtu malam, Ying Jiao dengan cepat pulang ke rumah dan bahkan tidak repot-repot makan malam, dia langsung pergi ke ruang ganti dan mulai memilih pakaian.

     Dengan tujuan mengubah diri menjadi afrodisiak berjalan, dia harus terlihat keren.

     Namun, merek dan pakaian yang biasanya dia suka, terlihat seperti Cinderella yang kehilangan berkah ajaib malam itu, dan menurutnya itu tidak sempurna.

     Ying Jiao berganti set dan set di depan cermin, mengambil foto yang tak terhitung jumlahnya dan mengirimnya ke grup kecil berisikan tiga temannya itu untuk meminta pendapat. Baru pada pukul 12 malam dia akhirnya memilih set yang lebih memuaskan.

     Namun, begitu dia berbaring di tempat tidur, dia menyesalinya.

     Mengenakan seragam sekolah masih bisa dihitung sebagai pakaian pasangan untuk saat ini. Bagaimana jika besok dia memakai pakaian kasual dan Jing Ji memakai seragam sekolah, bukankah itu tidak tampak seperti pasangan kekasih?

     Tidak, dia tidak bisa memakai pakaian kasual!

     Oleh karena itu, dalam dua detik, Ying Jiao membatalkan niat awal dan pergi ke sekolah dengan seragam sekolah keesokan harinya.

°°°


     Setelah sekolah pagi selesai, melihat seragam sekolah Jing Ji, Ying Jiao tidak bisa menahan diri untuk memuji kecerdasannya di dalam hati.

     Kedua orang itu memilih bioskop yang tidak jauh dari sekolah.

     Karena siswa eksperimen sedang berlibur pada minggu sore, maka pada dasarnya tempat duduk sudah penuh.

     Ying Jiao menyesap cola. Di permukaan, dia tenang dan tampak serius menonton film, pada kenyataannya, pikirannya sedang menyusun narasi.

     Dikatakan bahwa mudah bagi dua orang menjadi lebih dekat dengan menonton film romansa bersama.

     Terbawa suasana, berpegangan tangan dan bahkan belajar bagaimana kedua tokoh utama berciuman, bisa terjadi.

     Asalkan waktunya tepat, ciuman tidak akan terhindarkan.

     Sangat disayangkan ini bukan film hantu, jika film hantu, dia bisa memeluk dan menghibur Jing Ji saat ketakutan, seperti di serial TV. Itu tidak hanya dapat meningkatkan kontak fisik antara dua orang, tetapi juga menunjukkan kekuatan dominan seorang pacar.

     Semakin Ying Jiao memikirkannya, semakin dia siap untuk bergerak, pada akhirnya, dia sudah sedikit tidak terkendali.

     Dia menatap layar lebar dan menunggu kesempatan untuk bergerak ketika tokoh utama mulai lebih intim.

     Namun terkadang, fakta seringkali sangat berbeda dari yang diharapkan.

     Ini pertama kalinya nonton film dengan Jing Ji. Pegangan tangan saja tidak terjadi, apalagi ciuman.

     Ide sempurna Ying Jiao hancur ketika tokoh figuran membenturkan batu bata ke kepala protagonis pria.

     Diikuti suara benturan, darah mengalir menghiasi layar. Wajah Ying Jiao pucat, kepalanya pusing, dan dia merosot ke pelukan Jing Ji.[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments