99. Shi Xi ( Part 6 )

Shi Xi membuka pintu, ruang tamu yang kosong itu gelap dan sepi. Dia melemparkan kunci di atas meja kopi, tangannya di atas kepalanya dan berbaring di sofa. Ruangan itu terlalu sunyi, dan bahkan pernafasan bisa didengar dengan jelas. Ponsel bergetar, ini adalah panggilan telepon dari Hua Guyu.

“Shi Xi, kau harus bertemu Guo Zhi sekarang.”

“Kenapa?”

“Ibuku mengetahui hubungan kalian dan pergi kerumahnya…” tanpa mendengarkan kata-kata selanjutnya, Shi Xi menjatuhkan ponsel, ia berlari keluar, tanpa henti menekan tombol lift, tidak bisa berpikir, pikirannya terus-menerus tertuju pada satu gambaran. Sialan, dia menyandarkan kepalanya ke dinding lift, jelas tidak ingin Guo Zhi menderita rasa sakit ini lagi, jelas tidak ingin menambahkan memar lagi, dan dia sekarang masih terjebak dalam jarak ini.

Ia duduk didalam taksi dan melihat ke jalan yang terus-menerus mundur di luar jendela. Setiap menitnya berlalu, dan setiap menit Guo Zhi menderita. Dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Ketika dia berlari menaiki tangga, celah pintu sedikit terbuka, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, dan melihat Guo Zhi berlutut dilantai, bahunya bergetar, punggung kurus itu penuh ketakutan, tanda merah di garis leher menjulang. Shi Xi sadar ia masih terlambat.

Tidak ada emosi, entah baik atau buruk.

Shi Xi berdiri di ruang yang suram, mendengarkan kata-kata mengerikan dari Guo Yunyong, marah, menyalahkan, dia tidak merasa apapun; Zhou Hui menangis dan memohon, dan dia tidak merasakan apa-apa. Orang-orang normal sudah seharusnya memiliki rasa malu, takut, kasih sayang, rasa bersalah, entah disudut tubuh mana yang tersembunyi, selalu acuh tak acuh. Dia bahkan tidak peduli jika mereka setuju atau tidak, itu bukan urusannya, bukan? Dia mendapatkan apa yang diinginkannya. Menyakiti orangtua Guo Zhi, hatinya acuh tak acuh. Jika Guo Zhi mengerti, apa yang akan ia pikirkan?

Alhasil, tidak sulit baginya untuk berpikir Guo Zhi diusir dari rumah, menarik kopernya dan dengan linglung berdiri di lantai bawah, memandangi kota, wajahnya kering dengan air mata. Guo Zhi menoleh dan melihat dirinya sendiri, menyentuh posisi yang dipukuli di bahunya, dan dia menarik sudut mulutnya, dengan sedikit senyum, “Benar saja, masih sedikit sakit, apa kau masih menyimpan salep terakhir kali?” Shi Xi hanya menatapnya, Guo Zhi melanjutkan, “Tidak masalah, aku sudah terbiasa.” Apakah ini benar-benar terbiasa? Berkata seperti itu, raut wajahnya jelas tidak mengatakan demikian.

Guo Zhi menarik lengan Shi Xi. “Bisakah kau berjanji satu hal padaku?”

“Apa?”

“Jangan merasa bersalah aku dibuang keluargaku karena memilihmu. Aku tidak begitu sedih. Aku memilih apa yang ingin aku pilih.” Sampai saat ini, Guo Zhi masih khawatir dengan perasaannya. Dia selalu menambahkan kata kebaikan. Rasa bersalah ini? Apakah ia memilikinya, hatinya kosong.

“Untung saja, kuliah akan segera dimulai, aku bisa kembali ke asrama, kau harus kembali untuk berkemas, aku akan menunggumu dikampus.” Dia mengambil satu langkah ke depan dengan menyeret koper, namun kaki Shi Xi menahan rodanya, “Apa kau pikir aku akan meninggalkanmu sendirian?”

“Tapi,”

“Ayo pergi.” Shi Xi menahan taksi, mereka kini duduk di stasiun, Guo Zhi membawa semua bawaannya, Shi Xi tidak membawa apapun. Di kereta, Guo Zhi terus berbicara, terus-menerus tersenyum, seolah benar-benar tidak bisa berhenti. Shi Xi duduk di sebelahnya, tangannya menopang wajah dan memandang ke luar jendela. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, tetapi kali ini, dia tidak memakai penutup kuping, dan dia tidak menyuruh Guo Zhi untuk tutup mulut. Shi Xi tidak melihat wajah Guo Zhi sepanjang jalan, ekspresi wajahnya bisa dengan jelas mengekspresikan hatinya, tetapi Shi Xi tidak ingin melihatnya.

Ketika tiba di apartemen, sudah larut malam, Guo Zhi meletakkan segala sesuatunya dan membuka jendela, “Apa kau ingin aku membersihkan kamar atau menelepon takeaway, barang-barang di kulkas seharusnya sudah kedaluwarsa.”

Shi Xi hanya melihat Guo Zhi, melihat senyumnya, dia berjalan mondar-mandir mengitari rumah. Dada Shi Xi samar-samar terasa sakit yang tak terkendali. Dia mengerutkan kening tidak merasa nyaman. Rasa sakit itu menyebar dari dada ke pembuluh darah. Dia menarik Guo Zhi.

“Ada apa?” ​​Guo Zhi bertanya sambil tersenyum.

Shi Xi mengusap wajahnya yang tersenyum. “Jangan tersenyum, saat ini kau sedang sedih, berhentilah tersenyum, oke, Guo Zhi.” Dia membeku, senyumnya berhenti, untuk waktu yang lama, air mata mulai menumpuk di matanya dan bergejolak, dia meremas pakaian Shi Xi. “Kenapa aku melakukan apa yang aku pikir benar, tetapi masih sangat sedih, perasaan bersalah ini terasa membunuhku, aku tidak ingin menyakiti siapa pun. Tapi kenyataannya ah, terlalu kejam, tetapi juga untuk mendorong cintaku pada situasi yang sangat menyedihkan. Aku tidak ingin meninggalkan ibu dan ayah, tidak ingin meninggalkanmu. Apa aku terlalu tamak atau dunia terlalu pelit?” Kepala Guo Zhi menabrak Shi Xi dan memeluknya, dia terisak, Shi Xi membalas memeluk Guo Zhi, melihat ke kaca jendela yang memantulkan bayang keduanya.

Mengapa perlu diakui? Guo Zhi menangis untuk sesuatu yang tidak ia pedulikan, merasa sedih, apa ia ingin melepaskannya, menunggu waktu sampai keadaan membaik? Tapi apa dia akan bahagia?

Jemari Shi Xi jatuh ke rambut Guo Zhi, ia mencium dahinya, “Kembalilah untuk bertemu orang tuamu selama liburan musim panas.”

“Mereka tidak akan menerimaku.”

“Kalau begitu pergilah sepanjang waktu, aku akan selalu menemanimu, suatu hari, mereka akan menerima.”

“Kau benar-benar ingin melakukan ini, kau seharusnya benci melakukan hal semacam ini.”

“Aku tidak terlalu menyukainya, tetapi aku lebih tidak suka melihatmu sedih.” Kalimat ini sangat luar biasa, bisa membuat orang sedih, bisa juga membuat orang bahagia, Guo Zhi berhenti menangis, dia mengangguk dalam pelukan Shi Xi. “Baik! Mereka akan menerima, kan?”

Pertanyaan ini dilemparkan pada Shi Xi. Dia tidak ingin memberikan janji yang tidak pasti, dan dia tidak ingin Guo Zhi memiliki terlalu banyak harapan. Lagi pula, ayahnya tidak mudah untuk dibodohi dan ditangani. Dia tidak bisa menggunakan ancaman seperti Ke Junjie, dan dia tidak bisa melakukannya, terlalu banyak batasan. Dalam penilaian rasionalnya, kata-kata itu diucapkan tidak sesuai dengan pikirannya, “Yah, mereka akan menerima.”

Selama itu yang dikatakan Shi Xi, Guo Zhi akan selalu percaya tanpa syarat.

“Kalau begitu aku akan mencoba yang terbaik untuk membuat orang tuaku melihat kalau aku sangat bahagia karena memilih hubungan ini.” Ia melepaskan diri dari pelukan Shi Xi dan menepuk wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak boleh tertekan. Ibu dan ayah akan berpikir aku menyesali pilihanku.”

Optimismenya, entah baik atau buruk.



Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments