Chapter 26, I'm not that Kind of School Beauty as You Think

Pada akhirnya, Hang Ye menemani Yu Erlan selama tiga hari ini.

Dia tidak duduk disebelah Yu Erlan seperti hari pertama. Dia membelikan stiker penghangat, dan menempelkannya di belakang infus Yu Erlan melalui kain kasa, kemudian duduk dikursi, memegang ponselnya dan bermain game.

Yu Erlan juga tidak lagi bersikap childish seperti hari pertama. Dia duduk dengan tenang, tampak seperti orang dewasa yang masuk akal.

Namun dia melirik Hang Ye dari waktu ke waktu, sangat memperhatikan setiap gerakannya.

Setelah infus pada hari ketiga, Yu Erlan benar-benar kembali pulih.

Siswa tingkat tiga dapat memiliki satu hari libur dalam seminggu, dan Hang Ye langsung mengirim Yu Erlan pulang setelah keluar dari rumah sakit.

Yu Erlan bersikeras untuk pulang sendiri, tetapi Hang Ye menahan pundaknya, menunggu mobil jemputannya tiba.

Melihat mobil panggilan Hang Ye datang, mata Yu Erlan mengerjap.

Itu jenis Bentley, melaju masuk ke lingkungan sekolah tanpa hambatan, berhenti langsung di rumah sakit sekolah.  

Asrama lelaki tidak jauh dari rumah sakit sekolah, Hang Ye memerintahkan sopir untuk pergi dan mengambil barang bawaan Yu Erlan.

Duduk di mobil, Yu Erlan memberi saran kepada Hang Ye dengan sopan. "Aku tidak sakit parah sampai tidak bisa berjalan ..."

Hang Ye bersandar malas di belakang kursi belakang dan dengan santai berkata, "Aku bersedia. Xiao Bai, kau harus terbiasa sesegera mungkin, dan akan ada lebih banyak hal seperti ini di masa depan ..."

Yu Erlan ingin mengatakan bahwa peluangnya untuk bisa mengendarai Bentley sebagai skuter di sekolah sangat kecil. Tapi dia tidak mengatakannya.

Dia selalu merasa bahwa Hang Ye mempunyai maksud sesuatu.

Hang Ye tampak puas, bermain dengan ponsel dengan malas.

Yu Erlan merasa terlalu banyak berpikir.  Dia berbalik untuk melihat keluar jendela.
Dia melaporkan alamat rumahnya kepada pengemudi, dan sekarang Bentley sedang menuju ke rumahnya di pinggiran kota.

Semakin jauh perjalanan, pemandangan jalanan bobrok terlihat, seolah tidak sejalan dengan mobil mewah yang mereka tumpangi.

Rumah Yu Erlan jauh di gang, dan mobil tidak bisa masuk. Hang Ye meminta sopir untuk memarkir mobil didepan gang. Ketika dia turun, Yu Erlan memperhatikan bahwa kakek-nenek yang duduk di jalan dan berjemur di bawah sinar matahari memandang ke arah mereka, seolah-olah mereka melihat sesuatu yang aneh.

Yu Erlan sedikit tidak nyaman. Dia mengangkat tangannya dan memegang Hang Ye, yang ingin mengikutinya turun dari mobil, dan berbisik, "Tidak apa-apa di sini saja ... Terima kasih, Hang Ye."

Gerakan Hang Ye berhenti. Dia menatap Yu Erlan, matanya jelas menghilang, seolah-olah dia telah melewati jejak kekecewaan dan kesedihan.

Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kau kembali dan istirahat yang baik, jangan selalu berpikir tentang belajar, nilaimu sudah cukup."

Yu Erlan tersenyum, "Aku mengerti."
Dia berbalik dan berjalan ke gang, agak jauh, entah bagaimana, mau tidak mau ingin melihat ke belakang.

Yu Erlan menarik tali tasnya, berpura-pura memiringkan kepalanya dengan tidak sengaja. Diekor mata, dia melihat Bentley itu masih didepan gang, seolah mengawasinya diam-diam.

Bibir Yu Erlan tersenyum. Ada emosi lembut dan kuat yang memenuhi hatinya dan membuatnya merasa puas.

Dia perlahan berjalan kembali ke rumahnya yang kumuh. Saat ini pada sore hari, Kakek pasti masih sibuk di pasar sayur. Tidak ada seorang pun di rumah.
Yu Erlan meletakkan tas sekolahnya dan duduk di rumahnya sendiri, merasa bahwa perasaan ini tepat.

Disisi lain, Hang Ye duduk di mobil dan menonton lekat-lekat ke jendela kaca.
Dia melihat sosok Yu Erlan menghilang jauh di gang, tahu bahwa dia memasuki rumah dengan aman.

Sesuatu dalam hatinya jatuh ke dasar, lebih solid dan hampa.

Sopir yang duduk didepan mengamgkat suara, "Xiaoye, apa akan pulang atau kembali ke sekolah?"

“Kembali ke sekolah,” Hang Ye dengan malas bersandar ke kursi.

Sopir itu belum menyetir, lanjut berkata. "Xiaoye, kau tidak pulang setelah bertengkar dengan Presiden Hang selama liburan musim dingin. Nyonya merindukanmu ..."

Hang Ye mengetatkan bibirnya, bertanya, "Apa ayahku di rumah, kakak Qi?"

“Tidak. Dia pergi ke Amerika Utara.” Sopir yang dipanggil Kakak Qi menjawab.
"Kalau begitu kembali dan tinggal bersama ibuku selama sehari."

Kakak Qi mengangguk dan menyalakan mobil.

Dia berbisik saat mengemudi. "Xiaoye, kau dan ayahmu selalu seperti ini, itu tidak baik ..."

"Kakak Qi, tinggalkan aku sendiri," Hang Ye memotongnya.

Dia berbalik untuk melihat keluar jendela, suaranya pelan dan dingin. "Ini bukan sesuatu yang bisa dikatakan orang lain dengan jelas."

Kakak Qi tidak berbicara lagi.

Bentley menuju ke sisi lain kota. Meskipun keduanya pinggiran kota, pandangan kedua sisi benar-benar berbeda.

Hunian elit Ziyu House dikawasan pegunungan paling terkenal di kota dan dikatakan sebagai "vena naga" kota. Mengandalkan suasana pedesaan yang menyenangkan menghadap ke seluruh kota. Orang yang tinggal di sini biasanya memiliki perasaan arogan.

Rumah keluarga Hang berada di sisi paling timur Ziyu House, yang merupakan daerah dengan harga tanah tertinggi di seluruh bangunan.

Kakak Qi memarkir mobil di depan pintu rumah dan membiarkannya turun dulu.  Kalau tidak, jika masuk ke garasi, harus berjalan selama lima menit untuk kembali, melelahkan.

Hang Ye keluar dari mobil dan tidak mengetuk pintu, dia meletakkan jarinya pada sensor dan pintu terbuka.

Dia memasuki pintu diam-diam, dan mengejutkan seorang wanita yang sedang membersihkan aula. Begitu wanita itu melihat ke atas, dia melihat bahwa itu adalah Hang Ye, dan dia tersenyum, dan berkata, "Oh! Tuan muda, kau sudah kembali! Nyonya merindukanmu! Nyonya mengatakan kau tidak selalu pulang dan membuatnya tidak bisa tidur ..."

“Bibi Chen, dia memberitahumu omong kosong!” Hang Ye tersenyum dan menggelengkan kepalanya, “ibuku dengan hanya lakukan SPA, berlatih yoga, bisa dipastikan akan tidur sampai subuh.”

Begitu suaranya jatuh, ada derap langkah kaki dari tangga kayu ek di sisi lain aula.  Kemudian, seorang wanita cantik dengan jubah sutra bergegas turun, dan ketika dia melihat Hang Ye, dia histeris.

Hang Ye membuka tangan untuk memeluknya, dan mendengar ibunya menepuk punggungnya, histeris dengan bahagia. "Baobao! Kau sudah kembali! Ibu rinduh setengah mati!"

Mulut Hang Ye berkedut, "Bu, aku sudah besar! Bisakah kau berhenti memanggilku baobao?"

Ibu Hang berdiri tegak dan mengangkat tangannya dan mencubit pipi Hang Ye. Dia berkata, "Aku tidak peduli! Berapa pun umurmu, kau anakku! Bayiku! Memangnya kenapa!"

"Uhuk!" Hang Ye menyelamatkan wajahnya dari tangan ibunya dalam keadaan darurat, dan bergumam tidak percaya. "Ibu jangan memanggilku seperti itu sekarang, bagaimana kalau aku membawa pulang menantumu..."

"Menantu? Siapa menantuku?" Mata Ibu Hang langsung bersinar, "Baobao, apa kau sudah menemukan menantu untuk ibumu?"

Hang Ye mengalihkan, "Tidak ada hal seperti itu! Aku hanya berandai ... Itu hanya pencegahan! Pokoknya, jangan panggil aku begitu! Ibu harus menyelamatkan wajahku wajah, ibu harus mengerti aku!"

"Mengerti!" Ibu Hang tersenyum gembira, "Kau bisa tenang! Ketika kau membawa menantuku pulang, ibu berjanji akan memujimu sepanjang hari menjadi yang paling heroik dan mendominasi dunia!"

Hang Ye mengangkat tangan untuk menekan dahinya. "Oh astaga, tidak usah dibahas! Apa-apan ini! Bisakah kita bicara tentang hal lain?"

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments