98. Kau tidak mau pergi, aku tidak akan pergi.

Suasana hening.

Gu Yu terdiam sesaat dan akhirnya menerima kenyataan di depannya.

Tapi masalahnya datang lagi.

Gu Yu memikirkan posting di forum sekolah jadi dia tidak bisa tidak bertanya. "Ada apa antara kau dengan Xie Yunyan?"

Bo Shangyuan mengerutkan alisnya, bingung. "Apa?"

Begitu dia memikirkan hubungan cinta Bo Shangyuan dengan Xie Yunyan, suasana hati Gu Yu merosot. Dia berbisik, "Kau ... Apa kau berkencan dengan Xie Yunyan?"

Kerutan didahi Bo Shangyuan semakin dalam.

"Kapan aku berkencan dengannya?"

"Bukankah kalian berkencan?"

"Siapa yang bilang?"

Gu Yu bergumam. "... Seluruh sekolah tahu."

Setelah mendengar itu, Bo Shangyuan dapat menebak alasannya.

Mereka digosipkan seperti itu karena belakangan ini Xie Yunyan selalu menguntitnya sehingga orang lain secara tidak sadar akan berpikir bahwa keduanya sedang berkencan.

Tapi dia tidak menyangka Gu Yu benar-benar percaya.

Dia perlahan bertanya. "... Kau juga percaya?"

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Jika bukan karena dia selalu melihat Xie Yunyan berbicara dengan Bo Shangyuan, dia mungkin tidak akan percaya.

Dalam kesunyian Gu Yu, jawabannya jelas.

Bo Shangyuan mengulurkan tangan, ujung jarinya dengan lembut mengusap bibir Gu Yu.

Tindakan ini membuat Gu Yu seketika kaku.

Bo Shangyuan berkata dengan suara rendah. "Aku menciummu tiga kali. Jika aku berkencan, tentu saja denganmu."

Wajah Gu Yu langsung memerah.

Dia seperti mendapat keberanian dan berkata. "Tapi kau jelas ... tidak ... tidak lagi menyentuhku."

Saat dia berbicara, suaranya semakin rendah.

Mendengar itu, Bo Shangyuan mau tak mau tertawa pelan.

Gu Yu terkejut karena Bo Shangyuan jarang tertawa.

Dia dengan aneh bertanya. "Ke-kenapa kau tertawa?"

Bo Shangyuan masih menatapnya dengan senyuman. "... Jadi ini alasan kau selalu berada dalam suasana hati yang buruk beberapa bulan ini?"

Gu Yu tidak menanggapi tetapi suhu panas diwajahnya kini menyebar sampai ke akar telinga.

Bo Shangyuan sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya.

"Kau ingin tahu kenapa?"

Gu Yu berkedip dan mendongak dengan cepat.

Suara Bo Shangyuan rendah dan magnetis dengan sedikit makna menggoda. "Cium dulu, baru aku beritahu."

Wajah Gu Yu semakin memerah.

Dengan mata melebar, dia mendorong wajah Bo Shangyuan, lalu tergagap. "Aku, aku ... aku tidak ingin tahu sekarang."

Bo Shangyuan tersenyum samar.

Dia sudah perkirakan reaksi Gu Yu jadi tidak terkejut.

Dia beralih menangkap pergelangan tangan Gu Yu, dan jari-jarinya yang dingin dengan lembut mengelusnya.

Rasa geli merambat dari pergelangan tangan ke seluruh tubuh, membuat tubuh Gu Yu bergetar dan mencoba menarik tangannya. Tapi Bo Shangyuan semakin mengetatkan cengkeramannya.

Dia dengan santai bermain dengan pergelangan tangannya sambil berkata. "Kenapa aku tidak menyentuhmu, itu karena aku ingin kau berkonsentrasi belajar."

Gu Yu tertegun. Dia tidak menyangka ini akan menjadi alasannya.

Dia memikirkan dengan cermat.

Tampaknya ... Bo Shangyuan memang dari ujian bulanan pertama, mulai mengasingkannya. Pada saat itu, rumor bahwa Bo Shangyuan dan Xie Yunyan sedang berkencan masih belum keluar.

Setelahnya, Bo Shangyuan beralih mengangkat tangan yang lain dan menyentil dahinya. "Aku tidak menyangka kau masih berpikir aku berkencan dengan orang lain."

Bo Shangyuan menyentilnya cukup kuat dan itu membuat Gu Yu mengusap dahinya yang perih dengan wajah cemberut.

"Kau tidak bilang, aku tidak tahu ..."

"Aku tidak bilang, kau tidak bertanya?"

Gu Yu langsung terdiam.

Bo Shangyuan melepas tangannya dari pergelangan tangan Gu Yu dan beralih memegang wajahnya, berkata dengan ekspresi serius. "... Jangan selalu menyimpan keraguan di hatimu dan membuatmu tertekan."

"... Maaf."

"Jika ada hal yang membuatmu ragu dan tidak bahagia, tanyakan. Jika ada permintaan, kau bisa katakan."

Gu Yu berpikir sejenak dan berbisik, "Bagaimana jika kau tidak setuju?"

"Tidak akan."

Untuk permintaan Gu Yu, Bo Shangyuan selalu responsif dan sama sekali tidak mungkin untuk tidak setuju.

Gu Yu bergumam lalu berpikir.

Dia kemudian berkata ragu. "Itu, kalau begitu aku tidak mau membuat kelas."

"Tidak."

"..."

Gu Yu terdiam selama dua detik dan berbicara lagi.

"Apa bisa pertanyaan yang salah hanya disalin lima kali?"

"Tidak."

"..."

Gu Yu terdiam lama.

Dia kembali bertanya. "Kau tadi bilang tidak akan menolak."

"Kecuali dua poin ini."

"... Apa bisa membuat kelas hanya satu hari di akhir pekan?"

"Tidak."

"... Pembohong besar."

Gu Yu dengan cemberut menyingkirkan tangan Bo Shangyuan dari wajahnya. Ekspresinya penuh kesan tidak bahagia.

Bo Shangyuan mengangkat alis dan memutuskan untuk berkompromi.

"Bagaimana kalau aku memberimu libur seminggu?"

Gu Yu mendongak dan ragu untuk bertanya. "... Sungguh?"

Bo Shangyuan bergumam mengiyakan lalu berkata, "Kau nyatakan dulu perasaanmu, baru aku akan meliburkanmu seminggu."

"..."

Bo Shangyuan mendesaknya. "Ayo."

"..."

Gu Yu tadinya memberanikan diri karena dia tidak ingin Bo Shangyuan pergi ke Xie Yunyan.

Namun, ketakutan yang dia pikirkan sia-sia, keberaniannya secara bertahap menghilang.

Kata-katanya menjadi tersendat.

Dia dengan kaku merubah topik. "Oh, sudah hampir jam sepuluh, kita harus pergi ke Duan Lun ..."

"Tidak perlu terburu-buru, masih ada waktu—"

Belum selesai bicara, ponsel Bo Shangyuan kembali berdering.

Dia ingin meraihnya dan kemudian mematikan panggilan tetapi Gu Yu lebih cepat dan langsung menjawabnya.

"Duan Lun? Kami akan segera tiba."

"Hm, kalian cepat kemari. Kalian benar-benar terlambat."

Duan Lun berkata sambil hatinya bertanya-tanya: aneh, apakah ilusinya? Bagaimana dia merasakan suara kurcaci kecil begitu bersemangat?

Karena dalam menghadapi Duan Lun, Gu Yu biasanya mengabaikannya.

Gu Yu bergumam mengiyakan dan menutup telepon.

Dia kemudian beralih melihat Bo Shangyuan dan dengan cepat berkata, "Ayo pergi, kita akan terlambat jika masih disini."

Wajah Bo Shangyuan benar-benar hitam.

Pada saat bersamaan.

Duan Lun yang berada di pesta ulang tahun, tiba-tiba bergidik.
.
.

Setengah jam kemudian, keduanya tiba di pesta ulang tahun Duan Lun.

Tempatnya berada di lantai pertama hotel.

Awalnya, ayah Duan berencana untuk membuatkan pesta untuknya, tetapi Duan Lun tidak ingin melihat ayahnya dengan kekasih simpanannya datang pada hari ulang tahunnya, jadi dia menolak tanpa ragu-ragu.

Ketika Gu Yu dan Bo Shangyuan masuk ke pintu hotel, Duan Lun datang untuk menyambut mereka secara pribadi.

Pelayanan ini tidak dia lakukan pada tamu lain, hanya Bo Shangyuan.

Duan Lun mengenakan pakaian kasual yang mahal dan tersenyum lebar menyambutnya.

"Kalian berdua akhirnya datang juga, aku menunggu sampai kering."

Duan Lun berkata di mulutnya, tetapi matanya menatap kotak hadiah di tangan Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan sangat kaya. Meskipun memang lebih pelit dari generasi kedua kaya lainnya, tetapi setidaknya dalam hadiah ulang tahun, Bo Shangyuan benar-benar murah hati.

Duan Lun dengan senyuman hendak mengambil kotak hadiah itu tetapi Bo Shangyuan langsung menepis dingin tangannya, dan kemudian menyerahkan kotak hadiah itu pada orang di sampingnya.

Gu Yu yang menerima, "?"

Duan Lun, "?"

Dalam pandangan kedua lelaki yang bingung itu, Bo Shangyuan berkata dengan wajah hitam pada Duan Lun. "Ikut aku."

Duan Lun mengerutkan alis, berjalan mengikutinya.

"Ada apa?"

Bo Shangyuan tidak menjawab dan membawanya ke sudut terpencil.

Di sisi lain, Gu Yu berdiri di tempat yang sama, menunggu mereka kembali.
.
.

Setelah tiga menit, keduanya kembali.

Wajah Bo Shangyuan kini tampak lebih baik.

Tapi Duan Lun benar-benar berlawanan.

Ekspresinya menyakitkan sambil memegang perutnya dan memberi tatapan penuh kebencian dibelakang Bo Shangyuan.

- Sialan! Hadiahnya tidak diberikan tetapi juga meninjunya!

Bo Shangyuan mengangkat dagunya ke arah Duan Lun, berkata dengan lembut pada Gu Yu. "Berikan padanya."

Gu Yu bergumam patuh dan menyerahkan kotak itu.

Duan Lun seketika bahagia lagi.

Dia mengambil kotak hadiah itu dan mengocoknya. Dengan rasa ingin tahu, bertanya. "Apa yang ada di dalam?"

Bo Shangyuan tanpa ekspresi merespon. "Mobil."

Duan Lun tertegun dan kemudian menyengir. "As expected, our brother."

Gu Yu melihat ukuran kotak dan ragu-ragu untuk bertanya. "... Mobil mainan?"

Duan Lun melambaikan tangannya, berkata sambil membuka kotak. "Tidak. Meskipun Xing Bo biasanya lebih pelit. Tetapi untuk hadiah, dia tidak akan...."

Suara Duan Lun seketika berhenti.

Benar...

Benar - benar mobil mainan.

Duan Lun perlahan mendongak dengan kaku, menatap Bo Shangyuan yang tampak tenang.

Duan Lun, "..."

Putus hubungan.

Setelah menyerahkan hadiah itu, Bo Shangyuan langsung meninggalkan Duan Lun yang terpaku dan membawa Gu Yu masuk ke dalam.

Duan Lun mengeluarkan mobil mainan di dalam kotak dengan sudut mata berkedut.

Tepat ketika dia bersiap untuk mengumpat pada mobil mainan itu, tiba-tiba, dia melihat kunci mobil sports di bagian bawah kotak.

Mata Duan Lu langsung bersinar cerah.

Tentu saja, our brother!

Sisi lain.

Di bawah tatapan semua orang, Bo Shangyuan dengan tenang menggandeng tangan Gu Yu berjalan ke aula, lalu duduk di sudut.

Lampu-lampu di aula menyilaukan, hidup, dan hiruk pikuk. Orang-orang yang hadir tidak hanya anak orang kaya seperti Bo Shangyuan tetapi juga model yang cantik dan terkenal.

Terhadap latar belakang orang-orang ini, Gu Yu tampak sangat suram.

Meskipun bukan pertama kali, Gu Yu masih belum terbiasa dengan situasi ini. Dia menyusut tubuhnya dan bersembunyi di balik tubuh Bo Shangyuan.

Melihat gerakan Gu Yu, orang-orang lain yang hadir tampak halus.

Bo Shangyuan terkenal di kalangan generasi kedua kaya, karena prestasinya dan gaya hidup bersih, jarang pergi ke tempat berasap.

Karena itu, mereka juga sadar akan temperamennya.

Bersih, tidak suka berbaur, lebih sedikit kata-kata, benci parfum ... dan sebagainya.

Sekarang dia malah menggandeng seorang lelaki pendek bersamanya. Adegan ini ... sungguh luar biasa.

Dalam kelompok generasi kedua yang kaya dan model ini, ada beberapa dari mereka sudah pernah melihat Gu Yu sebelumnya.

Karena itu, setelah beberapa saat, mereka dengan cepat mengenalinya.

"Hei, bukankah itu lelaki yang dibawa Bo Shangyuan waktu itu?"

"Waktu itu? Kapan?"

"Kau tidak ada di sana."

"Jadi, sepertinya memang benar lelaki itu."

"Apa hubungan antara mereka? Aku belum pernah mendengar Bo Shangyuan punya sepupu."

Disaat bersamaan, Duan Lun berjalan melewati mereka.

Melihat sosok Duan Lun, mereka segera menghadangnya.

Satu lelaki mengangkat dagunya ke arah Bo Shangyuan dan bertanya dengan rasa ingin tahu, "Apa hubungan di antara mereka?"

Duan Lun melirik ke arah pandangan lelaki itu dan tersenyum, "Kau tebak."

Lelaki yang lain merendahkan suaranya dan berbisik di hadapan Duan Lun. "Jangan katakan... Kalau itu?"

Dia berkata sambil mengisyaratkan dengan ekspresi.

Duan Lun memandangi ekspresi menghina dari wajah lelaki itu dan ekspresinya langsung merosot.

Lelaki lain yang satunya kembali bersuara. "Bagaimana mungkin? Bukankah Bo Shangyuan tidak pernah terlihat suka lelaki? Lagipula banyak yang lebih tampan, kenapa dia suka dengan tipe yang seperti itu."

Mendengar itu, suasana hati Duan Lun yang tadinya baik kini lenyap.

Duan Lun menyela kedua orang itu dengan tidak sabar, dan berkata tidak senang. "Apa urusannya dengan kalian? Tidak usah ikut campur."

Kedua lelaki itu segera menutup mulut mereka.

Duan Lun mengabaikan mereka dan langsung menuju ke arah Bo Shangyuan.

Disisi lain, Bo Shangyuan melihat tingkah Gu Yu yang bersembunyi dibelakangnya.

Dia mengulurkan tangan dan mendorong lembut kepala Gu Yu, berkata. "Nyatakan perasaanmu."

"..."

"Jika kau tidak katakan, aku akan meninggalkanmu sendirian disini."

"... kau tidak bisa melupakan ini."

"Tidak."

"..."

"Ayo."

"..."

Gu Yu memutuskan untuk berpura-pura mati.

Sudut bibir Bo Shangyuan melengkung dan matanya penuh tatapan cinta, Duan Lun yang tengah berjalan mendekat bisa mencium bau asam yang sangat menyengat.

Ya, bau asam cinta.

Duan Lun mengulurkan tangan dan meraih giginya.

Sial, giginya ngilu.

Duan Lun datang dan duduk di sisi kedua lelaki itu.

Bo Shangyuan langsung menusuknya dengan tatapan dingin yang tajam.

Meskipun tidak berbicara, makna mata itu jelas terlihat dalam kesunyian.

- Enyahlah.

Duan Lun mengabaikan itu kemudian mengeluarkan kunci mobil dan mengguncangnya di depan Bo Shangyuan, menyengir. "Terima kasih."

Mobil Duan Lun terbentur dan bagian depannya rusak. Dia mengirimnya ke pabrik asli untuk diperbaiki. Sampai sekarang belum selesai.

Duan Lun kehilangan mobil, Bo Shangyuan mengirim mobil sport untuknya.

Meskipun Gu Yu tidak mengerti mobil, tetapi dari bentuk dan logo kunci mobil, dapat ditebak samar-samar, mobil yang dikirim Bo Shangyuan pasti mahal.

Gu Yu tidak bisa untuk tidak menahan napas.

Dia menoleh pada Bo shangyuan dan bertanya, "Kau ... apa kau memberikan mobil?"

Bo Shangyuan merespon ringan.

Di sisi lain, Duan Lun yang melihat wajah tidak percaya Gu Yu tidak bisa tidak mengeluh. "Sialan! Dia memberimu kata sandi ponsel dan kata sandi pembayaran. Mana bisa dibandingkan dengan mobil hadiahku?"

Dengan kata sandi itu, bisa mengambil berapa banyak uang yang diinginkan lebih dari harga mobil sport.

Gu Yu menutup mulutnya.

Duan Lun beralih memandang Bo Shangyuan dan bertanya, "Di mana mobil itu?"

Bo Shangyuan merespon tanpa menatapnya. "Garasi."

Sejak tiga hari yang lalu, dia sudah meminta mobil itu dipindahkan di garasi lantai pertama hotel.

Duan Lun menyengir. "Bo kami yang tampan memang pengertian."

Dia bersiap untuk merangkul bahu Bo Shangyuan namun langsung diberi tatapan tajam, dia segera menarik tangannya kembali.

Dia kemudian berkata. "Apa kau mau balapan?"

Bo Shangyuan tidak merespon.

Duan Lun diam sejenak, kemudian sadar.

Dia segera mengalihkan pandangannya ke Gu Yu dan bertanya. "Apa kau mau ikut balapan?"

Gu Yu merespon dengan tatapan kosong. "Aku tidak bisa menyetir ..."

"Xing Bo yang menyetir."

"Kalau begitu kau tanya padanya, kenapa bertanya padaku?"

Duan Lun mendengus dan berkata, "Kalau kau pergi, dia akan pergi."

Gu Yu seketika memerah.

Adapun Bo Shangyuan hanya duduk tenang, tidak menyangkalnya.

Gu Yu ragu-ragu.

Dia tidak tertarik dengan balapan mobil.

Baginya, daripada pergi kesana, lebih baik pulang dan tidur.

Jika Gu Yu tidak pergi, Bo Shangyuan tidak akan pergi. Karena itu Duan Lun berusaha membujuk. "Ayolah, ulang tahunku hanya setahun sekali. Melihat-lihat untuk menambah wawasan dan pengalaman."

Gu Yu beralih memandang Bo Shangyuan ragu-ragu.

Bo Shangyuan tidak menatapnya. "Kau tidak mau pergi, aku tidak akan pergi."

Mendengar itu, Duan Lun buru-buru berkata kepada Gu Yu. "Tidak akan lama, kita akan langsung kembali lagi. Bagaimana?"

Gu Yu memandangi ekspresi tulus di wajah Duan Lun dan ragu-ragu sejenak.

"Kalau begitu ... ayo pergi."

"Bagus ..."

Duan Lun berkata sambil bersiap merangkul leher Gu Yu.

Namun, belum sempat menyentuh, Bo Shangyuan sudah mendelik tajam padanya. Arti pandangan itu jelas peringatan.

Duan Lun menarik tangannya lagi, lalu dengan cepat berkata. "Waktu tidak menunggu orang, pergi sekarang?"

Duan Lun tidak balapan untuk waktu yang lama, tangan dan kakinya sangat gatal.

Gu Yu memandang Duan Lun dan bertanya, "Bisa tunggu sebentar?"

Duan Lun, "Hm?"

Gu Yu berkata dengan malu. "Aku agak lapar ..."

"Kemas saja!"

Gu Yu mengerutkan kening. "Tetapi bukankah kau akan balapan? Apa tidak masalah membawa makanan yang dikemas?"

Duan Lun masih ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi mendeteksi delikan samar Bo Shangyuan.

Dia langsung terdiam.

Duan Lun dengan wajah datar menatap langit.

Ya, ya, turuti apa kata Gu Yu.

Tapi ...

Apa Bo Shangyuan ini dianggap sebagai budak istri? atau budak suami?
.
.

Duan Lun pasrah, jadi dia hanya bisa duduk diam dan menunggu, menyaksikan si pelit Bo Shangyuan yang tidak suka peduli pada orang lain tetapi menuangkan air untuk kurcaci kecil, dan bahkan mengambilkan makanan untuknya.

Tindakan itu, lembut seperti air mengalir, seperti mobil yang melaju mulus di jalanan.

Pada saat ini, di mata Duan Lun, tingkah kedua orang itu jelas...

- Pasangan gay

Dia tiba-tiba teringat satu hal.

"Ah ya, saat aku menelepon tadi, kenapa dimatikan dan kemudian mengangkatnya? Apa sebenarnya yang kalian lakukan?"

Dan juga Bo Shangyuan yang tiba-tiba memberinya pukulan ketika baru datang, dia tidak tahu alasannya.

Gu Yu yang sedang makan, sedikit tersedak dan dengan wajah merah menundukkan kepalanya, "... tidak ada apa-apa."

Disisi lain, raut wajah Bo Shangyuan kembali jelek setelah mendengar ucapan Duan Lun. Dia mendelik dingin padanya.

Duan Lun, "?????"
.
.

Setelah makan malam, Duan Lun membawa beberapa generasi kedua yang kaya ke lokasi balapan.

Begitu sampai di tujuan, Bo Shangyuan tiba-tiba berkata. "Anak dibawah umur tidak boleh mengemudi di jalan."

Duan Lun, "..."

Duan Lun tahu bahwa Bo Shangyuan selalu mendengarkan kurcaci kecil, jadi setelah ditolak, dia segera menoleh pada Gu Yu, bersiap membuka mulutnya.

Namun Gu Yu lebih dulu bicara, "Itu, Duan Lun ... Apa kau punya SIM?"

Tanpa menunggu Duan Lun untuk menjawab, Bo Shangyuan kembali bersuara. "Anak dibawah umur tidak punya SIM."

Duan Lun, "..."

Gu Yu mengerutkan alisnya. "Duan Lun, bukankah itu melanggar hukum?"

Duan Lun, "..."

Beberapa generasi kedua kaya yang ikut serta, "..."

Sebagai generasi kedua yang kaya dan sembrono, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka mendengar kata melanggar hukum dari mulut orang lain.

Duan Lun terdiam beberapa saat.

Dia tiba-tiba merasa bahwa kata pasangan gay terlalu bagus.

Mereka harusnya disebut pasangan lelaki zina.

/ 姦夫淫夫 ada yang tahu makna tepatnya, tolong koreksi. /

Duan Lun mengeluarkan ponselnya, bersiap memanggil sopir.

- Kalian berdua jahat!
.
.

Sopir tiba dengan cepat, lalu mengambil kunci dari Duan Lun dan membawa kembali rombongan ke hotel.

Di perjalanan, Duan Lun dengan senyum pahit bertanya pada Gu Yu. "Apa kau bisa bermain poker?"

Gu Yu menggelengkan kepalanya.

Duan Lun merasa sangat puas.

"Daripada tidak melakukan apapun, bagaimana kalau kembali ke hotel untuk bermain beberapa?"

Gu Yu mengerutkan alisnya, "Tapi aku tidak tahu cara bermain."

Duan Lun mengangkat dagunya ke arah Bo Shangyuan dan berkata. "Bukankah ada Xing Bo? Biarkan dia mengajarimu."

Gu Yu dengan ragu-ragu beralih menatap Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan juga balas menatapnya, lalu mencubit pipinya sambil berkata, "Jika kau ingin bermain, kau bisa bermain."

Mendapat respon, Gu Yu kembali mengalihkan pandangannya ke Duan Lun.

"Tapi aku tidak membawa uang ..."

Duan Lun sekali lagi mengisyaratkan dia untuk melihat Bo Shangyuan.

"Bukankah ada Xing Bo?"

Gu Yu tidak mau berpikir. "Tapi bukankah itu uangnya?"

Duan Lun mendengus dan berkata, "Bukankah uangnya juga uangmu?"

Gu Yu mengerutkan alisnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu, namun Bo Shangyuan tiba-tiba menyerahkan ponselnya.

Artinya tidak perlu dijelaskan lagi.

Gu Yu tidak tahu harus berkata apa untuk sementara waktu.

Bo Shangyuan dengan tenang berkata samar. "... Kata sandi tidak berubah."

Gu Yu bergumam lalu dengan wajah memerah menerima ponsel itu.

Duan Lun segera mendekat dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa kau bisa beritahu padaku juga? Tidak perlu semua, katakan satu atau dua kata saja."

Bo Shangyuan mendelik.

Duan Lun langsung menutup mulutnya.

... Pelit.

Setelah setengah jam.

Kembali ke hotel lagi, Duan Lun yang tadinya merasa sangat kesal karena tidak jadi balapan, kini bahagia lagi setelah berpikir dia bisa memenangkan uang dari kantong Bo Shangyuan.

Jika bermain dengan Bo Shangyuan, Duan Lun tidak akan begitu bahagia. Karena dia tidak akan pernah menang.

Tetapi jika orang itu adalah Gu Yu ... hasilnya pasti benar-benar berbeda.

Duan Lun khawatir Gu Yu tiba-tiba berubah pikiran, jadi segera membuka kamar mewah di hotel, kemudian menarik beberapa generasi kedua yang kaya bersama untuk bermain kartu.

Di ruangan besar, tiga orang duduk di kursi mereka dan mulai bermain poker.

Yang lainnya duduk disekeliling, menonton ketiganya bermain.

Bermain kartu sebenarnya tidak menyenangkan untuk ditonton, tapi ... ada Bo Shangyuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, ketika Bo Shangyuan bermain, dia tidak pernah menghabiskan uang dari sakunya.

Oleh karena itu, pada pemikiran untuk mengambil uang dari kantong Bo Shangyuan, orang lain akan menahan mood untuk menonton ini.

Kau tahu, melihat Bo Shangyuan mengeluarkan uang itu pemandangan yang langka.

Pada saat ini, ketiga lelaki yang bermain duduk melingkar, berhadapan.

Sementara Bo Shngyuan duduk di belakang tubuh Gu Yu, tanpa ekspresi dan tanpa kata-kata, tetapi penuh momentum.

Duan Lun takut Bo Shangyuan akan mengajarkan kurcaci kecil cara bermain kartu. Jadi dia berkata. "Orang luar tidak diizinkan untuk ikut campur, kalau tidak, dianggap kalah."

Bo Shangyuan hanya meliriknya sekilas.

Duan Lun mendengus dan duduk tegak.

Hari ini, jika dia tidak memenangkan ratusan ribu dari Bo Shangyuan, jangan sebut namanya Xing Duan!
.
.

Setelah setengah jam.

Gu Yu bertanya pada Duan Lun dan seorang lelaki di depannya. "... Apa kalian masih ingin bermain?"

Duan Lun memandang dua ratus ribu yuan miliknya yang dimenangkan Gu Yu dan bertanya, "Bukankah kau bilang belum pernah bermain?"

Gu Yu mengangguk. "Ya."

Dia memang belum pernah bermain, tapi ... Entah bagaimana, tidak hanya dalam game, tetapi juga dalam permainan kartu, keberuntungannya sangat baik.

Duan Lun diam.
.
.

Hari ini adalah ulang tahun Duan Lun yang paling tidak bahagia dalam sejarah.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments