34. Ingat Ciuman Pertamamu

 

    Setelah mengkonfirmasi berita tentang ujian, beberapa siswa di Kelas 7 yang memiliki sikap belajar yang lebih serius mulai gugup.

     Terutama Chen Miaomiao dan Wu Weicheng, yang tidak pandai matematika, lari ke Jing Ji setelah kelas untuk bertanya soal, itu merupakan pemandangan yang langka dari Kelas Tujuh.

     "Jing Ji, aku masih punya soal matematika yang tidak bisa aku kerjakan," Chen Miaomiao memandang Jing Ji sedikit malu, dan berkata dengan hati-hati, "apa kau punya waktu untuk memberitahuku sekarang?"

     Khawatir Jing Ji merasa terganggu, dia dengan cepat menambahkan kalimat lain, "Kali ini hanya satu pertanyaan."

     “Ya, apa pertanyaannya?” Jing Ji meletakkan buku Olimpiade Matematika dan menatapnya, “Coba aku lihat.”

     Chen Miaomiao segera membuka halaman buku, menunjuk ke sudut kanan bawah, "Yang ini!"

     Jing Ji meliriknya, dan itu adalah pertanyaan berbentuk kerucut besar dengan dua pertanyaan kecil.

     Pertanyaan pertama adalah mencari eksentrisitas elips, dan pertanyaan kedua adalah mengasumsikan kondisi untuk mencari persamaan elips.

     “Pertanyaan ini tidak sulit untuk dipahami,” Jing Ji mengambil pulpen dan menuliskan syarat-syarat pertanyaan pada kertas draft, dan berkata, “Mari kita atur dulu koordinat titik Q ke Q (x0, 0). Dari sini kita tahu ..."

     Dia melambat dan menyimpulkan langkah demi langkah, khawatir Chen Miaomiao tidak akan mengerti, jadi dia menuliskan langkah-langkahnya sedetail mungkin. Meski suaranya dingin dan acuh tak acuh, dan tidak ada ekspresi di wajahnya, itu hanya membuat orang merasakan ketelitian dan kesabarannya.

     Mata Chen Miaomiao berpindah dari kertas draft ke wajah Jing Ji tanpa sadar.

     Ciri wajah Jing Ji adalah tiga dimensi dan terdefinisi dengan baik dari sudut pandangnya, dia dapat melihat bulu matanya yang tebal dan panjang, dan kadang-kadang berkedip, seperti menggelitik ulu hati orang.

     Bahkan walaupun mengetahui bahwa Jing Ji mungkin tidak menyukai perempuan, Chen Miaomiao tidak bisa menahan detak jantungnya.

     Xueba dan tampan, dia adalah dewa sejati! Aaaahhhhhh!

     “Apa kau mengerti?” Jing Ji mengangkat kepalanya dan bertanya setelah selesai menerangkan.

     “Ah?” Chen Miaomiao tersipu dan membuang muka dari Jing Ji dengan hati nurani yang bersalah, “itu, aku masih tidak mengerti.”

     Jing Ji berpikir bahwa dia berbicara terlalu cepat, dan ragu bagaimana caranya agar lebih detail. Namun Chen Miaomiao tiba-tiba mendekat dan bertanya dengan suara rendah, "Jing Ji, tipe orang seperti apa yang kau suka?"

     Jing Ji membeku sesaat, dan kemudian mengganti topik pembicaraan, "Tidak masalah jika kau tidak mengerti, aku akan memberitahumu lagi, pertanyaan ini mungkin terlibat dalam ujian."

     “Ah! Oke.” Mendengar itu, Chen Miaomiao segera menyingkirkan gosipnya dan mulai mendengarkan dengan seksama.

     Lima menit kemudian, Chen Miaomiao mengambil buku latihan, memandang Jing Jii dengan mata berbinar, dan mengagumi, "Kau luar biasa! Aku mengerti!"

     "Bukan apa-apa," Jing Ji tersenyum, dan menunjuk ke kertas konsep diatas meja, "Apa kau ingin mengambil ini? Kau bisa gunakan sebagai referensi."

     “Tentu saja!” Chen Miaomiao menyambar kertas konsep itu, seolah menggendong bayi, “Terima kasih, Dalao!”

     “Tidak masalah, kau bisa bertanya padaku jika kau tidak mengerti di masa depan.” Kata Jing Ji, menundukkan kepalanya lagi untuk melanjutkan membaca.

     Chen Miaomiao terharu dengan air mata, mengapa Jing Ji begitu baik aaahh!

     Dia kembali memikirkan pertanyaan yang sempat dia tanyakan tadi. Setelah ragu-ragu, dia dengan berani bertanya lagi, "Jing Ji, tipe apa yang kau suka?"

     "Aku akan membantumu membuat beberapa pertanyaan serupa," Pena Jing Ji berhenti, tanpa mengangkat kepalanya, "Kau bisa mengerjakannya untuk memperdalam ingatanmu."

     “Wow, oke, oke! Terima kasih!” Chen Miaomiao langsung meletakkan pertanyaan tadi di belakang kepalanya, mengangguk karena terkejut, dan ingin mengatakan sesuatu lagi, namun bel kelas berbunyi.

     Dia harus memegang buku latihan dan kertas konsep kembali ke kursinya.

     Dari awal sampai akhir, Jing Ji tidak menjawab pertanyaannya.

     Ying Jiao seperti sedang mengerjakan pertanyaan di samping, tetapi sebenarnya mendengarkan percakapan antara kedua orang itu sepenuhnya. Dia menoleh dan melirik Chen Miaomiao, perlahan-lahan mengangkat sudut bibirnya.

     Jing Ji tampaknya memiliki temperamen yang baik dan sabar dengan semua orang.  Namun nyatanya, sikap ini sebatas belajar.

     Mengenai privasinya, Jing Ji sangat tertutup, jangankan Chen Miaomiao, bahkan jika sepuluh orang datang untuk bertanya, Jing Ji tidak akan menjawab.

     Ying Jiao tertawa dalam diam dan bertanya pada Jing Ji sebelum guru datang, "es serut Yueweixuan enak, apa kau suka?"

     Tidak ada makanan yang Jing Ji tidak suka, hanya ada dua standar, paling disuka dan biasa-biasa saja. Mendengar ini, dia mengangguk, "Aku suka."

     Ying Jiao mendapatkan jawabannya, menoleh dengan puas dan melanjutkan mengerjakan soal.

     Benar saja, sikap Jing Ji berbeda dengan dirinya dan orang lain.

     Dilihat dari jenis pertanyaan yang sama-sama mengenai 'suka', Jing Ji menjawab untuknya.

     Hari-hari berlalu dengan cepat, dan segera hari Jumat.

     Kelas 7 telah menetapkan bahwa total 21 orang akan pergi makan malam, karena pemberitahuannya agak terlambat, banyak dari teman sekelas yang telah membuat rencana lain lebih dulu.

     Setelah makan siang, Jing Ji ragu-ragu, dan pergi ke toilet dengan ponselnya, menelepon ayah Jing.

     Ayah Jing sepertinya sedang tidur siang. Setelah dibangunkan, suaranya terdengar sangat tidak sabar, "Ada apa?"

     Jing Ji berkata dengan acuh tak acuh, "Aku mungkin tidak akan kembali, ada pesta makan malam dengan teman-teman sekelas."

     Ayah Jing mendengus dingin, "Pesta makan malam? Ayolah, jangan mencari-cari alasan. Kau pikir aku tidak tahu kau ini seperti apa?"

     Jing Ji menarik napas dalam-dalam, "Sungguh---"

     Ayah Jing menyela, "aku tidak peduli kau diluar sana mau melakukan apa, aku tidak bisa mengontrolmu ..."

     Sinisme Ayah Jing terus terdengar ke telinga Jing Ji melalui speaker telepon, "Kau dapat melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku akan mentransfer biaya hidupmu untuk bulan depan. Jangan minta lagi kalau kau menghabiskan terlalu banyak."

     Dia lalu mengeluh, "Bagaimana kau bisa begitu bodoh menelepon pada siang hari untuk hal tidak penting seperti itu! Ayahmu ini lelah seharian, dan akhirnya bisa istirahat siang! Bagaimana kau ... Jangan kembali jika kau pulang larut, tidak ada yang akan membuka pintu untukmu ..."

     Jing Ji menutup telepon dengan hampa.

     Dia memasukkan kembali ponsel ke sakunya, menghadap ke dinding sebentar, dan kemudian meninggalkan toilet.

     Dalam perjalanan, Jing Ji bertemu dengan Li Zhou yang telah kembali dari toko kecil.

     Li Zhou memberinya sebungkus cemilan stik pedas dan bertanya, "Kau pergi ke mana? Toilet?"

     Jing Ji bergumam mengiyakan, dan kembali ke kelas sambil mengobrol dengannya, tanpa jejak ketidakbahagiaan di wajahnya.

     Sore hari, kelas 7 yang akan makan malam tidak bisa duduk diam. Seperti ada serangga yang tumbuh di bawah bokong. Mereka bergerak setiap beberapa menit, dan berharap guru segera mengumumkan akhir sekolah.

     Ketika bel berbunyi pada kuartal keempat, segera setelah Guru Liu menyelesaikan kelas, seseorang bergegas keluar dengan tidak sabar.

     "Jangan khawatir, kau berkemas perlahan." Ying Jiao duduk di kursi dan memperhatikan Jing Ji, "Ruanganya telah dipesan. Diperkirakan akan memakan waktu 20 menit untuk menyajikan makanan. Mereka pergi lebih awal dan hanya akan duduk di sana."

     Jing Ji juga memikirkannya, gerakan tangannya tiba-tiba melambat.

     He Yu dan yang lainnya juga tidak pergi. Mereka mengambil beberapa buku dan menaruhnya di tas sekolah mereka agar bisa pulang dan menunjukkannya kepada orang tua mereka. Kemudian mereka meninggalkan sekolah bersama dengan Ying Jiao dan Jing Ji.

     Setelah tiba di dalam bilik restoran, beberapa orang secara sadar menyerahkan posisi mereka disekitar Ying Jiao.

     Jing Ji melihat sekeliling dan melihat bahwa tidak ada posisi kosong lainnya, jadi dia harus duduk di sebelah Ying Jiao.

     Mereka semua remaja puber dan sudah sangat lapar, belum lagi aroma segar masakan tetap hidup di dalam bilik. Namun, waktu penyajian belum tiba, jadi mereka harus memesan es serut untuk menunda lapar.

     Meski di luar dingin, AC dihidupkan di dalam bilik, dan lantainya hangat. Ada beberapa lelaki yang gerah bahkan melepas jaket begitu memasuki pintu. Saat ini, makan semangkuk es serut sangat baik.

     Es serut Yueweixuan adalah ciri khasnya. Dalam mangkuk porselen putih kecil dengan bunga biru, terdapat setengah mangkuk es serut yang mengilap, dengan lapisan tebal kacang tumbuk dan kismis di atasnya. Jumlah gula merahnya pas, tidak terlalu manis dan berminyak, tanpa menghilangkan rasa lembutnya.

     “Apa kau terbiasa makan?” Ying Jiao menggunakan perhatian perifernya untuk memperhatikan ekspresi Jing Ji setiap saat. Melihat tidak ada apa-apa di wajahnya, dia tidak tahan untuk memiringkan kepalanya dan bertanya.

     Jing Ji mengangguk, "Ini enak."

     Ying Jiao melirik mangkuknya.

     Tidak banyak es serut di dalam mangkuk, dan hampir habis setelah beberapa gigitan.  Saat ini, tidak ada yang tersisa di mangkuk Jing Ji.

     Dia meletakkan sendok dan bertanya pada Jing Ji, "mau tambah lagi?"

     "Tidak," Jing Ji menggelengkan kepalanya dan menyesap air gula, "Cukup, simpan ruang untuk makan malam."

     Saat keduanya berbicara, hidangan datang satu demi satu.

     Mereka semua memesan hidangan klasik Sichuan, yang pedas dan kaya rasa, sangat cocok untuk makan malam.

     Dari 21 orang, hanya ada tiga perempuan, dan sisanya laki-laki, yang nafsu makan besar dapat menelan seperti sapi.  Beberapa hidangan lagi ditambahkan di tengah waktu makan, dan begitu saja, setelah semua orang meletakkan sumpit mereka, tidak ada yang tersisa di atas meja.

     Wu Weicheng menepuk perutnya sambil menyeka keringatnya dengan tisu, mendesah, "Ini sangat keren!"

     He Yu menggosok hidung merahnya dan bersin, "Pergi, ayo kita ke lokasi berikutnya."

     “Pergi!” Zheng Que menyingkirkan sumpitnya, menyeka mulutnya dengan punggung tangan, dan bergegas keluar lebih dulu.

     Sekelompok orang pergi ke ktv dengan sekuat tenaga.

     He Yu melaporkan nomor ponselnya di meja depan, dan setelah pelayan mengkonfirmasi formulir reservasi mereka, dia membawa mereka ke sebuah bilikà besar di dalam.

     KTV ini baru saja dibuka, dan perlengkapan di dalam box masih baru.  Mikrofonnya keras dan mesin karaoke penuh dengan lagu-lagu populer terkini.

     Peng Cheng Cheng yang irit bicara tidak ingin menyanyi. Begitu dia masuk, dia langsung pergi ke mesin karaoke dan duduk di sana untuk membantu memilihkan lagu.

     Jing Ji tidak berbaur bersama yang lainnya, dia menemukan sofa dan duduk, meletakkan tas sekolahnya di belakang panggung. Ying Jiao duduk di sebelahnya.  He Yu dan Zheng Que saling memandang dan duduk juga.

     Sekelompok orang tinggal di sekolah selama hampir sebulan. Saat ini, akhirnya ada kesempatan untuk melepaskan sifat alami mereka. Sebelum pelayan keluar, mereka sudah mulai melolong.

     Entah apakah nyanyian mereka terlalu menakutkan. Setelah memastikan bahwa mereka tidak membutuhkan apa-apa lagi, pelayan itu keluar dengan cepat. Sebelum lagu dinyanyikan tadi, sepiring buah dan makanan ringan serta minuman diantar satu per satu.

     Ying Jiao memandang Cola di meja kopi, mengulurkan tangannya untuk memanggil pramusaji, dan berbisik padanya, tak lama kemudian, pramusaji masuk dengan membawa sebotol susu kedelai.

     Di bawah tatapan He Yu, Ying Jiao menggunakan pembuka botol untuk membuka tutup botol susu kedelai, memasukkan sedotan, dan meletakkannya di depan Jing Ji dengan sangat alami, "Kau minum ini."

     Jing Ji memandang Cola di depan yang lain, heran, "Hm?"

     Ying Jiao membuka cincin tarik kaleng dan terkekeh, "Cola membunuh sperma."

     Dia memegang Cola di satu tangan, bersandar malas di sofa, mengangkat sudut bibir, dan berkata tanpa malu-malu, "Tentu saja, aku berbeda, aku ..."

     Sebelum dia menyelesaikan kalimat, Jing Ji menyumbat mulutnya dengan semangka.

     Jing Ji memegang susu kedelai tanpa ekspresi, meminumnya dengan sedotan, terlalu malas untuk peduli padanya.

     Ying Jiao tersenyum dan menggigit ujung semangka, tidak lupa memanfaatkan kesempatan, "Sangat manis."

     He Yu, yang berada di sampingnya, menatapnya dengan jijik, dan pindah ke sisi lain, seakan tidak mengenal orang ini.

     Hanya ada dua Mike di dalam bilik, dan yang lainnya bosan. Mereka pergi ke meja depan dan meminta sebotol bir untuk bermain Truth or Dare.

     Wu Weicheng mengangkat botol anggur tinggi-tinggi, seolah-olah mengambil sumpah, berdiri di depan dan berteriak, "Duduk dengan rapat, jangan ada yang kosong! Ya, geser sedikit!"

     Ketika semua orang sudah di tempat, dia tersenyum, "Kalau begitu aku akan mulai!"

     Dengan mengatakan itu, dia meletakkan botol bir di atas meja kopi, menggosok tangannya, menghembuskan napas dua kali ke telapak tangan, mengulurkan tangannya dan memutarnya dengan penuh semangat——

     Botol bir digulung dua kali, dan mulut botol akhirnya berhenti di depan Zheng Que.

     "Fucek, kenapa sial sekali ah?" Zheng Que mengutuk dengan suara rendah, "aku pilih Dare!"

     Wu Weicheng menyeringai, "Apa kau yakin?"

     "Pria sejati," Zheng Que menatapnya, "Apa pun yang dikatakan, tidak bisa ditarik kembali."

     "Itu ..." Wu Weicheng memutar matanya dan menatap He Yu di sebelah. Karena hanya ada seorang gadis, dia hanya menunjuk pria, "Kau, pergilah remas pantat He Yu."

     He Yu yang tengah makan semangka membeku, "Sialan! Kenapa aku?"

     Wu Weicheng sangat alami melimpahkan kesalahan, "mau bagaimana lagi, siapa suruh Zheng Que pilih Dare!"

     "Remas, remas." Zheng Que memiliki karakter yang lincah dan bisa bermain dengan baik, mendorong He Yu, "Lao He, ayo berdiri."

     He Yu juga tidak memiliki batas bawah, semua mata orang di ruangan itu tertuju padanya. Letakkan semangka di atas meja kopi, berdiri, dan berkata pada Zheng Que, "Berdiri, kau pikir Lao He ini tidak mampu bermain ?!"

*Orang yang tidak peduli apakah itu melanggar pandangan paling dasar tentang kehidupan, nilai, atau dunia. Alias tidak tahu malu.

     Zheng Que segera mengulurkan tangan dan meremas pantatnya sambil memberi testimoni kepada publik, "Rasanya enak!"

     He Yu meliriknya, dan tiba-tiba tersenyum, memutar jari gerakan tangan dalam tarian tradisional (ibu jari dan jari tengah disatukan, sisanya direntangkan), "Daye, coba katakan enak sekali lagi?!"

     Seluruh ruangan langsung tertawa.

     Zheng Que merinding, dan dengan cepat duduk agak jauh darinya, hampir tidak meminta sebotol air mineral untuk mencuci tangannya.

     Ada awal yang baik untuk mereka, kemudian sekelompok orang bermain lebih liar, menanyakan segalanya, dan melihat ke arah Jing Ji, seseorang yang tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan semacam ini, untuk sementara waktu.

     Jing Ji bersukacita di dalam hatinya, Untungnya, dia beruntung, dan dia tidak pernah mendapat giliran.

     Namun, beberapa bendera tidak bisa dipasang terlalu dini.

     Selanjutnya, ketika mulut botol anggur perlahan berhenti di depannya, mata Jing Ji membeku.

     "Aku ..." Mengingat pengalaman orang-orang sebelumnya, dia berkata dengan tegas, "aku pilih Truth."

     Jing Ji tidak seperti yang lainnya yang tidak tahu malu, ditambah Wu Weicheng adalah fanboy setianya, yang pastinya memperlakukannya secara khusus, tidak menanyakan pertanyaan ekstrim, hanya memilih satu yang tidak terlalu ekstrim, "Apa ciuman pertamamu masih ada?"

     Jing Ji menunduk secara tidak wajar, berhenti selama beberapa detik, dan mengangguk dengan kaku, "Ya."

     "Oke! Lupakan!" Wu Weicheng meraih segenggam kacang mete, mengunyah dan menekuk tangannya, "Babak berikutnya telah dimulai! Semuanya optimis!"

     "Lao Wu sialan!" Seorang laki-laki di sebelahnya memukulnya, "Bisakah kau menelan apa yang ada di mulutmu sebelum berbicara?! Itu menyemprot wajahku!"

     Wu Weicheng menatapnya dan tersenyum, "Aku memercikkan beberapa relik suci untukmu untuk meningkatkan keberuntunganmu, kenapa, tidak senang ah!"

     Laki-laki itu menggigil mual, melepehnya.

     Beberapa orang terbiasa membuat masalah, Wu Weicheng tidak peduli.  Menggunakan tangan kanannya, dia membalik botol anggur itu dengan kasar.

     Kali ini, mulut botol anggur diarahkan ke Ying Jiao.

     Ying Jiao meletakkan Cola di tangannya dan dengan malas berkata, "aku pilih Dare."

     Jika itu normal, tidak ada yang berani membiarkan Ying Jiao melakukan ini atau itu, tetapi sekarang sekelompok orang kobam, tidak bisa membedakan kalau didepan mereka ini tiran xiaocao.

*most handsome boy, biasa aku sebutnya school beauty😃

     Setelah bermain sekian lama, baru kali ini giliran Ying Jiao.

     Beberapa orang diam-diam membuat kekacauan dan melakukan gerakan besar ke arah Ying Jiao, "Kakak Jiao, cium orang di sebelahmu!"

     He Yu melihat sekeliling, dan segera berlari ke sudut terjauh dari Ying Jiao dengan kecepatan yang tidak sepadan dengan bentuk tubuhnya.

     Hasilnya, sisi kanan Ying Jiao menjadi tempat duduk kosong, dan sisi kiri adalah Jing Ji.

     Jing Ji sedang minum susu kedelai dengan tenang, tetapi dia tidak pernah menyangka bahwa api itu benar-benar akan membakarnya. Mendengar permintaan ini, dia melihat sekeliling, dan hampir tersedak susu kedelai.

     Sudut bibir Ying Jiao sedikit menekuk. Bukan salahnya, dia tidak berniat melakukan apapun, tapi langit membantunya.

     The Chosen Son, mungkin dia yang dibicarakan.

     Para lelaki di dalam bilik masih bersiul dan bersorak--

     "Cium, cium, cium!"

     "Cepat! Ayo, Kakak Jiao!"

     "Cepat! Bukan laki-laki jika kau tidak mencium!"

     "Semangat Kakak Jiao! Ayo Kakak Jiao!"

     Ying Jiao terkekeh dan meletakkan tangannya di bahu Jing Ji.

     Jing Ji memegang erat botol susu kedelai di tangannya, tanpa ekspresi di wajahnya, tapi sebenarnya dia panik.

     Telinganya merah, dan saat Ying Jiao mendekat, pipinya terbakar.

     Jika itu normal, dia akan menyingkirkan Ying Jiao, tetapi sekarang itu adalah permainan, tidak peduli seberapa berlebihan permintaan sebelumnya, tidak ada yang menolak ...

     Dia terus membangun pikirannya, keduanya laki-laki, apa yang terjadi padanya? Zheng Que baru saja meremas pantat He Yu, semuanya sepele ...

     Tapi tidak, selama dia berpikir akan berciuman dengan Ying Jiao, seluruh pribadinya terbakar.

     Otak Jing Ji kosong, dan dia bahkan tidak tahu kapan Ying Jiao sudah mengurungnya.

     Dia duduk di sudut sofa, tidak ada orang di kiri. Ying Jiao tinggi, dan bagian atas tubuhnya benar-benar terhalang oleh posisi terjebak. Bahkan Zheng Que, yang paling dekat dengan mereka, tidak bisa melihat apa yang mereka berdua lakukan.

     Jing Ji terengah-engah, jantungnya berdebar-debar. Dia terlalu panik, dan tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mendorong Ying Jiao.

     Ying Jiao memegangi pergelangan tangannya, dan ketika Jing Ji akan terus berjuang, dia mendesis padanya, "Jangan bergerak."

     Kesempatan yang diberikan langit.

     Setelah mendengar permintaan tersebut, ini adalah reaksi pertama Ying Jiao.

     Saat ini, dia menggunakan kesempatan ini dan tidak ada yang bisa menyalahkannya. Hati Ying Jiao gatal, dan dia sudah agak tidak terkendali. Tetapi ketika Jing Ji menatapnya dengan panik, hatinya tiba-tiba melunak.

     Bulu mata Jing Ji bergetar, dia mencoba yang terbaik untuk menunjukkan penampilan yang tenang, melihat ke arah Ying Jiao, "Kau ... kau ..."

     "Tidak apa-apa," Ying Jiao mendesah di dalam hatinya, "Kakak punya cara, sshh... Patuh, jangan bergerak."

     Jing Ji menatapnya dengan ragu-ragu.

     Mata Ying Jiao lembut, dan di sudut di mana tidak ada yang bisa melihat, dia mengulurkan dua jari dan menempelkannya ke bibir Jing Ji, lalu dengan lembut menggosoknya.

     Dalam tatapan tercengang Jing Ji, dia berdiri, mengangkat alisnya dan berkata kepada yang lain, "hal sepele."

     Semua orang di dalam bilik mengira dia benar-benar mencium Jing Ji, dan mereka bertepuk tangan dengan gembira, "Luar biasa! Kakak Jiao luar biasa!"

     Permainan berlanjut ke babak berikutnya, dan para mata yang membara itu langsung beralih ke tempat lain.

     Jing Ji akhirnya menghela nafas lega di dalam hatinya. Tenggorokannya sedikit kering. Dia hendak menyesap susu kedelai. Tiba-tiba, Ying Jiao menoleh ke telinganya, berbisik rendah dan berat, "kali ini kau lolos, tapi ..."

     Dia berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh keduanya, "Lain kali jika ada yang bertanya apa ciuman pertamamu masih ada, ingatlah untuk mengatakan tidak ada lagi."

     Dia kemudian terkekeh, "karena sudah kau berikan padaku."[]

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments