28. Suasana hatiku buruk

Ji Lang tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa dengan jelas merasa bahwa dia sangat bangga atau sangat bersemangat.

Aku mengklik ke dalam catatan obrolan dengan Jilao dan akhirnya ingat apa yang aku lupa, "Ah ya, kenapa kau mengirimku gambar anak anjing ini?"

Dia merespon dengan antusias, "Ini foto dari stasiun adopsi hewan peliharaan terdekat. Anak anjing itu sekarang berusia satu bulan, tetapi katanya pemiliknya sudah memiliki anjing besar, jadi ibunya tidak akan membiarkannya membesarkan anak kecil ini. Mereka mencari orang yang bisa mengadopsi, apa kau keberatan jika membesarkan anak anjing?"

Anjing kecil itu sangat imut. Dia memiliki dua telinga yang berbulu dan bulu krem. Setelah mengamati beberapa saat, aku tidak melihat ada jenis seperti ini. Aku bertanya kepadanya, "Apakah ini anjing lokal?"

Ji Lang ragu, "Hm ... anjing lokal kecil ini juga sangat imut. Jika tidak ada yang memelihara, diperkirakan ibunya harus mengusirnya."

Ji Lang tampaknya takut bahwa aku tidak suka jenis anak anjing ini dan mencoba meyakinkan.

Tapi, bagaimana mungkin? Aku sangat suka anjing dan kucing, sama seperti makhluk ini, tidak ada hubungannya dengan asal.

Ibuku memelihara Samoyed besar di rumah dan tersenyum sepanjang hari, tetapi sayangnya anjing itu depresi sepanjang hari setelah kematiannya. Ayahku tidak menyukai anjing dan pada waktu itu situasiku buruk jadi ketika aku sadar, anjing itu sudah mati.

Aku ingin memelihara anjing, kucing, atau apa pun selama bertahun-tahun, tetapi selalu tidak ada kesempatan.

"Tapi kita harus pergi ke sekolah, apa dia bisa ditinggal sendiri di rumah?"

"Kalau begitu kau setuju? Apakah kau alergi dengan bulu anjing?" Dia bertanya padaku.

Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak."

"Luar biasa. Balkon di luar begitu besar dan pagar cukup tinggi. Biasanya cukup untuk membiarkannya keluar. Ibuku alergi terhadap bulu anjing sehingga dia tidak akan membiarkannya hidup. Ayahku mendengarkan ibuku. Sungguh ... Yah, kita akan tumbuh dewasa ketika anjing itu tumbuh besar, dan tidak ada masalah untuk membeli rumah sendiri."

Ji Lang banyak bicara dengan penuh minat.

Tetapi mengapa dia memiliki ide bahwa ketika anjing ini tumbuh besar, kami masih hidup bersama?

Aku tidak punya masalah membeli rumah. Aku tidak punya uang tunai, tetapi aku punya warisan dari properti ibuku berupa real estat dan ekuitas. Ayahku mengatakan dia menyimpannya untukku, tetapi kakek tidak percaya padanya.  Oleh karena itu, kakek menyimpan untukku termasuk rumah. Setelah anak anjing tumbuh dewasa, jika keluarga Ji Lang menolak untuk membesarkannya, aku akan mengambilnya dan membesarkannya sendiri.

Dan kakek akan khawatir jika tahu aku tidak punya uang dan sulit minta dari ibu tiriku, jadi aku biasanya tidak berani mengeluh tentang hal itu. Aku tidak ingin meminta uang pada mereka.

Dulu pergi ke Kakek setiap musim panas dan selama liburan musim untuk tinggal beberapa waktu. Kakek akan memberiku banyak uang saku. Sebelumnya, aku tidak tahu bagaimana menghargai uang dan selalu menghabiskannya. Namun sekarang, aku harus menabung, sebagian untuk mengganti uang Ji Lang dan sisa untuk keadaan darurat.

"Hm, ayo pelihara." kataku.

Ji Lang tampak khawatir aku tidak puas, "Jika kau suka jenis yang lain, kita bisa pergi ke toko hewan peliharaan untuk melihat apa kita bisa memelihara dua ekor. Ini lebih hidup."

"Tidak, pelihara yang itu saja. Setengah tahun lagi sudah tahun ketiga, mungkin tidak ada waktu untuk merawat mereka."

Lagipula, aku saja tidak bisa makan cukup. Bagaimana merawat dua anjing?

Kemudian, kami tidak berbicara lagi, Ji Lang tampak sangat bahagia karena dia bisa membesarkan anak anjing dan tampak bolak-balik diranjang. Sementara, aku sedang dalam suasana hati yang buruk, tetapi memikirkan bisa merawat anak anjing lokal, suasana hatiku sedikit membaik, dan segera tertidur.

Dalam mimpi, anak anjing menjadi Ji Lang, dan Ji Lang menjadi anak anjing. Aku pusing.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments