26. Kita akan memiliki wangi yang sama luar dalam

     Jing Ji memerah hampir berdarah, mengambil buku biologi di atas meja, dan memukul Ying Jiao dengan asal, "apa kau sakit?"

     Ying Jiao dengan mudah meraih pergelangan tangan Jing Ji, melihatnya berjuang untuk melepas diri, dia menahan tawa, "Ya, apa kau punya obat? Berapa hari akan bekerja? Satu hari? Satu minggu? Atau satu bulan?"

     Jing Ji seketika kesal dan lupa bahwa ini adalah kelas belajar mandiri, dan dia bersiap untuk menendang Ying Jiao.

     "Oke, berhenti membuat masalah," Ying Jiao menjepit kaki Jing Ji dengan kedua kakinya, terkekeh, "Hei, mari berhenti membuat masalah, kakak salah, kakak meminta maaf padamu, jangan marah."

     Jing Ji mengambil napas dalam-dalam, tenang sejenak, dan menatap tangannya, "Kau lepaskan."

     "Oke," Ying Jiao takut dia benar-benar akan marah, dan perlahan melepaskannya.  Baru saja akan duduk tegak ke posisinya, Jing Ji tiba-tiba mengulurkan kaki dan menendang betisnya dengan keras.

     "Aww ..." Ying Jiao mengaduh kesakitan. Dia segera menggosok betisnya dan menatap Jing Ji, "Sangat kejam."

     Jing Ji mengabaikannya dan kembali memegang pena.

     Ying Jiao menatap wajahnya yang merah dan mencoba yang terbaik untuk memasang tampang yang serius.

     Mengapa teman sekelas kecilnya begitu imut? Dia marah, tetapi tidak lupa untuk membantunya mengoreksi kertas soal.

•••


     Pada saat ini, di kantor sains tahun kedua, beberapa guru berdebat tentang apakah Jing Ji harus bergabung dengan kelas kompetisi.


     Setiap tahun, ada kontes pengetahuan untuk siswa sekolah menengah dalam matematika, fisika, kimia dan teknologi informasi.

     Dari babak penyisihan provinsi ke semifinal provinsi, ke kompetisi nasional, dan akhirnya ke kompetisi internasional, maju selangkah demi langkah.

     Hasil kompetisi tahunan Provinsi Donghai tidak terlalu bagus, berada di peringkat terbawah tingkat nasional, sebagian besar yang dapat mencapai kompetisi nasional hanya dua atau tiga.

     Eksperimen provinsi telah berusaha keras untuk mendapatkan hasil dalam kompetisi, dan untuk alasan ini, banyak guru telah dipekerjakan di luar.

     Tetapi pada akhirnya itu tidak hanya mahal dan melelahkan, tetapi juga tidak mendapatkan hasil yang baik.

     Seiring waktu, para pemimpin sekolah sedikit kecewa dan tidak memperhatikan kompetisi seperti sebelumnya.

     Awalnya, di setiap kelas kompetisi percobaan provinsi, ada hampir 80 siswa di setiap mata pelajaran. Sekarang tidak hanya turun menjadi 30, mata pelajaran kompetisi juga telah berubah dari lima mata pelajaran menjadi tiga mata pelajaran yaitu matematika, fisika dan kimia. Teknologi informasi dan biologi tidak lagi masuk kategori.

     Zhao Feng, guru kelas dua, saat ini memimpin kelas kompetisi matematika. Dia menggulung rencana pengajaran dan berdiri di hadapan Guru Liu, sambil menampar meja dengan bersemangat, berkata, "Dengan pencapaian Jing Ji, tentu saja, dia harus bergabung dengan kelas kompetisi. Bagaimana menurutmu Lao Liu?"

     Guru Liu tengah duduk menyesap teh krisan, tidak menjawab.

     Zhao Feng tidak sabar, dia berjalan ke Guru Liu dan mencoba membujuknya, "Ya, aku tahu bahwa kinerja sekolah kita dalam kompetisi tidak baik, tetapi Jing Ji memiliki otak melon. Tidakkah kau pikir itu sia-sia untuk tidak berpartisipasi dalam kompetisi?"

*orang yang sangat pintar, tahu segalanya pada suatu titik, dan dapat belajar dan menerapkan hal-hal dalam kehidupan dan pekerjaan.

     Dia berhenti dan berkata dengan penuh harap, "Bagaimana jika dia bisa mendapatkan hasil memuaskan dalam kompetisi nasional?"

     Mendengar ini, Guru Liu mengangkat kelopak matanya dan meliriknya, lalu mencibir dan berkata, "Berhentilah menggambar pie besar. Bukankah kau juga mengatakan itu pada Jiang Chong dan Zhou Chao? Hasilnya?"

*menghasut dengan harapan yang tidak mungkin

     Zhao Feng seketika malu dan terdiam.

     Memang, percobaan provinsi, bahkan kekurangan Provinsi Donghai dalam kompetisi terlalu serius. Setiap kali mereka dibanting oleh provinsi lain, mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

     "Aku akan memikirkannya lagi..." Guru Liu bergumam, memegangi kepalanya.

     "Tapi ..." Zhao Feng masih belum puas, dan ingin mengatakan sesuatu lagi, Zhang Jing di sampingnya tiba-tiba berkata, "Kompetisi berbeda dari ujian biasa. Hasil tes Jing Ji memang bagus kali ini, tetapi kompetisi ..."

     Dia tertawa dan berkata dengan penuh arti, "Biarkan orang yang belum pernah belajar dikelas kompetisi untuk berpartisipasi? Guru Zhao, jangan bertindak ceroboh."

     Sejak Jing Ji mengambil tempat pertama seangkatan, Zhang Jing tidak lagi banyak bicara di kantor. Ketika berpapasan dengan Guru Liu, dia merasa canggung dan malu.

     Siapa yang akan berpikir bahwa bajingan kecil yang tidak belajar dengan baik dan berkelahi setiap hari sebenarnya adalah xueba?

     Wajah yang telah dipukuli beberapa waktu lalu masih sakit, dan sekarang dia akhirnya memiliki kesempatan untuk mengambil alih, bagaimana bisa Zhang Jing dengan mudah melepaskannya.

     Jiang Chong, siswa di kelasnya adalah kontestan unggulan di kompetisi matematika. Dia masuk ke semi final provinsi tahun lalu, meskipun hasilnya tidak bagus. Tetapi sekarang dia telah berlatih selama satu tahun, dan sudah lebih baik dari sebelumnya.

     Jing Ji, seorang siswa yang belum pernah belajar dikelas kompetisi, mana bisa dibandingkan dengan Jiang Chong.

     Guru Liu awalnya tidak ingin Jing Ji berpartisipasi dalam kompetisi, lagipula, jika nilai Jing Ji dapat dipertahankan, ia dapat memilih semua jurusan di semua universitas di China dengan mata terpejam.

     Tetapi jika bergabung dengan kelas kompetisi, itu menguras energi dan akan mempengaruhi prestasinya, dan kemudian jika dia tidak bisa mendapatkan hasil yang baik dalam kompetisi, maka keuntungan tidak menutupi kerugian (idiom).
  
     Selain itu, ia takut bahwa karena nilai-nilainya yang tinggi, para guru sekolah akan berharap terlalu banyak dari Jing Ji, yang hanya akan membuatnya tertekan.

     Pada saat itu, jika tingkah berandalnya muncul lagi, Guru Liu merasa bahwa dia sudah benar-benar tidak tahan.

     Tapi ketika Zhang Jing mengatakan ini, dia berubah pikiran dalam sekejap.

     Memangnya kenapa dengan belum pernah belajar dikelas kompetisi sebelumnya? Jing Ji belajar keras belum sampai setahun, tetapi siapa yang mengira dia bisa mendapatkan tempat pertama?

     Dengan kepintarannya, ia belajar selama satu tahun dan menunggu hingga tahun ketiga SMA untuk berkompetisi lagi, mungkin ia bisa benar-benar menyelamatkan mereka dengan kehormatan untuk percobaan provisi.  Selain itu, mundur satu langkah, bahkan jika kompetisi nasional tidak ada harapan, jika dia mendapatkan tempat pertama di semifinal provinsi, ujian masuk perguruan tinggi juga dapat menambah poin.

     Guru Liu meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja dan berkata dengan suara yang dalam, "aku akan meminta Jing Ji untuk datang dan bertanya."

     Zhao Feng mendesak, "Cepatlah!"

     Kebetulan bahwa guru kimia akan mengajar di kelas tujuh dan delapan, jadi Guru Liu memintanya untuk memanggil Jing Ji.

     Beberapa menit kemudian, Jing Ji mengetuk pintu dan masuk dari luar, "Guru, apakah kau mencariku?"

     “Duduk.” Guru Liu menyeret kursi ke sisinya, dan memberi isyarat kepada Jing Ji untuk duduk dan berbicara, “Aku punya sesuatu untuk diberitahukan kepadamu.” Dia berhenti, dan perlahan berkata di bawah tatapan tajam Zhao Feng. "Apa kau tertarik untuk berpartisipasi dalam kelas kompetisi?"

     Mata Jing Ji langsung menyala, dan dia berkata tanpa ragu, "aku ingin berpartisipasi dalam kelas kompetisi matematika."

     Dalam kehidupan sebelumnya, Jing Ji adalah siswa sekolah menengah di prefektur tingkat kota. Meskipun sekolah menengah mereka sangat bagus, fakultasnya masih belum sebanding dengan eksperimen provinsi, dan pada saat itu, Biro Pendidikan tidak mengizinkan sekolah untuk terlibat dalam Pertandingan Olimpiade, jadi pada saat itu, tidak ada kelas kompetisi sama sekali.

     Jing Ji hanya bisa menemukan buku, membaca, dan mengerjakan topik di waktu luangnya. Dia ditemukan oleh guru kelas dan membujuknya dengan sabar.

     Ada kesempatan dalam kehidupan kali ini, tentu saja dia tidak akan membiarkannya pergi.

     Guru Liu dari awal sudah menemukan bahwa Jing Ji lebih menyukai matematika, dan mengangguk ketika mendengarnya, "kau dapat memikirkannya sendiri. Mulai besok, kau akan pergi ke kelas kecil untuk belajar mandiri di malam hari, dan hal yang sama pada hari Minggu."

     Percobaan provinsi tidak mengambil liburan ganda. Tahun pertama dan kedua hanya mengambil liburan setengah hari setiap hari Minggu sore, dan dua hari dari liburan akhir bulan.

     Dan untuk tahun ketiga, hanya ada satu hari libur di akhir bulan.

     Satu hari lebih sedikit kelas seminggu, ditambah tidak ada lagi belajar mandiri malam, ini berarti waktu Jing Ji telah banyak berkurang.

     “Aku mengerti.” Jing Ji mengangguk dan menyatakan pengertiannya, “Terima kasih, guru.”

     Guru Liu melambaikan tangannya dan menunjuk ke arah Zhao Feng dan berkata, "Ini adalah Guru Zhao, guru dari kelas dua. Dia memegang kelas kompetisi matematika. Jika kau memiliki masalah dengan studimu, bisa hubungi dia."

     Jing Ji menyapa Zhao Feng dengan sopan, "Halo, Guru Zhao."

     Zhao Feng tersenyum ramah padanya, "Jing Ji, kan? Selamat bergabung dengan kelas kompetisi matematika kami."

     Mendengar ini, Zhang Jing mengangkat kepalanya dari rencana pelajaran dan melirik dengan hina.

     Bukan hanya dia, guru-guru lain tidak terlalu optimis tentang Jing Ji.  Bagaimanapun, hal-hal seperti Olimpiade Matematika, belajar dan tidak pernah belajar dikelasnya, berbeda sepenuhnya.

     Meskipun Jing Ji mendapat skor yang menakutkan kali ini, mereka masih tidak memiliki harapan akan hasilnya di kompetisi.

     Zhao Feng tahu lebih banyak tentang kelas Olimpiade Matematika daripada Guru Liu. Dia menyukai Jing Ji, jadi dia berkata lebih banyak, "Kau datang sedikit terlambat. Kompetisi pendahuluan provinsi akan dimulai dalam waktu kurang dari sebulan. Kau tidak perlu cemas, jangan stres. Anggap saja itu pemanasan. Yang benar-benar dinanti-nantikan guru adalah nilaimu di tahun depan."

     Jing Ji tertegun ketika mendengar kata-kata itu.

     Di dunianya, babak pendahuluan dari kontes pengetahuan untuk siswa sekolah menengah dimulai dari Mei hingga September, dan waktu yang tepat bervariasi dari satu provinsi ke provinsi lainnya. Di sini, babak penyisihan terpaksa sampai Desember.

     "Besok, kelas kompetisi kita akan memiliki kuis, dan kau akan mengikuti tes bersama. Tidak ada arti lain, guru hanya ingin melihat di mana titik awalmu."

     “Aku mengerti.” Jing Ji kembali terhenyak, dan merespon, “Aku akan pergi ke ruang kelas kecil tepat waktu besok.”

     Setelah Jing Ji meninggalkan kantor, Zhao Feng tanpa sadar menghela nafas, "Aku tidak tahu berapa banyak poin yang bisa dia dapatkan."

     Seorang guru tersenyum dan berkata, "Guru Zhao, kau gila. Ini bukan hanya ujian biasa."

     Zhang Jing menyisipkan kalimat, "Bagaimanapun, ini adalah Olimpiade, dan orang-orang biasa tidak bisa menanganinya."

     Zhao Feng meliriknya dan tidak mengatakan apa-apa.

     Guru-guru lain yang masih bersiap untuk mengucapkan beberapa patah kata melihat bahwa suasananya sedikit halus, jadi mereka menutup mulut dan menundukkan kepala untuk terus mempersiapkan pelajaran.

•••


     Jing Ji keluar dari kantor. Sebelum kembali ke kelas 7, bel akhir kelas mandiri malam berbunyi.

     Dia berpikir sejenak, membalikkan kakinya, dan berjalan keluar. Dia kehabisan pena tinta hitam, jadi dia harus pergi ke toko kecil untuk membeli sekotak isi ulang.

     Begitu dia berjalan ke sudut koridor, kerah lehernya ditangkap dari belakang.

     Ying Jiao meletakkan dagunya di bahu Jing Ji, dan menoleh untuk menatapnya, "Kau mau kemana, teman sekelas kecil?"

     Lengan jaket seragam sekolahnya digulung ke siku, lengan bawah terekspos, dengan posisi kepala yang miring menatao Jing Ji, menampakkan kesan kuat dan mendominasi.

     Jing Ji meraih pergelangan tangannya, mendorongnya, dan terus berjalan ke depan dengan datar.

     “Mengabaikanku?” Ying Jiao mengikutinya langkah demi langkah, terkekeh, “Ada apa, ingin kakak membujukmu?”

     Jing Ji melotot padanya, berkata dengan enggan, "pergi ke toko kecil."

     "Kebetulan sekali," Ying Jiao melangkah maju dengan dua kaki panjang, menyusul Jing Ji dua langkah, dan berjalan di sampingnya, "Aku juga ingin pergi."

     Dia berhenti, tiba-tiba menurunkan suaranya, dan bersandar ke telinga Jing Ji, berkata, "Apa kau tahu apa yang aku lakukan di toko kecil?"

     "Membeli."

     "Membeli apa?"

     Jing Ji meliriknya dengan tidak mengerti, "mana aku tahu."

     "Shampoo," dia menunduk dan berkata dengan penuh arti, "Beli seperti milikmu."

     Jing Ji terlalu sederhana, berpikir bahwa Ying Jiao sudah kehabisan sampo, dia segera mengesampingkan rasa kesalnya, dan dengan ramah mengatakan kepadanya merek sampo yang dia beli kemarin. "Aku memeriksa testimoni di beberapa situs web. Mereka semua mengatakan sangat bagus."

     Ying Jiao menatapnya, "Apakah ini berarti kita pasangan? Ngomong-ngomong, merek pasta gigi dan sabun mandi apa yang kau miliki? Katakan sekarang, aku ingin membelinya juga sekalian."

     Dia berhenti dan tertawa, "Pada saat itu, kita akan memiliki wangi yang sama luar dalam. Hei, menurutmu, ketika seseorang mencium wangi kita, apakah mereka akan berpikir kita tidur bersama setiap hari?"

     Kelas mandiri malam percobaan provinsi dimulai pukul 7 dan tidak berakhir sampai 9:05. Diantaranya, ada jeda 20 menit.

     Di lapangan yang remang-remang, ada suara berisik para siswa yang keluar setelah kelas.

     Wajah Jing Ji memerah tiba-tiba, tanpa sadar dia melihat ke kiri dan ke kanan, dan lega melihat bahwa tidak ada yang memperhatikan mereka.

     Dia menahan panas di wajahnya dan mengambil langkah besar ke depan, menjauh dari Ying Jiao, tidak mau berbicara dengan orang ini sama sekali.

     Ying Jiao menyukai penampilannya yang malu-malu. Ketika dia melihat ini, sudut bibirnya sedikit terangkat, dan akan mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba ada suara diskusi di telinganya——

     Satu orang berkata, "Kau bilang Jing Ji dari Kelas 7, apakah nilainya benar? Mengapa dia tiba-tiba menjadi begitu baik dalam ujian?"

     Orang lain menjawab, "Siapa tahu, beberapa guru mata pelajaran kami telah berbicara tentang Jing Ji setiap hari selama periode ini, dan aku hampir muntah."

     Dia berhenti dan menoleh ke orang di sebelahnya, "Hei, Jiang Chong, bagaimana menurutmu?"

     Jiang Chong adalah tempat kedua dalam ujian tengah semester ini, dan skor totalnya adalah 25 poin lebih sedikit dari Jing Ji.

     Dari saat prospek hilang, yang pertama bukan miliknya, atau kelas kedua Zhou Chao. Perbedaan skor antara keduanya tidak pernah lebih besar dari 5 poin.

     Jiang Chong yang dari tadi diam, merespon, "Siapa yang tahu, tetapi secara logis, dengan nilai-nilainya, ia harus bergabung dengan kelas kompetisi? Tetapi beberapa guru belum setuju sampai sekarang ..."

     Mendengar itu, teman yang bertanya tadi langsung menanggapi, "Ya, sepertinya para guru juga tidak terlalu berharap padanya. Aku pikir dia hanya beruntung kali ini. Siapa yang tahu berapa banyak poin yang bisa dia dapatkan dalam ujian berikutnya."

     Lelaki lainnya berkata, "Jiang Chong, berjuanglah, dan ambil kembali nomor satu untuk ujian berikutnya. Soalnya, selama periode ini, orang-orang dari Kelas 7 sangat sombong, ekor mereka akan naik ke langit. Isi forum penuh dengan bualan dari kelas mereka. Orang-orang yang menjijikkan.

     Jiang Chong penuh percaya diri, "hal kecil, aku membuat kesalahan kali ini, jika aku tidak melakukan kesalahan ..."

     Dia tersenyum, "Apa itu Jing Ji?"

     Ying Jiao tidak bermaksud mendengar, tapi itu hanya kebetulan, karena Jing Ji baru saja menghindarinya, jarak antara dua orang dan orang-orang di depannya langsung menyempit, dan dia mendengar percakapan dengan jelas dari awal hingga akhir.

     Wajah Ying Jiao berangsur-angsur menjadi dingin.

     Sejak dia masih kecil, dia telah mendengar berkali-kali bahwa orang lain telah berbicara tentang dia dan keluarganya. Ying Jiao selalu menganggap orang-orang itu kentut dan dia tidak peduli.

     Tapi dia tidak tahan dengan kritik tentang Jing Ji dari orang lain.

     Hanya dia yang tahu betapa sulitnya situasi teman sekelas kecilnya itu.

     Mengalami hal yang tak terpikirkan, tetapi tidak bisa memberi tahu siapa pun, hanya bisa menanggungnya diam-diam.

     Pada awalnya, dia hanya suka menggertaknya, ingin menyaksikan wajah dingin itu ternoda berbagai emosi.

     Tetapi tidak tahu kapan dia mulai merasa semakin peduli padanya.

     Mengamatinya hidup dengan hati-hati dan serius, seperti hamster kecil, berubah sedikit di sini dan sedikit di sana, dan bekerja keras untuk membangun hidupnya sendiri, Ying Jiao merasa hatinya akan meleleh.

     Dia tahu bahwa Jing Ji sangat pintar, nilainya yang sangat bagus kali ini tidak perlu penjelasan.

     Tetapi setelah dua bulan berkenalan, ia melihat lebih banyak kerja keras dan kegigihan Jing Ji.

     "Apa itu Jing Ji."

     Ying Jiao mencibir, dan berjalan menuju beberapa orang.

     Jing Ji juga mendengar percakapan itu, tetapi dia tidak marah, malah merasa sedikit lucu.

     Kecuali untuk periode awal beradaptasi dengan identitasnya, ini adalah pertama kalinya seseorang memandang rendah dirinya dalam hal prestasi.

     Jing Ji mengerutkan bibir bawahnya, berpikir dengan ngeri, jika dia tiba-tiba berjalan sekarang, bagaimana orang-orang di depannya melihatnya bereaksi, tetapi dari sudut matanya dia melihat sekilas aksi Ying Jiao.

     Jing Ji melihat ekspresinya tidak benar, takut Ying Jiao akan bertarung dengan mereka, dia dengan cepat meraihnya.

     “Tidak apa-apa, tunggu sebentar.” Ying Jiao melepaskan diri darinya, dan melangkah ke depan.

     Jiang Chong dan yang lainnya berjalan di sepanjang jalan, ketika seseorang tiba-tiba datang untuk menghalangi jalan, ekspresi mereka segera menghitam. Tetapi ketika melihat siapa orang di depan mereka, api di hati beberapa orang langsung padam, dan mereka dengan cepat menelan kata-kata umpatan ke bibir mereka, ingin mengambil jalan memutar.

     “Siapa yang menyuruhmu pergi?” Ying Jiao mencengkeram kerah baju Jiang Chong dan mengangkatnya, berkata dengan dingin, “Apa yang baru saja kau katakan? Ayo, ulangi sekali lagi.”

     Wajah Jiang Chong pucat, dia tidak bisa mengatakan sepatah kata pun dengan gemetar.

     “Ada apa?” ​​Ying Jiao mengangkat alis dan menatapnya, “Bukankah tadu kau masih bicara omong kosong dengan bahagia? Bisu?”

     Jiang Chong berkeringat dingin, "kakak Ji, Jiao ..."

     Dua orang lainnya juga penuh dengan ngeri, tampak seperti mereka ingin lari tetapi tidak berani.

     Ying Jiao menatapnya dan mencibir, "Jangan ngebadut, ingin mendapatkan tempat pertama dalam ujian? Kejar selisih 25 poin dulu baru kau bisa bicara lagi."

*Mengacu pada makna merendahkan dan membuat beberapa tindakan yang tidak perlu tanpa memperhatikan, seperti badut melompat.

     “Bergabung dengan kelas kompetisi itu hebat, bukan?” Ying Jiao tersenyum, “Jangan khawatir, batu tidak akan bersinar di mana pun.”

     Dia melonggarkan kerah Jiang Chong, menarik Jing Ji dan berjalan dua langkah ke depan, memalingkan kepalanya kembali ke Jiang Chong, yang masih berdiri di sana dan tidak berani bergerak, "Terus bekerja keras, dan aku berharap kau mendapat tempat kedua lagi di ujian berikutnya."

     "Aku punya temperamen yang baik sekarang," Ying Jiao tiba-tiba bergumam, dalam perjalanan ke toko kecil, "aku tadi tidak menghajar si brengsek itu."

     Ekspresi Jing Ji linglung, tidak tahu apa yang dia pikirkan. Dia terhenyak ketika mendengar suara Ying Jiao, mengangkat kepalanya untuk menatapnya kosong.

     Hati Ying Jiao meronta-meronta melihat ekspresinya yang imut, mengambil kesempatan untuk mengusap kepalanya, dan kemudian dengan cepat meletakkan tangannya ke bawah, berpura-pura tidak ada yang terjadi, "Teman sekelas kecil, jika aku tidak di sini sekarang, apa masalah tadi akan kau abaikan begitu saja?"

     Dia menghela nafas, "Apa yang bisa kau lakukan tanpa aku."

     "Itu hanya ucapan," Jing Ji menunduk dan berkata dengan pelan, "Aku tidak peduli, nilai tidak dari ucapan."

     "Mengapa begitu lembut," Ying Jiao meraih bahunya dan membawanya ke sisinya, "dimana kau memegang sapu dengan aura keras kepala?"

     Ketika menyebutkan ini, Jing Ji mengerutkan bibirnya dengan malu, "Dia tidak memukul kepalaku."

     Ying Jiao tidak tahan untuk tertawa, bodoh, itu hanya terjadi ketika seseorang memukul kepalanya.

     Dia akan mengambil kesempatan untuk mengajar Jing Ji beberapa kata, namun dia  mendengar suara samar Jing Ji, "Ying Jiao."

     "Hm? Ada apa?" Ying Jiao menunduk dan menatapnya sambil tersenyum, menunggu kata-kata selanjutnya.

     "Aku ..." Jing Ji menggerakkan bibirnya dan berhenti selama beberapa detik sebelum melanjutkan, "aku telah bergabung dengan kelas kompetisi matematika."

     Ying Jiao tertegun, dan kemudian sudut bibirnya menjadi lebih tinggi.

     Ini adalah pertama kalinya Jing Ji berinisiatif untuk memberi tahu situasinya padanya.

     Ying Jiao dalam suasana hati yang baik, pohon dengan batang bengkok di sisi jalan terlihat imut dimatanya. Dia mencoba yang terbaik untuk menahan keinginannya memeluk Jing Ji dan menggosoknya, berkata sambil tersenyum, "Teman sekelas kecil kita sangat luar biasa, kakak akan membelikan oden untuk merayakannya."

     Cuaca telah berubah menjadi dingin, dan yang terbaik adalah makan beberapa tusuk oden.

     "Tidak perlu." Jing Ji menggelengkan kepalanya, "Jangan menghabiskan uang dengan gegabah."

     "Aku ingin makan," Ying Jiao mengeluarkan ponsel, membuka halaman pembayaran, berjalan ke toko kecil, dan menoleh pada Jing Ji, "Kau tetap bersamaku, jangan menolak, oke fix."

     Ini adalah akhir dari kelas, dan ada banyak siswa yang membeli barang di toko kecil. Ruang kecil itu penuh dengan orang, semua orang bergegas ke meja mati-matian, tidak ada yang akan membiarkan orang lain.

     Tapi begitu Ying Jiao masuk, para siswa yang mengenalinya segera memberi jalan, karena takut mereka akan secara tidak sengaja menyinggung si berandal sekolah dan dipatahkan dengan kepala mereka.

     Ying Jiao berjalan ke depan dengan mudah, membeli sampo seperti Jing Ji ditambah dua porsi oden, dan membawakan Jing Ji sekotak tinta pena isi ulang, dan itu hanya memakan waktu kurang dari tiga menit.

     “Ini.” Ying Jiao menyerahkan tinta pena isi ulang dan juga oden ke tangan Jing Ji, dan melindunginya dari kerumunan, “apa yang kau lihat dengan ponselmu, makanlah dengan cepat, nanti akan dingin.”

     Jing Ji memasukkan ponsel ke sakunya, mengambil tongkat bambu, dan memasukkan bola daging sapi ke mulutnya.

     Pada saat yang sama, ponsel Ying Jiao berdengung dan dia melihatnya. Jing Ji mengiriminya amplop merah WeChat.

     "Kau ..." Ying Jiao meletakkan ponselnya dan menatap Jing Ji, tanpa daya, "Kau sebegitunya menganggapku sebagai orang luar?"

     Jing Ji berjalan ke arah gedung pengajaran bersamanya. Mendengar ini, dia berkata dengan serius, "aku tidak bisa selalu memanfaatkanmu."

     Ying Jiao, "..."

     Memang, Jing Ji selalu seperti ini, selama orang lain memperlakukannya dengan baik, dia akan selalu menemukan kesempatan untuk membayar kembali, seolah-olah dia takut berhutang budi.

     Tiba-tiba, hati Ying Jiao terasa seperti dihantam sesuatu, terasa sakit.

     Ying Jiao menoleh untuk melihat Jing Ji.

     Dia sedang makan bola daging sapi, pipinya mengembung, bibirnya yang berbentuk baik bergerak, matanya dipenuhi dengan kepuasan.

     Teman sekelas kecilnya, yang tidak pernah berutang budi, dapat merasa senang dengan bola daging sapi panas di malam yang dingin, di lingkungan seperti apa dia tumbuh untuk mengembangkan kepribadian seperti itu?

     Ying Jiao ingin tahu, dia ingin tahu semua tentang Jing Ji, tapi--

     Dia menghela nafas sesal, karena Jing Ji yang selalu hati-hati padanya, mungkin akan sulit.

     Santai saja, lagi pula dia masih punya banyak waktu.

•••


     Keesokan paginya, ketika Jing Ji datang ke ruang kelas, Ying Jiao sudah ada disana.

     Dia duduk di kursi, memegang tas kertas di tangannya, dan meraup isinya.

     Mendengar gerakan, Ying Jiao mengangkat kepalanya, melihat Jing Ji, dan seketika tersenyum, "Kebetulan sekali, aku baru ingin menghubungimu."

     Jing Ji menarik kursi dan duduk, bertanya-tanya, "apa ada sesuatu?"

     "Ya," Ying Jiao mengambil segenggam chestnut dan meletakkannya di atas meja, "Ayo makan. He Yu dan lainnya melewati toko ini ketika bolos kelas tadi malam. Mereka membelinya pagi ini. Rasanya tidak buruk."

     Jing Ji mengucapkan terima kasih dan meletakkan chestnut di laci meja.

     Setelah melihat ini, Ying Jiao mengangkat alisnya, "Tidak suka?"

     "Bukan itu," Jing Ji membuka kotak pensil, mengeluarkan pena, menggantinya dengan tinta isi ulang yang dibeli tadi malam, dan membuka buku Olimpiade Matematika di atas meja, "tidak bisa makan ketika kelas mandiri pagi."

     Ying Jiao tampak bodoh, dan berkata tanpa daya, "Tidak apa-apa untuk makan sesekali. Aku akan membantumu mengawasi Lao Liu, tidak akan ketahuan."

     Jing Ji menggelengkan kepalanya, menolak, dan menunduk untuk membaca.

     Karena telah memutuskan untuk berpartisipasi dalam kompetisi matematika, dia harus belajar lebih keras untuk itu. Ada orang di luar dunia, ada hari di luar dunia, meskipun Jing Ji percaya diri, tetapi tidak pernah sombong.

     Sejak dibelinya buku-buku ini, Jing Ji telah membaca sekitar seperempatnya. Dia menemukan kemajuan sebelumnya, mengeluarkan bookmark, berkonsentrasi dan mulai belajar dengan serius.

     Setelah membaca satu halaman, ia memegang pulpen dan hendak mengeluarkan poin-poin penting di atasnya. Sepotong chesnut yang hangat tiba-tiba menempel di bibirnya.

     Jing Ji mendongak tanpa sadar, "Kau ..."

     Ying Jiao mengambil kesempatan untuk menaruh chestnut ke mulutnya dan tersenyum, "Ayo makan, sekarang cuaca dingin, ini sangat cepat dingin, rasanya tidak enak di akhir kelas."[]

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments