Chapter 10, I'm not that Kind of School Beauty as You Think

Yu Erlan tidak peduli dengan dialog antara dua orang itu, dia berkata pada Hang Ye. "Aku tidak memiliki barang bawaan untuk mempersiapkan akomodasi, juga tidak memberi tahu keluargaku. Jadi aku masih harus pulang malam ini."

“Oh, kalau begitu kau tidak harus membawakan sarapan untukku besok.” Hang Ye memutuskan dengan santai.

Yu Erlan mengangguk dan berkata, "Aku tidak tidur siang. Jika tidak ada apa-apa, aku akan kembali ke kelas lebih dulu."

Hang Ye bergumam menanggapi.

Jiao Ling dan Gong Hao akan bermain bola, tahu bahwa Hang Ye terluka, jadi mereka tidak mengajaknya, dan hanya pamit lalu pergi.

Setelah Hang Ye berurusan dengan mereka, dia melihat bahwa Yu Erlan sudah berjalan jauh menuju gedung pengajaran.  Dia buru-buru mengejar lalu menangkap bahu Yu Erlan, menundukkan kepalanya dan bertanya dengan santai. "Apa kau biasanya tidak tidur siang? Berarti waktu tidurmu terlalu pendek!"

Yu Erlan berkata dengan suara rendah. "Hm, tidak tidur."

Dia dengan kaku memiringkan kepalanya ke sisi lain, sulit untuk mengatur napas. "Bukankah kau terlalu dekat?"

“Benarkah?” Hang Ye memandangi situasi keduanya, dengan tenang masih mempertahankan posisinya. “Xiaobai, lenganku panjang, bahumu sempit, kau juga jauh lebih kecil dariku, jadi aku bisa langsung melingkarimu sekaligus. Kau harus makan lebih banyak nanti, terlalu kurus itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Yu Erlan tidak bisa berkata apa-apa. Hei, Hang Ye selalu punya alasan yang sangat sah.

Namun, Yu Erlan tetap mempertahankan posisi kepalanya, tidak mendekatkan diri pada wajah Hang Ye.

Tubuh lelaki itu penuh aroma, seperti aroma menyegarkan rumput setelah hujan.

Ini membuat Yu Erlan merasa sedikit pusing, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusing yang memabukkan.

Tangan Hang Ye menggantung di samping wajahnya, dia dapat melihat kulit berwarna gandum, seperti cahaya hangat sinar matahari yang jarang terjadi di musim dingin. Lima jari yang ramping ditempatkan di antara leher Yu Erlan, dan mengarah ke puncak tulang selangkanya. Suhu hangat jemari itu merembes masuk ke dalam darah dan seketika menyebabkan efek panas menguar dalam dirinya.

Yu Erlan tidak secara sadar memalingkan wajahnya. Kali ini dia ingin menghindari tangan Hang Ye.

Kemudian dia sadar kalau tingkahnya itu semakin membuatnya kembali dekat dengan wajah Hang Ye.

Wajah Yu Erlan sedikit merah.

Pada saat ini, ponsel di saku Hang Ye bergetar.

Hang Ye melepas rangkulannya dan mengangkat ponsel.

Yu Erlan akhirnya bisa bernapas lega tetapi sedikit berkecil hati.

Dia melirik Hang Ye yang menatap layar ponsel dengan ekspresi kosong.

Ada tiga pesan suara yang terhubung.

Yu Erlan mendengar suara pria paruh baya yang sangat lembut, kecepatan bicaranya sangat cepat, dan nadanya tergesa-gesa:

"Apa ponsel ibumu tidak hidup? Kepala sekolahmu bilang dia tidak bisa menghubunginya melalui telepon, jadi dia hanya bisa menghubungiku."

"Apa yang kau lakukan? Berkelahi lagi?"

"Aku di luar negeri selama beberapa hari untuk menghadiri berbagai pertemuan. Aku tidak punya waktu. Kau hubungi saja ibumu dan minta dia menanganinya. Aku sudah mengirimmu 100.000 yuan, periksalah. Jika tidak cukup, minta pada ibumu."

Mendengarkan pesan suara ini, Yu Erlan menyimpulkan bahwa itu adalah ayah Hang Ye.

Disisi lain, Hang Ye tidak ada ekspresi. Penampilan seperti ini mirip dengan Hu Luohong, tidak peduli, sangat dingin, tidak seperti Hang Ye biasanya saat berinteraksi dengannya.

Yu Erlan ragu-ragu, tidak tahu harus berkata apa.

Hang Ye menekan pesan suara untuk merespon ayahnya:

"Aku tidak butuh uang, kau tidak harus mengirimnya."

Setelah itu, dia mengunci ponsel dan menyimpan kembali ke sakunya.

Yu Erlan berjalan dalam diam di sekitar Hang Ye.

Dia dapat merasakan ketajaman Hang Ye terhadap ayahnya, seperti serigala yang tumbuh, telah berulang kali menantang dan berhadapan dengan tuannya.

Dia tidak mengerti sebab dan akibat dari insiden ini dan tidak bisa mengevaluasinya. Tapi dia sekali lagi merasakan nuansa situasi yang serupa di diri Hang Ye.

Dia tiba-tiba bertanya  "Hang Ye, apa kau akan membaca esai pertobatan pada upacara pengibaran bendera minggu depan?"

Hang Ye memperlambat langkahnya dan berkata, "Hm ... kau dengar itu? Bukan apa-apa, itu hal biasa."

Menyadari sesuatu, dia kemudian menoleh sambil tersenyum. "Hei? Bukankah ini pertama kalinya kau memanggil namaku secara langsung? Sebelumnya kau selalu menyebutku dengan kata ganti."

Yu Erlan tidak menanggapinya dan melangkah lebih dulu menuju kelas.

Hang Ye menyusul di belakangnya sambil bersiul dalam suasana hati yang baik.

Kelas sore masih di tengah bising.

Yu Erlan kembali ke rumah sepulang sekolah. Bocah yang menguntitnya masih di rumah sakit, dan Hang Ye sangat lega jadi tidak mengikutinya.

Yu Erlan pulang dengan lancar dan melihat Kakek Yu masih setia menunggu di pintu seperti sebelumnya, menantikan dia kembali.

Saat keduanya makan malam, Yu Erlan membuka suara. "Kakek, aku akan tinggal di asrama besok ... Ini adalah hadiah khusus yang diberikan oleh sekolah, mirip dengan beasiswa untuk membayar akomodasi."

Kakek Yu mendengarkan kata-kata itu sedikit terkejut lalu tersenyum senang. "Oke, oke, kau bisa menghemat banyak waktu dan energi."

Tapi Kakek Yu juga sedikit khawatir. "Aku tidak tahu seperti apa teman sekamarmu, bagaimana interaksi kalian?"

"Teman sekamarku sangat baik." Yu Erlan berkata, "Dia teman sekelas yang sangat baik, begitu peduli padaku."

Kakek Yu mengangguk mengakui. "Cucuku anak yang baik, siapa yang tidak suka!"

Yu Erlan mendengarkan 'suka', dan wajahnya agak panas.

Dia lanjut fokus pada makanannya, menghindari tatapan kakek Yu.

Setelah makan, Yu Erlan kembali ke kamar untuk mulai berkemas. Tidak banyak hal yang ingin dibawanya, buku pelajaran dan sejenisnya pada dasarnya ditempatkan di sekolah, dan pakaian tidak terlalu banyak.

Selesai berkemas, Yu Erlan mengeluarkan pena dan kertas, tidak menulis pekerjaan rumah, tetapi mulai menulis esai yang panjang.
.
.

Keesokan harinya, Yu Erlan pergi ke sekolah dengan barang bawaannya. Sebelum ia bahkan memasuki kelas, ia mendengar Hang Ye sedang berbicara dengan Jiao Ling:

"Menurut levelmu, kau harus sedikit di sini, tunggu sampai ombaknya berakhir dan kau pergi ke air untuk memancing."

"Ah, ah, kakak Ye! Kau sangat hebat! Aku tidak bisa bermain denganmu di baris ganda baru-baru ini. Aku tidak ingin bermain! Gonghao, orang itu tidak bisa membawanya!"

"Apa yang kau khawatirkan? Kau hanya ingin berlatih sendiri."

"Aku tidak bisa berlatih sebagai kakak Ye, kau level profesional?"

"Hm... kau perhatikan suaranya, jangan hanya bergosip."

"Kakak Ye, kau sudah lama tidak online kan? Aku baru-baru ini mengecek Weibo-mu dan melihat penggemarmu mengingatkanmu untuk online setiap hari."

"Aku bukan bintang hiburan, atau platform penandatanganan, untuk apa aku online? Nanti saja kalau punya waktu."

Yu Erlan memasuki kelas, melihat Hang Ye berdiri di belakang Gong Hao, dengan malas menatap layar game yang dimainkan.

Hang Ye mendongak dan melihat Yu Erlan sudsh tiba dengan barang bawaannya. Dia segera menyambutnya dan mengangkat tangan, bersiap untuk membantu membawa tas itu. "Sudah semuanya? Kita bisa kembali dulu ke asrama."

Yu Erlan tidak terburu-buru. Dia tidak membiarkan Hang Ye mengambil alih bawaannya. Dia melepas tas di bahunya, mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam, dan menyerahkannya kepada Hang Ye.

Hang Ye mengambil dengan rasa ingin tahu, tersenyum dan membuat lelucon. "Apa ini? Surat cinta?"

Sadar dia salah bicara, dia segera menepuk mulutnya, dan menjelaskan. "Aku bermasalah, Xiaobai, jangan diambil hati. Aku tidak punya arti lain."

Dia kemudian membuka lipatan kertas dan melihat baris pertama dengan karakter besar: Esai Pertobatan.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments