37. Like You

    Ying Jiao terdiam sejenak. Ketika dia berbicara lagi, suaranya sedikit terbata, "Kau ..." Dia memandang Jing Ji, "Mengapa kau memilih yang ini?"

     Jing Ji menurunkan matanya, tanpa memandang Ying Jiao, dengan tenang berkata, "aku ingin menontonnya."

     “Ingin?” Ulang Ying Jiao.

     Dia tidak mengira Jing Ji adalah seseorang yang suka menonton film romantis.

     Mereka sudah saling kenal selama lebih dari dua bulan. Jing Ji telah tumbuh dengan baik dan belajar dengan baik, dan telah menarik banyak orang. Tetapi Jing Ji tidak pernah melihat mereka lebih jauh, dan bahkan menjelaskan bahwa dia tidak tertarik untuk berkencan.

     Dan ... menurut kepribadiannya, seharusnya yang dia suka adalah film blockbuster dan semacamnya.

     Tapi dia memilih film yang disukai para gadis, jadi Ying Jiao tidak habis pikir.

     Ying Jiao menenangkan detak jantungnya, mengarahkan pandangannya pada Jing Ji, dan bertanya, "Apa kau sungguh ingin menontonnya?"

     “Menurutmu?” Jing Ji berdiri, meletakkan tas sekolahnya di pundaknya, dan bertanya retorik.

     Ying Jiao tersenyum, ikut berdiri dan berbisik di telinganya, "Kau tahu tidak? Jari-jarimu meringkuk ketika kau berbohong."

     Jing Ji terkejut dan melihat ke bawah tanpa sadar.

     “Aku membohongimu.” Senyum di mata Ying Jiao perlahan meluap.

     Jing J tidak akan meringkuk jarinya ketika dia tidak jujur, dia hanya akan menundukkan matanya, mencoba yang terbaik untuk memasang tampang dingin.

     Hati Ying Jiao asam dan lembut, dia menggenggam tangan Jing Ji, dengan lembut meremas jari-jarinya. Sebelum Jing Ji ingin melepas, dia tersenyum dan berkata, "aku ingin meresap sedikit semangat dari xueshen agar mendapat nilai bagus dalam ujian nanti. Xueshen tidak keberatan kan?"

*learn god.

     Jing Ji sedikit membuang muka, ekspresinya sedikit tidak wajar, tetapi dia tidak menolak.

---


     Orang-orang di ruang ujian tepat waktu, ketika Jing Ji memasuki pintu, semua orang sudah datang.

     Dia melihat ke peta kursi di papan tulis dan berjalan menuju kursi pertama di baris selatan.

     Segera, kerumunan mulai berbisik.

     "Wow! Orang sungguhan lebih tampan daripada foto!"

     "Jadi dia Jing Ji."

     "Ah, ah, aku ingat wajah ini! Pria impianku!"

     Saat Jing Ji meletakkan alat uji di atas meja, punggungnya tiba-tiba terkena sesuatu. Dia menoleh ke belakang dan melihat Zhou Chao sedang melambai padanya dengan putus asa dibelakang deret Jiang Chong, "Mengapa kau tiba belakangan?"

     "Berkemas sedikit lebih lambat."

     "Hei," Zhou Chao melirik ke pintu, dan melihat bahwa pengawas belum datang, dia berlari ke Jing Ji memegang set pertanyaan Olimpiade Matematika, "Aku punya pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu, tapi kau tidak datang-datang."

     Sambil mengeluh, dia membuka buku latihan di tangannya, menunjuk ke halaman dan berkata, "Yang ini."

     Jing Ji menatapnya dengan heran, "kau masih membawa buku latihan saat ujian?"

     "Tidak ada pilihan ah," kata Zhou Chao tanpa daya, "Siapa yang menyuruhmu untuk tidak sekelas denganku? Guru Zhao memberi tahu aku pertanyaan ini, tapi aku tidak memahaminya dengan baik. Jika aku bertanya lagi, aku pasti akan dimarahi."

     Dia tersenyum, dan berkata, "Jika guru pengawas datang, aku akan meletakkan buku latihan di podium."

     Jing Ji mengangguk dan melihat ke arah yang dia tunjuk.

     Ini adalah masalah urutan bilangan yang membutuhkan bukti dari dua pertanyaan kecil.

     Dia merenung sejenak, mengambil pensil dan menghitungnya di kertas konsep, dan memandang Zhou Chao, "Lihat pertanyaan pertama dulu ..."

     “Kau akan melakukannya?” Zhou Chao memotongnya dengan tidak percaya.

     "Aku telah melakukan jenis pertanyaan yang sama sebelumnya, dan semuanya serupa." Jing Ji menjelaskan, dan baru saja akan melanjutkan berbicara, Zhou Chao tiba-tiba mengangkat tangannya dan menepuk meja, "Sial! Kamu terlalu baik!"

     Pada saat yang sama, pintu kelas dibuka, Zhao Feng masuk dengan Zhang Jing memegang kertas, dan keduanya mendengar kata-kata Zhou Chao.

     Langkah kaki Zhang Jing berhenti, dan dia tanpa sadar tertinggal di belakang Zhao Feng setengah langkah.

     Zhao Feng tertawa mengejek, meletakkan kertas di podium, dan memandang Zhou Chao, "Mengapa kau tidak kembali ke tempat dudukmu? Apakah kau ingin merebut posisi pertama dan memberi Jing Ji tantangan perang tertulis?"

     “Tidak, tidak!” Zhou Chao menggelengkan kepalanya lagi dan lagi, dan menyerahkan set soal Matematika Olimpiade dan kertas draf dengan kata-kata tertulis, dan berlari kembali ke kursi tiga dengan terengah-engah.

     Dia tidak berani memikirkan peringkat pertama, tapi setidaknya bisa berharap untuk tempat kedua.

     Guru Zhao melirik ke arah hadirin, dan dengan tajam menekankan disiplin ujian, "Semua hal yang tidak relevan dikemas, dan yang membawa tas sekolah diletakkan di ambang jendela."

     Zhang Jing membuka kertas yang disegel dan menghitung beberapa salinan, mulai dari baris utara dan mengirimkan yang terakhir ke Jing Ji.

     Saat mengambil kertas itu, mata Jing Ji tidak sengaja bertemu dengan Zhang Jing.  Zhang Jing tertegun sejenak, lalu segera membuang muka.

     Memang, seperti yang dikatakan di forum, kesulitan ujian ini jauh lebih rendah dibandingkan ujian tengah semester, bahkan petunjuk yang diberikan dalam komposisinya tidak terlalu spekulatif.

     Dari dasar, membaca, hingga komposisi, Jing Ji menulis dengan cepat, jarang berhenti untuk berpikir dalam waktu lama.

     Zhang Jing duduk di podium, bertahan dan bertahan, bagaimanapun juga dia tidak bisa menahan, memutuskan berjalan mendekat ke meja Jing Ji, diam di samping, menatap kertasnya.

     Tapi kali ini, dia tidak berani untuk merebut kertas Jing Ji lagi.

     Sama seperti ujian tengah semester, setelah Jing Ji menyelesaikan ujian, dia memeriksa pertanyaan dasar sebelumnya, dan jika dia merasa tidak ada masalah, dia mengumpul kertas ujiannya lebih awal dan pergi.

     Terakhir kali, karena Jing Ji mengikuti ujian di ruang ujian terakhir, siswa terbaik tidak pernah melihat keadaannya saat menjawab soal. Pada saat ini, melihat Jing Ji mengumpul kertas, banyak orang mendongak dengan panik melihat waktu.

     Sekilas, mereka tercengang. Masih ada waktu dua puluh menit sebelum ujian selesai. Jing Ji sudah menyerahkan kertasnya?

     Orang yang sama yang mendapat peringkat satu, bagaimana dia bisa menjadi buas seperti itu?!

     Namun, keterkejutan ini bukan hanya satu kali, tetapi terus berlanjut.

     Pada ulangan matematika sore hari, yang lain masih berpacu dengan waktu untuk menjawab soal, Jing Ji sudah berkemas dan menyerahkan kertasnya.

     Jika mata bisa membunuh orang, Jing Ji saat ini telah disaring oleh orang-orang di ruang ujian pertama.

     Mengapa orang abnormal ini pergi ke ruang ujian pertama untuk memprovokasi orang?!

     Bisa tidak ajukan ke sekolah dan membiarkan dia mengikuti ujian di ruang terpisah!! !

     Siapa sih yang tahan?  !

     Mentalitas runtuh ...

     Para siswa top menjadi gila, dan bahkan para siswa biasa di kelas 7 hanyalah butiran debu.

*hanyalah butiran debu dan tidak memiliki harapan untuk menyusul (idiom): Menjadi jauh lebih rendah

---


     Setelah makan malam, topik tentang Jing Ji mengumpul kertas lebih awal menjadi bahasan panas di forum.

     [  Mati! Apakah ini ujian? Aku pikir IQku telah hancur ke berkeping-keping *Ge Youtan*]

*metafora untuk keadaan "dekaden" seseorang.

     [ Saat pertama kali melihat dalao menyerahkan kertas, aku pikir waktunya sudah habis, membuatku takut berkeringat dingin. Kedua kalinya ... hatiku auto: Oh, dia sudah selesai duluan. ]

     [ Sejujurnya, aku dulu pernah dihancurkan orang lain seperti ini saat SMP ... Lu Xun mengatakan perbuatan baik mendapatkan hasil yang baik. ]

*salah satu penulis Tiongkok modern paling awal dan paling terkenal.

     [ Kurasa Jing Ji juga melakukan dengan baik dalam ujian kali ini. Pengawas hari ini adalah guru matematika di kelas 7. Begitu melihat kertas Jing Ji, dia tidak bisa menutup mulutnya. ]

     [ Pikirkan tentang dua ujian lagi besok ... Aku autis. ]

     [ Aku ingin tahu, bagaimana sebenarnya Jingci belajar? Apakah ada yang dari Kelas 7 bisa buat pernyataan? ]

     [ Aku dari kelas 7, sebenarnya metode belajar Jing Ji tidaklah sulit. Cukup dengarkan dengan baik selama kelas, tulis catatan setelah kelas, dan kemudian pergi tidur. ]

     [ Komen atas, DIAM! ]

     [ Yang penting diucapkan tiga kali: diam! diam! diam! ]

      [ Ah ah ah, aku diam! Ah ah ah ah!!! ]

     Pada saat yang sama, sekolah menengah pertama tingkat provinsi baru saja mengakhiri kelas, Jing Miao mengambil ponsel barunya untuk dipamerkan kepada teman-temannya, "Ayahku baru membelikannya, bagaimana?"

     “Wow, ayahmu sangat baik.” Temannya menatap setiap detik ponsel itu dengan rasa iri, “Ayahku tidak mau belikan. Dia bilang akan membelikannya untukku ketika aku lolos masuk SMA."

     Jing Miao mengusap rambutnya, dan berkata dengan penuh bangga, "Ayahku menyayangiku. Dia akan membelikanku apa yang kuinginkan."

     “Bisakah kau menggunakan ponselmu untuk menonton forum SMA?” Temannya berkata dengan iri, “aku ingin mencari tahu tentang dalao disana.”

     "Lihatlah." Jing Miao membuka kunci telepon dengan tidak peduli, "Aku akan membeli model yang baru lagi nanti."

     Agar siswa SMP lebih tahu tentang SMA, forum SMA eksperimen provinsi juga terbuka untuk siswa SMP.

     Teman Jing Miao melihat forum untuk beberapa saat, dan tiba-tiba berkata, "Hei, Jing Miao, ada seorang siswa SMA dengan marga yang sama denganmu."

     Jing Miao tersenyum sombong, "Nama keluarga kami Jing semuanya belajar dengan baik."

     "Namanya Jing Ci." Temannya mengklik sebuah posting, "Oh Langit, benar-benar Xueshen ah! Ujiannya diserahkan lebih awal. Ujian terakhir adalah 25 poin lebih tinggi dari tempat kedua! Sial, apakah ini masih manusia?!"

     Jing Miao menegang, dan segera mengambil ponsel dari temannya, "Siapa nama orang itu?"

     “Jing Ji!” Temannya menatapnya heran, “Ada apa?”

     Mustahil, tidak mungkin Jing Ji yang ada dipikirannya!

     Jing Miao mengertakkan gigi dan mengamati postingan dengan sekilas.

     Itu nama yang sama!

     Dia tahu seperti apa Jing Ji, Ibunya berkata, Jing Ji adalah embrio yang terlahir buruk, dan cepat atau lambat itu adalah bahan penjara.

     Bagaimana orang seperti itu bisa belajar dengan baik?!

     Namun, semakin dia menunduk, wajah Jing Miao menjadi semakin pucat.

     Jing Ji, Siswa Kelas Tujuh Tahun Kedua SMA Eksperimental Provinsi.

     Menggulir lebih jauh, foto candid Jing Ji tiba-tiba muncul di depannya.

     Dalam balasan keren dan tampan di bawahnya, ponsel Jing Miao bergetar dan jatuh ke lantai.

---


     Di kelas 7, Jing Ji baru saja kembali dari makan malam, Ying Jiao tiba-tiba datang dan bertanya kepadanya, "Ngomong-ngomong, film apa yang akan kita tonton pada hari Minggu?"


     Dia mengusap pelipisnya dan mendesah lelah, "Otakku sulit mengingat setelah ujian."

     Jing Ji tidak terlalu berpikir jauh dengan plot licik Ying Jiao. Jadi dia dengan jujur ​​menjawab, "Menyukaimu."

*Film-- Like You! :: This Is Not What I Expected (喜欢你) / Like disini suka. /

/aku ga tahu judulnya cuma karangan atau emang rujuk ke 'real life' movie, tapi pas aq cari, ternyata ada judul film yang sama jadi aku rujuk kesana, genrenya juga romance. /

     Sudut bibir Ying Jiao melengkung tak terkendali. Dia mengangguk dan mengulangi, "Yah, menyukaimu."

     "menyukaimu."

     "menyukaimu."

     Jing Ji meliriknya dan bertanya-tanya dalam hati apakah tugas pertanyaan yang dia berikan kepada Ying Jiao terlalu berat, dan membuat lelaki itu sudah pikun di usia muda. Dia tidak dapat mengingat judul film dan harus mengatakannya beberapa kali.

     Jing Ji membuang muka dengan perasaan bersalah, melihat gelas air kosong di atas meja, dan pergi ke dispenser air untuk mengambil air.

     Mood Ying Jiao sangat bagus.

     Dari mengetahui alasan mengapa Jing Ji memilih film roman itu di pagi hari, dan sekarang akhirnya mengambil kesempatan untuk melontarkan apa yang ada di hatinya, dia hampir tidak bisa menahan kegembiraannya.

     Dia bahkan mencari di Weibo dari sutradara "Like You", dan dengan tulus ingin bertanya mengapa dia membuat film yang sangat bagus dan memberinya judul yang luar biasa.

     Dia ingin beri hadiah sebagai ungkapan terima kasih atas andil si sutradara dalam kisah cintanya.

     Namun, sutradara tidak membuka Weibo sama sekali, sementara Ying Jiao dipenuhi dengan kegembiraan tidak ada tempat untuk curhat. Setelah memikirkannya, dia tidak bisa menahan, dan berbalik.

     Disisi lain, He Yu mendesah memikirkan bagaimana dia akan pulang untuk menunjukkan nilainya setelah hasilnya keluar. Peng Chengcheng juga memiliki wajah yang dingin dan tidak tahu apa yang dia pikirkan, tetapi Zheng Que, seorang pria yang tidak berperasaan, diam-diam mengeluarkan ponselnya, mencoba bermain game saat Guru Liu pergi.

     "Kalian ..." Tatapan Ying Jiao perlahan menyapu mereka, dan setelah ditatap balik, dia bertanya, "Apa kalian melihat Jing Ji?"

     He Yu, Zheng Que, Peng Chengcheng, "???"

     He Yu melirik ke depan, "Bukankah Jing Ji mengambil air tepat di depan sana?"

     Dia hanya ingin bertanya apakah Ying Jiao telah belajar terlalu keras akhir-akhir ini hingga membuat matanya rabun. Dia mendengar Ying Jiao berkata, "Oh, aku tahu."

     He Yu, Zheng Que, Peng Chengcheng, "???"

     Lalu kenapa masih bertanya??? Apa otaknya sakit???

     Ying Jiao mengangkat sudut bibirnya, menunjukkan senyum miring, "Bukan apa-apa, tapi teman sekelas kecil kita sangat menggemaskan, aku ingin kalian melihatnya."

     He Yu, ".................."

     Zheng Que, ".................."

     Peng Chengcheng, "………………"[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments