9. Hobi singkat Shi Xi

Ketika mereka keluar dari klinik, mereka melihat pria lumpuh tadi sedang selfie menggunakan Iphone di restoran seberang jalan. Shi Xi memperhatikan perubahan wajah Guo Zhi. Sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat.

Wajah Guo Zhi berubah suram hanya dua detik, mungkin kurang dari itu. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke pemandangan sekitar, "Gigiku sudah tidak sakit lagi, baguslah." ujarnya. Sebenarnya Guo Zhi adalah bahan yang bagus untuk inspirasi fiksinya, tetapi Shi Xi tidak ingin menulis tentangnya. Ditanya mengapa, mungkin suatu saat nanti Shi Xi akan menemukan jawabannya.

"Oh ya, Kampus. Bagaimana pertimbanganmu?"

"Tidak banyak."

Keduanya berjalan bersisian. Guo Zhi tepat dipinggir jalan, banyak kendaraan yang lewat namun mata Guo Zhi hanya fokus pada Shi Xi. "Perhatikan mobil yang lewat, jangan melihatku."

"Kenapa harus melihat mobil? Pengemudinya tidak akan menabrakku." sahut Guo Zho dengan polos

Shi Xi rasanya ingin menekan wajah bodoh Guo Zhi dibawah ban. Ia menarik Guo Zhi dengan kasar dan berganti posisi. Kini Shi Xi yang berada dipinggir jalan.

Ini hanya gerakan kecil. Di depan mereka seorang pria tiba-tiba memegang bunga, satu kaki berlutut di tanah, untuk melamar pacarnya. Mereka berdua menangis, saling berpelukan. Namun, batinnya tidak mampu memberi pengaruh lebih besar pada adegan itu. Meskipun cinta dari pasangan itu sangat mengesankan, ia hanya tenggelam dalam gerakan kecil ini.

/Gerakan kecil yang dimaksud, Shi Xi ganti posisi sama Guo Zhi berjalan dipinggir jalan biar Guo Zhi ga ketabrak/

.
.

Setelah mengenal Shi Xi selama lebih dari sebulan, Guo Zhi menemukan bahwa Shi Xi selalu menggunakan ponselnya untuk menonton anime dari kelas pagi hingga kelas malam, menonton tanpa henti. Di masa lalu Guo Zhi berpikir bahwa Shi Xi hanya suka membaca buku, Guo Zhi takjub pada hobi humanistik anime. Tetapi kejutan ini tidak berlangsung lama, beberapa hari kemudian, Shi Xi sedang melihat lembaran musik; Guo Zhi terlambat untuk memuji, Shi Xi sudah menyisihkan lembaran musik, dan pergi ke lapangan basket bahkan terus bermain basket beberapa hari, maka hobinya adalah games.

Dia menaruh minat terhadap sesuatu dengan sangat cepat, dan kemudian dia akan cepat bosan dan meninggalkannya.

Bisa dibilang, sisi baiknya yaitu minat yang banyak, sisi buruknya yaitu tipe yang tidak sabar.

Memakan waktu sebulan untuk Guo Zhi memastikan ini dan akhirnya ia mengerti.

Shi Xi punya banyak hobi namun hobi itu tidak berlangsung lama.

Dia tidak bisa memiliki perasaan yang bertahan lama untuk banyak hal.

Guo Zhi merasa sedikit cemas, mungkin tidak sedikit. Ia duduk dibangkunya dibaris paling belakang. Membalik lembaran bukunya namun ia tak tenang. Shi Xi melewati kelasnya dan terlihat melalui pintu belakang. Guo Zhi tiba-tiba mengeluarkan tangannya dan menarik ujung baju Shi Xi.

Shi Xi melihat kebawah pada tangan itu dan terus melangkah, Guo Zhi memegangnya dengan kuat dan akhirnya ia jatuh dari bangku. Tubuh bagian atasnya berada diluar kelas, masih memegang ujung baju Shi Xi.

Guo Zhi mendongak, "Shi Xi, aku tidak ingin menjadi hobimu."

Mendengar kalimat yang membingungkan membuat Shi Xi mengerut alis indahnya, "Apa yang kau katakan?"

"Bukan apa-apa. Aku juga tak tahu apa yang aku katakan."

"Kalau begitu berdiri."

Guo Zhi berdiri dengan patuh, ia menatap Shi Xi, ekspresinya buruk. "Apa ada caranya? Membuat kesenanganmu lebih lama, 4 menit, 5 menit, satu jam, satu hari, satu tahun, seumur hidup." Setelah mendengar perkataannya sendiri, Guo Zhi terkekeh miris lalu kembali ke dalam kelas.

.
.

Kegemaran Shi Xi terlalu singkat, dan jika Guo Zhi termasuk dalam kesukaannya suatu saat nanti, itu juga akan singkat. Ini adalah sumber kecemasan Guo Zhi, tetapi ia sendiri tidak tahu. Ia mengalami kegelisahan dan gangguan tiba-tiba dalam pikirannya, dengan kasar ia mengusak kepalanya, rambutnya digosok menjadi berantakan, dan mendongak, mengagetkan Wang Linlin, "Apa yang kau lakukan?"

"Bukan apa-apa, hhh~"

Melihat Guo Zhi mendesah pelan, Wang Linlin ketakutan dan memeluk lengannya, "Kau kenapa? Jangan menakutiku!"

"Tidak apa-apa, hhh~"

"Lalu kenapa kau mendesah?" /sighing gitu/

"Aku mendesah? Aku merasa baik-baik saja, hhh~"

Wang Linlin mendengus, dan suara yang dilebih-lebihkannya menjadi tajam, "Manusia akan binasa!

Guo Zhi memutar matanya. Tidak menanggapi Wang Linlin, ia lanjut membaca. Kalimat yang dibaca tidak meresap dalam otaknya. Bagaimana bisa terjadi? Sumpah apa yang diberikan Shi Xi pada pikirannya! Ia mengusak kepalanya lagi, tidak bisa terhapus. Rasa tidak mengenakkan ini tak bisa terhapus. Ia merebahkan kepalanya keatas meja.

Hua Guyu menghampirinya untuk menyalin jawaban soal review. Karena mereka berdua tipe yang tidak-pedulian, mereka bisa akrab dalam waktu singkat.

"Guo Zhi, berikan aku jawaban soal review."

Guo Zhi mendongak lalu meraba lacinya dan menyerahkan lembar itu pada Hua Guyu. Melihat ekspresi Guo Zhi, mata indah Hua Guyu melebar, ia melirik sekitar dengan waspada, "Kau, Apa kau, apa terjadi sesuatu?"

"Kau sangat aneh hari ini, Hua Guyu, hhh~" Guo Zhi merebahkan kepalanya lagi.

Bahkan ia tidak memanggil Hua er. Hua Guyu memperhatikan Guo Zhi, dan kemudian melihat lembar soal review ditangannya. Ia mengangkat bahu, "Membantumu satu kali, dan balasannya nanti."

"Kau bicara bahasa dari mana itu? Aku tidak mengerti." Kata Guo Zhi, masih merebahkan kepalanya.

Hua Guyu tidak menjawabnya. Ia pergi ke kelas sebelah. Shi Xi berdiri dikoridor, melihat sekitarnya dengan acuh. Hua Guyu perlahan berdiri disampingnya. "Aku tidak akan mengakui kau lebih tampan dariku. Aku masih membencimu!" Kata Hua Guyu sengit.

"Aku tidak punya pendapat." ujar Shi Xi dingin.

Hua Guyu memegang tangannya, "Saat ini tingkah Guo Zhi tidak biasa. Apa yang sudah kau lakukan? Sebentar lagi ujian masuk universitas, jika ini terus berlanjut, ia akan dalam bahaya."

"Bukan urusanku?!"

"Kenapa bukan urusanmu?" Hua Guyu menaikkan suaranya dan menyita perhatian murid disekitar. Ia memulihkan keadaannya yang normal sebagai pangeran. Ketika tak ada lagi yang memperhatikan, ia menoleh dan menatap Shi Xi. Wajah Hua Guyu tampak tenang dan alami, "Tentu saja itu urusanmu. Bukankah Guo Zhi menyukaimu?"

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments