42. Karena Zhou You

Hujan di langit mulai mulai deras.

Tong Tong membawa dua tas sekolah dengan satu tangan dan mulai berjalan.

Zhuang Qian menatapnya dengan rumit, menghela napas, dan mengikuti di belakang.

Keduanya berjalan maju seratus meter, Zhuang Qian tidak tahan untuk mengeluh, "Apa Zhou You pulang kerumah? Situasi tadi menakutkan, mendatangkan begitu banyak pengawal hanya untuk menjemputnya dengan setelan jas hitam seperti di film. Bukankah itu sama sekali tidak cocok dengan penampilannya?"

Tong Tong mengerjapkan bulu mata dari butiran hujan, pikirannya perlahan tersadar dari amarah yang tak bisa dijelaskan, dan bertanya, "penampilan apa?"

“Seperti orang bodoh dari desa.” Zhuang Qian menghitung jarinya, “Meskipun dari luar tampak agak ganas, tetapi dia memiliki temperamen yang baik, orang yang murah hati, dan kesetiaan yang baik. Sekarang dia sangat populer dikalangan para gadis dikelas.”

"Ya, bunga kelas kita Litte Swan yang menari balet. Katanya dia memiliki kesan yang baik pada Zhou You, dan sepertinya telah memberikan surat cinta."

Tong Tong berhenti berjalan dan mengerutkan kening, menatap Zhuang Qian, "Surat cinta?"

"Kata gadis kelas kita." Zhuang Qian segera membela diri, "Aku hanya berbicara."

Tong Tong tidak menanggapi, dan lanjut berjalan.

"Hei, jangan sedih," Zhuang Qian menghiburnya. "Kau tidak kalah populer dari Zhou You. Tuan muda bertekad untuk menjual barbecue. Gadis-gadis di kelas sangat mencintaimu. Rela gagal diet demi membeli barbekyumu setiap hari. Sangat menyentuh dan mengharukan."

Tong Tong tersenyum kecil. Dia menundukkan kepalanya, hujan menyelinap dari dahi ke ujung hidung, dan kemudian jatuh ke bibirnya, seolah menangis.

“Jangan sampai tanganmu terkena hujan.” Zhuang Qian menghela nafas, melepas mantel seragam sekolahnya dan menutupi tangan Tong Tong, “Ayo pergi ke rumah sakit dulu, ambil cuti ujian pada Direktur Li."

"Tidak." Tong Tong menolak.

Mengetahui wataknya, Zhuang Qian tidak membujuknya lagi, merendahkan suaranya dan bertanya, "apa mereka orang suruhan ayah Zhou You?"

Tong Tong mengangguk.

"Tidak heran," Zhuang Qian mendengus, "Terakhir kali aku melihat ayahnya, aku hanya tahu bahwa pria ini tidak biasa. Temperamen itu tidak biasa pada pandangan pertama. Zhou You tidak seperti dia."

Tong Tong mengerutkan kening setelah mendengar ini, mengingat kata-kata ayah Zhou yang datang ke sekolah minggu lalu.

Batinnya semakin tidak pasti.

Ayah Zhou You tiba-tiba begitu memaksa Zhou You untuk pulang, mengapa?

Bisakah Zhou You benar-benar kembali dalam dua hari?
.
.

Keduanya kembali ke sekolah dan bel ujian tepat berdering.

Darah di tangan Tong Tong tidak lagi mengalir, tetapi kain yang telah dibungkus Zhou You kini benar-benar bernoda merah, yang tampak sedikit menakutkan.

Tong Tong membungkus beberapa lapis tisu dan meletakkan beberapa lapis pada kertas ujian.

Invigilator melewatinya dan terkejut. Dia dengan cepat bertanya apakah dia ingin pergi ke rumah sakit.

Tong Tong menggelengkan kepalanya dan melihat kembali ke posisi kosong di belakangnya.

Kemarin malam, Zhou You juga bersumpah untuk mengatakan bahwa tes bahasa di sore hari pasti akan dapat lulus ke-80.

Luka di tangannya yang tadi tidak terasa, kini sedikit berdenyut.

Setelah menyelesaikan ujian di sore hari, tangan Tong Tong terasa perih.

Kain dan tisu direkatkan. Dia tidak berani menariknya. Dia hanya bisa membawanya pulang.

Ibunya harus mengambil kelas, dan ayahnya sibuk baru-baru ini dan sering tidak di rumah.

Jadi Tong Tong mengangkat tangannya yang berdarah dan membengkak tinggi ke pintu, dan kebetulan Tong Jingshen keluar dari kamar dengan segelas air.

Tong Tong, "..............."

Tidak sesuai ekspektasi.

"Kau gangster tangan-bebas," Tong Jingshen mengerutkan kening, "Darahnya mengalir, kenapa tidak pergi ke rumah sakit dan malah pulang?"

"Aku jatuh ke tanah," Tong Tong meletakkan tas sekolahnya.

“Bukankah ini perkelahian?” Tong Jingshen membungkukkan pinggangnya dan mencoba mengambil kotak obat di bawah meja kopi.

“Bukan aku yang memulai lebih dulu,” Tong Tong mengaku.

“Apa kau menang?” Tong Jingshen tidak berdaya.

“Kalah.” Tong Tong mengulurkan tangannya.

“Karena itu wajahmu sangat jelek?” Tong Jingshen bertanya dengan ragu. Namun, bahkan jika Tong Tong kalah dalam perkelahian, ekspresinya tidak pernah merosot.

"... Karena Zhou You dirampok," Tong Tong bersandar di sofa.

"Yo, kalian luar biasa sekarang, apa kalian bertaruh?" Tong Jingshen dengan hati-hati melepaskan pita kain di tangannya. "Siapa yang lebih dulu sampai rumah menjadi pemenangnya uh? Ya, Zhou You tampak seperti penggertak dengan temperamen yang baik."

"Dia ditangkap." Suara Tong Tong rendah.

“Siapa yang menangkapnya?” Tong Jingshen menyadari ada sesuatu yang salah, “Di mana?”

"Tiga mobil, lebih dari sepuluh pria jas hitam." Tong Tong menutup matanya, "Ayahnya pasti menonton lebih banyak film."

“Apa?” Botol yodium ditangan Tong Jingshen jatuh ke telapak tangan Tong Tong.

Tong Tong menyusut kesakitan dan hampir melompat dari sofa.

"Hei!" Tong Jingshen cepat-cepat menyingkirkan yodium, "Tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa." Tong Tong mengibas tangannya yang perih, menggertakkan giginya. "Zhou You masih ada ujian di sore hari. Mereka tetap membawanya, tidak peduli Zhou You yang mau."

“Jadi kalian berkelahi?” Tong Jingshen mengerutkan kening untuk mengobati lukanya, “Ayahnya membiarkan orang-orang itu memukul kalian?"

Tong Tong menatap kain bernoda darah di atas meja kopi, matanya sakit, dia terdiam.

Tong Jingshen menatapnya, kekhawatiran dan kecemasan diwajah Tong Tong bukan rahasia lagi.

Selain itu, Tong Jingshen sangat menyadari sesuatu yang berbeda.

“... Tong Tong.” Tong Jingshen menatapnya dengan wajah yang kompleks.

“Hah?” Tong Tong memandangnya dengan ragu.

"Kau dan Zhou You ..." Tong Jingshen tidak tahu harus mulai dari mana.

“Ada apa?” ​​Tong Tong menyeka tisu, dan telapak tangannya baru saja mengeluarkan darah lagi.

"... Tidak ada apa-apa," Tong Jingshen menepuk pundaknya. "Oke, kembali ke kamarmu. Aku akan meminta ibumu untuk membawakanmu obat anti-inflamasi nanti. Ingat untuk meminumnya."

Tong Tong mengangguk, bangkit dan mengambil tas sekolah kembali ke kamar, tidak memperhatikan kata-kata ayahnya.

Tetapi bahkan jika dia menyadarinya, dia tidak memikirkannya.

Tong Tong kembali ke kamarnya, menutup pintu, tiba-tiba mengempis, dan duduk di kursi.

Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan kertas soal, tetapi dia tidak selesai menulis setengah lembar dan berbaring di meja, kepalanya penuh dengan Zhou You menatapnya, delapan gigi tersenyum dengan rapi.

Dia khawatir. Ayah Zhou akan memukuli Zhou You, tidak menghargainya.

Jendela di depan meja tidak tertutup, dan hujan semakin deras.

Tong Tong menjulurkan kepalanya dan menatap langit biru keabuan. Tetesan hujan terus-menerus seperti wol hitam, merobek-robek lukisan minyak di depan matanya.

Tong Tong sedang bermimpi lagi.

Dia belum memiliki mimpi ini dalam mimpi aneh yang telah diulangi sebelumnya.

Dia hampir lupa.

Bagian depan sepertinya ditekan tombol akselerator, Zhou You muncul, Zhou You memasukkan roti ke mulutnya, Zhou You tertawa dan berbicara.

Kunci akselerator berhenti di figur Zhou You yang memunggunginya.

Tiba-tiba Tong Tong menyadari apa yang akan terjadi, dia berbalik dan ingin lari.  Tapi dia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Mari kita putus,” kata Zhou You tanpa berbalik.

Tong Tong membuka matanya dengan kasar dan duduk di tempat tidur dengan kaget.

Dia berbalik untuk melihat ke sekeliling, lega.

Kemudian dia menyadari bahwa napasnya naik turun, membungkukkan punggungnya dan terengah-engah untuk waktu yang lama.

Setelah melihat waktu, jam setengah tujuh, dia terlambat.

Tong Tong dengan cepat bangkit dari tempat tidur dan baru berdiri di lantai. Matanya gelap. Dia menopang di meja dan butuh waktu lama untuk berdiri teguh.

Tong Tong mengerutkan kening dan menyentuh dahinya. Dia pasti terkena flu, dia lupa menutup jendela sebelum tidur kemarin.

Di sisi meja dekat jendela, sehelai daun sycamore basah dan layu tergores.

Daun pohon ara di luar jendela hampir jatuh.

Tong Tong melakukan panggilan keenam hari ini untuk Zhou You dalam perjalanan ke sekolah.

Telepon Zhou You mati.

Tong Tong meremas ponselnya dengan erat, memikirkan Zhou You akan kembali dalam dua hari, hampir tidak menetap.

"Nilai matematika untuk ujian pertama kemarin sudah keluar, Zhou You peringkat pertama. Ini ajaib, tidak ada orang seperti itu di peringkat 50 teratas dari setiap kelas," Zhuang Qian menyerahkan secangkir susu kedelai hangat.

“Sainsnya bagus, bahasanya yang anjlok.” Tong Tong berdeham dengan tidak nyaman.

Dia belum bicara sejauh ini, dan tidak tahu suaranya menjadi seperti ini.

“Uh oh, suaramu serak. Kau menelan kawat kemarin?" Zhuang Qian mengerutkan kening padanya. "Lagipula, Zhou You baru saja pulang, jangan khawatir."

“Um.” Tong Tong sedang tidak ingin berbicara, dan kepalanya pusing.  Memanfaatkan pembelajaran mandiri awal, dia kembali ke tempat duduk dan berbaring.

Tong Tong benci pilek karena asma-nya, begitu hidungnya tersumbat, sangat menyusahkannya.

Tapi untungnya, setiap kali pilek, selama dia minum obat, itu akan segera pulih.

Namun, kali ini berbeda, Tong Tong menderita pilek, dan menjadi lebih buruk dengan hidung tersumbat dan tinitus.

Belum ada kabar tentang Zhou You. Dia bilang akan kembali dua hari sebelum pergi.

Pada pagi hari ketiga, Tong Tong menatap pintu Zhou You yang tertutup dan menendang dengan keras sambil batuk.

Emosi Tong Tong berada di ambang pecah, dan kebingungan dan lekas marah telah menyebabkan kekacauan, mengakibatkan dua kali lipat jumlah kertas soal yang dibuat setiap hari.

"Tong Tong." Suara seorang gadis yang sangat lembut terdengar.

Tong Tong menghentikan tangannya yang tengah mengisi soal dan mendongak. Itu adalah Deng Xiangyi, Little Swan kelas mereka, yang mengikuti balet di festival seni.

“Aku ingin bertanya sesuatu.” Deng Xiangyi tersenyum malu, “bagaimana Zhou You tidak datang ke sekolah akhir-akhir ini?”

"Aku tidak tahu," Tong Tong mengerutkan kening.

Dia kesal dengan ini sekarang.

"Tapi kalian bersama setiap hari, kemana dia pergi? Kenapa kau tidak tahu," Deng Xiangyi bertanya dengan ragu.

Tong Tong menunduk dan fokus menulis lagi, berhenti berbicara.

“Apakah dia sakit?” Wajah Deng Xiangyi gelisah, “kenapa kau tidak menemuinya?”

Tangan Tong Tong untuk menulis kertas berhenti tiba-tiba.

Dia berpikir, ya, mengapa dia tidak pergi menemui Zhou You?

Di mana rumah Zhou You? Harbin? Tapi Harbin begitu besar, kemana dia pergi menemukannya.

Tunggu sebentar, Direktur Li pasti memiliki data siswa.

Apakah ada kereta yang langsung menuju ke Harbin?

Tong Tong memikirkan ini, dan pikirannya terganggu.

“Jika kau pergi ke rumahnya untuk menemukannya, bisakah kau membantuku.” Wajah Deng Xiangyi sedikit memerah, “bisakah kau membantuku untuk bertanya mengapa dia menerima suratku, tetapi dia tidak pernah memberi balasan.”

Tong Tong menatapnya dan ingat bahwa Zhuang Qian memberitahunya bahwa Little Swan telah mengirim surat cinta kepada Zhou You.

Dia sebenarnya sedikit terkejut, karena Zhou You selalu bersamanya sepanjang hari, dan bagaimana masih punya waktu untuk menerima surat cinta gadis itu?

"Maaf merepotkanmu," kata Deng Xiangyi lagi.

"Oke." Tong Tong mengangguk dan setuju, lalu berhenti dan berkata, "Kurasa dia seharusnya tidak memberimu jawaban."

“Kenapa?” ​​Deng Xiangyi bertanya-tanya.

Tong Tong memikirkan, mengerutkan kening, dan berkata dengan pelan, "Karena aku KDRT."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments

Post a Comment