/3/ Dormitory H

Pada akhirnya, seragam sekolah tetap dipegang Lu Yan. Mereka berdua berjalan keluar dan hari sudah gelap. Beberapa orang berjalan tergesa-gesa di bawah payung, dan tidak ada yang memperhatikan mereka sama sekali.

Setelah kembali ke asrama, Chen Shu menepuk kepala Lu Yan, mengatakan bahwa dia akan kembali ke asramanya untuk berbicara dengan teman sekamarnya, dan kemudian kembali setelah melapor di asrama.

"Segera mandi, dan tunggu aku diranjang." Pada akhirnya, dia tidak lupa niatnya untuk menganiaya Lu Yan.

Karena kembali ke asrama lebih awal, jadi waktu mati lampu juga satu jam lebih awal.

Lu Yan selesai mandi dan mengganti piyamanya, namun Chen Shu tapi lampu asrama sudah padam lebih dulu.

Hujan masih turun, yang lebih kecil dari sebelumnya. Lu Yan duduk di tempat tidur dan mendengarkan dengan tenang sampai ada ketukan di pintu.

“Pintunya tidak terkunci.” kata Lu Yan namun tetap beranjak turun dari ranjang dan menuju pintu.

Belum sempat bereaksi, pintu didorong terbuka dalam sekejap, dan seseorang buru-buru mencium wajahnya, pertama di dahi, lalu di kelopak mata, di pipi ... dan akhirnya di bibir.

Chen Shu mencium bibir Lu Yan, dan kemudian menjulurkan lidahnya untuk menelusuri bentuk bibir Lu Yan.

Napas kedua orang menjadi berat, tirai asrama belum ditutup, dan malam telah menjadi gelap gulita, hanya cahaya bulan samar yang masuk.

Lu Yan sebenarnya sedikit takut. Bagaimanapun, lampunya baru saja dimatikan, dan siswa pria diasrama selalu begadang hingga larut malam sebelum tidur. Mungkin ada yang keliru dalam kegelapan, tidak sengaja membuka pintu dan masuk ...

“Apa yang kau pikirkan?” Chen Shu tidak puas dengan Lu Yan yang tidak fokus, dan menggesek dengan tubuh bagian bawah, “Mulai sekarang, kau hanya bisa memikirkanku.”

Lu Yan tampak ingin berbicara, namun Chen Shu mengambil kesempatan untuk kembali menciumnya. Lidah Chen Shu menari-nari dengan fleksibel di mulut Lu Yan, dan ciumannya sangat intens, menyedot semua cairan tubuh di mulut Lu Yan ke dalam mulutnya dan menelan. Lu Yan terengah-engah setelah dicium, dan merintih.

Suara itu jatuh ke telinga Chen Shu, tidak berbeda dengan suara mengerang.

Chen Shu menggerakkan pinggulnya lagi, menggesek alat vitalnya pada Lu Yan lebih keras lagi, membuatnya merasakan betapa dia sangat menginginkannya sekarang.  Ketika lidahnya menyentuh lidah Lu Yan dengan nakal, Lu Yan terkejut dan mengelak tanpa sadar.

Chen Shu sudah mengetahui itu, dan menekan punggung Lu Yan dengan telapak tangannya dan menekannya pada dirinya sendiri. Lu Yan dipeluk oleh Chen Shu dan air liur di mulutnya keluar, dan itu menjadi berkilau di bawah sinar bulan, terlihat sangat bernafsu.

Chen Shu membungkuk untuk mencium Lu Yan lagi, dia menjilat cairan tubuh yang meluap dari sudut mulut Lu Yan, mencongkel bibir dan gigi Lu Yan agar cairan tubuh masuk ke dalam mulutnya.

“Tidak nyaman, hm? Beritahu suamimu apa kau nyaman?” Tanya Chen Shu sambil terengah-engah.

Pipi Lu Yan memerah mendengar itu, tubuh bagian bawahnya keras. Dia tidak pernah tahu bahwa dia begitu bernafsu, dan hampir menyembur hanya dengan berciuman.

"Pintunya ... tidak ditutup."

Tangan Chen Shu beralih mengerayangi tubuh Lu Yan, menyentuhnya ke atas dan ke bawah, meraih celana piyama Lu Yan, dan mencelupkan jarinya di sepanjang celah pinggul melalui celana dalam.

“Kalau begitu kau pergi dan menutupnya.” Saat dia berkata, dia mencelupkan tangannya lebih dalam dan menekan lubang melalui celana dalamnya. Kain itu sedikit tenggelam, menyebabkan Lu Yan berseru.

"Ah ..." Lu Yan menyadari bahwa suaranya mungkin terlalu keras, dan separuh suku kata yang tersisa ditelan ke dalam mulutnya dan berbalik, yang terdengar lebih menggoda.

Chen Shu menghisap lehernya, napas berat menerpa, leher sensitif Lu Yan juga berubah menjadi merah muda. Dia dengan enggan melepaskan Lu Yan, matanya dalam dan penuh dengan manja, "Kau tidak patuh."

Lu Yan belum pernah melihat orang yang begitu nakal. Dia melotot pada Chen Shu kemudian dengan kaki lembut pergi untuk mengunci pintu. Sembari berjalan, dia menarik selimut bantal di ranjang atas, bermaksud untuk menutupi celah ventilasi di pintu agar tidak ada yang mengintip. Dia berjalan mendekat, dan baru saja akan berjingkat untuk menjepit seprai bantal di celah pintu, Chen Shu memeluknya dari belakang.

Lu Yan tercengang, karena dia bisa merasakan tongkat yang kaku di pinggulnya.

Kapan pria ini melepas celananya?!

Chen Shu melekat pada Lu Yan, mulai perlahan menggoyangkan pinggulnya, dan benda di bawah tubuhnya bergesekan dengan Lu Yan melalui piyamanya.

Lu Yan langsung merosot di pintu, dan pantatnya sedikit miring namun ditahan Chen Shu dan tubuhnya secara alami membungkuk menjadi busur erotis.

Keduanya terengah-engah, Chen Shu memeluk Lu Yan dengan erat dan membuka mulut untuk menggigit daun telinganya.

Telinga Lu Yan sangat sensitif, Chen shu menghisap dan menjilat dan bermain dengan lidahnya dibagian atas, bagian bawahnya sudah basah.

"Berhenti ... uh ..."

Chen Shu tertawa rendah di telinganya, dan suara magnetis mengalir ke telinga Lu Yan seperti listrik, sensasi kesemutan mengikuti kepalanya ke tubuh bagian bawahnya.

"Ahh……!"

Chen Shu tertegun sejenak, dan kemudian menyadari bahwa Lu Yan telah menyembur. Jantungnya berdetak lebih kencang, berpikir baobei-nya terlalu manis. Jelas mereka berdua sudah berkali-kali melakukannya, namun Lu Yan masih tidak tahan dengan godaan.

*panggilan sayang

Lu Yan baru saja selesai menembak, dan kesenangan yang tersisa meninggalkannya dengan air mata fisiologis. Setetes kristal tergantung di pipinya, bibirnya juga merah karena ciuman, dan ada cupang yang ditanam di lehernya.

Dia sekarang penuh dengan bau Chen Shu.

Kognisi seperti itu justru membuatnya merasa puas.[]

27 Agustus 2020

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments