Chapter 2, I'm not that Kind of School Beauty as You Think


Selama sekolah di SMA 17, belum pernah ada yang berani melakukan ini padanya.

Mata Hang Ye menyapu laki-laki itu. Pakaiannya sederhana dan tidak terlihat seperti dari keluarga kaya.

Sikapnya tadi bukan jenis sikap acuh yang arogan, tapi semacam tidak ingin peduli.

Dia adalah dewa iblis, tetapi tidak berbeda dengan babi dan anjing di depan laki-laki itu.

Hang Ye mengamatinya dengan serius lalu perlahan kembali duduk di posisinya.

Dia mengambil ponsel dari saku dan mengirim pesan ke Gong Hao,

[ Siapa yang duduk di sebelahku? ]

Gong Hao dengan cepat menjawab,

[ Sepertinya bernama Yu Erlan, siswa baru. ]

Hang Ye menatap kalimat itu, mengerutkan kening,

[ Itu saja? ]

Gong Hao dengan cepat memahami maknanya,

[ Aku akan cari infonya. ]

Hang Ye memandang kalimat ini dengan puas lalu mengunci ponsel. Dia menekan bagian tengah ponsel dan memainkan benda itu di telapak tangannya kemudian menatap Yu Erlan di sebelahnya.

Yu Erlan masih membelakanginya. Hang Ye tidak bisa melihat wajahnya, tetapi ia memperhatikan leher belakangnya. Kulitnya terlihat sangat putih di bawah rambut hitam yang tersebar.

Hang Ye menarik sudut bibirnya seperti pisau, dan menampakkan senyum tengil.

Tidak butuh waktu lama untuk bel kelas berdering.

Yu Erlan yang berbaring di atas meja, tiba-tiba duduk dan tanpa melirik Hang Ye di sebelahnya, dia bangkit dan menyusul guru Fang Xiaomeng untuk keluar kelas.

Hang Ye menatap kepergiannya sambil meletakkan tangannya dibelakang kepala dan bersandar dibangku.

Jiao Ling dan Gong Hao datang menghampirinya. Belum mendekat, Jiao Ling sudah berteriak, "Ye Ge, jangan marah! Aku tadi sudah berencana untuk menyeret bocah itu dari bangkumu, tapi Gong Hao menghentikanku ..."

Gong Hao mendorongnya dan berjalan ke Hang Ye, suaranya diturunkan, dan berkata, "Ye Ge, aku mendapat sesuatu."

“Katakan.” Hang Ye menutup matanya dan dengan malas.

Gong Hao membalik layar ponsel dan berkata, "Yu Erlan sebelumnya di SMA 6, dewa sekolah yang sangat pintar, dan ujian terpadu, dia yang peringkat pertama di kota."

“Damn, monster!” Jiao Ling berseru.

Gong Hao mendelik padanya dan melanjutkan, "Dia pindah sekolah karena dikeluarkan."

“Gila ah? Murid semacam ini dikeluarkan?” Jiao Ling tidak tahan untuk menyela.

Hang Ye perlahan membuka matanya dan melihat Gong Hao, "Lanjutkan."

"Pihak sekolah tidak memberikan alasan, tetapi rumor diantara para siswa menyebar luas, katanya Yu Erlan memukul putra kepala sekolah SMA 6. Anak yang dipukuli itu masuk rumah sakit dan mendapat enam jahitan di dahinya.”

"Ha?" Kontributor komentator yang setia, Jiao Ling mulai mengoceh, "Tipuan apa itu? Anak itu bisa memukul orang? kau tidak lihat pergelangan tangannya yang kurus itu. Sekilas tidak memiliki kekuatan, aku bisa mematahkannya dengan satu tangan!"

Gong Hao tidak punya pilihan selain menunjukkan layar ponsel, "Kau bisa melihatnya sendiri."

Dia tidak lagi peduli dengan Jiao Ling, menoleh untuk bertanya pada Hang Ye, "Ye Ge, apakah kau ingin kami memberi anak ini sesuatu untuk dilakukan terlebih dahulu?"

Hang Ye mengangkat matanya dan menatapnya, bibirnya berkedut dan tersenyum malas. "Apa yang akan kau lakukan? Pekerjaan rumah? Kau ingin dia menulis untukmu malam ini?"

Gong Hao terdiam.

Hang Ye tidak mempedulikannya lagi, dia berdiri dari kursi, dan dengan malas berjalan keluar kelas.

Jiao Ling mengawasinya pergi, dan dengan cepat mengembalikan ponsel ke Gong Hao, mengejarnya dan bertanya, "Ye Ge, kau mau kemana? Apa aku boleh ikut?"

Hang Ye perlahan berbalik, "Toilet. Kenapa, kau mau ikut bersamaku?"

“Tidak, tidak.” Jiao Ling dengan cepat melambaikan tangannya.

Hang Ye tersenyum kemudian pergi ke toilet. Waktu antar kelas singkat, dan para siswa sedang terburu-buru. Tetapi ketika mereka melihat Hang Ye dari jauh, mereka akan lebih tergesa-gesa, dan akan dengan sengaja memilih jarak terjauh dari Hang Ye, menjadikannya seolah-olah tubuh Hang Ye memiliki penutup pelindung transparan.

Hang Ye menutup mata terhadap orang-orang ini. Dia terbiasa dengan "demonisasi" -nya di SMA 17.

Ketika dia pergi ke toilet pria, bel kelas kembali berbunyi. Hang Ye seakan tidak mendengar dan masuk ke dalam.

Begitu dia masuk, dia melihat seseorang, memegang dinding, bertelanjang kaki, sedang memakai celana.

Kakinya panjang, lurus, putih, ramping, terlihat vulgar.

Hang Ye berdiri di sana dan mengagumi, menyaksikan orang itu mengangkat satu kaki dan memasukkannya ke celana panjang seragam sekolah yang kebesaran, itu membuatnya mencebik menyayangkan.

Laki-laki itu mendengar suaranya dan berbalik untuk melihatnya. Benar saja, itu adalah Yu Erlan.

Hang Ye sangat tenang, berjalan mendekat dan mengangguk padanya, sambil membuka ikat pinggangnya sendiri. "Halo, teman semeja, namaku Hang Ye."

Ini bukan tempat yang baik untuk bertukar sapa, belum lagi fakta bahwa satu kaki Yu Erlan masih telanjang dan Hang Ye masih dengan lambat membuka ikat pinggangnya.

Situasi itu benar-benar aneh.

Hang Ye tidak menganggapnya serius, tersenyum malas, dan matanya menatap Yu Erlan seperti rajawali.

Yu Erlan tidak menatapnya, seakan tidak mendengarnya, dia memalingkan kepalanya dan memasukkan kaki lainnya ke kaki celananya, dan mengatur seragamnya.

Sekarang Festival Musim Semi baru saja berlalu, meskipun ada pemanas di gedung sekolah, masih agak dingin untuk mengenakan seragam sekolah.

Hang Ye memperhatikan bahwa bibir Yu Erlan berwarna ungu dan sebagian besar membeku.

Dia berkata tanpa berpikir, "Apa tidak dingin?"

Yu Erlan menoleh dan menatapnya. Dia masih tidak bicara, berbalik dan keluar.

Hang Ye mengangkat bahu dan tidak menganggapnya serius.

Dia perlahan kembali ke kelas, Yu Erlan sudah duduk di bangkunya, seperti pelajaran terakhir, berbaring menghadap jendela.

Hang Ye berjalan mendekat dan menutup jendela yang terbuka.

Kemudian dia menepuk orang yang duduk di barisan depan dan berkata, "Tutup semua jendela kalian."

Siapa yang tidak berani mendengarkan Hang Ye? Dalam satu menit, semua jendela ditutup.

Hang Ye kembali duduk, dia melihat wajah Yu Erlan berbalik dan menatapnya, "Terima kasih."

Nada suaranya dingin dan tidak ada suhu.

Hang Ye mengangkat alisnya, "Apa kau seorang siri yang sering tidak mengerti dialog? Cukup aneh setiap kali kau tiba-tiba bicara."

Yu Erlan memalingkan wajahnya lagi.

Hang Ye tersenyum sangat senang.

Ini adalah salah satu dari sedikit percakapan antara dua orang sepanjang hari.

Meskipun ini adalah tahun ketiga sekolah menengah, kelas internasional jelas tidak memiliki tradisi yang baik untuk kelas tambahan setelah jam pulang sekolah di sore hari.

Hang Ye adalah seorang siswa yang tinggal di sekolah, terlalu malas untuk makan di kantin jadi dia takeaway.

Dia duduk di ambang jendela, bersandar di kaca jendela, memalingkan kepalanya dan melihat bagian belakang Yu Erlan. Bahkan jika itu ditutupi oleh seragam sekolah yang kebesaran, kaki rampingnya tidak begitu jelas.

"Sayang sekali," Hang Ye tidak bisa menahan diri.
.
.

Yu Erlan kembali ke rumah sudah larut. SMA 17 berjarak satu-dua jam perjalanan dari rumahnya di pinggiran kota.

Kakek Yu berdiri di pintu dan menatapnya, rupanya menunggunya.

Yu Erlan melihatnya, dan dengan cepat berjalan untuk membantu kakek memasuki pintu.

Keduanya tinggal di bungalow bertingkat rendah, dan Yu Erlan begitu tinggi sehingga dia harus membungkuk ketika memasuki pintu.

Kakek meremas tangannya dan bertanya, "Apa kau lelah? Lapar?"

“Tidak lelah, sedikit lapar,” Yu Erlan berbisik.

Kakek sibuk mengambil makanan dari dapur, Yu Erlan meninggalkan tas dan masuk untuk membantu.

Kakek menolak untuk membiarkannya membantu, dengan keras kepala menghidangkan makanannya sendiri di atas meja, dan menghela nafas, "Sebenarnya, kau bisa tinggal di sekolah ..."

"Tujuh belas adalah sekolah swasta, biaya akomodasi sangat tinggi. Tinggal di sekolah masih harus makan di kantin, aku pergi untuk melihat-lihat pada siang hari, harga makanan tinggi, tidak efektif," kata Yu Erlan.

Kakek terdiam dan dengan hati-hati berkata, "Eh, kalau tidak, mari kita cari orang itu ..."

Yu Erlan membeku.

Setelah mendengarkan ini, dia meletakkan mangkuk di tangannya menimbulkan bunyi.

"Kakek, hanya kau keluargaku. Aku tidak mengenali orang lain." Suara Yu Erlan terdengar sulit.

Kakek menunduk dan mengalihkan topik pembicaraan, "Makan."

Makan malam mereka sangat sederhana, semua hidangan vegetarian, dan Yu Erlan tidak pilih-pilih tentang apa pun.

Setelah selesai makan, dia berkata "Aku mau menulis pekerjaan rumah." Lalu membawa tas ranselnya ke kamarnya yang kecil.

Namun, dia berdiri di kamar untuk waktu yang lama dan tidak menyalakan lampu.

Kemudian, dia akhirnya menyalakan lampu meja dan melihat bahwa jam di atas meja menunjuk ke jam sepuluh.

Yu Erlan membuka kertas pekerjaan rumah, meletakkannya di atas meja, mengeluarkan pena, dan menatap pertanyaan 

Itu waktu yang lama, tidak ada yang tertulis.

Penunjuk jam perlahan-lahan bergeser ke jam sebelas.

Yu Erlan tiba-tiba menarik selembar kertas kosong dari samping dan menulis banyak kata di atasnya, lalu meremas kertas menjadi bola dan membuangnya.

Dia mematikan lampu dan duduk di kegelapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Keesokan harinya, Yu Erlan pergi ke sekolah sangat awal.

Ketika dia sampai di kelas, dia mengambil headphone dan meletakkannya di kepala.

Korpus berita BBC diputar di headphone, tetapi Yu Erlan tidak mendengarkan dengan cermat. Dia hanya menggunakan kebiasaan ini untuk mengisolasi dirinya dari dunia.

Entah sudah berapa lama.

Tiba-tiba, Yu Erlan merasakan penutup telinga headphone-nya dibuka oleh seseorang.

Ada sumber hangat yang mendekatinya dengan sangat cepat dan hampir menempel padanya.

Lalu ada udara panas yang menerpa di antara headphone dan telinganya seolah menggosokkan percikan api, "Selamat pagi teman semeja."

Itu adalah Hang Ye.

Suaranya agak serak dan seksi, dalam nada rendah ini, seperti rekaman lama, perlahan-lahan menggiling.

Yu Erlan merasa bahwa suaranya seperti api, membuat telinganya seakan berdarah.  Darahnya yang dingin, tiba-tiba membakar sekaligus.

Yu Erlan menundukkan kepalanya dan menurunkan headphone. Dia merasa ujung telinganya sangat panas, dan takut akan memerah.

Pada saat ini, setengah wajah Hang Ye muncul di pandangan Yu Erlan. Laki-laki itu menyelinap dan berkata kepadanya dengan santai, "Aku belum mengerjakan PR bahasa inggris tadi malam, pinjamkan milikmu padaku?"

Yu Erlan tertegun selama tiga detik, lalu tanpa bicara mengambil gulungan kertas dari tas dan melemparkannya ke Hang Ye.

Hang Ye memandang gulungan kertas di atas mejanya dan mengangkat alis. Dia menoleh dan menatap Yu Erlan, laki-laki itu memalingkan wajahnya. Namun, Hang Ye memperhatikan bahwa leher putihnya memerah.

Sangat dingin kemarin, apakah panas hari ini? Orang muda sejahtera, pikir Hang Ye. Dia perlahan membuka gulungan kertas yang telah dilemparkan Yu Erlan dan merapikannya.

Gulungan kertas ini adalah kertas berbahasa Inggris Yu Erlan, itu judulnya. Dan semua pertanyaan pilihan ganda, satu baris ke bawah: ABCDABCD ......

Hang Ye menyipitkan mata dan membidik sasaran.

Apa siswa pintar menulis PR dengan tidak jelas seperti ini?

Hang Ye mengangkat tangannya dan bersiap untuk melemparkan kertas itu kembali ke Yu Erlan.

Selembar kertas jatuh dari gulungan dan tampak seperti itu secara tidak sengaja terbungkus gulungan.

Hang Ye mengambil selembar kertas itu dan melihatnya.

Ada kata-kata disana, dan guratannya acakan, itu terlihat aneh dan kekanak-kanakan.

Namun isi kata tersebut tidak naif.

Tertulis:

[ Mengapa orang hidup?

Aku benar-benar ingin mati. ]

Isi kertas itu membuat syok.

Hang Ye menatap kertas itu selama tiga detik, lalu diam-diam membuangnya.

Dia memegang kertas PR Yu Erlan, menyentuh sikunya.

Yu Erlan menoleh dan menatapnya setelah beberapa saat.

"Xiaobai, pertanyaan ke-16 salah. Seharusnya dipilih A, kau pilih D. Aku akan mengubahnya untukmu!"

/ xiaobai :: anak baru, bodoh, idiot /

Hang Ye kemudian melukis "A" di kertas tugasnya.

Yu Erlan menatap "A" dan tiba-tiba bertanya, "Kenapa memanggilku Xiaobai?"

"Karena kau putih (bai)," kata Hang Ye melirik kaki Yu Erlan.

🌼🌼🌼

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments