90. Jimat

Bagaimana orang bisa terbiasa dengan perpisahan seperti ini? Guo Zhi berbaring di tempat tidur kamarnya, mengangkat satu kaki dan menendang udara. Ia sering melihat sepasang kekasih yang enggan untuk berpisah. Apakah itu yang sedang ditampakkannya sekarang? Ia seorang lelaki. Ia harusnya lebih tenang menghadapi perpisahan yang singkat. Tidak lebih dari sebulan, ia harus berlagak seperti difilm menyampirkan syal dengan gagah di pundak, mengenakan kacamata hitam, mengangguk dingin pada Shi Xi, lalu mengambil koper dan melangkah ke kereta. Guo Zhi hanya akan tidak melihatnya tidak lebih dari sebulan. Ia melihat ke pintu, masih belum berpisah tetapi ia sudah sangat ingin melihatnya. Memutuskan untuk membebaskan pemikirannya dan tidur. Untuk sejenak, tekadnya runtuh lagi, tidak boleh seperti ini, tidak masuk akal.

Guo Zhi menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut hingga kesulitan bernafas, setelah mengulang beberapa kali, akhirnya dia tertidur. Keesokan paginya, ia dibangunkan oleh suara hujan, membuka matanya dan cuaca di luar gelap, awan hitam memenuhi langit dan pohon-pohon menggigil dalam hujan lebat. Ia bangkit, mengenakan mantel dan berdiri di balkon, merentangkan telapak tangan untuk merasakan hujan yang dingin. Tahu akan begini, ia seharusnya memesan tiket untuk besok. Bukankah dengan cuaca ini lebih menyedihkan untuk pergi?

Tangannya yang basah digosokkan ke dalam pakaian, dan mengepaknya. Ia berpamitan pada Ke Junjie yang masih berbaring di tempat tidur, lalu menyeret koper menuruni tangga. Sulit untuk sepenuhnya menghindari hujan yang tertiup angin. Celana dan sepatunya cepat basah. Dia tiba dilantai bawah apartemen Shi Xi untuk mengucapkan selamat tinggal, tetapi dia tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Pada saat ini, Shi Xi membawa tasnya dan berdiri di pintu keluar apartemen. Dia meletakkan tangan disaku celananya, Guo Zhi mengeratkan pegangannya saat Shi Xi menatapnya. Taksi berhenti di depan, ia memasukkan kopernya di bagasi mobil.

“Aku pergi.”

“Hm.”

“Selamat tinggal, Shi Xi!” Dia mengangguk gugup saat dia bergegas, dan naik taksi. Mobil mulai melaju perlahan, ia tidak bisa menoleh ke belakang, dan tidak bisa menahan perasaan sedihnya.

Ketika taksi tiba di stasiun, Guo Zhi memegang tiket yang sudah dipesankan Shi Xi sebelumnya. Dia melewati kerumunan, melewati gerbang tiket yang ramai, dan berjalan ke gerbong. Moodnya yang kosong seketika menguar, rahangnya jatuh kebawah, tidak bisa mengerti apa yang ada di depannya. Gambaran ini, Shi Xi bersandar ke jendela, sedang membaca.

“Kau, kau, kenapa kau di sini?”

“Aku tidak mengatakannya, keluargaku pindah beberapa waktu yang lalu,” Shi Xi berkata dengan tenang, matanya tetap tertuju pada buku.

“Sama sekali tidak mengatakannya! Dan kenapa kau tidak memberitahuku ketika aku di bawah di apartemen?!”

Shi Xi mengangkat bahu, “Aku lihat kau sangat tenggelam dalam dunia batinmu, jadi lebih baik tidak mengganggu.”

“Kau tidak hanya membuang-buang uang taksi! Tetapi juga menyia-nyiakan adegan yang sangat romantis, dan itu benar-benar membuang-buang perasaanku!” Teriak Guo Zhi lalu duduk disebelah Shi Xi dan dengan sengaja meremas ke sisinya, tetapi apa yang menggantung di mulutnya itu seolah-seolah sedang tersenyum.

“Kau pindah kesini, berarti kita bisa melakukan hal ini dan itu bersama dalam liburan musim dingin kan?” Guo Zhi sudah menyusun rencana dipikirannya. Shi Xi membalik halaman, “Jika maksudmu hal ini dan itu tidak terjadi di tempat tidur, aku tidak tertarik mendengarkan.”

“Ya, Tidak, Tidak, Ya. Kurasa…” Dia baru saja akan membuat rencana, Shi Xi memotongnya, “Diam, aku sedang membaca.”

“Kalau begitu aku akan mengatakan sesuatu tentang tempat tidur.”

“Katakan!”

“Shi Xi, kau! Kau!” Guo Zhi tidak dapat menemukan kalimat untuk mengumpat.
.
.

Setelah kereta melaju beberapa waktu, Guo Zhi memperhatikan buku Shi Xi yang memiliki banyak bekas lipatan disudut halaman, dia berkata, “Shi Xi, aku akan membantumu membuat pembatas. Kau tidak perlu melipat buku itu ke dalamnya nanti.” ia menemukan selembar kertas yang sedikit lebih tebal didalam tas kemudian melipatnya menjadi persegi panjang, ambil pena, dan menggambar dengan hati-hati. Setelah beberapa saat, ia dengan bangga berkata, “Selesai, ini aku, itu kau.” Dia menunjukkan karya besarnya.

Shi Xi juga mengambil pena dan menambahkan beberapa coretan pada lukisannya, “Ini lebih seperti dirimu.”

“Apa itu! Kau menjelekkanku!” Dia berkata dengan keyakinan lalu menghapus coretan Shi Xi, tetapi hasilnya membuat gambar wajahnya semakin lucu. Dia menyerah dan menjatuhkan pena di ruang kosong pembatas buku, “Tulis kata ‘Sayang’ lagi.” Shi Xi memegang pergelangan tangannya, “Jangan lakukan sesuatu yang ekstra.”

“Aku ingin melakukannya!” Bahkan jika ditekan, ia masih menulis kata itu dengan penuh ketekunan. Dia melihat pembatas dan menghela nafas, “Oh, aku mengagumi bakatku.”

“Kau bisa membuangnya ke tempat sampah.”

“Tidak!” Dia meletakkan pembatas di buku Shi Xi, dan terus mengagumi, “Jangan berpikir ini adalah kertas biasa.”

“Ini selembar kertas.”

Guo Zhi mengayunkan jari-jarinya, tekankan lagi, “Ini adalah kertas, tetapi bukan kertas biasa.”

“Ini selembar kertas sampah yang tidak berguna.”

“Apa yang tidak berguna, ini adalah hadiah hatiku, jimat yang diberikan padamu.” Ketika mendengar kata-katanya, Shi Xi menatapnya jijik. “Kau akan menghemat uang.”

“Jangan merusak pikiranku, dia akan memberkatimu, menghilangkan ketidakbahagiaanmu dan memberimu keberanian.”

“Kenapa kau tidak menjadi dewa untuk menipu uang.”

“Kau tidak bisa menerima hatiku dengan serius, bahkan sekali, tetapi aku sangat menyukaimu,” Guo Zhi mengerahkan wajahnya.

Ada tatapan tajam di sisi yang berlawanan, Guo Zhi seketika kaku dan hampir melupakan realitas seperti apa yang dia jalani. Dia mengepalkan tangannya dan hanya ingin mengambil keberanian untuk melihat sisi yang berlawanan, namun Shi Xi menggunakan pembatas buku seketika menutupi matanya, dia mencondongkan tubuh lebih dekat, jarak bibir Shi Xi dan matanya dipisahkan oleh pembatas buku.

“Kau tidak melihat apapun.”

Guo Zhi melonggarkan cengkeramannya, ia memejamkan matanya dan merasakan keheningan dan relaksasi dari pori-porinya. Suara Shi Xi seperti nada hangat, dan napas Shi Xi seperti angin segar. Lupakan saja untuk sementara waktu, jenis kelamin, kenyataan, orang lain, orang tua, tenggelam dalam masa kini. Dia menjepit pembatas di tangannya dan bersandar di sandaran kursi, merasa mengantuk dan dengan lembut jatuh di bahu Shi Xi.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments