35. Apakah kau punya kebiasaan tidur...

 

    Di monitor LCD yang tergantung di dinding ruangan, kebetulan ada lagu dengan melodi yang penuh semangat. Mereka yang tengah memegang mic, bernyanyi dan berteriak dengan heboh.

     Sementara mereia yang memainkan Truth or Dare juga menatap botol bir yang berputar di meja kopi, dan tidak ada yang memperhatikan Jing Ji dan Ying Jiao yang duduk disudut.

     Jing Ji tercengang sesaat, wajahnya langsung memerah.

     Ying Jiao terkekeh, meletakkan kepalanya di bahu Jing Ji dengan malas, dan menatapnya, "kenapa kau tidak menjawab? Ingin aku mengatakannya lagi?"

     Ujung rambutnya mengusap ringan kulit leher sehingga menimbulkan rasa gatal.  Tubuh Jing Ji bergetar, tangannya mencoba untuk mendorong Ying Jiao, tetapi lupa bahwa dia masih memegang susu kedelai sehingga botol susu kedelai itu jatuh ke sofa.

     Jing Ji dengan cepat mengulurkan mengangkat botol itu, hanya untuk menyadari bahwa susu kedelai itu ternyata sudah habis.

     Tangannya sedikit gemetar, mencoba menjauh Ying Jiao, tetapi kirinya adalah tepi sofa, dan tidak ada tempat untuk bergerak.

     Jing Ji menghela nafas, mencoba menenangkan detak jantungnya, dan berkata dengan dingin, "Kau minggir."

     Tatapan Ying Jiao beralih ke pipi Jing Ji yang memerah, tersenyum, dan menjauh secara sukarela, tidak menggodanya lagi.

     Dia mengulurkan tangan dan mengambil botol kosong di tangan Jing Ji, memanggil pelayan, dan memberinya botol baru.

      Saat ini, Jing Ji tidak lagi berpartisipasi dalam permainan Truth or Dare. Sebaliknya, dia memegang sebotol susu kedelai dan bersandar di sudut, menyesapnya dan sesekali dalam keadaan linglung.

     Setelah pukul sepuluh, para gadis pergi satu per satu.

     Yang pria belum cukup bermain, dan beberapa orang menyarankan agar mereka menginap saja. He Yu juga tidak ingin pulang ke rumah, ibunya pasti akan bertanya tentang studinya, jadi dia segera setuju dan pergi ke meja depan untuk memperpanjang waktu reservasi.

     Setelah minum sebotol susu kedelai lagi, Jing Ji telah benar-benar menenangkan hatinya, dan tidak ada raut aneh lagi di wajahnya. Dia melihat jam dan itu hampir pukul sebelas.

     Jing Ji sangat memperhatikan istirahat dan kesehatan mata. Ketika bel tidur berbunyi pada jam 11 setiap hari, dia pasti akan pergi tidur. Tidak ada baginya untuk membaca buku sambil berbaring di tempat tidur dengan senter.

     Dia sudah agak mengantuk saat ini, tetapi melihat orang lain bersemangat tinggi, dia terlalu malu untuk tidur.

     Dengan tenang menahan menguap yang datang ke mulutnya, Jing Ji mengangkat jarinya dan mengusap matanya, diam-diam menghafal rumus matematika di dalam hatinya, agar dirinya lebih terjaga.

     Ying Jiao memperhatikannya sepanjang waktu, dan dia bisa melihat gerakan kecilnya itu.

     Dia berbalik sedikit, mengeluarkan ponselnya, dan mengirim pesan ke grup——

     [ Kalian bermain, aku akan pergi dengan Jing Ji lebih dulu. ]

     He Yu yang sedang minum cola seketika hampir menyemburkannya ketika membaca pesan itu.

     He Yu ragu-ragu sejenak, menimbang kata-katanya, dan mengirim pesan--

     He Jia Songong [ Kau dan Jing Ji? Kalian pulang ke rumah masing-masing? ]

     [ Tidak, kami pulang bersama. ]

     Peng Chengcheng [ …… ]

     He Jia Songong [ Kau ... katakan yang sebenarnya, apakah aku yang terlalu banyak berpikir, atau kau memang punya rencana ambigu? ]

     Bukan Zheng Que [ Kakak Jiao, kau sungguh akan melakukannya? ]

     Ying Jiao mencibir, mengambil jaket dengan satu tangan, dan mengetik dengan tangan lainnya——

     [ Makan lebih banyak kenari, kurangi pikiran cabul kalian. ]

     [ Aku pergi. ]

     He Jia Songong [ Apa kau yakin tidak akan menjadi buas, memanfaatkan gelapnya malam hari untuk melakukan sesuatu yang bukan manusia? ]

     [ …… ]

     [ Enyahlah. ]

     Ying Jiao memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan mendorong Jing Ji, yang matanya hampir terpejam, "ayo pergi, tidur dengan Kakak."

     Jing Ji menatapnya.

     "Tidak," kata Ying Jiao mengusap dahi, tanpa daya, "Maksudku, cari tempat untuk kita tidur."

     Sepertinya masih ada yang salah.

     Ying Jiao mengumpat dalam hati, tersenyum, "maksudku, tidur biasa, mengerti kan?"

     Dia saja yang berpikirkan cabul, padahal Jing Ji tidak berpikir sejauh itu.

     Jing Ji mengeratkan seragam sekolahnya, menggelengkan kepala, "Aku tidak mengantuk, tidak perlu."

     “Tidak mengantuk?” Ying Jiao tertawa, Jing Ji yang menganggukkan kepalanya seperti ayam mematuk nasi itu disebut belum mengantuk.

     “Ayo pergi.” Ying Jiao memegangi pergelangan tangannya dan menariknya berdiri.

     Orang-orang didalam ruangan tiba-tiba memandang mereka.

     Ying Jiao tersenyum pada mereka dan berkata, "Ada yang harus aku lakukan di rumah jadi aku harus kembali. Ngomong-ngomong, aku akan pergi dengan JingJi. Kalian bersenang-senang."

     Beberapa anak laki-laki mengangguk satu demi satu--

     "Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Kakak Jiao, silahkan pergi."

     "Oke! Ayo terus bernyanyi!"

     "Kakak Jiao! Jing Ji! Sampai jumpa!"

     Ying Jiao membawa Jing Ji keluar dari ruang karaoke.

     Jing Ji menunggu sampai pintu ditutup sebelum dia melepaskan tangannya.

     "Aku tidak akan kembali," Jing Ji menunduk sedikit, "Aku akan tinggal bersama mereka sepanjang malam ini."

     Ying Jiao merangkul bahunya, dan berjalan ke depan bersama, "apa yang sepanjang malam? Ayo pergi, tinggal di rumahku untuk satu malam."

     "Tidak." Jing Ji keluar di bawah lengan Yingjiao, dia menolak, dan nadanya sangat tegas, "Kau pulang saja, hati-hati dijalan, aku masuk dulu."

     Ying Jiao melihat punggungnya, menghela nafas dalam hatinya, dan secara kasar mengerti apa yang dia pikirkan.

     Jing Ji terlihat santai, namun nyatanya dia adalah orang yang menjauhkan diri, pergi ke rumah orang lain untuk tidur terlalu intim baginya.

     "Tidak pergi ke rumahku," Ying Jiao menyusulnya dalam dua langkah, "Haruskah kita mencari hotel?"

     Dia menyeret Jing Ji keluar, "Jika kau tidak tidur malam ini, kau tidak akan ada energik besok. Olimpiade matematika akan segera tiba, satu hari akan terbuang jika kau menyia-nyiakannya."

     Jing Ji yang hendak mendorong tangannya, berhenti.

     Ying Jiao melanjutkan, "Tidur nyenyak malam ini dan jaga semangatmu. Besok sore, mari kita kembali ke sekolah untuk belajar mandiri. Oke?"

     "Tunggu dulu," Jing Ji menepuk punggung tangannya dan memberi isyarat agar dia melepaskannya.

     Masih belum setuju?

     Ying Jiao gregetan, bagaimana bisa Jing Ji begitu keras kepala.

     Dia hanya ingin mengatakan sesuatu lagi, namun Jing Ji lebih dulu berkata, "Tas sekolahku masih ada di dalam."

     Ying Jiao segera mengerti bahwa dia setuju.

     “Kau tunggu di sini, jangan berkeliaran.” Ying Jiao menarik ritsleting seragam sekolah Jing Ji lebih rapat, “Aku akan masuk dan membantumu mengambilnya.”

     Saat keduanya meninggalkan KTV, sudah hampir pukul setengah sebelas.

     Ini adalah pertama kalinya dia tidur dengan Jing Ji. Ying Jiao ingin mencari hotel dengan lingkungan yang lebih baik.  Meskipun bukan bintang lima, setidaknya bintang empat.

     Namun, tidak ada tempat setinggi itu di sekitar sekolah, hanya ada hotel kecil dengan lampu warna-warni yang gemerlap, membuat sakit mata.

     Ying Jiao akhirnya dengan enggan dia memilih sebuah hotel kecil yang enak dipandang dan masuk, meminta kamar twin.

*kamar dengan dua tempat tidur satu badan.

     “Bau apa ini?” Begitu Ying Jiao memasuki pintu, dia mengerutkan kening dan menoleh ke Jing Ji, “Apa kau menciumnya?”

     "Kau ..." Jing Ji menatapnya dan berhenti berbicara.

     "Apa yang terjadi?"

     “Bukankah rumahmu ada di dekat sini?” Jing Ji membuka celah kecil di jendela untuk mengeluarkan bau apek di dalam ruangan, dan bertanya kepada Ying Jiao, “Kau tidak mau pulang?”

     Dia hanya ingin bertanya ketika mereka di meja depan, tapi aksi Ying Jiao terlalu cepat dan keduanya sudah memasuki pintu.

     Ying Jiao, "..."

     Sial, ceroboh.

     Jing Ji menyalakan lampu samping tempat tidur, meletakkan tas sekolahnya di atas meja, menoleh pada Ying Jiao, "Apa ada sesuatu di rumah? Sekarang hampir jam dua belas."

     "Itu ..." kata Ying Jiao samar-samar, "Tidak apa-apa."

     Kemudian dia dengan cepat mengganti topik pembicaraan, "Apa kau punya baju ganti?"

     Ketika dia bertanya, Jing Ji ingat bahwa dia bawa pakaian bersih.

     "Tunggu aku," Ying Jiao berbalik, mengambil kartu kamar dan memasukkannya ke sakunya, "Aku baru saja melihat toko serba ada di dekat sini."

     Sebelum Jing Ji bisa menjawab, dia bergegas keluar.

     Toko serba ada di lantai bawah dan buka 24 jam sehari. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit bagi Ying Jiao untuk kembali dengan kantong plastik.

     "Untukmu." Dia meletakkan barang-barang di tempat tidur, mengeluarkan paket biru dari kantong plastik dan melemparkannya ke Jing Ji, "Pergi mandi."

     Jing Ji melihatnya, itu adalah satu pak pakaian dalam sekali pakai.

     Pipinya panas dan tidak lagi repot-repot bertanya mengapa Ying Jiao masih tidak pulang, Dia buru-buru masuk ke kamar mandi, dan ketika pintunya tertutup, kakinya terpeleset tanpa sengaja.

     Ying Jiao tidak bisa menahan tawa, sampai dia mendengar derai air di telinganya, dia keluar kamar, kemudian menyalakan rokoknya.

     Mengingat pengalaman sebelumnya, dia tidak berani tinggal, jika dia tidak bisa mengendalikannya, itu akan menakutkan Jing Ji.

     Ying Jiao berdiri diluar dan merokok, lalu duduk di sofa di meja depan dan bermain-main dengan ponselnya sebentar. Diperkirakan Jing Ji hampir selesai, lalu kembali ke kamar.

     Tepat waktu, Jing Ji baru saja selesai mandi, dan sedang menyeka rambutnya dengan handuk. Melihat Ying Jiao, gerakan tangannya berhenti, "aku sudah selesai."

     “Oke, kalau begitu giliranku.” Ying Jiao mengeluarkan satu pak pakaian dalam sekali pakai dari kantong plastik, berbalik dan pergi ke kamar mandi.

     Jing Ji melihat tas kemasan biru yang terbuka di sampingnya, dan hanya ingin menahan wajah panasnya dan bertanya bagaimana Ying Jiao membeli dua paket.  Tiba-tiba teringat percakapan dengan Ying Jiao hari itu, ia terdiam sesaat, lalu mengatupkan bibir bawahnya dengan marah, dan dengan cepat memasukkan bungkusan celana dalam itu ke dalam tas sekolah yang paling dalam.

     Ketika Ying Jiao keluar, rambut Jing Ji telah dikeringkan, dan dia menyerahkan pengering rambut, "Ini."

     Hal yang tidak suka dilakukan Ying Jiao adalah mengeringkan rambutnya, tetapi orang yang memberi pengering rambut itu adalah Jing Ji, jadi itu bisa dikecualikan.

     Dia menyalakan udara terpanas, mengeringkan sebentar hingga tidak ada lagi air menetes, lalu mematikan pengering rambut.

     “Tidurlah.” Ying Jiao menggantungkan handuk di gantungan dan tersenyum pada Jing Ji, “kau susah mengantuk dari tadi .”

     Jing Ji terkejut, "Bagaimana kau tahu?"

     Ying Jiao menunjuk matanya, "aku bisa melihatnya."

     Dia kemdian berjalan ke pintu dan mematikan lampu di atas kepalanya, hanya menyisakan dua lampu samping tempat tidur.

     Ruangan itu tiba-tiba menjadi gelap, Jing Ji mengangkat selimut, dan naik ke tempat tidur. Tiba-tiba Ying Jiao berkata, "Apa kau punya kebiasaan tidur yang khusus?"

     Setelah mendengar ini, Jing Ji menoleh dengan ragu, "Hm?"

     Dia berpikir bahwa Ying Jiao mengkhawatirkan kebiasaan buruknya, dan berjanji dengan serius, "Jangan khawatir, aku tidak mendengkur."

     Ying Jiao terkekeh, "Siapa yang mau menanyakan ini?"

     Dia berhenti, dan berkata dengan santai, "Aku bertanya apakah kau punya kebiasaan tidur telanjang."

     Ying Jiao memandangnya, "Jika kau punya, kau bebas, aku tidak keberatan sama sekali."

     Jing Ji, "..."

     Jing Ji menutupi diri dibawah selimut itu dengan malu dan kesal, dan beberapa detik kemudian menjawab dengan suara pengap, "Aku tidak punya."

     Ying Jiao menahan tawa, dan melanjutkan, "Kau pikir aku begitu murah hati, bukankah seharusnya kau juga murah hati? Bolehkah aku tidur telanjang?"

     Jing Ji yang sedang menyesuaikan postur tubuhnya langsung membeku. Beberapa detik kemudian, dia mengulurkan tangan dari selimut dan mematikan lampu samping tempat tidur.

     Menggoda Jing Ji membuat Ying Jiao dalam suasana hati yang baik. Dia melepas sepatunya dan pergi tidur, dan hendak mematikan lampu, namun ada suara jeritan karena bercinta terdengar dari kamar sebelah.

     Ying Jiao, "..."

     Dia terbatuk dan bertanya pada Jing Ji, "Apa kau mendengar itu?"

     Jing Ji bahkan belum pernah menonton film anu sebelumnya, dan tiba-tiba mendengar adegan seperti itu, juga saat ini bersama Yingjiao, dia merasa canggung dan malu, hampir terbakar.

     Dia mengangguk kaku, "Aku mendengarnya."

     Ying Jiao mengerutkan kening dan tidak tahan untuk mengumpat, "Fucek, hotel rusak ini tidak kedap suara?"

     Tidak hanya mereka, kamar lain juga mendengar suara ini.

     Setelah beberapa saat, suara batuk dan langkah kaki yang berat terdengar di koridor, tampaknya mengingatkan pasangan itu untuk tidak berisik.

     Namun, belum lama berhenti, suara di sebelah justru lebih keras.

     Wajah Jing Ji memerah dan hampir berdarah.

     Dia bangkit untuk merobek selembar tisu, meremasnya menjadi bola bundar, dan memasukkannya ke telinganya.  Melihat Ying Jiao menoleh, dia berkata dengan canggung, "Kau ... kau juga menginginkannya?"

     Jika tahu hal ini akan terjadi, dia lebih lebih baik tidur di lantai ruang karaoke.

     "Jangan lakukan ini," Ying Jiao bangun dari tempat tidur, mengeluarkan tisu dari telinga Jing Ji, "Tidak baik untuk telingamu, jangan khawatir, Kakak punya cara."

     Dia mendengus, mengangkat telepon dan membukanya dengan sidik jarinya.

     Sejak kecil, tidak ada seorang pun kecuali Jing Ji yang bisa mengontrolnya, apalagi dengan gangguan seperti ini.

     Dengan temperamen Ying Jiao, Jing Ji sangat meragukan bahwa Ying Jiao akan mengetuk pintu sebelah, kemudian tersenyum dan meminta mereka melakuka  anu dengan sedikit lebih tenang.

     Dia segera turun dari tempat tidur dan menghentikannya, "Jangan pergi, mari kita tahan ..."

     "Tenang saja." Ying Jiao membuka perangkat lunak musik, mengetik di kotak pencarian, dan berkata, "Jangan meremehkan Kakak, lihat saja apa mereka masih berani berisik."

     Dia berdiri di depan pintu, memutar telepon ke volume maksimum, dan mengklik tombol putar.

     Sedetik kemudian, suara anak kecil memenuhi seluruh lantai tiga——

     'Apa nama Ayah dari ayah?'

     'Ayah dari ayah disebut Kakek.'

     'Apa nama ibu dari ayah?'

     'Ibu dari ayah disebut Nenek.'

     'Apa nama saudara laki-laki Ayah?

     'Saudara laki-laki ayah disebut Paman."

     Teriakan yang tidak bisa dihentikan itu tiba-tiba berhenti.[]

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments