3. Aku takut gelap

"..."

Siswa Hua Yu tidak bisa berkata-kata.

Hanya menampakkan wajah dingin.

"Wow, tipe sangat dingin." Cheng Qi menjentikkan jarinya, "Imut!"

Hua Yu, "..."

Cheng Qi jelas merupakan si idiot genit. Setelah mengangkat dagu Hua Yu, dia beralih merangkul bahu pria berotot nan gemulai.

"Main wilderness action!" Cheng Qi berkata, "Kau harus mati untukku."

"Tapi aku tidak mau bermain Arthur ..." gumam Cheng Shaoyi. "Kakak perempuan lebih baik."

"Kau bisa menggunakan Sun Shangxiang, tangannya panjang. Atau Xiao Qiao membantu, toh, kau lebih baik daripada aku." Cheng Qi sudah bergegas mengeluarkan ponsel, "Mulan juga bagus!"

"Tapi Mulan terlihat sangat ganas," kata Cheng Shaoyi, "Hua Hua juga ganas."

"Siapa Hua Hua?"

Hua Yu mengangkat tangan dengan menekan amarah dan memberi Cheng Qi pandangan tenang.

"Oh ... hahahahahaha!" Cheng Hao tertawa terpingkal, memegang perutnya, game yang tadi ingin dimainkan, dia abaikan. "Oh, ini Hua Yu kan? Lao Chen kau terlalu buruk!"

Chen Shaoyi, "... Jangan panggil aku Lao Chen."

"Ah." Cheng Hao segera meralat "Ya ampun, Nona Cherry, tolong maafkan aku karena bersikap kasar. Kecantikanmu benar-benar hebat."

"Oh, terima kasih, Kolonel Qiqi tersayang, kau tampan hari ini."

Hua Yu, "..."

Kedua orang ini baru saja bertemu hari ini kan?!

"Aku biasanya bermain Li Bai." Hua Yu merasa bahwa dia harus mengalihkan pembicaraan dan mencoba untuk membawa perhatian kedua makhluk idiot ini kembali ke bahasan game. "Tolong invite aku! Aku bisa output tambahan ah!"

Betapa sulitnya bagi seorang lelaki straight untuk bertahan hidup di tempat berkumpulnya kaum gay.

Ketika Chen Shaoyi memenangkan MVP untuk kelima kalinya, Hua Yu akhirnya mengubah sedikit pandangannya. Namun, proses perubahan ini agak menyakitkan, karena Chen Shaoyi akan berbisik setiap kali dia membunuh seseorang, "Aaah, maaf, maafkan aku~"

Meskipun orang tidak bisa mendengarnya.
Diperkirakan mereka tidak akan merasa bahagia ketika mendengarnya.

"Kau jangan minta maaf," kata Hua Yu. "Jika orang tahu, mereka akan ingin membunuhmu lebih banyak."

“Aaah, maafkan aku." Chen Shaoyi tidak mendengar kata-katanya. "Aku tidak ingin membunuhmu, tetapi kulit pahlawanmu benar-benar jelek."

Hua Yu, "..."

Apa kau terpancing karena penampilannya?

Karena mereka kecanduan permainan, ide makan malam yang tadi direncanakan, terabaikan jadi empat orang itu memesan takeaway.

Ketika takeaway tiba, Hua Yu mati lagi, sehingga dia harus turun untuk mengambilnya sebagai hukuman.

Hua Yu sangat enggan. "Kenapa? Aku mengambil semua darahku."

Chen Shaoyi mendongak. "Hua Hua."

Cheng Qi mengikuti, "Hua Hua."

Lu Xuzhi mengikuti formasi, "Hua Hua."

Hua Hua kakekmu! Hua Yu keluar dari kamar. "Aku, aku, aku!"

Persetan kalian, aku harus ganti asrama! Aku tidak bisa hidup seperti ini!

Kemudian, ketika makan, Chen Shaoyi meletakkan daging babi rebus kedalam mangkuknya. "Untukmu, aku sedang diet."

Hua Yu merespon, "Jangan kira satu iris babi rebus bisa menyuapku ..."

Chen Shaoyi kembali menambahkan beberapa iris padanya.

Hua Yu segera memutuskan untuk pindah kamar asrama setelah makan.

Setelah makan, jam biologis Hua Yu secara otomatis mengingatkannya: Sudah waktunya untuk mandi.

Jam biologis ini dilatih secara paksa oleh dua kakaknya, sangat teratur dan tidak dapat dilawan.

Jadi dia berdiri dan bertanya apa dia bisa mandi sekarang.

Chen Shaoyi juga berkata. "Ah ya, kartu kampus tidak ada saldo, apa bisa mengisi ulang secara online?"

Cheng Qi dan Lu Xuzhi menatap mereka dengan tatapan kecil, kasihan.

Lu Xuzhi, "Apakah kalian tidak melihat akomodasi kampus sebelum masuk?"

Cheng Qi, "Setelah memasuki kamar, apa kalian tidak lihat tidak ada toilet tunggal?"

Lu Xuzhi, "Tentu saja tidak ada tempat pemandian umum."

Cheng Qi, "Pemandian itu masih ditutup sekarang."

Lu Xuzhi, "Hidup dengan tangguh, bisa pergi ke ruang air untuk menyelesaikannya."

Cheng Qi, "Sangat praktis."

Kali ini, Chen Shaoyi runtuh, dan wajahnya yang tampan berkerut menjadi roti kukus, "Apa tidak ada yang namanya toilet pribadi!!!!"

Jam biologis Hua Yu tidak memungkinkannya untuk tidak mandi, dan Chen Shaoyi juga.

Jadi, untuk sementara mereka membahas sebagai sesama korban.

"Hua Hua," Emosi Chen Shaoyi yang rendah dan pedih berbicara dengan malu, "Setelah beberapa saat, aku mandi lebih dulu, kau tidak boleh melihatnya."

"..." Hua Yu sangat lelah. "Untuk apa aku lihat sesuatu darimu yang aku juga punya."

"Kau tidak punya abs," kata Chen Shaoyi.

Hua Yu, "..."

Sialah, salah perhitungan.

"Cuih! Abs doang! Jika aku tidak dipaksa menjadi kutu buku setiap hari, aku juga bisa membentuknya!"

Harga dirinya tidak memungkinkannya untuk menundukkan kepalanya!

"Ah." Chen Shaoyi tampak sedikit bersemangat. "Apa aku bisa melihatmu mandi?"

“Tidak!” Hua Yu membanting pintu ruang air dan berkata dengan keras, “Aku akan mandi lebih dulu! Kau harus antri!”

Chen Shaoyi menggaruk pintu. "Tidak, tidak, kau tidak bisa meninggalkanku! Aku takut!"

Hua Yu sarkas, "... Lampu terang dan kau takut hantu?"

"Ah, benar. Aku takut pada hantu. Huhuhu, aku sendirian sekarang!" Chen Shaoyi merengek sampai menangis sambil dua tangannya yang kokoh menepuk-nepuk pintu. "Hua Hua, biarkan aku masuk ..."

Hua Yu menghela napas dalam-dalam.

"Hua Hua..."

"Panggil Hua Hua lagi, aku benar-benar tidak akan membiarkanmu masuk," Dia menarik baut.

"Baik, baik!" Chen Shaoyi masuk ke dalam bilik dan melihat sosok Hua Yu yang topless, matanya berbinar, "wow ..."

Hua Yu kaku dan memiliki firasat buruk.

"Dada pink!" Mata Chen Shaoyi 😍, "Wow, wawawa, aku iri, aku ingin!"

Wajah Hua Yu menghitam dan menendangnya si cabul terkutuk ini tanpa ampun untuk keluar.

Malam itu, siswa lain yang sudah tinggal di asrama pada hari yang sama mendengar teriakan 'Jangaaaan ah~~' bergema nyaring untuk waktu yang lama.
.
.

Setelah susah payah menyelesaikan masalah mandi, Hua Yu kembali ke kamar asrama dengan seekor anjing besar yang bersedih di belakangnya.

Dia jatuh ke tempat tidur.

Asrama memiliki total empat tempat tidur, terdiri dari dua ranjang susun. Dua meja luas yang berjajar dengan jendela, dan balkon kecil di luar jendela. Ada lemari dan rak buku di dekat pintu, dan empat lemari besi di balkon saling berseberangan.

Tempat tidur bawah tempat HuanYu dan Lu Xuzhi tidur, Chen Shaoyi dan Cheng Qi berada di tempat tidur atas. Jadi Hua Yu memandang ke atas dan melihat tirai merah muda di atas kepala, dan dua kaki panjang Chen Shaoyi yang diayunkan membuatnya putus asa.

Waktu belum mencapai jam dua belas, Lu Xuzhi menyuruh mereka pergi tidur lebih awal karena besok akan resmi mendaftar jadi harus bangun pagi, dan kemudian dia mematikan lampu.

Hua Yu berbaring dibawah selimut dan mendengar suara datang dari atas, lalu dia merasakan monster besar perlahan naik ke tempat tidur dan perlahan mendekatinya.

"WTF!!!" Hua Yu mengumpat, "Sialan, apa yang kau lakukan?!"

"Aku ..." Chen Shaoyi memeluk bantalnya sambil menggigit bibir, sangat menyedihkan, "Aku takut gelap..."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments