99. Jika kau katakan, aku akan lepaskan.

Duan Lun tidak hanya tidak mendapatkan sepeser pun dari kantong Bo Shangyuan, tetapi juga kehilangan 220.000 sia-sia.

Duan Lun sakit hati dan membatin tidak heran Bo Shangyuan suka pada Gu Yu.

Sial, keduanya memang serasi!

Meskipun tampilan fisik keduanya tidak sama, tetapi di dalam, itu persis sama!

Beracun!

Meskipun Gu Yu memenangkan uang Duan Lun tetapi karena ini bukan uangnya, dia tidak merasa bahagia, tetapi dia gelisah karena uang itu.

Jika dia memenangkan beberapa ratus atau ribuan yuan mungkin dia biasa saja, tetapi dia memenangkan ratusan ribu sekaligus, ini membuat Gu Yu benar-benar tidak nyaman jika harus mengambilnya.

Bagi Bo Shangyuan, ini mungkin bukan hal besar. Tapi bagi Gu Yu, ini pertama kalinya dia melihat begitu banyak uang.

Dan kalian harus tahu bahwa gaji ayah Gu selama setahun tidak sebanyak ini.

Gu Yu memandang uang tunai 220.000 di depannya dan ragu-ragu untuk menoleh ke arah Bo Shangyuan dibalik punggungnya.

Tampaknya ada telepati, Bo Shangyuan langsung mengerti maknanya.

Di mata Gu Yu yang hanya orang biasa, 220.000 tentu saja adalah jumlah yang besar.

Tetapi di mata generasi kedua kaya seperti mereka, itu sama dengan uang saku.

Karena itu, Bo Shangyuan berkata ringan. "Kau ambil saja."

Gu Yu ragu. "Tapi ..."

Bo Shangyuan memotong, "Uangnya masih banyak."

Gu Yu, "... oh."

Duan Lun, "..."

Duan Lun mulai bertanya-tanya mengapa dia bisa berteman dengan Xing Bo.

Apakah dia bodoh?
.
.

Biasanya ulang tahun Duan Lun bersifat semalam suntuk.

Tapi hari ini, karena suasana hatinya tidak baik, jadi sebelum tengah malam, pesta dibubarkan.

Adapun mengapa itu tidak baik ... tidak usah dikatakan lagi.

Tamu yang lain pergi secara berurutan, dan karena Bo Shangyuan tidak mengemudi, jadi mereka menunggu supir Duan Lun untuk mengantar.

Generasi kedua kaya mengambil keuntungan dari keluarga, tidak peduli dengan aturan, bahkan jika tidak ada SIM, mereka tetap mengemudi di jalan. Dan jika tertangkap, mereka tidak takut karena dengan koneksi, setengah hari sudah bisa dilepaskan.

Dan Bo Shangyuan adalah generasi kedua kaya yang unik.

Padahal dengan pengaruh keluarganya, jika tertangkap, dia bisa lepas hanya dalam dua jam.

Namun dia memang tidak mau mengemudi.

Adapun alasannya ... masih kalimat itu.

- Anak dibawah umur tidak boleh mengemudi di jalan.

Setelah menunggu sebentar, supir belum juga datang. Bo Shangyuan dan Gu Yu tidak mengatakan apa-apa, tetapi Duan Lun merasa tidak sabar.

Dia meraih kunci dan berbalik untuk melihat kedua orang itu. "Ayo pergi, aku akan mengantar kalian."

Bo Shangyuan tidak keberatan, tapi Gu Yu langsung mengerutkan kening.

"Tapi di bawah umur tidak bisa mengemudi ..."

Mata Duan Lun berkedut.

"Hari ini ulang tahunku yang ke 18, oke?"

"... oh."

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba komunitas.

Sekarang sudah tengah malam dan suasana begitu hening.

Karena takut ibu Gu masih menunggu sendiri di rumah. Gu Yu buru-buru turun dan bergegas ke arah lift.

Dia melangkah terlalu cepat, kakinya tersandung dan dia hampir jatuh.

Untungnya, Bo Shangyuan dengan cepat menangkapnya.

Lengan ramping dan kuat melingkari pinggang Gu Yu, dan suhu tubuh yang dingin juga ditransmisikan melalui lapisan pakaian Bo Shangyuan. Wajah Gu Yu seketika panas dan membisikkan terima kasih.

Bo Shangyuan menanggapi ringan.

Meskipun malam itu gelap tetapi Duan Lun yang masih belum pergi tampaknya melihat gelembung cinta yang tak terhitung jumlahnya menguar dari tubuh kedua orang itu dan menyebar diudara hingga menerpanya.

Duan Lun tidak bisa menahan diri untuk menyentuh giginya.

... Sial, giginya ngilu.

Tidak lagi ingin menonton sepasang gay ini yang terus menunjukkan cinta di depan matanya, Duan Lun dengan dongkol langsung menginjak gas dan mobil pun melaju pergi.
.
.

Malam gelap dan suhunya sejuk.

Ada keheningan di sekitar.

Lift perlahan naik, dan Gu Yu terlihat agak kaku.

Ada banyak orang sebelumnya, dan juga ada Duan Lun yang mengalihkan perhatian jadi tentang menyatakan perasaan, tentu sudah terlupa.

Sekarang, di lift ini, hanya ada dia dan Bo Shangyuan. Di ruang kecil ini, semua suara dan sentuhan seperti diperbesar beberapa kali sekaligus.

Pada saat yang sama, ingatan memalukan pagi itu mulai perlahan kembali.

Ketika memikirkan telah keliru menganggap Duan Lun sebagai Xie Yunyan, dan juga mencegah Bo Shangyuan pergi, Gu Yu memerah karena malu.

Dia menatap ujung kakinya, hanya untuk merasa bahwa dia sudah tidak punya muka.

Ketika lift naik, Gu Yu menatap meningkatnya jumlah lift di layar, dan tubuh yang kencang rileks sedikit demi sedikit.

Gu Yu berpikir bahwa Bo Shangyuan akan mengatakan sesuatu di lift, tetapi tanpa diduga, dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

Dia menduga bahwa Bo Shangyuan mungkin ... sudah lupa?

Namun, lupakan saja.

Watak Gu Yu terlahir secara pasif. Pengakuan di pagi hari hampir menggunakan seluruh keberanian dalam hidupnya. Benar-benar tidak ada keberanian untuk mencoba kedua kalinya.

Beberapa saat kemudian, lift berbunyi dan pintu terbuka.

Gu Yu merasa lega lalu melangkah keluar dari lift dan berbalik. Dia berkata pada Bo Shangyuan. "Selamat malam ..."

Detik berikutnya, Bo shangyuan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.

Aura Bo Shangyuan sangat kuat, bahkan jika itu hanya tindakan sederhana, itu membuat Gu Yu langsung mematung.

Dia berkata dengan kaku. "... Ada apa?"

"Nyatakan perasaanmu."

Gu Yu diam.

"Tidak katakan, jangan berpikir untuk bisa kembali."

Gu Yu tertegun.

Dia mendongak mendapati pandangan bo Shangyuan yang dalam dan tidak berkedip.

Jelas, itu serius.

Gu Yu menggerakkan mulutnya namun suaranya tidak terdengar.

Bo Shangyuan menatapnya dengan sabar.

Temperatur diwajah Gu Yu semakin panas. Bahkan jika dia tidak melihat ke cermin, dia sadar betapa merah wajahnya sekarang.

"Besok masuk sekolah."

"Hm."

Tangannya masih belum lepas.

Suara Gu Yu menjadi lebih rendah. "Sekarang sudah jam dua belas ..."

"Hm."

Masih acuh tak acuh.

Gu Yu menjadi semakin malu.

Dia menjilat bibirnya dan tergagap, hampir meminta belas kasihan. "... kau, kau tidak bisa melupakan hal ini."

"Tidak."

Tangan Bo Shangyuan yang memegang pergelangan tangan Gu Yu, dengan santai menyingkap lengan bajunya dan mengelus kulitnya.

Bo Shangyuan masih dengan penuh kesabaran.

Suhu dingin perlahan-lahan masih melekat di kulit pergelangan tangan Gu Yu, dan gerakan itu ambigu dan membuat lamunan.

Sebelumnya Bo Shangyuan menahan diri, tetapi dia tidak menyangka Gu Yu salah paham. Jadi, dia tidak menahannya lagi. Dia memegang pergelangan tangan Gu Yu dan benar-benar enggan untuk melepaskannya.

Di sisi lain, Gu Yu mencoba untuk menarik tangannya kembali, tetapi itu tidak berguna.

Seiring waktu berlalu, suhu di wajah Gu menjadi semakin merah.

Melihat malam yang lebih tebal, waktu semakin larut, hati Gu Yu juga lebih cemas.

Jika masih belum kembali, sang ibu pasti khawatir padanya.

Gu Yu berbisik, "Kau ... kau lepaskan."

Bo Shangyuan dengan lembut meliriknya.

Gu Yu tergagap, "Kau ... kau lepaskan tanganmu, aku akan ... aku akan ... katakan."

Saat dia berbicara, suaranya semakin rendah.

Bo Shangyuan menatap Gu Yu.

Jika dia benar-benar melepas tangannya, Gu Yu pasti akan melarikan diri.

Karena itu, Bo Shangyuan semakin mengeratkan genggamannya dan berkata perlahan, "Jika kau katakan, aku akan lepaskan."

"..."

Gu Yu terdiam selama beberapa saat.

Dia menggigit bibir bawah, seperti mengumpulkan keberanian. Dia menatap wajah Bo Shangyuan yang indah dan luar biasa, dan berkata dengan sedikit mengeluh. "Itu ... Kalau begitu kau turunkan wajahmu."

Alis Bo Shangyuan berkerut, dia sedikit membungkuk.

Kemudian, detik berikutnya, Gu Yu berjinjit dan mencium bibirnya.

Bibir yang hangat tiba-tiba menempel membuat Bo Shangyuan tanpa sadar mengendurkan pegangan tangannya.

Dan Gu Yu memanfaatkan waktu ini untuk membebaskan diri, berbalik dan lari.

Seperti takut akan disusul, Gu Yu berlari menjauh dengan penuh tenaga.

Bo Shangyuan masih berdiri di tempat yang sama untuk waktu yang lama.

Setelah sadar situasi, sudut bibirnya agak bengkok, tidak bisa menahan senyum.
.
.

Sisi lain.

Gu Yu berlari kembali ke rumah dengan jantung berdegup kencang.

Dia sebenarnya hanya memikirkan ingin mencoba untuk mencium, apa Bo Shangyuan akan melepaskannya.

Akibatnya, entah bagaimana, setelah Bo Shangyuan membungkuk, dan dia memandang wajah Bo Shangyuan yang sangat tampan, dia benar-benar menciumnya.

Mengingat adegan barusan, Gu Yu merasa sangat malu.

Dia duduk di pintu masuk, hanya untuk merasa bahwa dia benar-benar kehilangan wajah sekarang.

Ibu Gu yang menunggu seharian merasa aneh melihat Gu Yu yang sudah pulang tetapi tidak kunjung masuk.

Ibu Gu menyalakan lampu diteras pintu masuk. Ketika lampu menyala, dia melihat Gu Yu duduk, masih mengenakan sepatu dan menutup wajahnya.

"Yu Yu, apa yang kau lakukan?"

Gu Yu kaget. Dia segera berdiri dan mengganti sepatunya, berkata dengan tidak wajar. "... tidak ada apa-apa."

Ibu Gu bingung.

Tapi sekarang bukan itu intinya.

Dia bertanya, "Bagaimana bisa kau kembali begitu terlambat? Apa kau tahu jam berapa sekarang?"

Gu Yu menjilat bibirnya dan menjawab tenang. "Hari ini ulang tahun teman sekolah."

Ibu Gu merasa lebih baik, tetapi tidak bisa menahan diri untuk memberi nasehat. "Itu bagus tetapi jangan bermain sampai selarut ini. Tidak aman di malam hari. Bagaimana jika kau bertemu orang jahat? Kau hanya anak kecil, tidak ada pertahanan ..."

Gu Yu menyela dengan tenang. "Aku kembali dengan Bo Shangyuan."

Suara ibu Gu terhenti.

"Tetangga Bo juga pergi?"

"... um."

Ibu Gu merasa lega.

Pada saat ini, Gu Yu tiba-tiba sepertinya memikirkan sesuatu.

"Ah, aku tadi bermain kartu dengan mereka dan memenangkan sejumlah uang."

"Ibu tidak ingin kau memberikannya pada kami. Kau simpan saja sendiri ..."

"Aku menang 220.000."

Suara ibu Gu seketika berhenti.

Kemudian, di hadapan keterkejutan ibu Gu, Gu Yu dengan tenang mengeluarkan uang itu dan menyerahkannya.

Ibu Gu akan berbicara, tetapi Gu Yu lebih dulu berkata. "Aku tidak berniat mengambilnya ... tetapi Bo Shangyuan bilang uang mereka masih banyak dan menyuruhku mengambilnya."

Ibu Gu tidak memiliki kata-kata.

Dia dengan gemetar mengambil alih sejumlah besar uang tersebut dan kembali kedalam.

"Suamiku, lihat apa yang Yu Yu bawa pulang ..."

Setelahnya, Gu Yu berjalan ke kamarnya dan membenamkan wajahnya yang panas di selimut.
.
.

Pagi berikutnya.

Seperti biasa, Gu Yu bangun pagi-pagi, dan kemudian pergi ke sekolah dengan Bo Shangyuan.

Tidak ada bedanya.

Namun, suasana hati Bo Shangyuan jauh lebih baik dan lebih sedikit tersenyum.

Terutama ketika melihat Gu Yu pagi ini, dia tanpa sadar menunjukkan senyum.

Ini pemandangan langka.

Tapi Gu Yu berpikir bahwa dia sedang tidak ingin menghargai senyum Bo Shangyuan.

Kenapa Bo Shangyuan tersenyum, dia bisa menebak alasannya.

Begitu melihatnya, memori memalukan tadi malam yang dengan susah payah terlupa kini tiba-tiba pulih.

Gu Yu yang tadinya malu menjadi marah, dia tergagap. "Jangan ... jangan tersenyum!"

Bo Shangyuan merespon samar namun senyum di bibirnya tidak berubah.

Gu Yu memilih mengabaikannya.

Bo Shangyuan yang berada dalam suasana hati baik hari ini, tidak hanya Duan Lun, tetapi juga teman sekelas merasakannya.

Orang lain di Kelas A penasaran. Adapun Duan Lun, dia langsung berbalik dan menutup mata.

Duan Lun selalu pintar, bagaimana mungkin dia tidak bisa menebak alasan suasana hati Bo Shangyuan begitu baik hari ini?

Duan Lun memikirkan kurcaci kecil yang memenangkan 220.000-nya kemarin dan menggertakkan giginya.

- Cuih, pasangan beracun.
.
.

Kesalahpahaman terurai, dan perasaan Bo Shangyuan jauh lebih baik. Gu Yu berpikir bahwa Bo Shangyuan seharusnya tidak setajam sebelumnya.

Namun, kenyataan tidak seindah imajinasinya.

Hanya ada satu minggu tersisa untuk ujian akhir.

Kelas tambahan masih berlangsung.

Adapun Bo Shangyuan yang mengatakan bahwa dia memiliki liburan selama seminggu tidak masuk hitungan karena dia tidak menyatakan perasaannya lewat kata-kata.

Pada setengah dua siang, Gu Yu membawa kertas Huangggang dan pergi ke rumah Bo Shangyuan.

Wajah Bo Shangyuan tampak dingin dan menyapu jawaban di atas kertas, lalu mengembalikan kertas itu ke tangannya.

"Yang ketiga, ketujuh belas, dua puluh lima, dua puluh enam, dan yang kedua, yang pertama semuanya salah. Salin tiga puluh kali."

Gu Yu dengan patuh mengambil kertas itu lalu pergi. Namun baru dua langkah, tiba-tiba dia menyadari sesuatu.

Dia berbalik. "... 30 kali? Bukankah dua puluh kali sebelumnya?"

Bo Shangyuan merespon ringan. "Aku sudah memikirkannya."

"?"

"Kenapa kau sampai berpikir aku berkencan dengan orang lain karena terlalu sedikit yang disalin, jadi aku harus menambahnya agar kau tidak perlu berpikir."

"..."

Ketika tiba di sekolah pada sore hari, wajah Gu Yu jelek.

Tiga orang lainnya melihat wajahnya sangat tak sedap dipandang, mau tak mau Shen Teng dengan penasaran bertanya. "Ada apa?"

Gu Yu berkata dengan wajah datar "Aku benci Bo Shangyuan."

Tiga orang, "???"
.
.

Lima hari berlalu dengan cepat.

Dalam sekejap mata, hanya ada dua hari tersisa sebelum ujian akhir.

Meskipun Bo Shangyuan menjadi semakin sengit dalam beberapa hari terakhir, Gu Yu tahu ini demi prestasinya karena itu hatinya semakin tak berdasar menjelang hari H.

Jadi pada siang hari, Gu Yu seperti biasa membawa kertas ujian Huanggang pada Bo Shangyuan dan dengan hati-hati bertanya. "... Bagaimana jika ujian akhirku gagal?"

Bo Shangyuan tidak mendongak, "Ujian simulasi baik-baik saja."

Gu Yu kemudian bertanya lagi. "... Jika ujian simulasi juga gagal?"

Kali ini, Bo Shangyuan akhirnya mengangkat kepalanya.

Dia menatap Gu Yu dan tidak mengatakan apa-apa.

Maknanya sudah jelas.

Gu Yu melihat ekspresi serius di wajah Bo Shangyuan dan diam.

Dua hari kemudian.

Ujian akhir secara resmi dimulai.

Jemari Shen Teng terasa dingin dan kakinya gemetar.

Sementara Gu Yu, entah bagaimana, beberapa hari yang lalu, dia masih gugup. Namun hari ini, dia santai.

Waktu ujian seperti biasa 8:30.

Setelah tiba di sekolah, Gu Yu melangkah ke ruang ujian dengan tenang.
.
.

Ujian akhir berbeda dari ujian bulanan. Ujian akhir lebih ketat dan topiknya lebih sulit daripada ujian bulanan.

Setelah ujian bulanan berakhir, biasanya hasilnya akan keluar esok hari, sedangkan ujian akhir akan memakan waktu sekitar tiga hari.

Karena itu, sekolah libur tiga hari.

Dalam tiga hari ini ... Gu Yu masih mengikuti kelas tambahan.

Dia sedikit tertekan.

Ujian sudah berakhir, mengapa dia harus masuk kelas.

Hatinya pengap dan dia tidak ingin menulis pertanyaan sama sekali.

Bo Shangyuan mengetuk pena ditangannya dan berkata, "Tulis."

Gu Yu kesal dan bergumam pelan, "... Aku membencimu."

Menurut akal sehat, setelah keduanya mengurai salah paham dan tahu isi hati masing-masing, pihak lain akan lebih lembut dari sebelumnya.

Namun, bukannya lebih lembut, Bo Shangyuan bahkan lebih brutal dari sebelumnya.

Menangkap ucapannya, Bo Shangyuan berkata. "Aku tidak mendengarnya jelas, kau katakan lagi."

Gu Yu dengan cemberut langsung menutup mulutnya.
.
.

Tiga hari kemudian.

Hasilnya diumumkan secara resmi.

Pada hari ketika hasilnya diumumkan, sifat Gu Yu seperti biasa.

Saat ini, keduanya berdiri di depan papan buletin dan melihat nilainya.

Setelah melihatnya, Gu Yu menoleh pada Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan tampaknya sudah menduga, jadi ekspresinya sangat tenang.

Kemudian, dia berkata dengan tanpa ekspresi. "Liburan musim panas tetap membuat kelas."

Gu Yu tampak putus asa.

... bisakah ucapannya ditarik kembali? Dia menyesalinya sekarang.

Akibatnya, yang lain senang bermain selama hampir dua bulan liburan.

Namun, dia harus menambah kelas selama di rumah Bo Shangyuan.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments