4. If I were an Ordinary Student...

"Kau ..." Cheng Yueming memandang Wang Xuzhi dan berkata di telinganya, "Apa pantatmu sudah tidak sakit?"

Setelah diingatkan oleh pihak lain, Wang Xuzhi ingat bahwa dia adalah seorang pasien yang terluka parah dan berulang kali dipukul. Dia seketika membiru, berdiri perlahan dari sofa, wajahnya berkedut menahan nyeri tetapi masih tetap menampakkan senyum.

Dia mengangkat dagunya, memberi sinyal pada dua lainnya untuk melanjutkan.

"Paman Wang, sebenarnya, aku yang bersalah. Karena saat tes matematika, aku ceroboh dan mengisi jawaban yang salah dan hasilnya turun 5 poin, karena itu aku sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi ... setelah beberapa pertengkaran, aku tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya berkelahi dengan teman sekelas Xuzhi."

Wang Xuzhi menyaksikan Cheng Yueming melihat ke belakang pada sudut 45 derajat dan perlahan-lahan mengingat, dengan sedikit kesedihan, lalu menundukkan kepalanya, penuh penyesalan, tampak seperti ketidaktahuan kecilku yang membuatku bersalah atas kejahatan semacam itu. Seluruh rangkaian itu mengalir dengan lancar.

Wow ... kau bisa jadi pemenang the Next Golden Man.

Wang Xuzhi sekali lagi hanya dapat mengagumi bug bawaan dari siswa baik ini, apa yang dikatakan, orang tua akan mempercayainya.

“Kejadian ini masih kesalahan putraku Xuzhi,” Wang Shihong menghela nafas.  "Kau dibawah banyak tekanan. Lihat putraku, dia tidak melakukan apapun sepanjang hari, tidak ada tekanan sama sekali."

Wang Xuzhi, "???" merasa serangan jantung.

“Sudah larut, aku sudah menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, Paman Wang, aku akan kembali dulu.” Cheng Yueming mengambil apel, berdiri, dan melambaikan tangan.

“Oke, ini memang sudah sangat larut.” Wang Xuzhi sangat senang, seakan menyalakan petasan.

Wang Shihong menendangnya, "Pergi, antar dia kedepan. Yue Ming ah, hati-hati."

“Ah, selamat tinggal paman.” Cheng Yueming mengangguk dengan sopan dan pergi bersama Wang Xuzhi.

-•-

Ada lampu jalan di luar. Meskipun mereka tetangga, sebenarnya rumah keduanya berjarak tiga atau empat ratus meter. Bagaimanapun, rumah Cheng Yueming mencakup area yang relatif besar, dan secara khusus berada di area hutan belantara. Tidak ada bangunan lain disekitarnya.

Keduanya berjalan perlahan, Cheng Yueming berjalan di depan, dan Wang Xuzhi mengikuti di belakang.

“Kenapa kau membantuku?” Itu terlalu sepi di sepanjang jalan, dan Wang Xuzhi tidak bisa menahan diri untuk berbicara.

Cheng Yueming berhenti sejenak, seolah berpikir, Wang Xuzhi dibelakang tidak tahu apa yang diharapkan.

Keduanya tetap diam sampai mereka mencapai pintu rumah Cheng Yueming, dan seorang pembantu rumah tangga dengan pakaian formal sedang menunggu di pintu.

Cheng Yueming berbalik dan tersenyum, "Seorang ayah selalu menjaga putranya, jika kau game over, aku akan sangat sedih."

Wang Xuzhi juga tersenyum. Dia tidak bisa bertingkah di teritorial pihak lain, hanya melambaikan tangannya dan berkata, "Semoga tempatmu meledak."

-•-

Malam itu aman. Sampai pada level tertentu, Cheng Yueming yang menyelamatkan hidup Wang Xuzhi, jadi dia berencana untuk menyapa dengan baik saat di sekolah kali ini.

Namun, keberuntungan sama tidak terduga dengan cuaca, setiap hari dapat membawa keberuntungan atau bencana (idiom); yang tak terduga dapat terjadi kapan saja, Wang Xuzhi demam hebat.

Wang Xuzhi, "Ayah, aku tidak ingin pergi ke sekolah, rasanya tidak nyaman."

Ayahnya, "Tidak, you wish."

Jadi, dia pergi ke sekolah dengan sempoyongan, seolah bocah idiot  mabuk yang menyengir sambil memegang sebotol alkohol tua, wajahnya memerah.

Cheng Yueming melihatnya dan mengerutkan kening, "Kau kenapa?"

Wang Xuzhi berlutut di kursinya, memundurkan pantatnya, dengan tubuh bersandar di meja Cheng Yueming, tangannya menopang dipipi, berkedip-kedip sok imut. "Hehehe, kakak peri..."

Cheng Yueming mengerutkan kening dalam-dalam, teman-teman sekelas di sekitar tidak menyadari ketidaknormalan kedua orang ini, beberapa menit sebelum kelas dimulai, fokus dengan urusan masing-masing.

"Kakak peri, kau sangat cantik ..." Wang Xuzhi mengulurkan tangan dan memegang wajah Cheng Yueming lalu memajukan bibirnya.

Jantung Cheng Yueming melonjak hebat, wajahnya mulai memanas, matanya penuh antisipasi, meskipun ia harus membangunkan Wang Xuzhi pada saat ini, tetapi ...

BUGH! Wajah Wang Xuzhi mendarat di atas meja, dia pingsan. Suara itu sangat keras sehingga mengejutkan semua orang dan menoleh.

Mereka menyaksikan Cheng Yueming panik, menyentuh wajah Wang Xuzhi, memanggil namanya, dan kemudian berlari dengan menggendongnya dipunggung.

Matanya merah menyala.

🌼🌼🌼





Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments