92. Kelebihan yang dia miliki hanya tahu diri.

Namun, topik ini belum lama dibicarakan, karena akan segera masuk kelas.

Bawa kertasnya setelah jeda kelas. ]

[ ... oh. ]

Setelah membalas, Gu Yu berbalik dan kembali ke ruang kelas.

Bel berbunyi dan guru kelas berjalan masuk dengan kertas ujian bulanan.

Guru kelas pergi ke tengah podium, dan meletakkan kertas diatas meja.

Kemudian, seperti yang diperkirakan semua orang, hal pertama yang dilakukan adalah mulai membanggakan Gu Yu tentang skornya yang naik seratus poin.

Guru kelas berkata dengan penuh senyum. "Kalian semua belajar dari Gu Yu. Terakhir kali guru memanggilnya ke kantor untuk mengobrol, kali ini hasilnya muncul."

Lalu beralih pada sekelompok siswa laki-laki dengan wajah datar. "Tidak seperti beberapa dari kalian, kulit tebal seperti dinding, tidak ada kemajuan."

Di bawah podium, beberapa siswa yang disinggung merasa tidak puas dan bergumam. "Itu karena dia kenal dekat dengan Bo Shangyuan ..."

Mungkin karena salah satu orang dekat dengan podium, jadi guru kelas yang berdiri di podium bisa mendengarnya.

Wajah guru kelas berubah gelap.

"Apa yang salah dengan mengenal dekat Bo Shangyuan? Jika dia tidak bekerja keras sendiri, kau pikir hasilnya akan baik?"

Siswa itu mendengarkan dan membisikkan sesuatu.

Guru kelas tidak lagi ingin berbicara omong kosong dengannya. "Jadi, maksudmu selama kau mengenal Bo Shangyuan, kau bisa mencapai lima besar? Apa kau ingin aku memindahkanmu ke kelas A sekarang???"

Siswa itu segera menutup mulutnya.
.
.

Pada saat yang sama, kelas A.

Sama seperti guru kelas dari kelas E, pada saat ini, guru kelas dari kelas A juga marah dengan hasil ujian siswa dikelasnya.

Guru kelas dari Kelas A melihat transkrip nilai di tangannya, dan ekspresi wajahnya sangat luar biasa tidak percaya.

Dia berdiri di podium, menyebut satu per satu. "Cao Wenbin, 588 ... Yu Yu, 591 ... Ji Chengye, 592 ..."

Di kelas A kecuali Duan Lun yang bisa masuk karena uang, hampir tidak ada seorang pun di kelas yang memiliki skor di bawah 600.

Namun, kali ini, ada lebih dari selusin orang di bawah 600 poin.

Ketika guru kelas dari kelas A pertama kali melihat transkrip kelas mereka, dia mengira matanya keliru pada awalnya.

Namun, ketika dia mengkonfirmasi transkrip itu sekali lagi, dia sadar tidak keliru.

Guru kelas memanggil nama mereka dengan gila-gilaan. Ketika dia membaca nama terakhir, suaranya tiba-tiba sedikit naik.

"Xie Yunyan!"

Seorang gadis di bawah podium berdiri perlahan dari bangkunya.

"... Hadir."

Guru mengambil kertas ujian Xie Yunyan dari tumpukan kertas tebal dan kemudian membantingnya di atas meja podium dengan marah.

"Peringkatmu selalu di lima atau sepuluh besar. Kenapa hasil kali ini sangat rendah! Bahkan dibawah 600 poin!"

Xie Yunyan menunduk, "... Aku tidak tahu."

Dada guru kelas naik dan turun dengan keras, dan amarahnya menyerang.

Dia melihat daftar yang baru saja dia baca, dan kemudian tidak ragu-ragu. "Kalian yang baru saja dipanggil namanya! Bawa buku teks dan berdiri dibelakang!"

Para siswa yang merasa dipanggil tadi, berdiri dari bangku dan membawa buku teks masing-masing.

Xie Yunyan juga berdiri dengan tertekan.

Seperti yang dikatakan oleh guru kelas, dia selalu berada dilima atau sepuluh teratas. Dia memiliki nilai bagus dan jarang dihukum berdiri. Jadi kali ini adalah pengalaman pertamanya.

Dia mengikuti teman-teman sekelas lain berdiri di belakang kelas, ekspresinya sangat tertekan.

Dia tidak tahu mengapa nilainya turun begitu buruk, dia merasa bahwa dia tidak berbeda dengan biasanya, baik di kelas, ataupun dirumah, dia selalu menulis pekerjaan rumah.

Di sisi lain, karena posisi mereka dekat, siswa lain yang berdiri tidak bisa menahan diri untuk saling berbisik.

"Kenapa nilai begitu banyak orang turun saat ini?"

"Kali ini topiknya agak sulit ..."

"Oh, tapi Bo Shangyuan masih tetap peringkat pertama."

"Seperti apa bentuk otaknya ah, aku benar-benar ingin menggali dan melihatnya."

"Aku tidak benar-benar belajar keras kali ini."

Xie Yunyan mendengar mereka saling berbisik tentang Bo Shangyuan, dan matanya seketika menyala.

Hei, dia bisa meminta bantuan Bo Shangyuan untuk membuat kelas!
.
.

Setelah empat puluh menit, bel kelas berbunyi.

Xie Yunyan bergegas ke meja Bo Shangyuan dengan buku pelajarannya.

Kemudian dia berkata dengan cepat, "Teman sekelas Bo, apa kau bisa membantuku membuat kelas? Aku berikan uang!"

Xie Yunyan tahu bahwa Bo Shangyuan tidak memiliki perasaan yang baik terhadap gadis-gadis di kelas, dan dia tidak pernah peduli. Oleh karena itu, dia tidak bicara apa yang disukai Bo Shangyuan dan lebih baik berikan uang secara langsung.

Satu kelas 10.000 yuan ... Dia tidak tahu apakah Bo Shangyuan akan menyetujuinya.

Kondisi keluarga Xie Yunyan cukup baik, tidak masalah untuk mengeluarkan lebih dari ratusan ribu yuan untuk membuat kelas.

Tidak seperti Duan Lun, selain apa yang dikenakan sedikit lebih mahal, tetapi dalam hal lain, Bo Shangyuan tidak berbeda dengan teman sekelas lainnya di kelas.

Air yang minum adalah air mineral biasa, dan pena yang digunakan semuanya adalah pena tinta hitam di toko alat tulis dengan harga beberapa yuan.

Tidak seperti Duan Lun, jika dia ingin minum air, itu adalah air yang paling mahal untuk diminum. Pena yang digunakan seharga ribuan yuan.

Oleh karena itu, teman sekelas berpikir bahwa keluarga Bo Shangyuan tidak cukup kaya, dan singkatnya, dia benar-benar kalah dengan Duan Lun yang duduk di belakangnya.

Namun, orang-orang itu tidak tahu ... Sebenarnya, Bo Shangyuan jauh lebih kaya daripada Duan Lun.

Xie Yunyan berpikir bahwa ketika dia mengatakan akan memberi uang, Bo Shangyuan akan bereaksi, tetapi tidak ada tanggapan.

Seolah-olah dia tidak mendengarnya sama sekali.

Duan Lun yang duduk dibelakang tidak bisa menahan tawa.

Dia tertawa lebar. "Kau ... memberinya uang?"

Xie Yunyan mengangguk, "Ya, selama dia memberiku kelas tambahan, aku akan membiarkan ibuku memberinya 10.000 yuan untuk satu kelas."

Bo Shangyuan masih belum bereaksi, tetapi orang-orang yang duduk di sekitar seketika mengumpat.

Wtf, per kelas sepuluh ribu!

Detik berikutnya, seorang siswa lelaki mengangkat tangannya dan berkata, "Aku akan membuat kelas untukmu! Aku tidak mau sepuluh ribu, cukup satu kelas lima ribu!"

Xie Yunyan berbalik untuk menatapnya, "Kau peringkat berapa di kelas kali ini?"

"Kedelapan ..."

Xie Yunyan mengabaikannya.

Tidak lebih tinggi dari peringkatnya sebelumnya!

Xie Yunyan sekali lagi mengalihkan perhatiannya ke Bo Shangyuan, dan kemudian tersenyum. "Satu kelas.. 20.000?"

Seorang gadis di sebelah tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Wow, Xie Yunyan kau benar-benar kaya."

Xie Yunyan melambaikan tangannya. "Biasa saja."

Namun, sayangnya, Bo Shangyuan masih tidak bereaksi.

Di sisi lain, Duan Lun melihat pemandangan di depannya dan semakin tertawa penuh minat.

Bo Shangyuan tidak memamerkan kekayaannya, tetapi itu tidak berarti bahwa dia tidak punya uang.

Tapi sepertinya Xie Yunyan benar-benar berpikir bahwa Xing Bo tidak kaya.

Duan Lun berpikir dengan santai: ... Hei, jika aku memberi tahu Xie Yunyan, Bo Shangyuan adalah keturunan dari keluarga Bo di Kota A. Aku tidak tahu apa reaksi yang akan ia miliki ketika ia tahu.

Xie Yunyan bergumam pelan dengan ekspresi sedikit tidak senang  "Semuanya 20.000, apa kau masih belum puas?"

Bo Shangyuan tidak berbicara, Duan Lun yang merespon. "Ini bukan masalah uang."

Xie Yunyan berkedip dan bertanya dengan bingung. "... Lalu apa masalahnya."

Duan Lun memegang dagunya dan dengan santai berkata. "Kau tidak perlu berpikir tentang hal itu, dia tidak akan memberimu kelas tambahan."

Selain kurcaci kecil, dia tidak akan memberi orang lain kelas tambahan.

Xie Yunyan terdiam.

Dia selalu gigih, jika tidak mencapai tujuannya, dia tidak akan beristirahat.

"Aku tidak peduli, aku akan terus menganggumu sampai kau setuju."

Duan Lun menyerah dan mengatakan untuk makan melon.

Bo Shangyuan hanya dengan wajah dingin, tidak ada respons dari awal hingga akhir.

Xie Yunyan melihat bahwa dia benar-benar mengabaikannya, jadi dia duduk bangku meja depan dan kemudian mulai menganggu Bo Shangyuan.

"Selama kau membantuku membuat kelas, aku bisa membantumu mengejar gadis yang kau suka, bagaimana?"

Kali ini, Bo Shangyuan merespon tanpa ekspresi. "Apa kau bisa diam?"

Xie Yunyan, "..."

Pada saat bersamaan.

Gu Yu membawa kertas ujiannya ke lantai dua.

Karena peringkatnya di tempat keempat, ia merasa sangat santai dan memiliki langkah kaki yang ringan.

Ketika Gu Yu datang ke lantai dua dan belum melihat Bo Shangyuan, ada siswa laki-laki kelas A dikoridor, bertanya. "Mencari Bo Shangyuan?"

Karena di sekolah ini, kecuali Duan Lun, Gu Yu satu-satunya berteman baik dengan Bo Shangyuan.

Selain itu, Gu Yu tampaknya memiliki hubungan yang lebih baik dengan Bo Shangyuan daripada Duan Lun.

Gu Yu dengan tenang mengiyakan.

Lelaki itu langsung menunjukkan tatapan yang terlihat begitu baik.

Kemudian dia mengarahkan jarinya ke ruang kelas dan berkata, "Hei, dia ada di ruang kelas sekarang."

Mata gu Yu mengikuti arah jari laki-laki itu, dan kemudian tertegun.

Dia melihat seorang gadis duduk dibangku meja depan Bo Shangyuan, berbicara tentang sesuatu padanya.

Meskipun tidak ada ekspresi di wajah Bo Shangyuan seperti biasa, tampak seakan mengabaikan orang disekitarnya, tetapi meskipun demikian, senyum di wajah gadis itu masih cerah.

Gu Yu perlahan menurunkan matanya.

Kemudian dia menyerahkan kertas di tangannya ke pihak lain.

Di mata pihak lain yang tidak bisa dijelaskan, dia berbisik, "Aku dari kelas E. Tidak nyaman untuk masuk. Tolong bantu aku untuk berikan ini padanya, terima kasih."

Lelaki itu menatap kertas ujian itu dengan tidak mengerti.

Jika tidak nyaman untuk masuk, apakah tidak mungkin untuk memanggil Bo Shangyuan keluar?  ... Btw, Bo Shangyuan tidak akan mendengarkannya.

Lelaki itu menggaruk kepalanya dan penuh keraguan.

Tetapi pada akhirnya, dia kembali ke ruang kelas dengan kertas di tangannya.
.
.

Setelah kembali ke kelas E, Gu Yu merebahkan diri di atas meja.

Dia menatap dinding putih di depannya, pikirannya kacau dan rumit.

Bo Shangyuan sudah lama tidak bertanya tentang jawaban.

Sudah tidak turun lagi untuk menganggunya.

Tidak lagi ... menciumnya.

Pikirkan tentang itu, mungkin, mungkin karena ... Dia tidak tertarik padanya.

Dia pendek dan lemah, karakternya canggung, dia bahkan tidak suka belajar, dan tidak memiliki kelebihan apapun.

Jadi Bo Shangyuan tidak tertarik padanya, itu hal yang normal.

Gu Yu berpikir sambil menundukkan kepalanya.

... aneh.

Hatinya tiba-tiba agak masam.
.
.

Sisi lain.

Lelaki yang membawa kertas ujian milik Gu Yu melempar kertas itu ke depan Bo Shangyuan dan berkata, "Siswa Gu yang ada di kelas E, memintaku memberikan padamu."

Melihat kertas itu, Bo Shangyuan yang tidak merespon tadi tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Dia memandang ke arah luar kelas.

Namun, tidak ada sosok Gu Yu di luar pintu.

Bo Shangyuan mengerutkan alis, beralih menatap laki-laki tadi, bertanya. "Mana dia."

Lelaki itu tidak menyangka Bo Shangyuan akan tiba-tiba berbicara pada dirinya dan itu membuatnya sedikit terkejut.

Dia menjawab dengan jujur, "Dia langsung pergi setelah menyerahkan kertas itu."

Ekspresi Bo Shangyuan merosot.

Dia mengambil ponsel dan segera mengirim pesan.

Kau tidak menyerahkan kertasnya sendiri? ]

[ ... Kelas akan dimulai jadi aku harus kembali. ]

Melihat kalimat ini, Bo Shangyuan langsung mengecek waktu di ponselnya.

Menit ke 45.

Masih ada setidaknya lima menit dari waktu kelas berikutnya.

Jelas, seseorang berbohong lagi.

Pada saat ini, semua perhatian Bo Shangyuan ada di ponsel, dan Xie Yunyan disisi lain secara alami diabaikan olehnya.

Xie Yunyan terus bicara sampai mulutnya kering, tetapi hasilnya Bo Shangyuan masih tidak ada reaksi sama sekali.

Xie Yunyan seketika emosi. "Hei, teman sekelas Bo, aku berbicara denganmu! Kau harus memperhatikanku!"

Namun, Bo Shangyuan masih tidak responsif.
.
.

Pagi ini, suasana hati Gu Yu tidak terlalu baik, dia merasa tertekan dan ada sesuatu yang hilang.

Selama kelas, para guru terus memuji pencapaiannya, tetapi emosinya menjadi semakin rendah.

Gu Yu biasanya memang tidak ada ekspresi, tapi sekarang, ekspresi wajahnya hampir berantakan.

Tiga orang yang duduk di sekitar Gu Yu secara alami merasakan perubahan emosinya, tetapi tidak peduli bagaimana mereka bertanya, Gu Yu selalu hanya memiliki satu jawaban.

... tidak ada apa-apa.
.
.

Setelah kelas empat dipagi hari berakhir, seperti biasa, keduanya pulang bersama.

Namun, karena Gu Yu tidak ingin membiarkan Bo Shangyuan melihat bahwa dia tidak merasa baik, jadi sebelum bertemu dengannya, dia secara khusus menepuk wajahnya dan menyemangatkan diri.

Gu Yu takut dia akan bertanya mengapa dia tidak bahagia.

Karena alasannya terlalu memalukan baginya, dan terlalu banyak membuatnya merasa tidak nyaman.

Gu Yu menepuk wajah, menarik sudut mulutnya, lalu menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam.

Dia bekerja keras untuk menenangkan suasana hatinya dan berpura-pura tenang.

Namun, tepat setelah Gu Yu berpikir bahwa suasana hatinya sudah tenang, Bo Shangyuan datang menghampirinya, "... Apa yang terjadi."

Ketiga temannya saja melihat bahwa suasana hati Gu Yu sepanjang pagi itu tidak terlalu baik, apalagi Bo Shangyuan yang jeli.

Hati Gu Yu bergetar.

Dia perlahan mendongak lalu memalingkan muka.

Bo Shangyuan masih menatapnya.

Gu Yu menunduk. "... tidak ada apa-apa."

Mendengar itu, Bo Shangyuan mengerutkan alis.

Ini jelas tidak tampak seperti tidak ada apa-apa.

Namun, begitu Gu Yu menolak untuk mengatakannya, bahkan jika dia terus bertanya, Gu Yu tidak akan mengatakan sepatah kata pun.

Bo Shangyuan pun hanya bisa mendengus.
.
.

Keesokan harinya.

Setelah seharian kemarin, suasana hati Gu Yu hari ini telah mereda.

Atau mungkin ... Dia sudah mengenali sedikit kenyataan.

Kelebihan apa yang dia miliki?

Gu Yu memikirkannya sepanjang malam.

Dan jawabannya: tidak ada.

Oh, tidak, ada satu.

Dia tahu diri.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments