29. Mau kakak bantu menggosok punggungmu?

 

    Jika ini di masa lalu, Guru Liu sudah melemparnya dengan kapur karena mengganggu ketertiban kelas.

     Namun, Ying Jiao telah berprestasi sangat baik dalam sebulan terakhir, tidak hanya dia ingin belajar dengan giat, tetapi nilainya juga meningkat.

     Guru Liu menatapnya dengan puas, dan kemudian mengambil kapur lagi, "Kalau begitu aku akan menerangkan lagi, dan kalian yang tidak mengerti harus memanfaatkan kesempatan untuk mendengarkan."

     Saat dia berbalik, dia berkata, "Apa kalian melihatnya? Sebagai seorang siswa, kalian harus seperti Ying Jiao, bekerja keras dan termotivasi, dan bertanya kalau masih tidak mengerti! Kalian semua harus belajar dari Ying Jiao."

     Siswa lain di kelas 7 mati rasa, "..."

     Siapa yang may bertanya!!!! Mereka ingin makan sekarang!!!

     Karena khawatir Ying Jiao masih tidak mengerti, Guru Liu menerangkan dengan lebih hati-hati. Saat ketiga pertanyaan diselesaikan, enam atau tujuh menit telah berlalu.

     Dia mendongak melihat jam, sedikit enggan berhenti, matanya beralih ke Ying Jiao, dan bertanya dengan ramah, "Sudah mengerti?"

     Telepon bergetar pada saat yang sama, Ying Jiao mengabaikannya, dan mengangguk, "mengerti, terima kasih guru."

     “Tidak apa-apa.” Guru Liu meletakkan kertas di tangannya, “Cukup sampai disini saja untuk hari ini. Kelas selesai.”

     Setelah berbicara, dia mengambil barang-barang di podium, membuka pintu dan berjalan keluar kelas.

     Waktu sudah banyak terbuang, pergi ke pemandian sudah pasti tidak sempat lagi. Sementara pergi ke kantin juga harus butuh banyak waktu. Siswa di kelas 7 berdiri dengan sedih dan ingin keluar. Zheng Que tiba-tiba berkata dengan suara keras, "Jangan keluar. Kakak Jiao mentraktir kita semua siang hari ini."

     Dia menggoyang ponsel di tangannya, "Makanan telah dipesan, favorit kita semua, Yue Wei Xuan."

     Yue Wei Xuan adalah restoran Sichuan di dekat sekolah. Hidangannya enak dan bahan-bahannya segar. Orang-orang di Kelas 7 sering memilihnya untuk makan. Namun resto ini tidak menerima single order, hanya menerima pesanan rombongan saja, sehingga setiap ingin makan harus menunggu hingga hari libur.

     Ying Jiao meletakkan satu tangan di punggung kursi dan berkata sambil tersenyum, "sebagai permintaan maaf karena membuang waktu kalian semua."

     Orang-orang di Kelas 7 masih sedikit emosional, tetapi ketika mendengar ini, mereka langsung menjadi bahagia.

     Ada yang sudah jadi, kenapa harus capek berdesakan merebut makanan dikantin.

     Beberapa anak laki-laki yang ingin mandi tidak lagi terjerat dengan urusan mandi, dan dengan senang hati meletakkan peralatan mandi mereka.

     Mengapa mereka harus pergi mandi dulu? Minggu besok saja. Sekarang ada yang mengajak mereka makan, kenapa tidak?!

     "Kau terlalu baik, apa yang dikatakan kakak Jiao, bisa mengerti."

     "Kakak Jiao, kau tidak harus keluar nanti, kami bisa mengambilnya saat makanan sudah diantarkan."

     "Itu hanya hal sepele, tetapi Kakak Jiao dengan baik hati menghabiskan uang."

     Yang berani, dia tersenyum dan datang mendekat, "kakak Jiao, kau bisa mengajukan semua pertanyaan diakhir kelas keempat di masa depan. Kami tidak keberatan."

     Anak laki-laki lain juga membeo, "Saran ini bagus."

     Ying Jiao tertekeh dan mengabaikan mereka.

     Dia menoleh ke Jing Ji dan berbisik, "Aku menghambat waktu mandimu, apa kau tidak marah?"

     Jing Ji menggelengkan kepalanya dan berkata dengan serius, "Jika kau masih tidak mengerti, kau harus bertanya."

     Hati Ying Jiao menghangat, kenapa teman sekelas kecilnya begitu baik.

     "Mau kakak mengajakmu pergi mandi di malam hari?"

     “Di malam hari?” Jing Ji terkejut sejenak, “Aku tidak bisa keluar di malam hari.”

     Sambil mengemas buku-buku di atas meja, dia berkata, "Besok aku akan pergi ke pemandian sekolah."

     "Jangan," Ying Jiao bahkan dengan sengaja meminta guru untuk mengulur waktu, hanya karena dia khawarir Jing Ji akan pergi mandi dengan sekelompok pria liar. Bagaimana bisa upayanya harus gagal diakhir, "Ada terlalu banyak orang di pemandian sekolah, dan sering terjadi pemadaman listrik."

     Dia menakuti Jing Ji, "Terakhir kali seseorang di kelas kita mandi, busa di kepalanya belum hilang, air mati, jadi dia harus lari kembali dengan jaket terbungkus di kepalanya."

     Gerakan Jing Ji berhenti.

     Ying Jiao melihat ada celah, dia melanjutkan, "Ada lebih dari satu jam antara makan malam dan belajar mandiri di malam hari. Aku tahu tempat yang dekat dengan sekolah dan hanya memiliki sedikit orang. Kau bisa langsung mandi tanpa perlu mengantri."

     "Kakak punya cara untuk keluar, jangan khawatir, kau tidak melanggar disiplin, bagaimana?"

     Jing Ji masih menolak untuk setuju.

     Ying Jiao menarik napas dalam-dalam dan menggunakan senjata kunci, "Pemandian sekolah kita sudah bertahun-tahun. Baris keran tidak rata. Sedikit lebih tinggi di sini dan sedikit lebih rendah di sana, sangat jelek."

     Jing Ji tidak bisa tahan untuk membayangkan situasi itu, dan tiba-tiba seluruh tubuhnya mulai merasa tidak nyaman.

/Penderita OCD tidak tahan melihat sesuatu yang tidak tertata rapi/

     Dia ragu-ragu, dan akhirnya mengangguk dan setuju, "Oke."

     Ying Jiao mengangkat bibirnya dan merasa puas.

     Di belakang, He Yu menepuk bahu Wu Weicheng dengan kasihan, "ketua kelas, ada sejuta kemungkinan dalam sekejap ah."

     Jangan mimpi bisa mandi dengan Jing Ji dan saling menggosok punggung. Kakak Jiao tidak akan membiarkan itu terjadi.

     Anak ini belum terbunuh, itu murni keberuntungan.

     Wu Weicheng berpikiran sempit, tenggelam dalam kegembiraan karena ditraktir makan, dan hampir lupa tentang rencana mandi. Mendengar ini, sambil menggosok pantatnya, dia tanpa pikir panjang menambahkan, "Harus maju atau menunggu?"

*Penggalan lirik lagu Million Possibilities by Christine Welch.
      'Ada jutaan kemungkinan dalam sekejap
... Harus maju atau menunggu' 😅

     He Yu, "..."

     "Kebodohan sungguh menyenangkan."

     Wu Weicheng meliriknya dengan bingung. Tepat ketika dia hendak mengatakan sesuatu, Zheng Que tiba-tiba berkata, "makanannya sudah tiba! Beberapa laki-laki bantu aku mengambilnya!"

     Dengan suara ini, beberapa siswa laki-laki tiba-tiba berdiri dan bergegas keluar.  Segera, ada tawa dan umpatan berisik di koridor.

     Jumlah siswa dikelas 7 tidak terlalu banyak, hanya empat puluh orang, dan makanan untuk empat puluh orang dipesan. Pemandangannya sangat spektakuler. Para siswa di kelas lain yang lewat, melihat dengan penasaran, semua bertanya-tanya apa yang terjadi di kelas mereka.

     Karena Jing Ji, Kelas 7 sekarang menjadi topik hangat di forum.

     Entah siapa yang mempostingnya di forum.

     OP [ Aku baru saja bertemu orang-orang dari Kelas 7 memesan makanan kelompok, apa yang mereka lakukan? ]

     1 [ •gambar• •gambar• ]

     2 [ Bahkan Kelas 7 bisa melakukan hal semacam ini. Feng Botak secara tegas melarang memesan makanan di luar. Jika ketahuan, bisa dihukum. ]

     5 [ Kapan mereka di Kelas 7 peduli tentang ini? Tapi aku dengar Jing Ji masuk kelas olimpiade matematika kemarin, apa karena ini yang mereka rayakan? ]

     11 [ Seharusnya karena ini. ]

     13 [ Benarkah? Apa masuk ke kelas kompetisi sekolah kita layak dirayakan?  Orang di Kelas 7 sangat langka dan aneh. ]

     14 [ Komen diatas yang aneh. Memangnya kenapa dengan kelas kompetisi sekolah kita? Meski tidak bisa bersaing di kompetisi nasional, sekolah kita bisa kita mengalahkan sekolah lain di kompetisi provinsi. ]

     20 [ Aku merasa Jing Ji seharusnya tidak berpartisipasi dalam kompetisi, bagaimanapun, kompetisi pendahuluan akan segera dimulai, dan dia tidak pernah belajar. ]

     25 [ Sama kayak komen 20. Jing Ji luar biasa dan nilainya sangat bagus, aku percaya. Tapi kali ini rasanya salah pilih. Yang lain sudah berlatih sekian lama. Dia yang tidak pernah belajar kompetisi hanya akam mendapat hasil yang buruk. Lebih baik menunggu tahun depan. ]

     33 [ Konon kelas kompetisi matematika mengikuti ujian kemari. Ayo tebak berapa banyak poin yang bisa didapat Jing Ji ]

     37 [ Inspeksi visual tidak akan melebihi 20 poin, bagaimanapun, ini adalah pemula. Jiang Chong dari kelas satu katanya sangat baik, namun akhirnya hanya mendapat tempat kedua di provinsi. Aku ngakak sampai mau meninggal, diperkirakan Jing Ji tidak sebaik dia. ]

     40 [ Ah, ah, ah, Jing Ji adalah dewaku! Tak satu pun dari kalian diizinkan untuk mengatakan hal-hal buruk tentangnya! Apa itu 20, mungkin sedikit naik 30 poin! Jika pertanyaannya tidak sulit, jangankan yang ketiga, bahkan tempat kedua pun tidak masalah! ]

     41 [ Bukankah komen diatas itu bodoh? Apa gunanya tempat kedua dan ketiga?  Siswa yang masuk jalur mandiri tidak dipertimbangkan sama sekali, dan ujian masuk perguruan tinggi tidak menambah poin. Di sekolah kita, tempat kedua dan ketiga = tidak ada hasil, ada masalah? ]

     50 [ Jangan berdebat, bagaimanapun juga, hasilnya pasti akan keluar malam ini, kita lihat saja nanti. ]

     66 [ Fokus pada hasil tes Jing Ji, sejujurnya, aku sedikit penasaran, lagipula, kita sudah lama tidak melihat dewa seperti itu dalam percobaan. ]

     Jing Ji menjadi fokus para siswa. Setelah posting ini keluar, mereka menebak berapa banyak poin yang dia miliki pada tes. Ada yang menebak setiap angka dari nol hingga dua puluh.

     OP juga membosankan, dan bahkan mengeluarkan jajak pendapat, menebak bahwa skor 0-10 menyumbang 95%.

     Orang-orang dari Kelas 7 memeriksa forum sambil makan, dan melihat kiriman ini. Beberapa orang berkumpul dan berdiskusi untuk waktu yang lama, tetapi mereka tetap tidak memberi tahu Jing Ji.

     Bahkan bajingan tahu perbedaan antara kompetisi dan ujian biasa. Daripada memberi tahu Jing Ji yang membuat tekanannya tinggi, lebih baik merahasiakannya. Kelas mereka akhirnya menemukan seseorang yang berprestasi, jadi mereka harus menjaganya dengan baik.

     Beberapa orang berdiskusi dalam grupchat kelas satu sama lain, dan memperingatkan semua orang untuk tidak membocorkan mulut mereka.

     Tubuh asli sebelumnya diusir dari grupchat kelas karena selalu @ Ying Jiao dengan kalimat menggelikan. Sekarang, setelah menyeberang, Jing Ji tidak banyak menggunakan ponselnya, jadi lupa untuk menambahkan lagi.

     Ying Jiao selesai makan sayap ayam dan melihat telepon menyala, melirik ke bawah, melihat isi pesan, tersenyum, dan mengunci layar telepon.

     Setelah makan makanan dari Ying Jiao, siswa kelas tujuh tiba-tiba merasa bahwa tiran sekolah tidak begitu menakutkan.

     Orang yang begitu setia seharusnya tidak mematahkan kaki seseorang tanpa alasan.

     Berkat makanan ini, Ying Jiao mendapat banyak kesan baik.

•••


     Setelah kelas keempat di sore hari, siswa lain berlari ke kafetaria untuk makan, sementara Ying Jiao berjalan ke gerbang sekolah bersama Jing Ji.

     Percobaan provinsi menetapkan bahwa meskipun bukan siswa yang tidak tinggal diasrama, mereka tetap tidak diizinkan pulang untuk makan malam dirumah. Jadi saat ini, gerbang sekolah sedang sepi.

     Penjaga sekolah sedang duduk di paviliun kecil, menggelengkan kepala dan mendengarkan cerita.

     Ying Jiao meminta Jing Ji untuk menunggunya di luar, mengetuk pintu dan masuk.

     Keduanya mengucapkan beberapa patah kata, dan Ying Jiao mengeluarkan sebungkus rokok dan menyerahkannya. Penjaga pintu menolak untuk waktu yang lama, tetapi tanpa daya akhirnya menerima, dan mengeluh sambil tersenyum, "Kau nak, memberiku kesulitan saja. Cepat pergi dan kembali lebih awal."

     “Aku mengerti, terima kasih.” Ying Jiao mengucapkan terima kasih, mengambil sepedanya di pintu, dan menepuk kursi belakang, “Teman sekelas kecil, naik dan duduk.”

     Jing Ji mengubah tangan kirinya untuk membawa kantong plastik, melompat duduk, dan bertanya, "Cukup jauh?"

     "Tidak jauh," Ying Jiao mengayuh dengan kuat, dan sepedanya bergegas keluar, "Bersepeda lebih cepat, aku khawatir kau ingin lebih bergegas."

     Ying Jiao tidak berbohong padanya, sebenarnya tidak jauh.

     Namun yang mereka datangi bukanlah pemandian yang dibayangkan Jing Ji, melainkan sebuah gedung apartemen.

     “Di mana ini?” Begitu tiba, Jing Ji menunggu Ying Jiao mengunci sepeda dan mengikutinya berjalan masuk, bertanya-tanya, “Bukankah kita pergi ke pemandian umum?”

     "Tidak," Ying Jiao menekan lift ke atas, dan berkata, "bukan ke pemandian umum, tapi ke rumahku."

     "Tidak perlu" Jing Ji mengerutkan kening, ingin mengubah arah, "Aku bisa pergi ke pemandian."

     "Pemandian apa," pintu lift terbuka, dan Ying Jiao menyeretnya masuk dan menekan lantai 22, "Tidak nyaman sama sekali, begitu banyak orang untuk berdesakan. Kebetulan rumahku dekat dengan sekolah. Mandi dirumahku sudah sangat tepat."

     Dia berhenti, takut Jing Ji akan merasa tidak nyaman, dan melanjutkan, "Jangan khawatir, tidak ada orang lain di rumah. Aku tinggal sendiri."

     Jing Ji sedikit terkejut.

     Bagaimana Ying Jiao hidup sendiri?  Dimana orang tuanya?

     Novel ini dideskripsikan dari sudut pandang protagonis. Pada tahap awal, berfokus pada garis karier, dan Ying Jiao adalah protagonisnya. Lebih fokus pada tampilan karakternya sebagai tiran sekolah yang suka berkelahi, dan tidak dijelaskan secara mendalam sama sekali.

     Karena itu, Jing Ji tidak mengetahui keadaan keluarganya.

     Dia tidak bertanya terlalu banyak, takut dia akan secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang tidak boleh disentuh, mengangguk, mengikuti Ying Jiao ke pintu.

     Rumah Ying Jiao adalah tipikal apartemen tunggal dengan area yang luas tetapi hanya satu kamar tidur.

     Ruang ganti, dapur, toilet, dan kamar mandi semuanya tersedia. Ying Jiao membuka lemari es, mengeluarkan dua botol air mineral, dan memberikan sebotol pada Jing Ji, "Minumlah."

     Jing Ji mengambilnya, membuka tutupnya dan menyesap dua kali.

     “Pergi mandi,” Ying Jiao menyeka tetesan air di sudut bibirnya, membawanya ke kamar mandi, dan menunjuk ke keran. “Belok ke kiri adalah air panas, dan kanan adalah air dingin. Saat kau mandi nanti, jalankan dulu. Saat air keluar, awalnya adalah air dingin."

     "Kau bisa berendam kalau mau. Bak mandinya bersih," Ying Jiao menunjuk ke deretan perlengkapan mandi di atas, "Sampo dan shower gel semuanya ada di sini, kau bisa menggunakannya sesukamu."

     Jing Ji meletakkan kantong plastik yang dibawanya ke rak, dan berkata kepada Ying Jiao dengan sedikit malu, "Terima kasih, aku membawanya sendiri."

     Ying Jiao terkekeh, "Apa masalahnya dengan ini, aku yang membawamu datang ke rumahku."

     Dia berhenti, dan bertanya ringan, "Apa kau membawa pakaian dalam? Kalau tidak, aku punya yang masih baru."

     Jing Ji menunduk dan berkata dengan tidak wajar, "Aku membawa semuanya."

     Ying Jiao tersenyum, "Baiklah, milikku terlalu besar untuk kau pakai, itu tidak muat."

     Matanya menyapu seisi kamar mandi. Melihat tidak ada yang bisa dikatakan, dia mengangkat kakinya dan berjalan keluar, "Oke, kau bisa mandi sekarang."

     Jing Ji mengangguk dan hendak menutup pintu, Ying Jiao tiba-tiba mengulurkan tangan dan memegang kusen pintu.

     Dia menundukkan kepalanya sedikit, menatap Jing Ji sambil tersenyum, dan berkata dengan lembut, "Teman sekelas kecil, mau kakak membantu menggosok punggungmu nanti?"[]


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments