/2/ Dormitory H

Hujan semakin besar dan besar, tidak ada tanda untuk berhenti. Jumlah orang di kelas ada banyak, dan mereka tidak bisa mendengar jika guru menerangkan materi. Jadi guru meminta siswanya untuk belajar sendiri, dan ia membenamkan dirinya dalam menulis RPP di podium. Sekitar belasan siswa yang datang ke sini biasanya sangat aktif di kelas, dan sekarang mereka semua menulis pertanyaan dengan serius.

Keduanya duduk di kursi terakhir, yang dianggap tersembunyi.

Lu Yan menggerakkan kaki bagian bawahnya, dan kain di celananya bergesekan di sana, membuat dia meremat jemarinya.

Chen Shu memperhatikan itu dari awal hingga akhir. Dia mengamati bahkan gerakan sekecil itu. Dia meringkuk bibirnya dan perlahan mendekati Lu Yan, dan berkata di telinganya, "kau baru saja mengatakan tidak basah. Bohong padaku? Hm?"

Lu Yan berpura-pura serius dan mengambil pulpen, tanpa menjawab Chen Shu, bibirnya bergumam, "Kerjakan PR, kerjakan PR."

Melihat perilaku Lu Yan yang menutupi telinga itu menyenangkan Chen Shu, membuatnya tidak dapat menahan untuk menggodanya, "PR apa ah?"

“Hah?” Lu Yan tercengang, tanpa sadar melihat Chen Shu, mata mereka bertabrakan, dan seluruh tubuh Lu Yan menjadi panas kali ini.

Lu Yan menggerakkan pantatnya, mencoba menjauh Chen Shu. Tapi setiap kali bergeser, Chen Shu juga ikut mempersempit jarak keduanya. Kelas penuh dengan siswa yang fokus menulis pekerjaan rumah, hanya keduanya yang tidak melakukan pekerjaan dengan benar.

"Fi-fisika, kimia ..." kata Lu Yan lebih pelan, mendengar itu, senyum Chen Shu semakin lebar.

Si bodoh kecil ini, bukankah mereka belajar sastra? Mana ada PR dari subjek-subjek itu?

Chen Shu menekuk jari telunjuknya di pangkal hidung Lu Yan, dan pita suaranya bergetar, "Pembohong kecil."

Lu Yan memutar kepalanya, menyatakan bahwa dia tidak ingin berbicara dengan Chen Shu.

Chen Shu tidak mengganggu lagi. Dia menegakkan postur duduk dan membalik halaman buku teks demi halaman.

Fitur wajah tiga dimensi Chen Shu, dari samping dengan kepala sedikit menunduk sunnguh membuat ilusi konsentrasi. Dia sangat tampan, dan gadis-gadis di kelas berkata bahwa jika bukan karena wajahnya, entah berapa kali dia akan dipukuli karena mulutnya yang begitu murah.

Lu Yan merasa bahwa hanya paruh pertama kalimat yang benar, tetapi paruh kedua tidak benar sama sekali. Chen Shu juga sangat pandai berkelahi, meskipun dia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, tetapi Chen Shu yang mengatakan itu.

Katanya, "Suamimu ini sangat pandai berkelahi. Jika kau diintimidasi, kau harus memberi tahuku. Mengerti?"

Jika Chen Shu yang mengatakan itu, dia akan percaya. Bukankah dia bodoh?

Hmm, bodoh.

Jatuh cinta membuat orang bodoh.

Chen Shu terkadang sangat maskulin. Lu Yan sangat menyukainya bahkan ketika Chen Shu tidak mengambil keuntungan.

Dia suka Chen Shu, jadi meskipun dia tidak selemah yang dibayangkan, dia akan menjawab dengan sangat patuh, "Hm, baik."


•••


Lu Yan mengintip sisi wajah Chen Shu diam-diam, namun Chen Shu menahan tawa di dalam hatinya.

Menurutnya pembohong kecilnya itu sangat lucu. Bagaimana dia bisa buka mulut saat mengintip? Tidak sadar ada air liur di mulutnya?

Ck, dia sangat ingin menciumnya.

Tangan Chen Shu perlahan mendekati Lu Yan, lelaki yang sedang "mengintip" dengan seksama itu bahkan tidak memperhatikan.

Seragam musim panas sangat tipis, dan ketika telapak tangan yang hangat menyentuh bawah perutnya, Lu Yan terkejut hampir berteriak namun untungnya dia segera membekap mulut.

Chen Shu tidak lagi membaca, berbaring dengan kepala bertumpu pada lengan, dan tangan kanannya bergerak pelan. Bibirnya berbisik dengan jelas.

"Kau keras."

Kalimat deklaratif.


Lu Yan ingin menepis tangan kanan Chen Shu dari anunya, tetapi belum sempat, gerakan tangan Chen Shu bertambah cepat, saling bergesekan dengan kain celana, menyebabkan kesenangan yang menggelitik. Tangan Lu Yan sedikit gemetar, hampir tidak bisa memegang pena.

Chen Shu tersenyum nakal, tangannya terus bergerak. Tubuh Lu Yan sensitif, suhu yang sedikit lebih hangat sudah cukup untuk menbuat belakang telinga, leher, dan pipinya memerah, yang bahkan lebih luar biasa sekarang.

Melihat leher putih pucat Lu Yan yang merona, Chen Shu tidak tahan dan menjilat bibir, gerakkan tangannya semakin cepat.

Lu Yan bisa merasakan cairan putihnya menerobos keluar, rasa lengket yang menempel di celana dalamnya membuat kulit kepalanya mati rasa. Dia memegang pena di tangannya, dan napasnya menjadi semakin berat.

"Berhenti ..." Suara Lu Yan bergetar. Dia tidak berani berbicara dengan keras dan hanya bisa menggunakan nada udara. Suaranya kecil dan gemetar, dan itu adalah afrodisiak ketika memasuki telinga Chen Shu.

Chen Shu yang tergelitik merasa bahwa dia sangat keras. Dia melepaskan tangan yang memegang Lu Yan dan meraih lengannya sebagai gantinya.

Tiba-tiba dilepaskan, Lu Yan merasa lega dan kecewa. Dia takut dengan pikirannya sendiri, tetapi Chen Shu sudah membuatnya terlihat lebih baik.

Chen Shu mengetuk jam tangan Lu Yan, tersenyum penuh arti, "tinggal tiga menit lagi."

Ada apa dalam tiga menit? Lu Yan menarik tangannya, memikirkan hal-hal berlebihan yang baru saja dilakukan, dan menatapnya dengan kejam.


Chen Shu terhibur dengan ekspresi Lu Yan, menurutnya itu sangat lucu. Jika dia benar-benar tidak senang, bahkan jika tangannya gemetar, dia pasti bisa menghentikannya, tetapi Lu Yan tidak melakukannya, tidak mau tetapi mau. Dan sekarang malah menyalahkan dirinya.


•••


Tiga menit kemudian, bel sekolah berbunyi. Hujan masih turun, tapi sekolah masih punya hati nurani, sehingga siswanya bisa kembali ke asrama sekarang, bersih-bersih dan tidur lebih awal.


Chen Shu dan Lu Yan adalah yang terakhir pergi. Tidak ada alasan lain, tentu saja untuk menyamarkan dampak kelakuan mereka. Meskipun celana Lu Yan berwarna gelap, namun tetap basah.

Chen Shu berdiri dan melepaskan jaket seragam sekolahnya kepada Lu Yan untuk menutupinya.


Selakangan Lu Yan tidak dapat terlihat jika tidak diperhatikan dengan cermat, tetapi Chen Shu tidak tahan melihatnya seperti itu.

Lu Yan duduk di kursinya, mendongak pada Chen Shu, "Kau lebih keras, sebaiknya kau ..."

Cheng Shu mengangkat alisnya dan mengambil langkah menuju Lu Yan. Anunya hampir menempel ke wajah Lu Yan. Lu Yan reflek menjauh ke belakang, tetapi itu masih mengusap pipinya.

Chen Shu terkekeh. Senyuman biasanya agak tidak senonoh, tapi kali ini senyuman yang nyata, dia tampan dan secara alami terlihat semakin tampan ketika tersenyum. Dia mundur selangkah, membungkuk dan mengucapkan sepatah kata di telinga Lu Yan.


Orang yang berbicara itu tampan, dan senyumnya juga tampan, adapun isi kata-katanya ...

"Kau bantu suamimu menjilatnya."

Lu Yan mendorong Chen Shu, mengambil seragam sekolah dari tangannya dan berjalan keluar.[]


19 Agustus 2020


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments