88. Memakai pestisida?

Pada saat yang sama, Duan Lun yang tengah bertukar pesan dengan para gadis merasa terlalu bosan dan memilih melihat lingkaran temannya.

Berbeda dengan Bo Shangyuan, teman WeChat Duan Lun hampir seribu. Entah teman SMA, teman SMP, teman SD, lingkaran generasi kedua mereka, lingkaran model liar, dan banyak lagi.

Lebih banyak teman, ada lebih banyak pembaruan di lingkaran teman.

Duan Lun menggulir lingkaran teman dengan santai, menonton lingkaran teman yang membosankan. Tapi kemudian, tiba-tiba, aksi jari-jari Duan Lun berhenti, seperti melihat sesuatu yang luar biasa, dia seketika membelalakkan matanya.

Seolah ditekan oleh tombol beku, Duan Lun menatap layar ponsel dan ekspresinya membeku.

Karena hal ini, gadis yang baru saja mengobrol dengannya, mengiriminya beberapa pesan WeChat, dan dia tidak menyadarinya.

Setelah beberapa saat, Duan Lun menyipit lebih dekat ke layar, pertama-tama dia melihat gambar di depannya dan kemudian beralih ke avatar. Ini adalah pemilik dari postingan lingkaran teman ini.

Duan Lun terus melihat dengan hati-hati dan akhirnya memastikan ... Matanya tidak kabur.

Ini memang Bo Shangyuan.

Mata Duan Lun berkedut lalu membuka avatar Bo Shangyuan.

Kemudian, dalam pilihan tidak melihat lingkaran teman, Duan Lun tidak ragu untuk memilih ya.

Sialan!

Ini penuh bau masam cinta.

Bau asam yang menyengat.
.
.

Liburan musim dingin hanya satu bulan, setelah libur tahun baru berlalu, sekarang saatnya untuk mulai sekolah.

Pada hari registrasi, Gu Yu secara alami akan pergi sekolah bersama Bo Shangyuan setelah kesalahpahaman telah jelas.

Sama seperti awal semester pertama, jadwal registrasi juga pada pukul 8:30 pagi.

Karena tidak ada lagi ujian simulasi dan pelatihan militer seperti sebelumnya, jadi ketika Gu Yu bangun jam 7 pagi, hatinya mudah.

Dia menghabiskan sekitar lima belas menit untuk mencuci muka dan gosok gigi, dan kemudian meninggalkan rumah sekitar jam 7:20.

Tetapi ketika bangun di pagi hari, Gu Yu bersemangat untuk menemukan satu hal.

- Dia tampaknya tumbuh lebih tinggi!

Ketika dia berdiri di depan cermin kamar mandi, dia hampir setinggi cermin. Sekarang, dia tampaknya sedikit lebih tinggi!

Berpikir untuk menjadi lebih tinggi, Gu Yu senang.

Dia segera bersiap dan dengan bahagia melangkah keluar rumah, menghampiri pintu rumah Bo Shangyuan yang tertutup dan tampak sunyi.

Persis seperti yang diperkirakan Gu Yu.

Gu Yu dan Bo Shangyuan hidup bersama selama beberapa bulan, dan tentu saja dia tahu bahwa Bo Shangyuan tidak selalu suka datang lebih awal. Jika tidak salah menebak, Bo Shangyuan pasti masih tidur.

Gu Yu mengambil ponsel tanpa ragu meneleponnya.

Telepon terhubung dengan cepat.

Gu Yu langsung mengambil langkah pertama untuk berkata. "Cepat bangun, kita harus pergi ke sekolah untuk mendaftar."

Bo Shangyuan diam sejenak lalu bergumam samar.

Suaranya yang serak samar-samar mengungkapkan jejak seksi. Meskipun hanya um, suara itu membuat Gu Yu merona merah.

Gu Yu berdehem sejenak untuk bersikap tenang dan mendesak Bo Shangyuan untuk bergegas lalu siap untuk menutup telepon.

Dan tepat ketika dia akan menutup telepon, ada suara klik di ujung telepon.

Gu Yu tertegun, masih belum bereaksi. Detik berikutnya, pintu terbuka.

Sosok Bo Shangyuan yang tinggi dan ramping menarik perhatiannya.

Hanya baju putih dan celana hitam sederhana, namun sangat menarik, dan membuat orang yang melihat tidak bisa mengalihkan pandangan.

Bo Shangyuan menatapnya dengan tenang.

Sementara Gu Yu yang juga menatapnya tanpa sadar wajahnya semakin merah.

Entah bagaimana, ketika dia melihat Bo Shangyuan, dia mulai memerah tanpa sadar.

Wajah Gu Yu kemerahan dan bertanya dengan sedikit canggung. "... apa kau sudah siap?"

"Belum."

Gu Yu tertegun, hendak menanyakan sesuatu tanpa sadar, tetapi Bo Shangyuan lebih dulu bicara. "Sudah sarapan?"

Gu Yu menggelengkan kepalanya.

"Masuk."

Setelahnya dia lebih dulu kembali ke rumah.

Gu Yu berkedip, no clue.

Setelah memasuki rumah, dia melihat Bo Shangyuan menuju ke dapur, jadi dia mengerti maksudnya tadi.

"... Bukankah ada yang jual menu sarapan di lantai bawah?"

"Sulit untuk dimakan."

Gu Yu langsung mengerti dan menutup mulutnya.

... Dia lupa Bo Shangyuan pemilih makanan.

Bo Shangyuan membuka pintu kulkas dan melihat bahan-bahan. Dia bertanya, "Kau ingin makan apa."

"... Apa saja."

Bo Shangyuan tidak lagi bertanya, mulai membuat sarapan, sementara Gu Yu masih berdiri diam, tidak tahu apa-apa tentang memasak.

Dia bahkan sama sekali tidak bisa membedakan lada dan bubuk cabai jadi Gu Yu cukup sadar diri, dia berbalik ke arah sofa dan menunggu.

Namun, baru mengambil dua langkah, dia tiba-tiba menyadari sesuatu.

Dia seketika membeku dan memerah begitu memandang sofa dan karpet yang tampak 'akrab'.

Beberapa kenangan memalukan perlahan-lahan terbangun di benaknya.

Gu Yu beralih duduk di depan bar merah.

Setelah duduk, dia meletakkan wajahnya yang panas dimeja bar yang dingin.

Ah...

Panas sekali.
.
.

Aksi Bo Shangyuan sangat cepat, dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dia sudah selesai membuat sarapan.

Gu Yu yang sudah duduk di meja makan melihat hidangan disajikan.

Dua pasta ubi, dua pancake bebas minyak, dan dua piring kecil sayuran hijau.

Masakan Bo Shangyuan sama baiknya dengan sebelumnya, bahkan jika itu hanya pasta ubi, itu sangat lezat.

Gu Yu mulai makan, namun baru dua suap, Bo Shangyuan yang duduk disisi berlawanan tiba-tiba bertanya. "... Apa kau sudah memikirkannya?"

Gu Yu tertegun, tidak menanggapi untuk sementara waktu.

"Ah? ... Apa?"

Bo Shangyuan menatapnya tenang. "... Menurutmu?"

Suara Bo Shangyuan santai dengan makna yang mendalam dan sugesti yang tak terbatas.

Gu Yu tiba-tiba memerah tidak tahu bagaimana merespon.

Dia akhirnya berkata,"... Ma-masih belum."

Gu Yu menundukkan kepalanya dan suaranya semakin kecil. Jika dia tidak mendengarkan dengan seksama, dia harus berpikir bahwa dia telah menghasilkan halusinasi pendengaran.

Sebenarnya, jawabannya sudah jelas, tetapi dia tidak yakin, dan ... Dia malu mengatakannya.

Tetapi karena dia tidak pernah berbicara tentang cinta, dia belum pernah menyukai siapa pun, apa itu cinta rahasia maupun surat cinta, dan sebagainya... Dia tidak pernah mengalaminya.

Dan yang paling penting, karakternya introvert dan suram, bukan jenis yang murah hati dan terang-terangan. Karena itu, terlalu sulit baginya untuk langsung menyatakan rasa suka.

Mungkin sudah diperkirakan, wajah Bo Shangyuan masih tampak tenang dan bertanya, "Kapan kau bisa memikirkannya?"

Kepala Gu Yu semakin rendah dan hampir terkubur di mangkuk.

"... Aku tidak tahu."

Bo Shangyuan mengangkat alisnya.

Meskipun dapat dikatakan mereka sudah berciuman, Bo Shangyuan memang tidak begitu cemas, tetapi ini tidak menghalanginya untuk 'mengancam'.

"Aku tidak punya banyak kesabaran, jadi kau lebih baik memikirkannya sebelum kesabaranku habis. Kalau tidak...."

Mendengar itu, hati Gu Yu bergedup.

Dalam kengerian tatapan Gu Yu, Bo Shangyuan melanjutkan tanpa ekspresi.

"Aku akan menciummu."

Gu Yu, "..."

Suasana hening.

Kedua lelaki itu saling memandang dalam diam selama sekitar tiga menit. Hingga Gu Yu akhirnya tidak bisa menahan lagi.

Dia segera berdiri, lalu tergagap. "Ce-cepat ... Kita akan terlambat, aku menunggumu diluar."

Setelah itu, tanpa menunggu respon, dia bergegas keluar.

Gu Yu kemudian merasa suhu di wajahnya kini telah turun drastis.

Dia menutup wajah dan berjongkok di depan pintu.

Dia berpikir dengan hati berdebar: Bagaimana ini? Apa yang harus dia lakukan?

Disisi lain, Bo Shangyuan yang masih duduk diam di dalam ruangan, melihat udara kosong didepannya sambil mengangkat alis, matanya penuh minat.

Setelah mengemasi peralatan makan dan membawa materi pendaftaran, Bo Shangyuan berjalan keluar dan melirik Gu Yu yang berada di luar pintu.

Gu Yu tidak berani menatapnya.

Melihat itu, sudut bibir Bo Shangyuan melengkung dengan lembut.

Sebelumnya dia berpikir Gu Yu bosan dengan wajahnya. Tapi setelah Hari Valentine, dia akhirnya mengerti arti sebenarnya dari tingkahnya ini.

Karena itu, moodnya menjadi sangat baik.

Dia memilih untuk tidak terus bertanya.

Sementara Gu Yu yang takut bahwa Bo Shangyuan akan melanjutkan topik segera berkata. "Ayo pergi."

Dia langsung berjalan lebih dulu ke arah lift.

Wajah Bo Shangyuan tidak berubah, dia ikut melangkah dengan tenang.
.
.

Sama seperti sebelumnya, keduanya naik lift ke bawah, lalu pergi ke halte bus di luar komunitas dan kemudian menuju ke sekolah.

Sepanjang jalan, Gu Yu masih tidak berani menatap Bo Shangyuan.

Oh tidak...

Jangan katakan untuk menatap, sekarang bahkan jika dia sedikit lebih dekat dengan Bo Shangyuan, dia takut Bo Shangyuan akan tiba-tiba bertanya lagi padanya: apa kau sudah memikirkannya?

Disisi lain, Bo Shangyuan tampak biasa saja seakan tidak ada yang terjadi.

Tiga puluh menit kemudian, bus berhenti tepat waktu di luar gerbang sekolah SMA Chengnan.

Bo Shangyuan pertama turun dari bus, dan Gu Yu dengan pelan mengikuti di belakang.

Dia dengan cepat memikirkan alasan macam apa untuk bisa terpisah dari Bo Shangyuan.

Dia benar-benar takut saat mereka berjalan bersama, tiba-tiba akan muncul pertanyaan: Apa kau sudah memikirkannya?

... tapi alasannya terlalu sulit untuk dipikirkan.

Pertama-tama, apa dia bisa membohonginya? Yang paling penting adalah tidak ada yang terjadi, tidak ada yang mengiriminya pesan, tidak ada yang menelepon. Jika dia tiba-tiba mengatakan ingin pergi, dia khawatir Bo Shangyuan akan pergi bersamanya.

Disaat bersamaan, Gu Yu tiba-tiba melihat Shen Teng.

Tepat di depannya.

Melihat Shen Teng, Gu Yu seketika cerah.

Tapi ekspresi Bo Shangyuan menggelap.

"Aku melihat Shen Teng, aku pergi dulu!"

Setelah itu, seakan takut Bo Shangyuan menangkapnya lagi, dia segera melarikan diri.

Bo Shangyuan, "..."

Benar saja, tidak peduli berapa lama, Bo Shangyuan masih tidak senang dengan Shen Teng.

Di sisi lain, Shen Teng tiba-tiba mengusap lengannya dan bergidik.

Dia menatap langit.

Aneh, dia memakai pakaian tebal hari ini, bagaimana tiba-tiba dia merasa sangat dingin ...
.
.

Ketika melihat Gu Yu pergi, Duan Lun dengan mode bersukacita dalam kemalangan orang lain, menghampiri Bo Shangyuan.

Sebenarnya, Duan Luan sudah melihat mereka berdua, tetapi karena dia takut terbunuh oleh mata Bo Shangyuan, dia tidak ingin menjadi nyamuk.

Duan Lun mendekat dan menatap kepergian Gu Yu, berseru. "Kurcaci ke ..."

Namun, belum selesai berbicara, Bo Shangyuan meliriknya lalu mengerutkan kening, dan bergeser membuka jarak.

Duan Lun, "..."

Matanya berkedut.

"... Aku tidak memakai parfum hari ini."

Bo Shangyuan tidak percaya.

"Benarkah."

Duan Lun akan menjawab pertanyaan dari mana wangi ini berasal, tetapi Bo Shangyuan lebih dulu bicara, "Memakai pestisida?"

Duan Lun, "..."

Dia ingin putus hubungan.

Persimpangan imajiner berkedut didahinya, mencoba bertahan.

Tetapi pada akhirnya, Duan Luan masih tidak bisa menahan diri.

"Sialan! Ini aroma shower gel!"

Bo Shangyuan mengerti.

Kemudian, dia semakin melebarkan jarak.

Duan Lun, "..."
.
.

Proses pendaftaran tidak berbeda dengan semester sebelumnya.

Mungkin satu-satunya perbedaan adalah bahwa yang sebelumnya tidak mengenal para guru, kini sudah familiar.

Tidak hanya itu, tetapi juga dibagi menjadi dua 'faksi'.

Jahat dan sangat menjengkelkan.

Setelah mendaftar, Shen Teng membujuk Gu Yu untuk pergi bermain game ke rumahnya bersama Jin Shilong dan Jiang Zhenshan yang kebetulan berpapasan di kantor.

Alasan Jin Shilong ikut ke rumah Shen Teng karena masih tidak ingin pulang untuk saat ini sementara Jiang Zhenshan penasaran dengan game yang dibicarakan Shen Teng.

Empat orang itu berjalan bersama, setengah jalan, Gu Yu tiba-tiba ingat sesuatu.

Gu Yu takut bahwa Bo Shangyuan masih menunggunya pulang, jadi dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan.

[ Aku pergi ke rumah Shen Teng untuk bermain game, aku tidak pulang bersamamu. ]

[ ...... ]

Setelah itu, entah bagaimana, Shen Teng disisi lain tiba-tiba merinding.
.
.

Setelah tiba di rumahnya, Shen Teng segera mengeluarkan makanan ringan, menyalakan TV dan komputer.

Setelahnya, dia dengan antusias berkata pada tiga orang. "Makanlah dengan santai. Jika kalian ingin menonton TV, nonton saja, ingin main komputer, silahkan! Jika cemilan habis, bilang padaku, aku akan membelinya lagi!"

Jin Shilong tidak begitu tertarik pada game, dia hanya tidak ingin pulang, jadi dia diam di ruang tamu, makan cemilan sambil menonton TV.

Adapun Gu Yu, dia duduk depan komputer dan melihat permainan, diam.

Game baru, Gu Yu belum melihat, tetapi di sudut kanan bawah antarmuka game, ada jumlah kematian. Jumlahnya adalah: 337.

Gu Yu, "..."

Dia menoleh pada Shen Teng dan Jiang Zhenshan yang berlutut di belakangnya.

Shen Teng menatapnya dengan berbinar. "Dalao, refuel!"

Jiang Zhenshan, "Ah? ... Dalao, refuel?"

Gu Yu, "..."

Gu Yu memalingkan matanya kembali ke komputer, lalu meletakkan jarinya di keyboard dan mulai membantu Shen Teng melewati misi.

Game yang Shen Teng biarkan Gu Yu bantu mainkan adalah game plot gambar.

Itu tidak sulit, dapat dikatakan bahwa itu sangat sederhana, tetapi tidak mungkin untuk melewatinya.

Gu Yu telah memainkan semua massa, dan kemudian datang ke bos terakhir dan berbicara dengan bos.

Menurut plot umum, setelah karakter dan bos menyelesaikan percakapan, itu adalah plot bermain bos.

Prajurit pemberani, kau akhirnya sampai di sini ... ]

Tapi apa kau pikir kau bisa mengalahkanku ... ]

Xiwana, kota asalmu, telah dimusnahkan ... ]

Kekuatanku tak ada habisnya ... ]

Gu Yu tidak tertarik pada plot dalam permainan, dan dengan cepat maju, tetapi ketika dia terus menekan dengan cepat, dia tiba-tiba melihat sebuah kalimat.

Sebuah kalimat yang sudah dikenalnya.

Menurutmu? ]

Hati Gu Yu stagnasi.

Kenangan yang baru saja pudar tiba-tiba terbangun di benaknya. Gu Yu menatap layar komputer, dan telah sepenuhnya melupakan reaksinya. Tetapi karena jarinya telah ditekan pada tombol maju cepat, dialog antara karakter dan bos di layar berlanjut.

Kali ini, bos telah menyelesaikan semua percakapan.

Di akhir pembicaraan, sesuai dengan rutinitas dalam permainan, itu akan terjadi ketika bos menyerang. Oleh karena itu, detik berikutnya, dia melihat bos menebas langsung ke atas karakter yang ia mainkan.

Tapi pikiran Gu Yu hanya penuh dengan ungkapan menurutmu?

Oleh karena itu, dia hanya diam dan tidak bergerak.

Sementara Shen Teng yang begitu sulit melewati misi dan penuh harap Gu Yu membantunya, tidak menyangka ketika akan melewati misi, karakter itu diretas sampai mati oleh bos.

Melihat tulisan besar YOU DIED di layar permainan, Shen Teng menatap Gu Yu dengan tatapan kosong.

Gu Yu perlahan berdiri, menjilat bibirnya dan ekspresinya tidak alami, "Tidak mood hari ini. Mari kita lanjutkan di lain waktu."

Setelah itu, dia meninggalkan ruang komputer dan pergi ke ruang tamu.

Shen Teng membeku dengan bodoh.

Gu Yu duduk di sofa dalam diam.

Dia tersipu dan suhu di wajahnya panas.

Jin Shilong yang melihat raut wajah Gu tidak sepenuhnya benar, bertanya. "Apa yang terjadi?"

Gu Yu tidak menanggapi sejenak sebelum merespon. "... Tidak ada."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments