45. Hao Yu, aku sangat mencintaimu

 

     Aku tidak terburu-buru, jadi aku keluar setelah mandi dengan tenang.

     Paling penting, aku harus tenang.

     Mungkin tidak hanya telingaku yang merah, tapi juga leherku. Jika sampai Ji Lang melihatku seperti ini, aku akan kehilangan muka. Aku sudah kehilangan segalanya tadi malam.

     Dia juga menyukaiku.

     Untungnya, dia juga menyukaiku.

     Jika dia tidak menyukaiku, dia mungkin akan muak denganku pagi tadi.

     Jiwa Shou-ku yang rapuh dan sangat rentan ditangkap oleh Ji Lang sebelum sempat menginjak ke lingkungan sosial yang berbahaya.

     Dia benar-benar baik.

     Aku seperti pohon anggur yang tumbuh dalam kegelapan, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak meregangkan akar rambat yang sunyi ke sinar matahari yang kusuka. Aku hanya ingin menyentuhnya dengan hati-hati, lalu menyembunyikan pikiranku, tetapi gagal. Sebelum dia tahu, dia berbaring, dan dalam beberapa saat panik, dia berbalik dan tersenyum padaku.

     Untungnya, dia juga menyukaiku.

     Setelah perhitungan yang cermat, kecuali bahwa Ji Lang harus tidur di tempat tidur yang tidak dapat diandalkan, segala sesuatu tampaknya disalahkan padaku, bergerak-gerak dan meremas telurnya.

     Jika Ji Lang benar-benar terganggu, dia seharusnya tidak terus mengundangku untuk tidur bersama, atau ingin aku mengaku perasaanku, kami bersama, berpelukan, berciuman dan semacamnya secara terbuka.

     Bukankah kami berdua perlu kesal?

     Atau apakah dia merasa sentuhan sembunyi-sembunyi dan penuh kasih sayang seperti ini sangat menarik?

     Aku tidak mengerti dia, tapi asal tahu saja ... dia tidak mempermainkanku, apakah kami akan pacaran?

     Xueba berkata: Tidak ada yang penting untuk dipelajari.

     Setelah aku keluar dari kamar mandi, Ji Lang masih berpura-pura berbaring di atas meja untuk belajar. Kenapa, dia pikir aku tidak tahu kalau dia tadi sibuk diforum posting?

     Haha, lain kali aku akan masuk ketika dia memperbarui posting, sebagai bukti bahwa aku telah menangkap kuncirnya sejak lama.

*Kekurangan atau bukti perbuatan salah yang dapat disita oleh orang lain

     “Hao Yu, jangan takut, apa kau makan terlalu banyak akhir-akhir ini? Ibu Chen Haokong memasak banyak daging, apa karena itu kau tidak bisa mencernanya?” Dia bertanya padaku, tapi masih menundukkan kepalanya dengan satu tangan menulis di buku catatan.

     Aku duduk di hadapannya, "Perutku baik-baik saja, sungguh, hanya diam-diam menghafal beberapa puisi terakhir di toilet."

     “Cara belajar siswa baik itu berbeda, metodenya berbeda dari yang lain.” Dia akhirnya menatapku.

     Aku dengan tidak nyaman mengambil pengetahuan sejarah, lanjut membaca.

     Ji Lang memilah pertanyaan yang salah, dan setelah menulisnya beberapa saat, dia menatapku lagi, "Hao Yu, apakah berguna untuk memilah pertanyaan yang salah? Semakin banyak aku menulis, semakin aku merasa bahwa aku membuang-buang waktu."

     "..." Dia tampak sangat kesal?

     Alu hanya bisa menghiburnya perlahan, "Sejauh menyangkut levelmu, kau tidak perlu melihat pertanyaan parsial. Kau dapat memilah pertanyaan klasik, menyoroti kesalahanmu, dan memahami setiap langkah dari jawaban yang benar.  Yang paling penting adalah kau harus mereview, buku pertanyaan yang salah bukanlah ... sebuah memoar, kau dapat mengeluarkannya nanti ... ini adalah manual portabel, kau harus sering membacanya agar bisa memahaminya, jadi setiap pertanyaan yang salah tidak peduli ada perubahan dalam bentuk apa pun, kau dapat langsung tahu poin yang uji."

     Ji Lang mengeluh, "Tapi terkadang aku tidak bisa melihatnya sama sekali ..."

     “Itu karena kau jarang melakukannya” Untuk orang otak kosong, metode soal taktik laut tidak dianjurkan, itu mudah membuat orang mati rasa, tetapi Ji Lang sebaliknya, dia sangat pintar, tetapi itu karena dia jarang belajar intense selama bertahun-tahun. "Kau hanya perlu melakukan lebih banyak pertanyaan untuk bagian tertentu dari modul yang tidak kau kenal. Mirip dengan taktik laut, kau masih dapat menggunakannya. Untuk pelatihan, kau selalu dapat fokus pada peningkatan area tertentu."

     “Hao Yu, aku sangat mencintaimu…” Ji Lang berkata kepadaku dengan penuh kasih sayang setelah mendengarkan dengan tenang.

     "..." Dalam keadaan apa, bukankah kita berbicara tentang belajar? Kenapa dia tiba-tiba mengaku cinta padaku?

     Ji Lang, "Kau sangat sabar. Aku sudah bertanya pada seorang teman sekelas yang belajar dengan baik sebelumnya. Dia bilang aku sangat bodoh dan aku tidak perlu belajar, tunggu saja kelulusan dan keluarkan uang untuk sekolah teknik."

     "..." Bukankah ini menghambat kemajuan siswa?

     Nah, jika Ji Lang adalah Lai Wenle, aku mungkin akan mengatakan biarkan dia menjauh dariku, tetapi dia adalah Ji Lang, aku benar-benar ingin membuatnya lebih baik, dan berusaha untuk membuat pikiran halunya lebih baik.

     "Hao Yu, jangan lupa, jangan lupa apa yang aku katakan ... Ayo kuliah bersama."

     Aku sedikit canggung,"apa kau benar-benar bisa masuk kampus yang sama denganku?"

     Ji Lang tidak makan, minum, atau tidur dan terus belajar sampai hari ujian masuk perguruan tinggi. Seharusnya mendekati.

     “Tidak apa-apa jika tidak satu jurusan, yang penting lebih dekat,” katanya dengan gembira, “kita tidak harus tinggal di asrama. Aku suka berkelahi kalau diasrama, dan aku bisa tenang hanya jika aku bersamamu."

     "..." Dia akan mencuci otakku setiap beberapa hari tentang kebersamaan di universitas, dan aku akan menyetujui hasil ini.

     Ji Lang menyodok buku teksku dengan pena, "Hei, jangan diam, Hao Yu, kau juga tidak cocok untuk tinggal di asrama."

     “Aku sangat cocok.” Jawabku.

     "Tidak," dia menggelengkan kepalanya, "Kau terlalu obsesi dengan kebersihan. Hanya cinta sejatimu yang bisa mentolerir perilaku kebersihanmu. Jika kau membuang celana dalam orang lain, kau akan lebih sering bertengkar daripada aku memukul orang di asrama."

     Belum tentu. Aku tidak membuang celana dalam orang lain. Jika pakaian dalam orang lain jatuh mengenai kepala sikat gigiku, aku tidak membuangnya, aku akan memukul orangnya secara langsung.

     “Siapa yang sama sekali tidak mencuci pakaian dalam sepertimu?” Aku bertanya padanya, “Aku baru melihat orang aneh sepertimu selama bertahun-tahun.”

     "Mungkin," Ji Lang menundukkan kepalanya dan menghela nafas, "Kau tahu, ketika aku tinggal di asrama, aku juga mengirim pakaian itu ke rumah Chen Haokong untuk dicuci, termasuk pakaian dalam ... Belakangan, aku takut kau akan menganggapku enteng, jadi aku tidak membiarkan siapa pun mencuci pakaian dalamku."

     "..." Ji Lang adalah makhluk astral bagiku jadi dia tidak perlu memperhatikan citranya di depanku. Aku belum pernah melihatnya yang seperti ini ah.

     Manusia juga makhluk yang mengerikan. Tanpa disadari, mereka menjadi terbiasa dengan hal-hal yang menurutmu tidak bisa di biasakan. Masak kodok di air hangat, dan perlahan-lahan, sekelilingnya jungkir balik. Kau masih belum menyadarinya, sama seperti Ji Lang, ketika ia mulai bersendawa di depanku, aku masih berpikir dia tidak peduli padaku, sekarang aku pikir ... jika dia tidak bisa bebas mengekspresikan sesuatu, maka ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.

*Lingkungan yang terlalu nyaman seringkali mengandung bahaya. Gaya hidup yang biasa dilakukan mungkin yang paling mengancam.

     "Aku punya dua pertanyaan lagi untuk ditanyakan padamu, tapi aku mungkin akan melakukannya sendiri," katanya.

     “Oke, kalau begitu bikin sendiri biar lebih cepat dihafal, lalu melalui proses lagi, jangan lupa langkah-langkahnya.” Ji Lang si OP yang membuat ratusan reply dipostingan masih tidak capek, sementara aku yang hanya menonton kini agak mengantuk.

     "Kau tidur dulu," Ji Lang menepuk tikar di belakangnya, "Aku akan pergi tidur setelah aku selesai."

     Aku mengangguk, melepas sendalku dan merangkak masuk. Tepat setelah berbaring, Ji Lang mengeluarkan sebuah benda hitam dari tas di atas meja dan menyerahkannya padaku, "Pakai dulu."

     “Apa?” Aku mengambilnya, mengira itu kaus kaki hitam.

     Ji Lang, "Penutup mata."

     Dia mengatakan di pos bahwa aku tampaknya takut cahaya ketika aku tidur ... aku pikir dia menjual karakter anjing yang setia, tetapi tidak menyangka ... Dia bahkan membeli penutup mata.

     "Terima kasih ..." kataku malu-malu.

     Dia juga tersipu, dan merasa tidak berdaya untuk menyentuh bagian belakang lehernya untuk meredakan rasa malunya, "Cepatlah, pergi tidur, sebentar lagi aku akan mematikan lampunya."

     Aku mengangguk dan memasang penutup mata, menarik selimut ke atas dan tertidur.

     Aku tidak berani balik ke kanan, Ji Lang akam mengira aku menyarankan dia melakukan sesuatu. Aku takut akan melengkungkan pantatku ke pelukannya di tengah malam, dan kemudian aku akan melihat diriku menggeseknya tanpa tahu malu dari pos, aku tidak mau hidup lagi.

     Suara tulisan Ji Lang sepertinya ada di telingaku, ujung pena dan kertasnya bergesekan dan mengeluarkan suara gemerisik, entah kenapa lega, entah kapan dia pergi tidur, lagipula aku tertidur setelah beberapa saat.

     Ketika aku bangun keesokan paginya, aku merasa sedikit tidak nyaman. Ketika membuka mata, aku tidak melihat apa-apa. Aku mengira aku buta, tetapi ternyata penutup mataku belum di lepas.

     Ajaib.

     Ketika aku ingin berguling dan meregangkan pinggangku ... Tiba-tiba, aku menyadari bahwa aku berada dalam pelukan Ji Lang ...

     Ini tidak seperti dia memelukku, kepalaku bertumpu pada lengannya, satu kaki melingkari perutnya, berantakan sama sekali, aku menutup mulutku dan merasakan ada saliva dingin yang mengalir di sudut mulut.

     Sial ... Akankah Ji Lang membuka matanya dan menatapku? Imejku ...

     Sejak aku tidur di ranjang Ji Lang, aku sepertinya sudah lupa bahwa aku tidak bisa tidur sebelah kiri dan menekan jantungku saat tidur. Aku dengan tidak hati-hati meletakkan padanya berbagai posisi tidur dan sangat serakah ...

     Ji Lang sepertinya tidak tahu kalau aku sudah bangun, jadi dia diam-diam menyeka sudut mulutku dengan ibu jarinya.

     Benar saja, aku ditemukan meneteskan air liur.

     Apakah aku masih dewa laki-laki, apakah aku masih memenuhi syarat untuk menjadi dewa laki-laki?

     Di mata Ji Lang, aku sembelit dan ngiler ... aku tidak tahu apakah dia tetap pada niat aslinya dan berpikir kami akan bersama cepat atau lambat ...

     Tuhan tahu betapa aku bersyukur atas penutup mata hitam di mataku. Mata adalah jendela jiwa manusia. Mereka dapat mengatakan banyak hal yang tidak dapat dikatakan orang, tetapi mereka tidak dapat menyembunyikan emosi yang selalu ingin disembunyikan. Jika tidak ada penutup mata, Ji Lang akan tahu aku merasa sangat malu.

     Dia dengan lembut melepaskan kakiku dari perutnya, dan betisku sepertinya telah menyentuh sesuatu yang ... keras.

     Ji Lang keras, mungkin bukan karena aku, tapi karena hari sudah pagi.

     Tapi, itu mungkin aku.

     Aku selalu narsis dan aku tidak pernah bisa menyangkalnya, terutama setelah membaca postingannya, orang ini dengan jelas memperhatikanku sebelum aku mengenalnya.

     Karena aku, dia memiliki semua reaksi yang mengejutkanku.

     Ji Lang tidak berani bernapas sedikit berat, menahan napas dan menempatkanku dalam posisi berbaring di sebelah kanan, dan selimut ditempatkan menutupi bahuku, lalu dia pergi ke kamar mandi dengan ringan.

     Aku akhirnya berani bernafas.

     Tidak hanya dia takut membangunkanku, aku juga takut dibangunkan olehnya.

     Itu terlalu memalukan.

     Sejak mengintip postingannya, aku selalu merasa ada lapisan kertas jendela di antara kami. Semua yang kami lakukan bisa dijelaskan dengan "Aku suka kamu".

     Perasaan hidup bersama sebelum jatuh cinta, segala detail kecil yang memalukan dalam hidup bisa disebut sebagai beban yang manis.

     Ketika dia akan selesai mencuci, aku melepas penutup mata, duduk dan menguap malas, menyapa Ji Lang yang baru saja keluar dari kamar mandi, "Pagi."

     “Kau bangun pagi hari ini.” Ji Lang menyeka rambutnya dengan handuk, bagian atas tubuhnya masih telanjang.

     “Kebetulan.” Aku turun dari tempat tidur, hatiku benar-benar menguji kemampuan akting, sepertinya aku akan mengambil piala aktor, Ji Lang dan aku adalah aktor ganda.

     Gou Zi menggonggong di balkon dengan kegirangan, seolah-olah melihat sesuatu. Sebelum aku pergi ke kamar mandi, aku melangkah mundur dan melihat keluar dari jendela. Ji Lang mengikutinya untuk melihat apa yang terjadi.

     Kemudian kami melihat dua gadis tetangga balkon di sebelah memegang sepotong besar roti di tangan mereka dan melemparkan sepotong kecil roti ke arah kami ke seberang dinding. Gou Zi mungkin berpikir sepotong roti harum seperti iga.  Berlari liar di halaman.

     Aku tidak memakai kemeja, begitu pula Ji Lang, kami berdua menempel di jendela dan memandang di dekat dinding.

     Ketika Ji Lang ingin mengangkat tangannya untuk menyapa, kami mendengar mereka berdua menjerit, "Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!"

     “… Mereka kenapa?” Ji Lang bertanya padaku.

     “Entahlah.” Mungkin mereka mengira kami pria cabul karena memandangi mereka tanpa baju.

     Aku berbalik dan pergi ke kamar mandi Ji Lang pergi ke halaman untuk menangkap Gou Zi dan memukul bokongnya.

     Ketika tiba di kelas, mata Lai Wenle menatapku.

     Meskipun studinya tidak terlalu bagus, dia belajar mandiri setiap hari, karena itu juga aku menghela nafas setiap hari.

     “Lihat aku?” Aku membanting tas sekolahku ke atas meja, dan duduk untuk mengumpulkan materi.

     "Entah hanya mataku," Lai Wenle melirik ke pintu lagi, menyipitkan mata, "Kenapa, ada pelindung bunga yang mengabaikan orang? Sepertinya tadi aku melihat Ji Lang mengirimmu ke pintu kelas dan pergi?"

*Seorang pria dengan rasa tanggung jawab

     “Apa kau sakit? Dia harus melewati pintu kelas kita ketika dia pergi ke kelasnya.” Sekali lagi, mata adalah jendela jiwa, jika pikiran sudah tersetting ingin menemukan bromance. Apapun yang dilihat pasti gay.

     Lai Wenle, "yayaya."

     Usai membaca pagi, kami pergi latihan, lalu sarapan. Biasanya aku dan Ji Lang belum pernah makan bersama. Jujur saja, SMA itu pahit. Waktu sarapan hanya sebentar. Banyak cewek ragu harus memilih pergi ke toilet atau sarapan, kau hanya dapat memilih salah satu dari dua, lagipula, kau tidak dapat membawa makanan ke dalam kelas.

     Saat aku hendak pergi ke kafetaria, seseorang tiba-tiba memanggilku di koridor.

     Aku menoleh, orang ini agak familiar, hampir tidak ingat, "Ada apa?"

     “Aku, Shao Mingan, apa kau ingat aku?” Shao Mingan mungkin berlari mengejarki, terengah-engah, “Terakhir kali…”

     “Ingat.” Pria dari sekelompok grup yang nongkrong didekat toilet, yang katanya menyukaiku, ini menyedihkan.

     "Itu ..." Shao Mingan ragu-ragu untuk berkata, "Bolehkah aku meminjam catatan Sejarahmu."

     "Hm?"

     Shao Mingan selanjutnya menjelaskan, "Guru kami mengatakan kau memiliki daftar lengkap poin pengetahuan. Aku dapat meminjam salinanmu jika tidak tahu bagaimana mengaturnya."

     Shao Mingan dan Ji Lang satu kelas, jika gurunya benar-benar mengatakan ini, Ji Lang sudah datang untuk meminjam padaku kan? Tadi malam poin pengetahuanku ada di atas meja begitu lama, tapi Ji Lang mengabdikan dirinya pada matematika.

     “Apa bisa?” Saat dia bertanya padaku, karena mungkin terlalu gugup, dia menelan ludah, jakunnya berguncang naik turun. “Subjek parsialku terlalu serius ... Guru hanya mengusulkan ini padaku, takut yang lain juga akan merepotkanmu ..."

     Ternyata seperti itu, "Kalau begitu kau ikut aku pergi ke kelas untuk mengambilnya?"

     "Terima kasih!" Shao Ming'an mengangguk, "aku akan mengirimkannya kembali kepadamu setelah menyalinnya."[]

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments