31. Apa kau Nian Beast?

 

    Zhou Chao mengulurkan tangannya untuk menutupi mulut Jing Ji dengan kejam, "tutup mulutmu! Jangan bicara!"

     Mereka duduk di baris kedua dari deret tengah, tepat didepan guru, sangat jelas. Guru Zhao melihat tindakan Zhou Chao, dan segera menampar meja dan meraung, "Zhou Chao, apa yang kau lakukan?! Hentikan! Kau seharusnya malu dengan hasil ujianmu!"

     Zhou Chao, "😭"

     Dia juga mendapat skor seperti ini sebelumnya, dan selalu dipuji oleh Guru Zhao! Tapi sekarang...

     Dia melirik teman satu mejanya diam-diam, dan menaruh kepala di atas meja.

     Ji ShengChao He ShengJi ah!

*Kutipan kalimat dalam fiksi Romance of the Three Kingdom. Zhuge Liang dan Zhou Yu sangat pandai, tetapi Zhou Yu selalu salah, dan keduanya berada di sisi yang berlawanan, jadi Zhuge Liang selalu dapat memenangkan Zhou Yu, Zhou Yu menghela nafas, "Ji Shengyu He Shengliang ( Mengapa harus ada Zhuge Liang jika sudah ada Zhou Yu? )

Jadi ShengChao untuk Zhou Chao dan ShengJi untuk Jing Ji. 😁

     Orang lain di kelas kompetisi juga memiliki wajah kaku dan mata kusam, dan bahkan mulai meragukan kehidupan.

     Jing Ji meraih nilai tertinggi di kelas?

     Bagaimana itu bisa terjadi?!

     Belum lagi dia belum pernah terpapar olimpiade matematika sebelumnya, di tahun kedua sekolah menengah, siapa yang tidak mengenal Jing Ji di kelas 7.

     Si tukang bolos kelas dan mewarnai rambut kuning, dia berani melakukan segalanya kecuali belajar!

     Namun, lekaki ini juga yang meraih posisi pertama seangkatan dihasil ujian kemarin, dan sekarang dia juga menempati posisi pertama di kelas kompetisi!

     Mereka yang selalu merasa menjadi siswa terbaik, sekarang tidak bisa untuk tidak mulai mempertanyakan IQ mereka sendiri.

     Jiang Chong bahkan lebih merasa tertampar, pipinya panas, dan dia hampir tidak berani untuk mengangkat muka.

     Dia menatap kertas tes di atas meja, matanya dipenuhi ketidakpercayaan.

     Dia hanya mendapat 75 poin, tetapi Jing Ji mendapat 82!

     Dia bahkan tidak pernah belajar dikelas Olimpiade Matematika.

     Jangan membahas tentang merebut kembali peringkat pertama--

     Jiang Chong memejamkan mata, tangannya sedikit gemetar.

     Sekarang Jing Ji sudah mulai belajar Olimpiade Matematika bersama mereka, dapatkah dia mengunggulinya dalam situasi kali ini?

     Para guru sekolah juga bergosip, terutama saat hal yang sangat mengejutkan itu terjadi. Bagian pertama dari self-study malam belum usai, berita bahwa hasil tes Olimpiade Jing Ji yanh telah mengambil tempat pertama di kelas kompetisi telah diposting di forum.

     88 [ Fucek! Fucek! Berikan pedang Italia pada Lao Tzu! Aku ingin memotong lututku!!! ]

*(Bahasa gaul Internet) berlutut (dalam kekaguman)

     89 [ Apa-apaan ini?! Ini tidak ilmiah! Bagaimana ini mungkin?! ]

     90 [ Jing Ji tidak pernah belajar Olimpiade, bukan??? Jika dia telah mempelajari ini, bukankah dia akn menembus langit?! Ah ah ah ah, aku tiba-tiba merasa bahwa aku bisa menantikan National Math League tahun ini! ]

     99 [ Aku tidak tahu harus berkata apa! Ya Tuhan, aku berlutut dan memberikan pena water-based refill kepada dalao. ]

     108 [ Melihat bahwa 95% orang di posting utama yang memilih Jing Ji hanya dapat mencetak 0-10 poin, aku tiba-tiba merasa ditampar tanpa alasan ... ]

     120 [ Fucek evaluasi tertinggi ... Berikan lututku pada Dewa Jing. ]

     130 [ Orang ini menakutkan ... Aku yakin ... ]

     Sementara posting forum terus refresh, Qiao Anyan, yang sedang menghafal kata-kata didalam ruang kelas 11, tiba-tiba berhenti.

     Ujung pena terguncang berkali-kali, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengeja kata-kata yang dihafalkan sebelumnya.

     Dia membanting pulpen dengan ekspresi dingin, dan menepuk meja dengan kesal.

     Setelah ujian tengah semester, Qiao Anyan menemukan sebuah rahasia.  Selama dia ingin otaknya lebih baik, dia benar-benar bisa melakukannya.

     Dia mencoba selama seminggu, menyebarkan ide ini di benaknya setiap menit dan setiap detik.

     Lambat laun, alam bawah sadarnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski tidak sebaik awal kelahiran kembali, setidaknya uraian materi dari sang guru bisa dimengerti.

     Mengetahui bahwa jari emasnya masih ada, tidak menghilang, tetapi ada yang tidak beres karena suatu alasan, Qiao Anyan lega.

     Meskipun dia masih muda ketika dia meninggal, tinta kecil di perutnya telah dikembalikan ke gurunya.

*Tidak cukup ilmu pengetahuan

     Jangankan SMA, bahkan jika dia mulai di sekolah menengah pertama, dia tidak bisa mengikuti tempo mengajar guru.

     Dia tidak memiliki otak yang baik, orang lain sekali belajar sudah bisa mengingat. Sementara dia harus belajar beberapa kali. Qiao Anyan benar-benar tidak punya waktu atau kesabaran untuk belajar berulang kali.

     Dia menaruh semua harapannya pada jari emas yang dibawa oleh kelahiran kembali, tetapi tanpa diduga, ada masalah dengan jari emasnya.

     Qiao Anyan mengepalkan jari, menyingkirkan buku pelajaran, mencoba yang terbaik untuk menenangkan diri, dan mulai mengulangi obsesinya di dalam hatinya hari demi hari.

     Pada saat ini, di kantor sains tahun kedua sekolah menengah, Guru Liu selesai mempersiapkan kelas besok, mengangkat telepon dan menggesek forum, tanpa diduga melihat postingan ini. Dia telah lama belajar tentang pencapaian Jing Ji dari Zhao Feng, tetapi entah kenapa dia masih dalam suasana hati yang baik setelah melihat pos tersebut.

     Guru Liu meletakkan telepon, menyesap teh krisan, menatap Zhang Jing seolah-olah tidak sengaja, dan terbatuk dengan keras.

     Guru Wang, yang mengajar kimia, memiliki hubungan yang baik dengannya. Mendengar batuknya, dia langsung berbalik dan berkata, "Lao Liu, apakah kau flu?"

     “Seperti begitu,” Guru Liu mengusap pelipisnya dan menghela nafas, “Aku semakin tua, daya tahan tubuhku sudaj tidak baik, dan otakku juga tidak bekerja dengan baik.” Dia berhenti dan bertanya pada Guru Wang, “Benar, Lao Wang, kali ini berapa skor Jing Ji dalam kelas Olimpiade Matematika? Mengapa aku lupa."

     Guru Wang meliriknya, mulutnya menyeringai, dan berkata tanpa daya, "82."

     "Hei," Guru Liu meletakkan teh krisan di tangannya di atas meja, berjalan-jalan di depan kantor, menggelengkan kepalanya dan berseru, "Skor ini tidak bagus, kompetisi nasional masih sedikit berbahaya."

     Zhang Jing menarik napas dalam-dalam dan meremas pena di tangannya.

     Guru Liu membawa tangannya ke punggung dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Besok aku harus memnicarakan ini dengannya! Menurut tes umum, skor penuhnya adalah 120, dan setidaknya 90 poin diperlukan untuk lulus tes!"

     Dengan satu klik, Zhang Jing tanpa sengaja merobek rencana pelajaran di tangannya.

     Guru Liu kembali ke kursinya dan duduk, bersandar di sandaran kursi, berpikir sejenak dan kemudian berkata, "Lao Wang, kau tahu, Jing Ji terlihat dingin dan acuh tak acuh, tetapi sebenarnya dia sangat ramah. Dia membantu siswa dikelas kami Ying Jiao untuk belajar dengan membuatkan catatan untuknya!"

     Dia berhenti dan melanjutkan, "Hei, kau tahu, aku bilang itu mungkin membebankannya dan takut menunda studinya, tetapi dia masih bersedia. Bagaimana anak ini bisa begitu peka, dan dia tahu berbagi beban untuk guru ..."

     Zhang Jing tidak bisa mendengarkan lagi, meletakkan pena di atas meja dengan ekspresi pucat, dan segera keluar dari kantor.

     Guru Liu memandangnya yang tergesa-gesa dan tertawa ngakak di dalam hati, rasanya seperti minum es cola segar dimusim panas.

•••


     Di kelas kecil kelas kompetisi, selesai mengumumkan hasil, Guru Zhao memegang kertas di satu tangan dan kapur di tangan lainnya, dan mulai berbicara tentang topik penyelesaian.

     Jing Ji mendengarkan dengan seksama sambil menemukan beberapa titik yang seharusnya diperbaiki.

     Dia mengerutkan bibirnya, mengambil pena, dan menarik poin-poin penting. Dia berencana untuk menemukan beberapa pertanyaan lagi dengan jenis yang sama setelah pulang sekolah, agar tidak membuat kesalahan yang sama lagi.

     Tidak ada waktu istirahat antara dua kelas belajar mandiri di kelas kompetisi, dan hanya bisa pergi ke toilet dijeda kelas.

     Setelah Guru Zhao menyelesaikan kertas ujian, dia berbicara tentang bagian baru.  Waktunya tepat, pena terakhir sudah selesai, dan malam kedua belajar mandiri selesai.

     “Cukup disini.” Guru Zhao menepuk kapur di tangannya, dengan ekspresi serius, “Bulan depan adalah babak penyisihan provinsi dari Kompetisi Matematika Nasional. Tidak ada waktu lama antara babak penyisihan dan babak semifinal. Ini kompetisi nasional. Kalian hampir tidak punya beberapa hari untuk bernapas ..."

     Dia berhenti, dan matanya perlahan menyapu semua orang, "aku mengatakan ini bukan untuk membuat kalian tertekan, tetapi aku hanya ingin mengingatkan. Kalian telah menghabiskan begitu banyak energi dan banyak waktu tahun ini, bukan hanya untuk berjalan-jalan. Ini sebuah cutscene. Aku sangat tidak puas dengan hasil tes kemarin. Pulang dan pikirkanlah."

     "Orang-orang yang duduk di sini adalah siswa terbaik di antara siswa terbaik di provinsi kita. Kalian harus bisa memahami apa yang aku maksud. Oke, kelas sudah berakhir!"

     Guru Zhao berjalan keluar kelas dengan sebuah buku di tangannya, dan orang lain di kelas juga keluar satu demi satu.

     Jing Ji tidak terburu-buru untuk pergi. Dia meletakkan kertas ujiannya di folder secara merata dan menjepitnya, lalu dia mulai membereskan barang-barang lain di atas meja.

     "Kau kembali duluan," kata Zhou Chao sembarangan, melemparkan tas sekolahnya ke punggung dan menatapnya, "Aku harus pergi ke laundry untuk mengambil seragam sekolah nanti, mau aku membawakanmu sesuatu?"

     Ada laundry disebelah percobaan provinsi, banyak siswa yang malas mencuci pakaian sendiri, sehingga mereka mengirim pakaiannya kesana.

     “Tidak, aku tidak punya apa-apa untuk dibeli.” Jing Ji mengucapkan terima kasih atas kebaikannya dan berjalan keluar kelas bersamanya.

     Zhou Chao berjalan ke arah yang berlawanan, Jing Ji menutup pintu dan hendak berbalik namun seseorang tiba-tiba menghadangnya.

     "Astaga!!" Li Zhou merangkul leher Jing Ji, wajahnya memerah karena kegembiraan, "Mengapa kau begitu luar biasa?! Kali ini yang pertama hahahahahaha!"

     Zheng Que juga bergegas ikut merangkulnya, memberikan pujian berlebihan pada Jing Ji, "Dalao! Apakah kau ingin lututku?! Berikan kepadamu! Berikan padamu!"

     Melihat senyum di wajah Ying Jiao memudar, He Yu dengan cepat menarik kedua pria gila itu dari Jing Ji, "Apa yang kalian lakukan? Kalian pikir Jing Ji bisa menahan tekanan kalian berdua?!"

     "Uhuk," Zheng Que menggaruk kepalanya dengan malu, melepaskan tangannya, dan Li Zhou juga mundur ke belakang dengan ragu-ragu.

     Ying Jiao mengulurkan tangan dan mengambil tas sekolah Jing Ji, dan berkata sambil terkekeh, "Teman sekelas kecil, selamat, luar biasa."

     Jing Ji menggelengkan kepalanya, baru saja akan berbicara. Peng Chengcheng tiba-tiba mengeluarkan semprotan pita warna-warni dari belakang, dan langsung menyemprot ke arahnya.

     Wajah Jing Ji seketika dipenuhi dengan pita.

     Ying Jiao menatap Peng Chengcheng dengan dingin. Peng Chengcheng menarik sudut bibirnya dengan kaku, "Aku belum pernah menyemprotnya sebelumnya.

     “Minggir.” Ying Jiao mengerutkan alis dan mendorong Peng Chengcheng menjauh, membersihkan pita dari wajah Jing Ji, "Apa terkena matamu?"

     "Tidak." Jing Ji mengulurkan tangan, ikut membersihkan wajahnya, "Tidak apa."

     Zheng Que juga ikut membersihkan serpihan pita diatas kepala Jing Ji, tidak memperhatikan tangannya ditepis Ying Jiao, dia tertawa dan melompat ke samping.

     "Aku ingin mentraktir makan malam hari ini, untuk merayakan tempat pertamamu," Ying Jiao menatap Jing Ji, matanya lembut, "Apa yang ingin kau makan? Barbekyu atau udang karang?"

     Zheng Que semangat, "Ahhhhh! Tambahkan juga botol bir!"

     "Tidak perlu," Jing Ji menolak dengan halus, wajahnya seperti biasa, dia tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja lulus ujian ditempat pertama, "Aku hanya beruntung kali ini."

     “Bagaimana tidak perlu!” Sebelum Ying Jiao berbicara, Zheng Que tiba-tiba bergegas ke depan Jing Ji sambil berkata, “Nomor satu itu seperti logam emas! Dan juga, kau sekarang nomor satu di kelas kompetisi matematika! Kita harus memberikan apresiasi yang layak setelah kau mendapatkan 82 poin berharga ini!"

     "Bukan apa-apa," Jing Ji membungkuk dan melemparkan pita di tangannya ke tempat sampah, nadanya tenang, "Ini hanya tes kuis."

     Dia menoleh, tersenyum pada Ying Jiao, dan berkata dengan tulus, "Terima kasih, aku hargai kebaikanmu, tidak perlu membuang uang."

     "Wow," Zheng Que menarik He Yu, menunjuk ke Jing Ji dan berseru, "Apakah kau lihat itu, ini adalah xueba yang sebenarnya! Lihat energi tenang ini! Apa itu tempat pertama? Dia tidak peduli sama sekali!"

     He Yu hanya ingin mengatakan beberapa patah kata, dan tiba-tiba ada bunyi letupan beberapa petasan yang mengguncang bumi di telinganya.

     Tanpa disangka, dia gemetar ketakutan, dan lemak di wajahnya bergetar.

     “Fucek, membuat kaget saja, siapa sih yang menyalakan petasan begitu larut!” Dia mengusap dadanya dan menghela nafas panjang, “tidak ada otak ah”.

     Dia ingin mendapatkan dukungan, tetapi ketika dia menoleh, dia melihat Ying Jiao berjalan di belakang Jing Ji.

     “Takut?” Ying Jiao menepuk punggung Jing Ji, “Tidak apa-apa, kembali ke jiwamu, jangan takut.”

     Dia membawa tas sekolah Jing Ji ke bahunya dan mengulurkan tangan untuk menutupi telinga Jing Ji, "Kakak tutupi untukmu."

     Jing Ji dengan cepat menolak, "Tidak perlu ..."

     "Jangan bergerak," Ying Jiao mengambil kesempatan itu untuk menggosok telinganya dan tersenyum, "sering berbunyi beberapa kali, dan pasti akan dimainkan lagi. Terlalu keras, bagaimana jika telingamu rusak."

     Dia menurunkan matanya untuk melihat sisi wajah Jing Ji, menekan lututnya dengan lembut ke kakinya, dan berkata dengan suara rendah, "patuh, jangan keras kepala pada kakak, ayo jalan."

     He Yu, "..."

     Dasar Lao hooligan! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!

     He Yu menarik napas dalam-dalam, menatap Ying Jiao, dan berkata tanpa senyuman, "Kakak Jiao, aku juga takut."

     "Oh," Ying Jiao menatapnya dengan tatapan datar, dan menekan telinga Jing Ji dengan erat, "Apa kau Nian Beast? Petasan saja takut."

*Binatang jahat dalam mitos dan legenda orang-orang Han. Salah satu kelemahannya adalah suara keras.

     He Yu, "..."

     He Yu sangat marah dan langsung berbalik pergi menuju gerbang sekolah, dia sudah gila karena ingin menemani Ying Jiao di asrama malam ini!

     Peng Chengcheng melihat ke arah Ying Jiao, yang tampak seperti penutup telinga berbentuk manusia, dan melihat bagian belakang He Yu yang seperti buntelan lemak dan daging. Setelah hening beberapa saat, dia juga menarik Zheng Que pergi.

     Kelompok berisik tadi akhirnya tersisa tiga orang.

     Li Zhou memandang Ying Jiao dan Jing Ji dengan gemetar, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tetapi dia merasakan kesuraman anjing tunggal di dalam hatinya.

/Jomblo ngenes, berasa nyamuk didepan keuwuan orang lain/

     Akhirnya kembali ke asrama dengan susah payah, takut Ying Jiao masuk dan berkunjung sebentar, Li Zhou mengambil beberapa bungkus biji melon mentega, tanpa pamit, dia segera melesat pergi menuju asrama Wu Wei Cheng.

     Ying Jiao tidak masuk ke asrama mereka seperti yang Li Zhou pikirkan, dia menyerahkan tas sekolah kepada Jing Ji dan kembali ke asramanya.

     Jing Ji mengucapkan terima kasih dan menutup pintu asrama.

     Dia tidak mengganti pakaiannya dulu tetapi mengeluarkan klip biru yang berisi kertas ujian dari tas sekolahnya, dan mengeluarkan volume Olimpiade Matematika yang dikeluarkan hari ini.

     Kemudian dia mengeluarkan kunci lemari, membuka lemari, dan mengeluarkan kotak kue dari bawah.

     Yang ada di dalam kotak bukanlah kue, tetapi tumpukan kertas persegi yang tersusun rapi. Ini adalah kertas ujian tengah semester terakhir, semua mata pelajaran.

     Duduk di tempat tidur, Jing Ji mengambil kertas matematika, mengeluarkan pulpen dari tas sekolahnya, dan menulis baris di atasnya: Olimpiade pada akhir November, tempat pertama (sangat tidak puas dengan nilainya).

     Setelah dia selesai menulis, dia mengesampingkan pena, matanya melayang di atas tiga dua 'tempat pertama' selama beberapa detik, mengeluarkan kertas tes lainnya di dalam kotak dan membacanya satu per satu, dan sudut bibirnya perlahan bergerak naik.

     Jing Ji melirik ke arah pintu asrama, dan mendengarkan gerakan di luar dengan telinganya tegak. Dia memperkirakan Li Zhou tidak akan kembali untuk sementara waktu. Dia tidak menyembunyikan emosi di wajahnya lagi, mengguncang kotak timah yang menampung kertas, dan diam-diam tertawa bahagia. Sepasang matanya bersinar, penuh cahaya.[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments