Chapter 9, I'm not that Kind of School Beauty as You Think

Mendengar itu, Yu Erlan tanpa ekspresi berbalik untuk kembali ke tempat duduknya.

Hang Ye mengikuti dan mengejar jejaknya.

Dia mencoba menarik tangan Yu Erlan, tetapi mata semua orang dikelas fokus pada mereka jadi dia hanya bisa mengurungkan aksinya.

Setelah keduanya duduk, Hang Ye menurunkan volume suaranya. "Xiaobai, aku tadi mengatakan sesuatu yang salah, jangan marah."

Yu Erlan tidak memperhatikannya.

"Bahasaku tidak bagus, tidak ada yang memberiku kelas tambahan. Komposisiku sangat buruk, aku bahkan tidak bisa dapat 60 poin. Jadi ketika melihatmu seperti itu, aku tidak sadar kata itu keluar begitu saja ..."

Dia kemudian dengan hati-hati membungkuk, memeriksa wajah Yu Erlan, berbisik. "Kosakataku sangat langka, tadi selain Wangfu Shi, aku berpikir tentang 'pine greeted guest'. Sebagai perbandingan, Wangfu Shi lebih tepat ... Tidak, tidak, aku tidak bermaksud ..."

Yu Erlan mendengarkan Hang Ye menjelaskan dengan susah payah, bibirnya berkedut, seperti dia ingin tersenyum.

"Atau aku akan berdiri di pintu lain kali, minta bantu Xiaobai untuk memberiku penggunaan metafora yang benar?"

Yu Erlan akhirnya menoleh dan menatap Hang Ye, tetapi masih tidak berbicara.

Dia mengangkat jari telunjuk kanannya dan menekannya di bibirnya, mengisyaratkan untuk diam.

Hang Ye menempel Ibu jari dan telunjuk kirinya, membuat gestur mengunci mulut sebagai respon dia akan diam.

Yu Erlan kembali fokus mendengarkan kelas.

Matanya sedikit melayang.

Kata-kata Hang Ye sepertinya dianggap lelucon, dan Yu Erlan tidak tahu dia serius atau tidak.

Tidak ada yang memperhatikan Fang Xiaomeng menerangkan materi di podium.

Perhatian semua orang ada tertuju pada Hang Ye.

Hang Ye mengenakan seragam sekolah, tangan kanan dibalut perban, dia diseret pergi oleh harimau ganas dan mengatakan itu pada teman satu mejanya ...

Jika kelas internasional adalah Weibo, Hang Ye dapat menjadi pencarian trend hari ini.

Sementara Hang Ye tidak lagi aneh dengan perhatian disekitar.

Dia tidak bisa menggerakkan tangan kanannya jadi tentu saja dia tidak perlu membuat catatan. Tangan kirinya memegang ponsel, dan dengan malas bersandar dibangkunya selama kelas pagi.

Ketika bel berbunyi di pelajaran terakhir, Jiao Ling berlari dari ujung dan bertanya pada Hang Ye. "Kakak Ye, pergi ke kantin hari ini?"

Hang Ye melambaikan tangannya. "Jangan terburu-buru."

Kemudian dia menarik lengan seragam sekolah Yu Erlan. "Xiaobai, berikan aku catatanmu, aku akan mengambil gambar untuk belajar nanti."

Yu Erlan menatapnya, mendorong bukunya dan membiarkan Hang Ye mengambil foto.

Jiao Ling diam-diam menahan napas di samping: Kakak Ye, benar-benar berdedikasi! Apa ini cara untuk merekrut siswa top sebagai adik dengan mudah? Semangat mencapai tujuan ini sebanding dengan San Gu Mao!

Karena hal ini, mereka pergi ke kantin lebih lambat, mengejar ketinggalan dengan momen paling ramai.

Hang Ye tidak peduli, dia dengan malas berdiri di ujung antrian. Para siswa di depan secara tidak sengaja menoleh untuk melihatnya, secara sadar menyusut ke satu sisi.

Hang Ye menegur, "Kalian kembali berbaris, jangan memotong antrian!"

Mereka semua tertegun dengan ragu-ragu kembali ke antrian.

Jiao Ling sekali lagi diam-diam berkata: Untuk merekrut siswa top, kakak Ye mulai mengikuti aturan ... Oh, tunggu, tampaknya kakak Ye juga berbaris, padahal dia selalu takeway sepanjang tahun, tidak pernah datang ke kantin, Jiao Ling hampir saja lupa.

Mereka berbaris selama sepuluh menit dan akhirnya pindah ke sisi jendela. Hang Ye mengambil kartu makan dan memesan makanan yang paling mahal. Dia berbalik dan menyerahkan makanan itu pada Yu Erlan yang ada di belakangnya.

Yu Erlan tertegun. "Kenapa kau memberiku ini?"

Hang Ye mengarahkan jarinya. "Tanganku sakit, tolong bantu aku, lalu pergi ke posisi itu dan duduk disana untuk menjaga."

Yu Erlan memandang kerumunan di kantin dan berpikir itu adalah kebenaran. Dia mengambil makanan itu dan duduk terlebih dahulu.

Jiao Ling menunggunya pergi, lalu bertanya dengan bingung pada Hang Ye.  "Kakak Ye, bukankah kita tidak perlu menjaga kursi? Bagian itu adalah staf pengajar. Biasanya aku duduk di sana bersama Gong Hao, bahkan guru tahu tetapi tidak berani duduk disana."

"Kau banyak bicara.” Hang Ye perlahan menggesek kartu makan lagi, mengambil hidangan lain dan pergi.

Jiao Ling menatapnya dengan pandangan berkabut, dan bertanya sedikit canggung pada Gong Hao yang dari tadi diam. "Kenapa kakak Ye mengambil makanan dua kali? Bukankah bagiannya sudah dibawakan Yu Erlan?"

Gong Hao mau tak mau merespon. "Apa masih perlu diperjelas? Bukankah itu jelas cara halus Kakak Ye untuk mentraktir Yu Erlan makan?"

"Kakak Ye bisa begitu halus?"

Gong Hao mengangkat tangannya dan mengambil kartu makan Jiao Ling dan menggeseknya di mesin deduksi. "Kau tidak tahu sisi halus dari Kakak Ye. Itu karena kakak Ye tidak bersikap halus padamu, mengerti?"

Jiao Ling tidak ingin memahami logika kata-kata Gong Hao. Dia bingung dan membawa makanan yang telah diserahkan kantin. Dia merenungkan masalah ini di sepanjang jalan.

Ketika mendekat ke meja yang biasa mereka duduki, Jiao Ling tiba-tiba menyadari.

Dia berbalik dengan tidak senang dan menghantam Gong Hao dengan bahunya, "Kau mengejekku kan? Maksudmu karena aku punya masalah dengan otakku jadi kakak Ye selalu tidak pernah halus padaku!"

Gong Hao memutar matanya.

Dia mengarahkan dagu ke arah Hang Ye dan Yu Eelan, memberi isyarat kepada Jiao Ling untuk melihat. Dia merendahkan suaranya dan berkata tanpa daya. "Maksudku, Yu Erlan itu spesial untuk kakak Ye. Apa kau mengerti? Bukan hanya kau, kakak Ye juga tidak begitu halus kepada orang lain. Mengerti?"

“Mengerti!” Jiao Ling berkata dengan ringan, “Ini bukan untuk merekrutnya sebagai adik!"

Gong Hao, "......"

Logika Jiao Ling tidak terkalahkan, dan selalu dapat dikatakan benar. Orang normal tidak dapat merusaknya.

Namun, berkat logika yang kuat dari Jiao Ling, seorang lelaki lurus baja, Gong Hao memiliki beberapa spekulasi ragu-ragu sebelumnya, dan sekarang dia dapat memastikan telah rangkum tujuh atau delapan poin.

Apa yang spesial untuk seseorang, dan apa alasannya? Hanya dapat menjelaskan bahwa orang tersebut spesial!

Gong Hao tahu betul.

Dia mengikuti Jiao Ling ke meja dan menyaksikan Yu Erlan dan Hang Ye duduk berdampingan.

Situasi ini halus. Gong Hao berpikir.
.
.

Disisi lain, Yu Erlan datang lebih dulu, jadi dia duduk di bagian dalam meja.

Tidak butuh waktu lama bagi Hang Ye untuk datang, tetapi dia memilih untuk duduk di sebelah Yu Erlan.

Yu Erlan merasa aneh melihat Hang Ye membawa makanan sendiri dan seketika menyadarinya.

Dia berbisik, "Aku akan memberimu uang."

"Kau bisa membayar makananku berikutnya," kata Hang Ye santai.

Yu Erlan tidak berbicara. Uang kecil ini harus jelas dengan teori Hang Ye, tetapi tampaknya harga dirinya terlalu konyol.

Keluarga Yu Erlan tidak baik, tetapi dia tidak berpikir bahwa ini adalah kelemahannya sendiri, dan dia tidak akan bisa bergaul dengan orang lain dan melihat uang begitu banyak.

Pada saat ini, Jiao Ling dan Gong Hao datang. Gong Hao sengaja memilih untuk duduk di sisi berlawanan dari Yu Erlan. Ketika dia duduk, dia menatap Yu Erlan dan tersenyum padanya.

Itu hanya senyum aneh.

Yu Erlan merasa aneh lagi.

Jiao Ling yang duduk di depan Hang Ye, segera bertanya. "Kakak Ye, kenapa kau tidak memindahkan sumpit?"

Hang Ye mengambil sumpit dengan tangan kirinya dan menjepit makanan. Tentu saja, dia tidak bisa.

Kemudian dia meletakkan sumpit dan berkata, "Tangan kananku terluka. Aku tidak bisa memindahkan sumpit."

“Aku akan mengambil sendok.” Jiao Ling berdiri dan siap untuk pergi.

Hang Ye dengan malas berkata, "Tidak enak makan iga dengan sendok."

Hidangan kantin hari ini adalah iga babi direbus rumput laut, dagingnya cukup tebal, tetapi tulangnya sangat rumit, dan tidak bisa menggunakan sendok untuk menurunkan banyak daging.

Jiao Ling duduk kembali di kursi dan memutuskan, "Apa masih membutuhkan alat untuk memakan tulang ini? Kakak Ye, kau bisa memakai tangan!"

"Kau tidak mengerti santapan yang beradab?"

Jiao Ling bertanya-tanya berapa banyak orang di sekitarnya yang memegang tulang mereka dengan tangan mereka. Apa ini?

Dia belum menemukan jawabannya. Di sisi lain, Gong Hao segera menekan kepalanya untuk fokus ke makanan. Dia berkata, "Kau makan milikmu, jangan pedulikan tentang hal lain."

Hang Ye menatap Gong Hao dengan tatapan tajam. Gong Hao dengan cepat tersenyum.

Hang Ye beralih melirik Yu Erlan yang sedang makan dengan serius di sebelahnya. Dia berbicara pada tembok.

"Dagingnya oke, tapi aku bahkan tidak bisa menjepit rumput laut."

"Hidangan ini hampir dingin dan aku masih tidak bisa makan, sengsara."

"Jika seseorang bisa membantu menyuapku ..."

Yu Erlan tiba-tiba meraih sumpitnya, mengambil rumput laut, memasukkannya ke mulut Hang Ye, dan dengan tenang berkata, "Jangan bicara saat makan."

Hang Ye menelan rumput laut dan tersenyum  "Aku tahu, kalimat berikutnya adalah jangan bicara saat tidur. Aku tidak pernah bicara saat tidur, kau tahu itu Xiaobai..."

Gong Hao langsung menderita batuk.

Jiao Ling bertanya dengan heran. "Gong Hao, kau tersedak?"

Gong Hao berlagak bodoh, "Hm."

Hang Ye menyipit padanya sekilas lalu kembali fokus pada Yu Erlan, "Xiaobai, aku ingin makan daging."

Sumpit Yu Erlan berhenti dan menoleh padanya.

Hang Ye lanjut bicara, "Dagingnya sulit dipisahkan dari tulang, kau mengangkatnya sebentar, dan tunggu aku selesai menggigitnya."

Yu Erlan masih menatapnya, hanya saja tidak bergerak.

Didepannya, Jiao Ling mengajukan diri. "Kakak Ye, aku akan membantumu!"

Hang Ye hanya melirik sekilas.

Jiao Ling ditolak oleh pandangan ini.

Gong Hao sekali lagi menekan kepala Jiao Ling ke piring nasi. "Fokus saja pada makananmu,  tidak bisa dengar?"

Yu Erlan merasa terhibur oleh ketiga orang ini dan merasa sangat tidak berdaya.

Hang Ye masih bersikeras minta disuapi.

Yu Erlan berpikir bahwa tangan kanan Hang Ye memang terluka untuk dirinya sendiri dan menghela nafas.

Dia mengambil sepotong daging dengan tulang kecil dan menempelkannya di mulut Hang Ye.

Hang Ye dengan senang bergerak lambat, jadi seakan daging ini adalah hidangan utama, harus dicicipi dengan baik.

Seseorang di sekitar melihat adegan ini dan matanya lurus.

Yu Erlan mulai mendengar bisikan dan bisikan terjalin di satu tempat, dan itu semakin keras.

Dia merasakan wajahnya panas dan sebagian besar merah. Dia tidak secara sadar menundukkan kepalanya.

Hang Ye menatapnya dengan serius, dan melihat warna merah tercetak jelas dipipinya. Suasana hatinya semakin baik.

Tapi itu agak menjengkelkan mendengar bisikan disekitar. Dia tidak boleh membiarkan orang lain melihat tampilan ini.

Setelah memikirkannya, Hang Ye beralih mengambil tulangnya dan berkata pada Yu Erlan. "Makananmu menjadi dingin, kau bisa makan makananmu sendiri."

Yu Erlan bergumam dengan suara rendah, meletakkan sumpit Hang Ye dan beralih untuk makan makanannya sendiri. Wajahnya terkubur sangat rendah, dan ekspresinya tidak bisa dilihat dengan jelas.

Hang Ye makan sendiri, tidak sesulit yang tadi dia katakan dan dengan cepat menyapu bersih piringnya.

Yang lain makan sedikit lebih cepat, menunggunya dan meninggalkan kantin bersama.

Hang Ye berjalan bersama dengan Yu Erlan, dia berkata. "Xiaobai, kau tidak mengantuk? Kau tidur larut tadi malam, mau kembali untuk tidur siang?"

Mendengar itu, Gong Hao terbatuk.

Hang Ye menoleh ke belakang dan meliriknya. Dia bertanya "Gong Hao, kenapa kau selalu batuk hari ini? Tenggorokan gatal?"

Gong Hao mengangguk dengan cepat.

Benar! Jika Kakak Ye tahu pikirannya dipenuhi dengan adegan ambigu, dia pasti akan bertanya apa kau butuh ditampar ...


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments