30. Benci

     “Tidak perlu.” balas Jing Ji cepat, dia memegang kenop pintu, dan menekankan lagi, “Tidak perlu.”

     Ying Jiao mengangkat alisnya, “Mengapa tidak?” Tangannya masih memegang kenop luar pintu, menatap langsung Jing Ji, “Bukankah kau mau saja menerima tawaran Wu Weicheng sebelumnya? Mengapa kau menolakku?”

     Jing Ji sendiri tidak tahu apa yang salah dengannya.

     Dia biasa saja menerima ajakan Wu Weicheng. Tetapi ketika Ying Jiao mengatakan itu, baru memikirkannya saja, dia merasa malu.

     "Aku ..." Dia jeda beberapa, "Kau kan tidak mandi ..."

     Ying Jiao segera berkata, "Kalau begitu aku akan melepas bajuku sekarang dan mandi denganmu."

     Wajah Jing Ji memerah.

     Ketika Ying Jiao melihat ini, senyumnya semakin dalam. Dia mengulurkan tangannya dan mencubit wajah Jing Ji, mundur selangkah, melepaskan tangannya dari kenop pintu, "Oke, aku tidak akan menggodamu, mandilah."

     Jing Ji menghela nafas lega, tidak peduli wajahnya baru saja dicubit, dia dengan cepat menutup pintu.

     Ying Jiao melirik pintu kamar mandi yang tertutup, berjalan pergi dan duduk di sofa.

     Keduanya keluar setelah kelas, dan belum makan. Ying Jiao mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi takeaway untuk menjelajahi toko demi toko.

     Di kamar mandi, Jing Ji sepertinya sudah mulai mandi, dan gemericik air terus berlanjut.

     Ying Jiao menarik napas dalam-dalam, berganti untuk duduk di ujung sofa yang paling jauh dari kamar mandi, dan terus menatap ponsel.

     Namun, suara air sepertinya sengaja melawannya, dan itu selalu menusuk telinganya cukup keras untuk membuatnya ingin mendengarkan.

     Ying Jiao sedang memegang ponsel, tetapi matanya perlahan kehilangan fokus.

     Pikiran di benak seperti kuda liar yang lari lepas kendali. Sejenak, dia bertanya-tanya di mana tahap mandi Jing Ji sekarang, dan untuk sesaat dia bertanya-tanya apakah Jing Ji telah menggunakan bak mandi yang dia gunakan ...

     Lao Hooligan¹ Sao Li Sao² yang lancang, telinganya berangsur-angsur menjadi merah.

¹orang yang memiliki pikiran cabul terhadap orang lain.

²mengungkapkan 'keinginan ekstrim dalam hati seseorang, dengan makna yang mencolok'. Mengacu pada orang yang berpenampilan tenang, pendiam tetapi sebenarnya penuh dengan pikiran dan konotasi.

     Ying Jiao terbatuk, mengambil remote control untuk menyalakan TV, dan menaikkan volume.

     Sebuah lagu populer diputar di TV, dan suara laki-laki yang jelas bernyanyi, "terbakar..."

     Ying Jiao ... Ying Jiao merasa bahwa dia juga terbakar.

     Dia menatap celananya dan mengutuk dengan suara rendah. Dia meraih botol air mineral yang baru saja dikeluarkan dari lemari es, dan meletakkannya di wajah.

     "Hiss——" Ying Jiao bergidik tiba-tiba, tapi panas di hatinya tidak hanya tidak berkurang, sebaliknya, dia menjadi lebih gelisah.

     “Brengsek.” Ying Jiao melempar air mineral itu dengan kesal, berjalan ke jendela dengan tidak nyaman, dan membuka jendela.

     Angin dingin dan lembab masuk dari jendela dalam sekejap, dan Ying Jiao berdiri menyamping untuk menghindar, mengambil sebatang rokok dari sakunya, sambil merokok, dia memesan makanan takeaway, menetralkan hati sampai rokoknya habis.

     Dia mematikan puntung rokok di asbak, meletakkan telepon dan menutup jendela.

     Suara air di kamar mandi terus terdengar, dan memberinya godaan dari waktu ke waktu. Ying Jiao sneer laugh, melempar ponsel ke sofa, berjalan ke pintu kamar mandi dan mengetuk dengan jarinya.

/Ketawa tapi mendengus gitu/

     Suara air di dalam tiba-tiba berhenti, dan kemudian suara Jing Ji yang agak bingung terdengar, "Apa ada sesuatu?"

     "Ya," Ying Jia bersandar ke dinding, suaranya agak berat, "aku memesan takeaway, aku hanya mau bertanya apa kau makan daging domba."

     "Makan," Jing Ji menyeka butiran air di wajahnya dan berkata, "Aku tidak pilih-pilih makanan, apapun bisa."

     "Pasti ada yang paling disuka," Ying Jiao dengan susah payah menahan api ditubuhnya yang akan meledak dan berkata, "Kau buka pintunya, aku akan memberimu ponsel, kau dapat melihatnya sendiri."

     Jing Ji tersedak, dan langsung menolak, "Tidak, aku akan makan apapun yang kau pesan."

*Bukan tersedak makanan, untuk menentang lawan bicara.

     "Sungguh?"

     “Sungguh, sungguh.” Jing Ji menekan dua kali, karena takut Ying Jiao tidak sabar dan langsung membuka pintu.

     Saat mandi di rumah orang lain, Jing Ji tidak mengunci pintu agar tidak dikira bersikap tidak sopan.

     "Oke." Ying Jiao tersenyum, "kalau begitu, kau terus mandi."

     Setelah menggoda Jing Ji, Ying Jiao merasa jauh lebih nyaman. Dia mengeluarkan sebatang rokok lagi dari sakunya. Begitu dia akan menyalakan, dia tiba-tiba berpikir bahwa Jing Ji akan keluar sebentar lagi, berhenti, dan melempar korek api.

     Kamar mandi rumah Ying Jiao didekorasi dengan indah, sistem pemanas otomatis menyesuaikan suhu, aliran pancuran besar, dan airnya rata. Jika tidak memikirkan orang di luar, Jing Ji ingin berendam di bak mandi dengan sangat nyaman.

     Ia tidak berani menunda terlalu lama, karena takut ketinggalan kelas Matematika Olimpiade pada malam hari. Setelah menggosok dengan cepat, dia memeras sampo di telapak tangan dan bersiap untuk mencuci rambut.

     Ketika shower dimatikan, dia melirik rak penyimpanan di atas secara tidak sengaja, dan aksi itu tiba-tiba berhenti.

     Di deretan alat cuci, ada sebotol sampo yang persis sama di tangannya. Ying Jiao sepertinya telah menggunakannya, dan masih ada sedikit cairan biru muda di mulut botol.

     Jing Ji mengerutkan bibirnya, membuang muka, teringat kalimat Ying Jiao 'Kita berdua memiliki wangi yang sama', dan pipinya sedikit panas.

     Setelah lebih dari setengah jam, Jing Ji membasuh sampai bersih, mengusap tetesan air di tubuhnya, berpakaian rapi, melipat pakaian kotor dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.

     Kamar mandi Ying Jiao dilengkapi dengan alat penghilang uap di tepi cermin, jadi meskipun Jing Ji baru saja mandi, tidak ada kabut di dalam ruangan kecuali di titik yang lembab.

     Jing Ji melihat ke dalam kamar mandi, menemukan kain lap di sudut, mencucinya, dan mulai menyeka lantai sedikit demi sedikit.

     Ying Jiao memperhatikan bahwa suara air di kamar mandi telah berhenti, tetapi setelah menunggu lama, tidak ada yang keluar. Dia menahan kesabaran, namun akhirnya memilih berjalan dan mengetuk pintu.

     “Aku akan segera keluar.” Jawab Jing Ji dan terus menyeka lantai.

     Mendengar bahwa suaranya salah, Ying Jiao mengerutkan kening dan terus bertanya, "Apa yang kau lakukan? Aku masuk."

     Setelah beberapa detik menunggu, Jing Ji tidak keberatan. Dia membuka tutup pegangan pintu, membukanya, dan melihat Jing Ji berjongkok di lantai.

     Mendengar gerakan itu, Jing Ji menoleh dan tersenyum padanya, "Ini hampir kering."

     "Kau ..." Ying Jiao sedikit terdiam beberapa saat, dia menatap Jing Ji dengan ekspresi yang rumit, "Tidak perlu bersih-bersih, besok akan ada bibi."

*cleaning service

     Jing Ji sedang menyeka baris terakhir ubin, dan berkata tanpa mengangkat kepalanya, "Ini mudah."

     Tatapan mata Ying Jiao menyapu seluruh kamar mandi. Dia mengangkat penutup shower gel yang tidak dikancingkan, kini sudah diikat erat. Tepi botol sampo juga dibersihkan dengan rapi, dan ubin di lantai bahkan lebih bersih. Itu bersinar, dan tanpa sedikitpun noda air.

     Jantung Ying Jiao berdegup kencang, dadanya sesak dan hampir tidak bisa berkata-kata.

     Jing Ji sangat sensible, dan itu membuatnya merasa tertekan.

     Jing Ji membersihkan kamar mandi tanpa bekas karena takut menyusahkannya.

     Tidak ada yang terlahir sensible, anak manja akan selalu menjadi sedikit tak terkendali. Tapi untuk Jing Ji, Ying Jiao tidak bisa melihat sedikitpun hal itu.

     Dia tangguh, pekerja keras, bijaksana, dan mudah beradaptasi. Seperti rumput, bahkan setelah angin dan hujan, ia tetap ingin hidup tanpa henti.

     Kurangnya sinar matahari, hujan dan embun dan tanah yang subur tidak menjadi masalah, Dia tidak pernah bergantung pada amal orang lain, tetapi berusaha untuk memahami semua yang dapat dia pegang, mengumpulkan nutrisi sedikit demi sedikit, dan tumbuh dalam diam.

     Ying Jiao melangkah maju dan mengulurkan tangannya untuk menarik Jing Ji.

     Tanpa persiapan, Jing Ji terhuyung-huyung, berpegangan pada wastafel, dan dia bingung, "Ada apa?"

     Ying Jiao menutup matanya dan mencoba menenangkan dirinya, "Kau tidak perlu mengelapnya."

     "Tidak apa-apa," Jing Ji menunduk dan melihat, "Hanya ada satu baris tersisa, aku akan segera ..."

     Sebelum dia selesai berbicara, kain di tangannya tiba-tiba disambar oleh Ying Jiao.

     "Benar," Ying Jiao berjongkok, menunjuk ke ubin yang paling dekat dengan pancuran, dan terkekeh, "Aku di sini, bagaimana kau bisa melakukan pekerjaan kasar seperti ini."

     Setelah selesai berbicara, dia menundukkan kepalanya dengan kain lap ditangan dan mulai menyeka.

     Gerakannya kikuk dan tidak terampil. Lap di sini dan gosok di sana. Sepertinya dia belum pernah melakukan pekerjaan seperti ini.

     Jing Ji menatapnya dengan tatapan kosong, lalu perlahan berkata beberapa detik kemudian, "Ini sudah bersih."

     Ying Jiao bergumam, berdiri, dan mengangkat tangannya untuk membuang kain itu ke samping. Saat dia akan melepaskannya, dia tiba-tiba memikirkan gangguan obsesif-kompulsif Jing Ji.

     Sebelum otaknya bereaksi, tangannya secara otomatis ditarik secara spontan.

     Dia membilas kain perca itu, meremas beberapa kali, melipatnya menjadi bentuk persegi yang simetris, dan meletakkannya di sudut.

     “Kemarilah.” Dia memberi isyarat kepada Jing Ji dan menyalakan keran, “Cuci tanganmu dan ayo makan.”

     Ying Jiao menekan keran sedikit kuat dan air mengalir deras dalam sekejap, jatuh ke dalam baskom, mencipratkan semua air ke tepi baskom.

     Jing Ji mundur selangkah, mengulurkan tangan dan mematikan keran.

     Ying Jiao bingung, menatapnya, "Ada apa?"

     Jing Ji tidak berbicara.

     Dia menundukkan kepalanya, memegang lengah seragam sekolah dengan tangan kirinya yang belum menyentuh kain, dan melipatnya hingga rata, setiap lapisan memiliki lebar yang sama. Dia melipat lengan bajunya sampai ke siku.

     Ying Jiao terkekeh, mengangkat tangannya, baru saja akan menggulung lengan bajunya dengan santai, tiba-tiba sebuah tangan putih ramping terulur di sebelahnya.

     Tindakan Ying Jiao terhenti.

     Jing Ji tetap diam, tidak mengatakan apa-apa. Sedikit demi sedikit, dengan teknik yang sama, lengan baju Ying Jiao digulung.

     Ketika keduanya keluar dari kamar mandi, takeaway kebetulan dikirimkan.

     Ying Jiao tidak memesan banyak, dia hanya memesan dua pangsit domba kukus, satu porsi sayuran campur, dan dua daging domba panggang.

     Setelah menghadiri kelas sepanjang sore, mereka berdua lapar. Setelah menyapu semua piring, Ying Jiao melirik waktu dan mengambil kunci, "Kembali ke sekolah."

     Jing Ji yang sedang memasukkan kotak makanan terakhir ke dalam tas, mengangguk, Oke."

     Dia membawa tas takeaway di satu tangan dan pakaian kotor di tangan lainnya, dan akan keluar.

     “Tunggu.” Ying Jiao meremas kerah belakangnya dan menariknya kembali, “Pakaian kotor tinggalkan saja. Ada bibi di sini untuk mencucinya. Kau tidak perlu melakukannya sendiri. Setelah selesai, aku akan kembalikan padamu."

     "Tidak," Jing Ji menolak, "aku bisa mencucinya sendiri."

     Yingjiao tidak mendengarkannya, jadi dia menyambar kantong plastik di tangan kirinya dan melemparkannya ke lantai, beralih memegang pergelangan tangan Jing Ji, "Pergi."

     "Tunggu ..." Jing Ji berjuang untuk kembali.

     Ying Jiao mendesis, “Kenapa kau begitu tidak patuh.” Dia membuka pintu dengan satu tangan dan mendorong Jing Ji keluar.

     "Aku ..." pipi Jing Ji memerah, menoleh dengan tidak nyaman, dan berbisik, "Celana dalamku ..."

     "Uhuk," Ying Jiao terbatuk, tidak tahu apa yang dia pikirkan, dan pipinya merasa sedikit panas.

     Dia melepaskan Jing Ji, "Kau boleh mengambil celana dalamnya, tapi mantelnya harus ditinggalkan. Apa kau sudah dengar?"

     Setelah jeda, dia menambahkan sambil tersenyum ringan, "Jika tidak, tinggalkan semuanya."

     Jing Ji mengerutkan bibir bawahnya dan mengangguk ringan.

•••


     Kurang dari sepuluh menit dengan sepeda, keduanya memasuki gerbang sekolah, Ying Jiao berhenti dan melambai ke paviliun, "Paman, aku kembali."


     Penjaga pintu mengangkat kepalanya dan tiba-tiba tersenyum, “Oke, aku mengerti.” Dia meraba-raba beberapa kali di laci, mengeluarkan sekantong kecil Kurma Tiongkok, dan berjalan keluar dan memberikannya kepada Ying Jiao, “Ambil untuk dimakan. Istriku telah mencuci semuanya."

     "Oh, ada hal baik." Ying Jiao tanpa basa-basi mengulurkan tangan dan mengambilnya, pertama-tama memasukkan satu ke dalam mulut Jing Ji, lalu mengambil satu dan memakannya sendiri, mengunyah dan berkata, "Lain kali aku akan membawakan rokok lagi, aku pergi."

     "Pergilah, belajar dengan giat."

     Masih ada cukup waktu, Jing Ji mengirim peralatan mandi ke asrama terlebih dahulu, lalu pergi ke ruang kelas kecil.

     Sebelum memasuki pintu, dia berbalik dan memberi tahu Ying Jiao, "selesaikan set topik analisis malam ini, dan untuk di sisa waktu ..." Dia merenung sebentar, sedikit enggan untuk mengatakan, "Kerjakan beberapa soal matematika sambil istirahat."

     Ying Jiao, "..."

     Mengapa mengerjakan soal matematika berhubungan dengan istirahat?

     Dia dengan tanpa daya bersandar di dinding dan memandang Jing Ji, "oke, teman sekelas kecil, aku berjanji untuk menyelesaikan tugas. Masuklah."

     Jing Ji mengangguk, membuka pintu dan masuk.

     Jing Ji datang agak terlambat hari ini, kecuali dia, semua siswa di kelas Olimpiade Matematika sudah tiba.

     Zhou Chao sedang membaca buku di kursinya. Setelah melihatnya, dia merasa seolah-olah dia telah bertemu dengan kerabatnya dan meraih lengannya, "Ah, apa yang harus aku lakukan, aku sedikit gugup!"

     Jing Ji sedang dalam suasana hati yang baik, dan tersenyum padanya, "Apa yang membuatmu gugup?"

     “Hasil ujian!” Zhou Chao melihat ke pintu dan berbisik, “Aku akan memberitahumu, jangan lihat Guru Zhao yang biasanya tersenyum, dia sangat kejam memarahi orang! Kali ini pertanyaannya agak sulit, ada beberapa  soal yang aku jawab asal, bagaimana jika nilaiku buruk?!"

     "Tidak apa-apa," Jing Ji menghiburnya, "Kau merasa sulit, semua orang juga sama."

     Zhou Chao memikirkannya, dan sedikit lega.

     Dia peringkat tiga teratas di sekolah, dia tidak takut!

     Beberapa menit kemudian, bel kelas belajar mandiri pertama berbunyi, dan Guru Zhao masuk, memegang buku dan kertas.

     Di kelas kecil, hati selusin orang tiba-tiba gugup.

     Guru Zhao tidak bisa dilihat kegembiraan atau kemarahan di wajahnya. Dia meletakkan kertas itu di podium dan berkata dengan lugas, "Hasil tes akan diumumkan!"

     Zhou Chao menahan napas dan menelan.

     "Li Wan: 35. Prestasi ini harus terus bekerja keras, lagipula tujuan kita bukan untuk tempat dua dan tiga."

     "Wang Jin: 40. Ada apa dengan Wang Jin? Apa kau menginjak egrang selama ini? Kau melayang begitu serius!"

     "Jiang Chong: 75. Masih agak berbahaya untuk menyelamatkan sepuluh besar, dan kau harus terus bekerja keras."

     "Zhou Chao: 80. Mengapa kau tersenyum? Gigi yang besar terlihat! Apa menurutmu skor ini cukup tinggi?"

     Guru Zhao mendengus, mengangkat tangan kanannya, mengguncang kertas terakhir di tangannya, dan akhirnya menunjukkan senyuman pertama ketika dia memasuki pintu, "Jing Ji, 82!"

     Ruang kelas kecil itu meledak!

     Zhou Chao baru saja meninggalkan podium hanya beberapa langkah, Mendengar skor Jing Ji, dia langsung berbalik, meraih kertas di tangan Guru Zhao, dan melihatnya.

     Ya, memang 82! Tidak salah sama sekali!

     Dia kembali ke kursinya dengan ekspresi lesu dan meletakkan kertas itu di atas meja Jing Ji. Setelah beberapa saat, dia dengan kaku menoleh ke arah Jing Ji, "bukankah belum pernah belajar materi Olimpiade Matematika sebelumnya?"

     "Ah," Jing Ji sedang mempelajari kertas itu, dan dia sangat tidak puas dengan nilainya. Mendengar kata-kata Zhou Chao, dia mengangkat kepalanya dan berkata, "aku mempelajarinya."

     Ketika Zhou Chao mendengar ini, psikologi yang mendidih itu akhirnya seimbang. Begitu dia hendak mengatakan sesuatu, dia mendengar Jing Ji terus berkata, "aku telah belajar sendiri selama beberapa tahun."

     Zhou Chao, "..."

     Benci![]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments