Chapter 29, I'm not that Kind of School Beauty as You Think

Yu Erlan menatap lekat-lekat kunci di telapak tangannya.

Kunci ini terlihat sedikit usang dan tua, penuh jejak termakan waktu. Dari kunci itu, dia tampaknya bisa melihat dua orang pemuda dengan cahaya di wajah ketika berbicara tentang mimpi. Sekalipun waktu telah berlalu begitu lama, sekalipun rumah ini sudah berganti pemilik, kunci-kuncinya sudah tua, tetapi itu tidak pernah lekang.

Cahaya mimpi kedua pemuda itu selalu bersinar di sudut tertentu.

Yu Erlan melihat kunci dan tersenyum.

Dia dengan kuat memegang kunci, menatap Hang Ye, berbisik padanya, "Hang Ye, apa kau percaya padaku?"

"Aku percaya," Hang Ye tersenyum.

Mata Yu Erlan sedikit melebar. "Begitu saja?"

"Ya." Hang Ye berkata, "Karena itu kau, aku percaya semua yang kau katakan."

Mata Yu Erlan jatuh dan dia berbisik pelan, "Jadi ... Hang Ye, aku katakan kepadamu, masa depanmu tidak akan redup seperti dua orang pemuda ini, semua harapan dan impianmu akan terwujud satu per satu. "

Hang Ye memandang Yu Erlan dan tersenyum cerah. "Ya, aku juga percaya begitu. Karena aku bertemu ..."

Karena aku bertemu denganmu, dan kau tidak membuatku menyerah. Hati Hang Ye mengulangi kata-kata ini, tubuhnya sedikit gemetar.

Yu Erlan memandang Hang Ye dengan serius, menunggunya selesai berbicara.

Namun, Hang Ye tidak mengatakan itu, dia hanya menatap Yu Erlan dan tersenyum, ada kilatan cahaya dipupil gelap itu.

Lalu dia tiba-tiba berbalik, berjalan menuju tangga, dan berkata, "Apa kau ingin naik ke sana? Ada kamar tidur dan studio di atas, dan teras kecil di lantai paling atas. Ada bunga dan tanaman sebelumnya, tapi aku sudah lama tidak di sini. Bunga-bunga layu ..."

Yu Erlan mengikuti langkah-langkah Hang Ye ke atas. Dia mendengarkan Hang Ye berbicara tentang hal-hal sepele ini, dan dia merasa bahwa dekade kehidupannya terasa lebih cerah seperti ini.

Dan Hang Ye bersamanya.

Yu Erlan menatap punggung Hang Ye dan tersenyum.

Hang Ye membuka pintu studio, dan terus berkata, "Masih ada beberapa lukisan yang tersisa di sini, dan tentu saja penug debu, tetapi kau bisa datang dan melihat ... Lagipula aku juga tidak paham."

Yu Erlan mendengarkan apa yang dia katakan, dan berjalan ke studio. Ruangan itu sedikit lebih berantakan, dengan semua jenis lukisan bertumpuk di lantai.

Yu Erlan menatap lukisan di bawah kakinya, Hang Ye mendekat dan melihat bersama. Keduanya menyaksikan lukisan itu dalam diam selama beberapa detik, lalu Hang Ye berkata, "Apa pendapatmu tentang lukisan ini?"

Yu Erlan terbatuk dan berkata, "Kurasa ini tidak lebih baik dari apa yang kau lukis."

Di pagi hari, Hang Ye menggambar karakter untuk Yu Xiaoju, yang sangat mendalam sehingga Yu Erlan mengaguminya.

Hang Ye mendengar dia mengatakan ini, dan menanggapi, "Jangan katakan itu! Bagaimana aku bisa dibandingkan dengan pelukis?"

Tapi matanya berkilat dengan bangga.

Yu Erlan menatap sekilas, "Aku serius, aku sangat suka lukisanmu."

Setelah mendengar kata-kata itu, Hang Ye menahan dagu dan berkata, "Tunggu sebentar!"

Dia bergegas ke rak melukis di dekat jendela studio, dan mencari-cari di antara berbagai alat lukis yang menumpuk berantakan.

Setelah beberapa saat, dia mengambil beberapa pensil dan setumpuk kertas gambar, memalingkan kepalanya dan bergegas ke Yu Erlan secara misterius dan dengan bangga mengangkat alis, berbalik dan meletakkan kertas di rak melukis, duduk di depannya dan mulai menggambar.

Di ruangan ini, lapisan debu telah menumpuk. Orang seperti Hang Ye yang suka kebersihan bergiat untuk tetap melukis membuat Yu Erlan penuh dengan rasa ingin tahu.

Dia berjalan perlahan dan melihat bahwa sudah ada beberapa konten di kertas gambar Hang Ye.

Pertama-tama dia melukis serigala kecil, agak mirip tokoh dalam dongeng, dengan kedua kaki berdiri, ekor besar mengembang, seolah masih bergoyang. Yu Erlan memperhatikan bahwa Hang Ye menggambar beberapa baris terutama pada ekornya, melambangkan angin yang bergoyang.

Hang Ye kemudian menggambar dua telinga panjang, dan pada tampilan ini, dia akan menggambar kelinci kecil.

Yu Erlan berdiri diam di belakang, mengawasinya langkah demi langkah, menggunakan gayanya yang khas dan dengan jelas membuat sketsa adegan yang membuatnya sedikit akrab:

Di sketsa itu, kelinci kecil berbaring di atas meja seolah sedang tidur. Serigala berdiri di belakang kelinci, mencubit telinganya.

Setelah menyelesaikan lukisan itu, Hang Ye menoleh dan memandang Yu Erlan, membuat seringai. Dia menggambar gelembung di sebelah kepala kelinci dan menulis: Kau menghalangiku menerima pelajaran.

Yu Erlan tertawa.

Hang Ye berdeham dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Jangan tertawa! Aku sedang membuat karya seni! Seni berasal dari kehidupan, tetapi lebih tinggi dari kehidupan!"

Yu Erlan mengangguk bekerja sama. "Hm, jadi cerita ini tentang apa?"

Hang Ye menjawab serius. "Beberapa waktu yang lalu, ada kelinci putih kecil yang pindah ke kelas yang semuanya serigala. Dia juga duduk di meja yang sama dengan serigala Xiaoye yang ganas di kelas ..."

Yu Erlan menyela dia. "Apakah ini salah? Mengapa kau serigala dan aku kelinci?"

"Cerita ini murni fiktif, jika ada kesamaan, itu murni kebetulan!" Kata Hang Ye dengan sungguh-sungguh.

Yu Erlan mengangkat alis.

Hang Ye berdeham dan berkata, "Kau perhatikan selanjutnya, cerita di belakang akan berbeda!"

Yu Erlan melipat tangannya dan bersandar pada ambang jendela di samping rak melukis, menyaksikan Hang Ye menggambar dengan penuh minat.

Matahari menyinari siluet Hang Ye, seolah-olah cahaya itu berasal darinya.

Yu Erlan memperhatikan bahwa dalam cahaya, bulu mata Hang Ye jelas, seperti kipas hitam kecil. Ingatan jatuh pada saat ketika membandingkan bulu matanya dengan Hang Ye.

Pada saat itu, dia sangat dekat dengan Hang Ye ...

Tiba-tiba, hati Yu Erlan berdenyut-denyut.

Dia secara naluriah berpaling, tetapi tidak bisa menahannya untuk diam-diam kembali, dan menatap Hang Ye.

Waktu seperti ini, berlalu dengan tenang. Entah berapa lama, Hang Ye bertepuk tangan dan berkata dengan bangga, "Oke!"

Yu Erlan mengumpulkan pikirannya dan berjalan untuk melihat.

Protagonis dari gambar ini tentu saja adalah serigala kecil dan kelinci kecil. Kali ini kaki serigala kecil terjerat, dan kelinci kecil memberi makan serigala kecil.

Yu Erlan mengangkat alisnya, menatap Hang Ye, dan bertanya dengan matanya: Aku melihatnya dari kehidupan, apakah ini lebih tinggi dari kehidupan?

Hang Ye duduk tegak, memberitahunya dengan sopan. "Serigala Xiaoye ingin memakan kelinci putih kecil, tapi kelinci putih kecil ini terlalu kurus! Serigala Xiaoye tidak punya pilihan selain merawat kelinci putih kecil terlebih dahulu sampai gemuk lalu memakannya. Tapi, jika ada serigala lain datang untuk mengambil kelinci putih kecil, bisakah itu ditoleransi? Serigala Xiaoye berkelahi dengan serigala lain. Tapi tangan serigala itu juga terluka, dan serigala membiarkan kelinci kecil memberinya makan."

Pada titik ini, ekspresi Hang Ye tiba-tiba berubah, menjadi marah yang dibuat-buat. "Tanpa diduga, Kelinci Putih Kecil memberi wortel kepada Serigala Xiaoye selama satu bulan! Wajah Serigala Xiaoye menjadi warna wortel!"

Yu Erlan tertawa terbahak-bahak.

Hang Ye memelototinya dengan marah, tetapi sudut bibirnya tersenyum. Dia membalikkan lukisan itu ke lukisan berikutnya, yang sedikit lebih rumit dari sebelumnya. Ada kios sayuran di depan kelinci, dengan seikat wortel. Serigala Xiaoye berdiri di depan bilik dan membuka mulutnya pada kelinci kecil itu.

Hang Ye mulai menceritakan kisahnya lagi: "Keluarga Kelinci Putih Kecil menjual sayur-sayuran. Suatu hari, dia tiba-tiba melihat serigala Xiaoye menemukan kiosnya dan dengan berani berkata kepadanya: 'Aku membeli semua sayuranmu di sini!' Kata kelinci putih kecil, 'Tidak untuk dijual!'  Serigala Xiaoye berkata, 'Kau beri aku harga!' Kelinci putih kecil berjongkok di sebelah anak anjing: 'Tanyakan padanya!' Bisakah ini mematahkan kegigihan serigala Xiaoye? Anak anjing baru saja katakan kepada serigala Xiaoye untuk perlu menghabiskan banyak uang untuk membeli semua sayuran kelinci putih kecil. Serigala Xiaoye memberikan uangnya kepada kelinci putih kecil. Kelinci putih kecil bertanya kepada serigala kecil dengan sangat tidak mengerti: 'Mengapa kau membeli wortel  bukankah kau tidak menyukai wortel?' Serigala kecil itu dengan marah berkata, 'Siapa yang mengatakan itu!'"

Hang Ye tiba-tiba menatap Yu Erlan. Matanya sepertinya menyembunyikan sesuatu, dan suaranya sangat lembut. "Serigala Xioaye berkata, dia suka wortel yang terbaik. Bahkan jika dia tidak suka sebelumnya, dia diberi makan oleh kelinci putih kecil selama sebulan, dan dia menyukainya."

Dia kemudian tersenyum. "Xiaobai, serigala Xiaoye jelas ingin memakan kelinci putih kecil. Mengapa dia suka makan wortel pada akhirnya? Aduh, hal seperti ini, rumit, aku tidak mengerti."

Yu Erlan memandangnya dan tiba-tiba berkata pelan, "Hang Ye."

Hang Ye berkata, "um".

Yu Erlan memandangnya dengan sangat serius, "Kelinci tidak suka wortel."

Hang Ye, "..."

Yu Erlan melanjutkan dengan mengatakan, "Sungguh, aku telah memelihara kelinci dan perlu memberi makan rumput, makanan kelinci, buah-buahan, dan berbagai sayuran. Mereka bukan orang-orang yang menyukai wortel."

Hang Ye, "..."

Dengan lambaian tangannya yang besar, dia menoleh dan membuat argumen yang kuat. "Oke, well, pokoknya, itu cerita kecil yang membosankan! Kau seharusnya kelinci putih kecil yang suka makan wortel!"

Dia berkata sambil mengambil ketiga lukisan itu, dan sepertinya dia akan membuangnya.

Tiba-tiba Yu Erlan berjalan dan mengambil alih.

Dia perlahan melipat lukisan itu menjadi dua, dan kemudian melipatnya menjadi dua lagi, dengan hati-hati memegangnya di telapak tangannya.

Lalu perlahan-lahan berkata, "Kelinci putih kecil tidak suka makan wortel, jadi dia memberikannya kepada serigala Xiaoye. Dia tidak berharap bahwa serigala Xiaoye itu ingin makan wortel. Mungkin kelinci putih kecil itu akan mencoba wortel karena itu."

Hang Ye menatapnya, matanya bersinar.

Kemudian dia tersenyum cerah. "Sejak itu, kelinci putih kecil telah menjadi kelinci oranye kecil seperti serigala Xiaoye!"

Oranye besar adalah yang paling penting,” Yu Erlan berkata, “Itu menggemukkan, dan serigala Xiaoye bisa makan.”

*metafora bagi orang untuk memburuk karena pengaruh lingkungan.

Hang Ye tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dan berkata, "Tidak, serigala Xiaoye tidak suka."

Dia kemudian mendongak ke Yu Erlan dan berkata, "Oke, Xiaobai, sudah sangat terlambat, apa kau lapar? Ayo pergi keluar dan makan."

Yu Erlan mengangguk dan mengikutinya keluar.

Berjalan dan berjalan, Hang Ye tiba-tiba berbalik dan bergegas ke Yu Erlan merentangkan tangannya. "Xiaobai, ceritanya dibuat olehku, tidak ada tujuan dan konotasi, kau hanya bisa mendengarkannya, jangan menganggapnya serius. Berikan kembali kepadaku, alu alan membuangnya... Imej legendarisku benar-benar akan hancur jika ada yang melihatnya!"

Yu Erlan meletakkan tangan yang memegang lukisan itu di punggungnya, dan tanpa sadar mengerutkan bibirnya, berkata kepada Hang Ye. "Tidak, ini yang kau lukis untukku, aku suka, dan aku ingin menyimpannya."

Hang Ye seketika merasa tak berdaya, menarik kembali tangannya, dengan nada mengumbar. "OK, oke, simpanlah jika kau suka."

Dia berbalik dan berjalan menuruni tangga, mulutnya bersenandung sesekali, itu terdengar seperti 'Little Star'.

Ketika turun, Hang Ye tiba-tiba teringat sesuatu. Dia melihat kembali pada Yu Erlan dan bertanya kepadanya, "Xiaobai, apa kau sudah lapar? Apa kau ingin melihat teras kecil di atap? Jika tidak juga tidak apa-apa ..."

“Pergi.” Yu Erlan melihat bahwa Hang Ye ingin dia melihatnya.

Hang Ye mengangguk, dan membawa Yu Erlan ke atap.

Seperti kata Hang Ye, ada beberapa pot kosong di atap dengan tanah di dalamnya, tetapi bunganya hilang.

Hang Ye berjalan di antara rak bunga dan berbalik ke Yu Erlan, "Xiaobai, apa kau ingat tanaman sukulen di ambang jendela? Hang Xiaohei selalu ingin melukai mereka, jadi aku ingin memindahkannya kemari, aku harus mengajarkan aturan pada Hang Xiaohei di masa depan! Tanaman sukulen ayahmu, tidak boleh disentuh!"

Yu Erlan tertawa pelan setelah mendengar kata-kata itu, Hang Ye tampaknya sangat marah tentang hal ini.

Hang Ye mendengarkan tawanya, tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan tenang.

Melihat tatapannya, Yu Erlan bertanya tanpa sadar, "Ada apa?"

Hang Ye tersenyum padanya, senyumnya agak jauh. Dia berkata, "Xiaobai, ini adalah kehidupan terbaik yang pernah aku bayangkan. Hidup di sebuah rumah kecil dengan kucing dan anjing, dan atapnya penuh dengan tanaman sukulen. Kemudian, ada seseorang yang menjalani kehidupan denganku bersama."

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments