86. Apa kau sudah memikirkannya?

Pada hari Festival Musim Semi, hal terpenting yang dipedulikan siswa SMA adalah amplop merah.

Tepat setelah jam 12 malam, tiga orang dalam grup mulai bertanya satu sama lain berapa banyak amplop merah yang dikumpulkan.

HEHEHE Aku dapat 500 yuan! ]

Xiao Jin Jin Lucu Seribu. ]

(= ∩ω∩ =) [ Aku, aku dua ribu... ]

HEHEHE [ WTF, darimana kau menerima begitu banyak amplop merah? ]

(= ∩ω∩ =) [ Bibi dan paman yang berikan... ]

HEHEHE Tampaknya di grup ini, Xiao Yu Yu yang dapat amplop merah paling sedikit. ]

Shen Teng tahu bagaimana temperamen Gu Yu, bahkan jika Gu Yu menerima lebih banyak amplop merah, pada akhirnya akan diberikan pada ibunya.

Selama tiga tahun masa SMP, setiap kali Shen Teng bertanya padanya berapa banyak amplop merah yang diterima, Gu Yu hanya memiliki satu kalimat: Aku tidak tahu, ibuku yang menyimpannya.

Meskipun kali ini Shen Theng menerima lebih sedikit dari dua lainnya, tetapi dibandingkan dengan Gu Yu, Shen Teng merasa bahagia.

Detik berikutnya, Gu Yu yang dalam diam melihat grup, mengambil screenshot informasi transfer 5200 yuan yang dikirim oleh Bo Shangyuan dan mengirimkannya ke grup.

Melihat itu, ketiga orang dalam grup tiba-tiba terkejut.

HEHEHE WTF!!!! ]

HEHEHE 5200!!!! ]

Xiao Jin Jin Lucu Kerabat mana yang begitu murah hati memberi sebanyak itu? ]

[ ... bukan kerabat. ]

(= ∩ω∩ =) [ Bo, Bo Shangyuan? ]

[ Hm. ]

HEHEHE Fck, aku sangat iri, apa Bo Shangyuan kekurangan tetangga? Aku mengajukan diri untuk pindah dan menjadi tetangganya! ]

Xiao Jin Jin Lucu Jangan bermimpi, bahkan jika kau pindah, dia tidak akan memberimu amplop merah. ]

(= ∩ω∩ =) [ Aku juga berpikir begitu ...]

HEHEHE Fck! Aku bahkan tidak bisa berpikir tentang hal itu! ]
.
.

Rumah utama Bo.

Nenek Bo juga akan memberi amplop merah.

Secara alami, sebagai keluarga kaya, jumlah yang diberikan oleh nenek Bo sama sekali tidak sebanding dengan orang biasa.

Secara umum, amplop merah biasanya berisi beberapa ratus dolar, sementara keluarga Bo hanya berisi satu lembar.

Bukan uang, tapi cek.

Adapun jumlah cek, lihat suasana hati nenek Bo. Jika dia sangat menyukaimu, maka jumlah setoran minimal 500.000.  Jika itu normal, biasanya 100.000.

Nenek Bo pertama memberikannya pada cucu yang hadir.

Meskipun amplop merah terlihat sangat tipis, tetapi karena semua orang tahu itu adalah cek, jadi tidak ada yang mengeluh kurang. Tentu saja, nenek Bo adalah penguasa keluarga Bo, tidak ada yang berani mengeluh kurang.

Tetapi putra Li Shuhui, memandangi amplop merah tipis di depannya dan tiba-tiba menunjukkan ekspresi tidak senang.

Meskipun ayah Bo tidak membawa Li Shuhui hari ini, dia membawa putra mereka, Bo Chenxin. Meskipun nenek Bo sangat tidak puas dan kesal ketika melihat anak haram itu, tetapi karena hari ini adalah hari libur, dia tidak mengatakan apa-apa.

Karena itu, ketika nenek Bo duduk di posisi utama ruang tamu tengah mengirim satu per satu amplop merah kepada cucu yang hadir, ayah Bo takut bahwa nenek Bo melewatkan anaknya, jadi dia mendorongnya ke depan untuk mendapatkan amplop merah.

Uang itu hanya yang kedua. Jika nenek Bo benar-benar memberi sinyal positif, itu berarti akan menjadi masalah waktu untuk membiarkannya menerima Bo Chengxin.

Jika nenek Bo menerima Bo Chengxin, itu berarti bahwa dia akan dapat membawa Li Shuhui ke rumah utama segera sesudahnya.

Ayah Bo sangat murah hati dengan Bo Chengxin, meskipun dia baru berusia lima tahun sekarang, tetapi ayah Bo selalu memberinya uang saku tidak kurang dari seribu yuan.

Karena itu, setelah melihat amplop merah tipis seperti kertas, dia yang selalu dimanjakan oleh ayah Bo tiba-tiba menunjukkan ekspresi tidak senang.

Meskipun tidak tahu berapa banyak di dalam, tetapi melihat ketebalan, dia mungkin bisa menebak berapa banyak di dalamnya. Bagaimanapun, itu pasti tidak melebihi seribu.

Dia mengeluh. "Ayah, itu hanya sedikit uang, aku tidak menginginkannya."

Semua orang di ruangan itu tiba-tiba menjadi halus.

Ayah Bo tidak menyangka dia mengatakan kalimat ini, seketika membeku.

Nenek Bo yang duduk di kursi utama tidak tersenyum, "... Apa ini putramu yang lahir dari wanita itu? Benar-benar tidak berpendidikan."

Ekspresi ayah Bo kaku, dan dia tahu bahwa menjawab pun akan sia-sia, jadi dia mendorong Bo Chenxin ke arah Bo Shangyuan, "Pergi minta ke kakakmu."

Tidak menunggu reaksi Bo Chengxin, Bo Shangyuan tanpa menoleh melempar satu kata.

"Enyahlah."

Di rumah utama Bo, hanya ucapan Bo Shangyuan yang didengar nenek Bo.

Karena itu, setelah mengatakan itu, Bo Chengxin langsung diusir dari rumah utama oleh nenek Bo.

Sedangkan untuk ayah Bo, tidak ada gunanya lagi untuk tetap di sini, jadi dia juga harus pergi.

Hal yang tak sedap dipandang akhirnya menghilang, nenek Bo merasa lega.

Nenek Bo menyerahkan amplop merah besar terakhir pada Bo Shangyuan dan kemudian tersenyum, "Ini yang nenek dirancang khusus untukmu."

Bo Shangyuan samar-samar berkata terima kasih.

Meskipun amplop merah diterima, dia tidak ada ide untuk membukanya. Dibandingkan dengan si anak haram yang mengeluh. Bisa dilihat jelas siapa yang lebih tinggi.

Melihat reaksi Bo Shangyuan, nenek Bo merasa senang.

"Apa yang ingin kau makan besok? Nenek akan memasaknya untukmu."

Makanan di rumah utama Bo biasanya dimasak oleh juru masak, bahkan di Tahun Baru.

Karena itu, dapat dilihat bahwa nenek Bo sangat menyayanginya.

Namun, Shangyuan merespon. "Tidak perlu, nenek."

Nenek Bo tertegun, tidak mengerti. "... Kenapa? Apa masakan nenek terlalu buruk?"

"Tidak, besok aku pergi beri ucapan Tahun Baru."

Nenek Bo mengerutkan kening. "Ucapan Tahun Baru? Pada siapa?"

Nenek Bo dengan hati-hati memikirkan orang terdekat Bo Shangyuan selain keluarga dan kerabat, itu hanya keluarga Duan.

Bo shangyuan merespon tenang. "Tetangga."

Nenek Bo tertegun lagi.
.
.

Keesokan harinya.

Pada jam 9 pagi, bel pintu rumah keluarga Gu dibunyikan.

Ibu Gu yang sedang menyiapkan hidangan di dapur tidak bisa luang jadi dia meminta Gu Yu membuka pintu.

Begitu pintu dibuka, Gu Yu tertegun.

Dia tanpa sadar bertanya, "... Bukankah kau pulang untuk Tahun Baru?"

"Sudah kembali."

Gu Yu berkedip, "Kalau begitu kau ..."

"Beri ucapan Tahun Baru padamu."

Ekspresi Gu Yu bodoh.

Ayah Gu yang duduk di ruang tamu merasa sedikit aneh melihat Gu Yu tidak membiarkan tamu masuk, dan bertanya, "Yu Yu, siapa?"

Ketika mendengar suara itu, Gu Yu berbalik dan berkata, "... Bo Shangyuan."

Ayah Gu tertegun lalu segera berdiri dari sofa, pergi ke gerbang dan dengan cepat membiarkan Bo Shangyuan masuk ke dalam rumah.

Ayah Gu dengan antusias menyambutnya. "Kemarilah, cepat masuk."

Melihat ayah Gu, Bo Shangyuan menyapa sopan. "Halo paman, Selamat Tahun Baru."

Ayah Gu tertawa, "Selamat Tahun Baru."

Setelahnya ayah Gu menyadari Bo Shangyuan membawa kotak hadiah dan berkata, "Kau, nak, mengucapkan Tahun Baru kenapa harus membawa sesuatu?"

Wajah Bo tenang dan suaranya ringan, "Tidak mahal, ini sangat murah."

Ayah Gu tidak punya pilihan selain menerima kotak hadiah dan berbalik ke ruang tamu.

Kotak itu transparan, jadi dapat dengan jelas melihat apa yang ada di dalam.

Melihat sekilas, detik berikutnya, ayah Gu terkejut.

Dalam kotak itu berisi paket jamur ulat dan minuman alkohol Maotai.

Hm, tidak mahal.

Untuk suasana hati ayah Gu yang rumit, Bo Shangyuan tidak menyadari itu.

Bo Shangyuan masuk ke teras dan mengamati sepatu di pintu masuk. Lalu dia bertanya, "Apa ada sepatu?"

Gu Yu terhenyak lalu mengambil sepasang sandal yang biasanya dikenakan tamu dari lemari sepatu, dan kemudian menyerahkannya.

Bo Shangyuan hanya melihatnya, "Punya siapa ini?"

"Ini yang biasa dipakai tamu."

"Tidak mau pakai."

Gu Yu bingung, "Apa yang ingin kau pakai ..."

"Punyamu."

Gu Yu tampak bodoh dan mengangkat matanya.

Bo Shangyuan tengah menatapnya lurus.

Gu Yu tanpa bicara dengan patuh melepas sandal di kakinya.

Bo Shangyuan melepas sepatunya dan berganti.

Batin Gu Yu diam-diam mengerang: Apa bedanya?

Setelahnya, keduanya pun pergi ke ruang tamu untuk duduk.

Setelah duduk, ayah Gu membuka suara. "Ini ... Shangyuan ... Bukankah barang yang kau beli terlalu mahal?"

Bo Shangyuan mengangkat alis, sedikit bingung.

"... Mahal?"

Ayah Gu tiba-tiba tertegun.

Gu Yu yang duduk di samping, diam-diam menatap langit, tidak berbicara.

Awalnya, dia juga bertanya seperti itu.
.
.

Suasana hening.

Setelah mengajukan pertanyaan umum, ayah Gu tidak tahu harus berkata apa lagi.

Ayah Gu tahu bahwa anak-anak seperti usia Gu Yu biasanya tidak suka tetap bersama mereka. Oleh karena itu, setelah mengetahui bahwa tidak ada yang perlu dikatakan, ayah Gu melambaikan tangannya dan berkata. "Tidak perlu menemaniku menonton TV. Kalian pergi ke kamar untuk bermain game. Aku akan memanggil kalian nanti untuk makan."

Setelah ayah Gu selesai, Bo Shangyuan langsung berdiri dari sofa.

Gu Yu tidak menanggapi, dan matanya melihat ke arah Bo Shangyuan.

Apa yang kau lakukan?

"Pergi ke kamarmu."

Gu Yu bingung, "Apa yang akan kau lakukan dikamarku?"

"Periksa."

"Ah?"

Gu Yu ragu-ragu mengikuti Bo Shangyuan ke kamarnya.

Setelah masuk, Bo Shangyuan melihat sekeliling kamar yang sempit, lalu mendekat ke meja dan mengamati hal diatasnya.

Gu Yu berdiri di belakangnya, tidak mengerti. "... Apa yang kau cari?"

"Surat cinta."

Ekspresi Gu Yu bahkan semakin bingung. "Surat cinta apa?"

"Dari gadis lain."

Gu Yu akhirnya paham.

Dia sedikit tertekan. "Aku bukan kau, tidak akan ada gadis yang menulis surat cinta untukku."

Bo Shangyuan merasa lega.

Dia kemudian berbalik menghadap Gu Yu. "... Mau aku menuliskan untukmu?"

Gu Yu ragu. "Apa yang harus ditulis?"

"Surat cinta."

"..."

Setelah beberaa saat Gu Yu merespon, "... tidak."

"Yakin?"

"... Sangat yakin."

"Ck."

Meja belajar Bo Shangyuan berada di ruang yang berbeda, jadi lokasinya sangat luas.

Kamar Gu Yu memiliki meja dan beberapa gadget berantakan, sehingga tampak ramai dan sempit.

Namun, Bo Shangyuan tidak mempedulikan.

Ruangan itu penuh dengan aroma Gu Yu, yang membuat perasaannya sangat nyaman, dan tubuh serta pikirannya terasa menyenangkan.

Bo Shangyuan dengan santai tengkurap diranjang Gu Yu sambil menopang dagu, dan bertanya ringan. "... Apa kau sudah memikirkannya?"

Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat Gu Yu bingung, tidak menanggapi untuk sementara waktu.

"Memikirkan apa?"

"Menurutmu?"

Gu Yu diam dua detik, ingatannya tiba-tiba pulih.

Temperatur panas memerah dari pipinya hingga ke telinganya, dia membuka mulutnya dan tidak tahu bagaimana berbicara untuk sementara waktu.

Dia tidak lupa sedikitpun.

Sudut bibir Bo Shangyuan naik, dengan sangat sabar, dia ulangi lagi.

"Jadi, kenapa memberimu kelas tambahan, membeli makanan ringan untukmu, membiarkanmu tinggal di rumahku, dan menghabiskan uang untuk membelikanmu pakaian ... Menciummu ... Menurutmu?"

Gu Yu tampak bodoh, dan pikirannya kosong.

Jawabannya sudah sangat jelas.

Tetapi karena itu terlalu tidak nyata, dan terlalu sulit dipercaya, Gu Yu tidak terlalu yakin.

Gu Yu membuka mulutnya dan tergagap, dan tidak bisa mengatakan kalimat lengkap.

"Aku ... aku ..."

Bo Shangyuan memandangnya dengan sangat sabar.

Pada saat ini, suara ayah Gu terdengar dari luar pintu.

"Makan!"

Gu Yu kaget, dan segera tampak diselamatkan, dia menghela nafas lega.

Dia buru-buru berkata, "Ayo makan."

Setelahnya dia segera keluar dari kamar.

Bo Shangyuan yang ditinggal sendiri, mencoba untuk santai.

Lupakan saja, jangan buru-buru.

Lagi pula, dia sudah menciumnya.
.
.

Karena ada Bo Shangyuan, ibu Gu memasak lebih banyak dari sebelumnya.

Saat duduk di meja untuk makan, ibu Gu dengan antusias mengambilkan lauk untuknya. "Jangan sungkan, makan apapun yang kau suka."

Bo Shangyuan mengerutkan kening melihat lauk dimangkuknya, tidak berbicara.

Kaki babi, hati ayam, paprika, wortel ... Bo Shangyuan tidak suka makan.

Tetapi karena calon ibu mertua dengan antusias memberinya jadi jika dia membuka mulut dan mengatakan bahwa dia tidak suka makan hal-hal ini, itu terlalu kasar.

Gu Yu yang duduk disampingnya peka dan segera memisahkan lauk itu dari mangkuk Bo Shangyuan menggunakan sumpit.

Ibu Gu akan berbicara tetapi Gu Yu yang lebih cepat. "Bu, dia tidak makan ini."

"Tidak makan?"

Gu Yu dengan hati-hati memilah, dan kemudian menjawab, "Ya, dia tidak suka kaki dan perut babi."

Ibu Gu tertegun.

Lalu tersenyum malu pada Bo Shangyuan. "Oh, maaf, Bibi tidak tahu."

"Tidak apa."

Setelah Gu Yu memisahkan lauk, dia tersadar.

Dia melirik sumpit bekas air liurnya sendiri, lalu perlahan mendongak pada Bo Shangyuan.

Dia berbicara hambar, "Uh, sumpit ..."

Bo Shangyuan memotong, "Aku sudah pernah makan, btw."

Pada Hari Valentine, entah berapa banyak yang dia makan.

Gu Yu menutup mulutnya dan berhenti berbicara.

Ibu Gu membuka suara. "Eh? Yu Yu, bagaimana wajahmu begitu merah?"

Gu Yu menunduk, lanjut makan dan balas berbisik. "... Sedikit panas."


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments