89. Tidak, aku menolak

Gu Yu tidak tinggal di rumah Shen Teng untuk waktu yang lama, setelah hampir menjelang siang hari, dia pamit pulang. Tak lama, Jiang Zhenshan dan Jin Shilong juga pamit pulang.

Setelah mereka pergi, Shen Teng masih di ruang komputer dan menatap bodoh pada game yang tidak pernah bisa diselesaikan.

Setelah kembali ke rumah, Gu Yu makan siang dan kemudian tidur siang.

Bangun di sore hari, Gu Yu menemani ayahnya untuk menonton TV di ruang tamu.

Setelah menonton TV, tiba untuk makan malam di malam hari.

Setelah makan malam, hari itu berlalu.

Kemudian, hari berikutnya, tiba saatnya untuk mulai sekolah secara resmi.
.
.

Meskipun ini adalah semester baru, itu tidak berbeda dari semester awal.

Waktu jam kelas sama, teman sekelas tetap orang-orang itu, dan guru tidak berubah.

Mungkin, satu-satunya perbedaan adalah ada tugas rumah pada paruh kedua semester ini.

Gu Yu masuk ke kelas, tetapi pantatnya masih belum duduk di kursi, Shen Teng yang duduk di depan, menatapnya dengan putus asa.

Gu Yu mengamatinya sejenak, lalu bertanya, "Kau belum selesaikan PR liburan musim dingin?"

Mendengar itu, Shen Teng langsung mengungkapkan ekspresi wajah menangis semacam Xiao Yu Yu memang paling memahamiku.

Gu Yu, "..."

Dia bertanya lagi. "Saat kami pergi ke rumahmu kemarin, kenapa kau tidak mengatakan itu?"

Shen Teng menyengir, "Aku sangat bahagia kemarin sampai lupa ..."

Gu Yu, "..."

Dia kemudian menyerahkan PR liburan musim dinginnya.

Shen Teng dengan cepat mengambil dan berkata. "Terima kasih, dalao!"
.
.

Setelah tiga puluh menit, bel kelas berdering.

Bagian pertama adalah kelas bahasa.

Itu adalah kelas guru kelas.

Bel berbunyi dan guru kelas datang ke kelas dengan buku teks baru untuk paruh kedua semester dan berdiri di podium.

Para siswa yang hadir terutama yang belum menyelesaikan PR seperti Shen Teng berpikir mereka akan belajar materi baru lebih dulu. Sedangkan untuk pekerjaan rumah, mungkin akan dikumpulkan setelah kelas.

Jika begitu, maka Shen Teng juga dapat mengejar ketinggalan dengan liburan musim dingin selama kelas berlangsung.

Namun, di bawah tatapan muram Shen Teng, guru kelas berkata. "Masing-masing ketua tim cepat kumpulkan PR liburan musim dingin."

Empat ketua tim merespon dengan suara, lalu berdiri dan mulai mengambil pekerjaan rumah.

Setelah melihat ini, beberapa siswa lelaki mengangkat tangan mereka dan berkata:

"Guru, aku lupa membawanya!"

"Guru, PR-ku tidak ada!"

"Guru, pekerjaan rumah liburan musim dinginku tidak tahu hilang dimana!"

"Guru ..."

Mungkin sudah diperkirakan, guru kelas tidak terkejut.

Dia tampak tenang dan mengeluarkan ponselnya, lalu melanjutkan dengan berkata, "Ya, maka aku akan bertanya pada orangtua kalian. Lihat apakah itu tidak dikerjakan, atau benar-benar lupa."

Mereka seketika diam dalam sekejap.

Akhirnya ...

Mereka yang tidak menulis dan tidak menyelesaikan tugas liburan musim dingin diundang ke kantor guru, dan kemudian diberi teguran.
.
.

Sama seperti guru kelas, hal yang sama berlaku untuk guru di kelas lain.

Dalam pelajaran kedua, hal pertama yang dilakukan guru geografi setelah memasuki ruang kelas dengan buku teks baru adalah tidak menerangkan materi, tetapi meminta para ketua tim mengambil alih liburan musim dingin.

Setelah itu, guru geografi mulai membagikan buku teks baru.

Jelas, di mata guru, dibandingkan dengan buku pelajaran baru, PR liburan musim dingin lebih penting.
.
.

Setelah empat puluh menit...

Pelajaran ketiga adalah pelajaran sejarah.

Seperti dalam dua pelajaran pertama, hal pertama yang dilakukan guru sejarah setelah ia tiba di kelas adalah meminta ketua tim dari empat kelompok mengambil pekerjaan rumah.

Pergerakan keempat ketua tim sangat cepat, setelah beberapa saat, semua pekerjaan rumah dikumpulkan.

Setelah pengumpulan, keempat ketua tim menumpuk tugas liburan musim dingin di atas meja Gu Yu yang merupakan perwakilan dari kelas sejarah.

Guru sejarah di podium memandang ke arah Gu Yu dan berkata. "Pindahkan pekerjaan rumah liburan musim dingin itu ke mejaku."

Gu Yu dengan patuh berdiri dan pergi ke ruang guru yang berada dilantai dua.

Gu Yu mengambil karya sejarah besar dan pergi ke luar kantor di lantai dua, lalu meneriakkan lapor dengan keras.

Di dalam kantor, guru kelas E yang sedang menegur beberapa siswa yang tidak menulis tugas liburan musim dingin sedikit tertegun ketika mendengar suara Gu Yu, lalu berkata masuk.

Gu Yu pun masuk dan berjalan menuju meja guru sejarah.

Ada guru kelas lain juga memberi teguran pada siswa mereka yang belum menulis pekerjaan rumah.

Dan gaya teguran setiap guru berbeda, seperti guru kelas dari kelas E, suka untuk memberi teguran ada inti masalah. Guru kelas C tidak menegur dengan masuk akal dan hanya merutuk marah. Sedangkan untuk guru kelas dari Kelas A, itu lebih sederhana dan lebih kasar. Mengundang orang tua dan memberi teguran langsung pada orangtua yang tidak becus mengawasi anak.

Juga karena gaya teguran yang berbeda, pemandangan saat ini ... sangat mengasyikkan.

Namun, yang mengejutkan Gu Yu adalah bahwa hasil siswa di kelas A sangat baik, semuanya berprestasi, tetapi masih ada yang tidak menulis pekerjaan rumah.

Ini membuatnya sangat terkejut.

Tepat ketika memikirkan hal ini, sesosok jangkung tiba-tiba berdiri di depannya.

Belum sempat melihat siapa pihak lain itu, tumpukan tugas sejarah di tangannya diambil alih oleh pihak lain dan diletakkan dimeja guru sejarah.

Gu Yu tertegun lalu mendongak.

Wajah dingin Bo Shangyuan yang akrab langsung menarik perhatiannya.

Gu Yu tidak bisa menahan diri tetapi melihatnya lagi.

Melihat Bo Shangyuan, reaksi pertama Gu Yu adalah berpikir dia juga seperti siswa lainnya diruangan ini.

Gu Yu sedikit terkejut. "Apa kau juga ..."

Bo Shangyuan langsung memotong. "Aku adalah wakil dari kelas sejarah kelas A."

Gu Yu terkejut lagi.

Karena Bo Shangyuan belum memberitahunya tentang hal ini.

Disisi lain, guru matematika Kelas B yang sedang memperbaiki tugas, terkejut. "Siswa, apa kalian berdua teman?"

Teman ...

Ketika mendengar kata itu, ekspresi Gu Yu tiba-tiba menjadi tidak wajar untuk sesaat.

Jika sebelumnya, dia tidak berpikir ada apa-apa dalam kata ini, tetapi sekarang sangat berbeda.

Dia tidak pernah mengerti sebelumnya, mengapa dia mengatakan bahwa dia tidak ingin berteman dengannya, tetapi dia masih memiliki alasan yang bagus untuknya. Tapi setelah Hari Valentine, dia akhirnya mengerti.

Gu Yu menjilat bibirnya dan dengan rasa bersalah bergumam mengiyakan.

Dia tidak begitu mengerti tentang perasaan bersalah ini.

Sedangkan Bo Shangyuan tidak berbicara.

Mendengar itu, guru matematika dari Kelas B tertawa senang. "Bagus, siswa yang baik harus bersama siswa yang baik."

... Bersama.

Meskipun Gu Yu tahu bahwa guru itu tidak memikirkan apa yang dia pikirkan dalam benaknya, setelah mendengar kata itu, dia masih tidak bisa menahan diri untuk merona merah.

Namun, Bo Shangyuan yang tadi diam, setelah mendengar kalimat ini segera berkata. "Ya, guru benar."

Gu Yu, "..."

Karena saat ini masih jam kelas, Gu Yu tidak membuang waktu. Dia mendongak pada jam dinding dan berkata pada guru matematika di kelas B. "... Guru, aku harus kembali ke kelas."

Pihak lain melambai dan berkata, "Ya, pergilah."

Gu Yu membisikkan selamat tinggal kepada guru dan berbalik dan meninggalkan kantor.

Sedangkan Bo Shangyuan ... tentu juga ikut pergi.

Gu Yu berjalan menuju kelasnya, namun orang di belakangnya juga mengikuti langkah kakinya.

Gu Yu diam, bermaksud mengabaikannya, tetapi setelah berjalan sebentar dan melihat bahwa pihak lain masih mengikuti, jadi dia akhirnya tidak bisa menahan diri, dan berbalik.

Dia mengerutkan kening dan bertanya dengan tatapan bingung. "... Kau tidak kembali ke kelas?"

Bo Shangyuan tanpa ekspresi merespon. "Kau tebak."

Gu Yu, "..."

Dia bertanya lagi, "Ada perlu apa denganku?"

Bo Shangyuan tidak menjawab, hanya menggerakkan jarinya untuk meminta Gu Yu mendekat.

Gu Yu bingung dan melangkah maju.

Lalu ... dia dicium.

Ketika bibir dingin menyentuh bibirnya, Gu Yu seketika membeku dengan bodoh.

Dia mendongak, menatap Bo Shangyuan dengan bodoh.

Sementara Bo Shangyuan tampak tenang.

Setelah menciumnya, Bo Shangyuan berkata. "Pergilah."

Dia melangkah lebih dulu, meninggalkan Gu Yu sendiri berdiri diam, ekspresinya lamban.

Setelah waktu yang lama, Gu Yu terhenyak dan tiba-tiba memerah.

Dengan rasa malu dan jengkel, dia kembali ke kelas dan duduk dibangkunya.

Bo Shangyuan benar-benar melakukan itu di sekolah...

Suhu di wajah Gu menjadi semakin panas. Jiang Zhenshan yang melihat itu menjadi khawatir. "Gu Yu, wajahmu sangat merah ... tidak apa-apa?"

Gu Yu memegang wajahnya dan menggelengkan kepala, balas berbisik, "... tidak apa-apa."
.
.

Karena ulah Bo Shangyuan, Gu Yu tidak berkonsentrasi mendengarkan pelajaran.

Guru sejarah berdiri di podium dan berbicara dengan penuh semangat tentang isi buku teks baru. Namun, dalam benak Gu Yu penuh dengan pemikiran tentang ciuman tadi.

Meskipun dia tahu bengong dikelas tidak baik, dia tidak bisa mengendalikan diri.

Keadaan ini berlanjut hingga kelas keempat.

Pelajaran keempat adalah kelas matematika.

Di antara semua guru di kelas E mereka, guru matematika adalah yang paling mengerikan.

Selama kelas berlangsung, guru matematika menemukan bahwa Gu Yu berada dalam keadaan linglung.

Tetapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menulis pertanyaan di papan tulis, lalu memanggilnya di podium dan membiarkannya menjawabnya.

Gu Yu tidak mendengarkan kelas, jadi tentu saja dia tidak akan bisa menjawabnya.

Meskipun Bo Shangyuan biasa memberinya pelajaran tambahan, itu cukup efektif, dia juga memahami ide menyelesaikan masalah satu per satu, namun, jika dia tidak mendengarkan, dia yang mampu menguasai ide-ide masalah, tidak berguna.

Karena itu, setelah dipanggil oleh guru matematika, Gu Yu hanya memegang kapur, menempelkannya dipapan tulis dan tidak tahu bagaimana menjawab untuk waktu yang lama.

Karena ini adalah pertama kalinya dia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan, teman sekelas lainnya sangat terkejut.

Gu Yu selalu dipuji sebelumnya karena bisa menjawab soal dengan tepat. Selain itu, selain dua ujian bulanan sebelumnya, dia menjadi pertama pertama di kelas.

Dan, yang terpenting adalah ...

Topik di papan tulis itu tidak sulit, selama mendengarkan dengan seksama kelas, mereka bisa menulisnya.

Gu Yu hanya terdiam beberapa saat, kemudian perlahan menurunkan tangannya dan kemudian bergeser ke samping.

Guru matematika akhirnya maju. Dengan samar, bertanya. "Apa yang sedang kau pikirkan dari tadi?"

Gu Yu melihat ke bawah dan tidak mengatakan apa-apa.

Dia tidak bisa mengatakannya secara alami, dan dia tidak bisa mengatakannya.

Guru matematika mengambil kapur dari tangannya dan menulis proses dan jawaban di papan tulis.

Setelah menulis, dia berkata, "Salin dua puluh kali dan berikan padaku siang ini."

Gu Yu menggosok bibirnya, merespon. "... Baik."

Guru matematika kembali meletakkan kapur ke kotak kapur dan berkata, "Nilaimu di semester pertama baik, tetapi baru setengah semester, kau sudah puas diri. Sekolah baru dimulai, bengong dan tidak mendengar materi... Aku berani menjamin, jangan naik ke tingkat tiga, kau bahkan tidak akan bisa naik ke tingkat dua."

Gu Yu menundukkan kepalanya dan balas berbisik. "Aku minta maaf untuk guru ... aku tidak akan melakukan lagi."

Ekspresi Guru matematika sedikit melembut.

Dia berkata dengan lemah, "Kembali duduk dan dengarkan baik-baik."

Gu Yu dengan patuh kembali ke bangkunya.

Guru matematika yang berdiri di podium menyapu kerumunan.

Para siswa diam.

Gu Yu duduk dalam posisi yang baik dan tidak berani memikirkan hal lain.
.
.

Bel berbunyi, pelajaran keempat berakhir.

Pada siang hari, Gu Yu secara alami akan pulang bersama Bo Shangyuan.

Karena dia harus menyalin pertanyaan dan proses pemecahan masalah dua puluh kali, dia kembali dengan buku tugas dan buku teksnya.

Di bus, Gu Yu menatap tangan Bo Shangyuan yang kosong dan tidak bisa menahan perasaan tidak senang.

"... Aku tadi ditegur guru."

Bo Shangyuan mengangkat alisnya, sedikit terkejut.

Karena dalam kesannya, guru kelas E sepertinya selalu memuji, mengatakan bahwa Gu Yu sangat baik dan termotivasi.

"Teguran apa?"

Suara Gu Yu tiba-tiba menjadi lebih rendah. "... Guru memintaku untuk mendengarkan dengan seksama di kelas, jangan bengong."

Bo Shangyuan mengerutkan alis, bertanya, "Bengong kenapa?"

Mendengar itu, Gu Yu dengan kesal berbalik dan berkata. "Menurutmu?"

Bo Shangyuan tertegun sejenak.

Lalu ... tidak bisa menahan senyum.

Dia kemudian bertanya. "Apa kau ingin aku memberi kelas selama akhir pekan?"

Gu Yu dengan wajah datar merespon. "Tidak, aku menolak."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments