9. Hari yang sial perjalanan ke Xi'an

Saat ini sudah bulan Juni. Pada hari ketika Li Xiang berangkat, suhu permukaan adalah 30 derajat. Tahun ini akan menjadi musim panas yang luar biasa panas.  Li Xiang tiba di bandara mengenakan kaus katun sederhana, celana jins robek, dan tas travel kecil. Ada perlengkapan mandi sederhana, beberapa pakaian ganti, payung, kamera, dan dompet. Prakiraan cuaca mengatakan bahwa suhu di Xi'an adalah 24 derajat, yang membuat Li Xiang merasa kaget dan akhirnya bisa merasakan angin dingin, jadi dia juga membawa jaket tipis.

Penerbangan pagi agak buruk karena naik transportasi darat atau kereta bawah tanah ke bandara dalam jam sibuk. Li Xiang tersiksa di kereta bawah tanah, kaki kirinya diinjak tiga kali, kaki kanannya dua kali, salah satunya sepatu hak tinggi, dan itu membuatnya meringis kesakitan.

Tetapi ini tidak memengaruhi suasana hatinya yang baik, karena orang yang menginjaknya akan bekerja, dan dia bepergian.

Ketika tiba di terminal, waktu boarding masih 20 menit. Bandara itu penuh dengan orang, ada yang membaca koran, ada yang tidur, ada yang mengobrol dengan gembira, ada yang bergegas untuk mengejar pesawat, ada yang lelah dan menyeret koper mereka, baru saja mengakhiri perjalanan.

Li Xiang segera menemukan sosok Xu Kai. Dia mengenakan kemeja kasual abu-abu, menggulung lengan bajunya, duduk di ujung deretan kursi istirahat, dengan laptop di kakinya dan sebuah koper kecil dengan jas digantung disana. Xu Kai sudah melihatnya lebih dulu.

Li Xiang berjalan cepat, duduk di sebelahnya, dan menyapanya dengan sopan. "Halo bos, sudah mau naik pesawat, masih bekerja."

Xu Kai memberinya tatapan samar dan berkata, um, lalu terus menunduk dan menekan keyboard laptop. Jari-jarinya sangat indah, dan itu membuat suara renyah ketika menekan keyboard. Li Xiang berpikir bahwa tampilan ini sangat harmonis. Tidak ingin mengganggu, dia melihat ke ponsel dan mengecek jadwal keberangkatan.

Tidak lama kemudian, penumpang kelas satu boarding terlebih dahulu. Xu Kai mulai mematikan laptop untuk mengepak kopernya. Li Xiang berkata. "Bos, kau pergi duluan, semoga pertemuanmu lancar." lalu menyentuh hidungnya dan berkata, "Aku bepergian, hehe."

Xu Kai menjawab dengan samar, "Aku tahu." lalu berdiri dan berjalan ke boarding pass.

Kata-kata Xu Kai terlalu sedikit. Hati Li Xiang mulai bergumam: Meskipun kau adalah bos dan berbicara padamu itu sangat menegangkan, tetapi ketika aku menyapa, bagaimana kau hanya bilang "Um", "Aku tahu" ... Aku merasa sedikit sedih, hanya sedikit.

Tidak butuh waktu lama bagi Li Xiang untuk mulai naik. Tanpa diduga, setidaknya separuh dari orang-orang itu sedang dalam perjalanan bisnis. Mereka mengenakan jas atau kemeja ketat, mengikat dasi mereka, dan membawa koper persegi. Li Xiang membawa ransel dan jelas memiliki rasa superioritas.

Di pesawat, pramugari cantik memimpin jalan untuknya. Dan menemukan tempat duduknya di dekat jendela. Dia duduk dengan bahagia, menarik baffle jendela, dan melihat sayap besar, mengecewakan.

Tapi dia sudah memperkirakannya, tiket diskon ...

Li ingin mengambil kembali garis pandang, menyesuaikan posisi duduk, dan kemudian mulai penasaran, dan kemudian mulai bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Xu Kai sekarang. Mungkin sedang duduk dengan elegan. Tidak, dia kelas satu dan pastinya sedang berbaring dengan sangat anggun.

Penumpang di kursi sebelah Li Xiang juga datang ke kursi. Mereka adalah seorang ibu dan anak laki-laki, ibunya sudah paruh baya, putranya hampir sebesar dirinya, mengenakan celana pendek T-shirt, juga membawa perlengkapan wisata. Pria itu mengatakan pada Li Xiang bahwa dia sedang berlibur dan membawa ibunya ke Xi'an untuk jalan-jalan. Ayahnya ingin meminum anggur dengan tetangga  sehingga dia tidak mau pergi.

Li Xiang berkata, "Kau benar-benar berbakti."

Sang ibu menjawab. "Dia memang berbakti."

Sang putra merespon, "Ah, tidak.." Tetapi dia tersenyum sangat bahagia.

Suara pramugari terdengar meminta para penumpang mematikan ponsel, komputer, dan peralatan elektronik lainnya, dan menyesuaikan tempat duduk, menutup baffle jendela, dan mengencangkan sabuk pengaman. Li Xiang menyentuh ponsel dan melihat WeChat dari Xu Kai. "Selamat bersenang-senang." Tanpa tanda baca, hanya ada empat kata. Li Xiang bermeditasi menggunakan pernyataan itu, lalu tersenyum dan mematikan ponsel.

Ketika pesawat akan lepas landas, pramugari mendatangi Li Xiang dan berkata dengan suara manis, "Apa anda Tuan Li Xiang? Tuan Xu di kelas satu memberi anda sesuatu."

Li Xiang melihat bahwa pramugari itu memegang buku tebal, dan hatinya diam-diam mengeluh. Ini seperti yang dibilang Vivian. Apa dia benar-benar harus bekerja lembur di pesawat?

"Terima kasih." Li Xiang mengambil itu dari tangan pramugari, dan matanya melebar, lalu menghela napas lega. Itu ternyata majalah perjalanan.

Ibu di samping bertanya padanya, "Siapa Tuan Xu, bagaimana dia mengirimimu buku?"

Li Xiang berkata, "Dia adalah bosku. Dia pergi ke Xi'an untuk rapat dan kebetulan terbang bersamaku."

"Oh kebetulan, bosmu tampaknya baik, berapa usianya, apa dia sudah ada pasangan? Aku punya keponakan yang sangat baik ..."

Li Xiang menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu." Kemudian dia merelaksasikan diri dan mengalihkan topik pembicaraan. Mengapa bibi tidak bertanya padaku apakah aku punya pacar atau tidak? Li Xiang frustrasi.

Li Xiang membuka majalah, di halaman katalog ada kertas catatan tulis tangan Xu Kai yang terlihat bagus.

[ Kau bisa melihatnya disaat bosan, tidak perlu kembalikan. Pakai sabuk pengaman! ]

Lalu dibawahnya ada satu pack permen karet yang direkatkan dengan lem isolasi.

Li Xiang memeriksa sabuk pengaman, lalu mengeluarkan permen karet dan memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya. Ini adalah rasa lemon kesukaannya, sangat manis. Pada saat ini, pesawat lepas landas.

Tiga jam di pesawat, Li Xiang membaca majalah hampir sepanjang waktu, dan mengobrol dengan ibu dan putranya di samping, dan tidur siang. Diperkirakan tidurnya benar-benar buruk. Ketika dia bangun, dia mendapati bahwa ekspresi ibu dan anak itu tidak wajar.

Pesawat mendarat dengan selamat.

Ketika turun dari pesawat, Li Xiang membawa ranselnya dan bergegas keluar.  Di sudut koridor bandara, dia melihat Xu Kai dengan kopernya. Xu Kai bersandar di dinding dan menunggunya.

"Ayo, kau mau kemana? Aku akan menyuruh sopir mengirimmu," kata Xu Kai padanya.

Li Xiang menggelengkan kepalanya, "Bos akan terlambat ke pertemuan, jangan khawatir tentangku. Aku hanya ingin pergi dan bermain."

"Tidak masalah."

“Sungguh, aku akan pergi ke tempat yang tidak tentu. Bos pergi saja ke pertemuan!” Li Xiang melambaikan tangannya pada Xu Kai, melangkah maju dan pergi.

Xu Kai menatap punggungnya hingga menghilang sepenuhnya sebelum dia pergi menyeret kopernya.

Li Xiang pergi ke meja layanan dan membeli tiket untuk bus bandara. Biayanya 20 yuan dan dapat dikirim ke stasiun tidak jauh dari hotelnya. Pergi ke stasiun bus, tidak ada bus, dia melihat arloji, 11:20, jam berapa bus berikutnya? Tidak menemukan papan nama ... Dia kembali ke meja layanan untuk bertanya, bibi meja layanan tidak dalam mood yang baik, "Bus akan datang pada jam 12."

Li Xiang berpikir sejenak, "Apakah bus bandara datang pada jam 12, atau akan berangkat pada jam 12?"

"Berangkat!"

"Apa aku masih bisa mengembalikan tiket?"

Bibi layanan melotot padanya, "Ya, kembalikan saja tiketnya!"

Hei, jika tahu lebih awal, aku sebaiknya naik mobil bos.

Jadi Li Xiang berdiri di jalan khusus dan menunggu sekitar tujuh atau delapan orang sebelum dia naik taksi.

“Tuan, bagaimana bisa kau tidak menyalakan meter tarif?” Li Xiang bertanya pada pria paruh baya yang mengemudi.

"Taxi bandara tidak pernah menggunakan meter tarif. Mau kemana?"

"XX hotel."

"160 yuan!"

"Bisakah lebih murah?"

"Tidak, aku tidak bisa menghasilkan uang."

"140, ok?"

"Ok."

"..."

Yah, aku seharusnya berada di mobil bos.

Ketika Li Xiang keluar dari taksi, dia tidak tahu di mana dia berada. Dia tidak melihat hotel yang dia cari. Belum sempat bertanya kepada supir pengemudi, mobil sudah pergi, hanya menyisakan asap knalpot.

Hey, jika tahu lebih awal, aku sebaiknya naik mobil bos.

Sambil memegang peta, dia bertanya kepada orang yang lalu lalang dan juga supir namun tidak terlalu bisa diandalkan.

Dia harus berjalan kaki sepuluh menit untuk sampai di hotel. Berjalan beberapa saat, dia merasa terlalu panas, keringatnya terus merembes didahi, apanya yang 24 derajat! Li Xiang meresfreh kembali ramalan cuaca ponsel, masih 24 derajat Celcius. Dia tidak tahan untuk mengumpat!

Hey, jika tahu lebih awal, aku sebaiknya naik mobil bos.

Setelah sekitar 15 menit, Li Xiang akhirnya tiba di hotel yang telah dipesannya, Sanxing kecil. Kemudian dia siap untuk mengeluarkan dokumen dan check in, dia terkejut menemukan bahwa ranselnya terbuka ... Cepat untuk menemukan sofa untuk duduk dan memeriksa bagian dalam dan luar tas. Untungnya, kecuali dompetnya, tidak ada yang lain ... dompetnya hilang ... Sial!

Jika dia tahu lebih awal, dia akan sarapan pancake buah di depan komunitasnya. Setidaknya makan McDonald's, atau tambahkan 10 telur ke buah pancake!

Tidak, jika tahu lebih awal, aku sebaiknya naik mobil bos.

Untungnya, ponsel ada di tangan, kartu ID ada di saku celana, jika tidak Li Xiang akan jadi gembel di Xi'an.

Li Xiang lebih dulu menelepon bank, membekukan semua kartunya, dan kemudian pergi ke meja depan untuk berkonsultasi. Dia memberi tahu meja depan hotel tentang fakta bahwa dia kehilangan dompetnya dan bertanya apakah dia bisa tinggal lebih dulu.

Meja depan hotel adalah seorang gadis yang sangat cantik dengan lesung pipi yang dangkal.  Dia tersenyum dan berkata, "Kami memahami situasi Anda saat ini, Tuan Li, tetapi Anda belum membayar biaya untuk janji temu online Anda. Anda tidak memiliki cukup pra-otorisasi. Jadi saya minta maaf Anda tidak bisa tinggal. Tapi kami akan zimpan reservasi kamar Anda sampai jam 6 sore hari ini, tepat sebelum Anda membayar kamar."

Li Xian tersenyum miris mengetahui tidak ada kesempatan.

Bagaimana dia bisa sangat sial ...

Masih ada dua puluh yuan di saku, tidak ada kartu bank di tangan, bahkan jika seseorang bersedia mengiriminya uang, tidak ada tempat untuk menerimanya. Apa yang bisa dia lakukan?

Dia kemudian melihat majalah perjalanan di tas - hebat! Bosnya juga di Xi'an, dan bosnya sangat kaya.

Sudah lewat setengah jam, dan bos sudah ada di pertemuan. Sepertinya dia tidak bisa diganggu. Perutnya menjerit, dan Li Xiang meninggalkan hotel. Dia membeli semangkuk kulit dingin polos seharga lima yuan, dan hanya 15 yuan yang tersisa disakunya.

Dia menelepon Vivian dan bertanya jadwal Xu Kai. Pertemuan berakhir pada pukul 4:30. Li Xiang pergi ke alamat rapat, itu adalah hotel bintang lima, kemudian memeriksa rute dengan ponsel, naik dua bus dan berjalan selama 10 menit, dan sampai. Dia melihat arloji, masih tiga jam lagi, dan uangnya tersisa 12 yuan. Tidak ada uang untuk bisa pergi ke mana pun, jadi Li Xiang duduk di jalan setapak di seberang hotel, tidak terlalu kotor, menunggu Xu Kai untuk menyelesaikan pertemuan, dan kemudian dia dapat meminjam uang.

Sekitar pukul 4.30, Li Xiang ingin menelepon Xu Kai namun dia lebih dulu menerima pesan dari Xu Kai.

[ Kau dimana? ]

[ Bos, aku mencarimu, dompetku dicuri. ]

Pihak lain segera menelepon, dan suara itu tidak sedingin biasanya. Dengan sedikit kecemasan, "Apa yang terjadi? Kau dimana sekarang?"

Li Xiang terbatuk dan berkata, "Sebenarnya, aku diluar hotel. Aku tidak beruntung hari ini ..."

Xu Kai langsung menyela di ujung telepon, "Aku melihatmu, tunggu aku."

Aku melihatmu, kalimat ini ... Tampaknya Xu Kai dapat dengan mudah menemukan dirinya di kerumunan.

Li Xiang melihat ke atas, hotel itu tidak tahu berapa banyak lantai, sangat tinggi. Dia ingat Vivian berkata bahwa Xu Kai ada di lantai 12.

Kemudian, Li Xiang melihat Xu Kai sekilas diantara kerumunan dan lalu lalang mobil yang lewat. Dia mengangkat ponselnya dan melambaikannya Xu Kai, mengungkapkan senyum.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments