84. Kau benar-benar cinta pertamanya

Untuk jawaban Gu Yu, Bo Shangyuan tidak terkejut.

Pandangannya beralih pada bibir merah Gu Yu yang membengkak dan tanda cupang yang memenuhi lehernya, dan kemudian bertanya. "... Kau yakin mau pulang sekarang?"

Gu Yu tertegun. Pada awalnya, tidak mengerti apa itu, tetapi ketika dia menemukan bahwa matanya selalu menatap lehernya, dia tiba-tiba menyadarinya.

Gu Yu dengan cepat meraih lehernya dan memerah.

Dia berkata dengan keras, "Itu, kalau begitu aku pulang dulu!"

Jika sebelumnya, dia pasti akan mempertimbangkannya. Tetapi sekarang, jangankan tidur dengan Bo Shangyuan, saat ini saja dia merasa cemas.

Karena itu, seakan takut Bo Shangyuan menangkapnya lagi, dia bergegas melarikan diri.

Dia kini berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, menyentuh leher dan menjilat bibirnya.

Gu Yu menepuk wajahnya untuk memudarkan suhu, mengambil napas dalam-dalam dan pura-pura seakan tidak ada yang terjadi, dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

"Aku pulang."

Kedua orangtuanya yang tengah berada diruang tamu menoleh ke arahnya.

Ibu Gu tertegun, bertanya bingung. "Apa yang terjadi pada leher dan bibirmu? Bagaimana bisa begitu merah?"

Ayah Gu juga menatapnya aneh.

Gu Yu terlihat tenang dan berbohong. "... Aku baru saja makan hot pot dengan teman sekelasku."

Saat itu bulan Februari, musim dingin yang besar, hari-hari yang dingin dan teman-teman sekelas pergi makan hot pot, itu normal.

Ibu Gu bergumam mengerti, tidak ada keraguan sama sekali.

Dia mengalihkan pandangannya ke leher merah Gu Yu dan mengerutkan kening, "Lalu lehermu? Tidak ada nyamuk di musim dingin ini."

"... Sepertinya aku alergi apa yang baru saja aku makan di restoran hot pot."

Ibu Gu buru-buru berdiri dari sofa dan datang ke depan Gu Yu, lalu menundukkan kepalanya dan dengan hati-hati melihat tanda merah di lehernya.

Ibu Gu khawatir. "Apa tidak gatal? Apa ini alergi makanan? Kau ingin pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya?"

Di bawah perhatian ibu Gu, Gu Yu diam-diam dengan hati nurani yang bersalah mengalihkan matanya dan menatap dinding putih. Dia balas dengan pelan. "... tidak apa-apa, besok akan baik-baik saja."

Ibu Gu masih belum yakin. "Tidak perlu pergi ke rumah sakit? Ini sepertinya sangat serius ..."

Di leher Gu Yu, tanda merah hampir menutupi seluruh lehernya.

Semakin banyak ibu Gu khawatir, semakin dia merasa bersalah.

Gu Yu takut ibu Gu akan benar-benar membawanya ke rumah sakit. Dia dengan cepat kembali menolak lalu segera masuk ke kamar tanpa menunggu reaksi ibu Gu.

Pada saat pintu ditutup, dia tidak bisa lagi menjaga ketenangan dari momen sebelumnya, dan merosot dengan lembut di lantai.

Gu Yu duduk di lantai dan menutupi wajahnya.

Apa yang harus dilakukan?!

Detak jantungnya sangat cepat sehingga tidak bisa berhenti.
.
.

Malam ini, Gu Yu secara alami tidak bisa tidur.

Dia berkedip dan kehilangan rasa kantuk semalaman.

Adegan ketika di lantai atas, ketika Shangyuan menciumnya di rumah, dan kata-kata yang dia ucapkan, terus berputar dalam benaknya.

Memikirkan ini, wajah Gu Yu secara tidak sadar merah.

Besok dia harus bangun pagi untuk membuat kelas pada Jiang Zhenshan. Gu Yu tahu bahwa dia harus tidur, tetapi dia tidak bisa tidur.

Karena itu, keesokan paginya, dia sangat mengantuk.

Ketika sedang membuat kelas, kelopak matanya jatuh, dia mengantuk dan lelah.

Jiang Zhenshan yang baru pertama kali melihatnya seperti ini, tidak tahan untuk bertanya. "Gu Yu, kau tidak tidur tadi malam?"

Gu Yu menguap lalu bergumam mengiyakan.

Gadis itu penasaran. "Kenapa kau tidak tidur? Apa mimpi buruk?"

"Karena tadi malam ..."

Gu Yu berhenti bicara. Dia terlalu mengantuk dan tanpa sadar akan bicara jujur.

Jiang Zhenshan bingung. "Tadi malam? Apa yang terjadi semalam?"

Gu Yu diam sejenak, berbohong. "... mengalami mimpi buruk tadi malam."

Jiang Zhenshan yang langsung percaya ketika mendengar mimpi buruk, dia menggosok lengannya, merinding. "Aku juga mengalami mimpi buruk beberapa malam yang lalu, sangat mengerikan. Aku bermimpi ada hantu yang terus mengejarku. Aku tidak bisa menghentikannya ... "

Disisi lain, Gu Yu menepuk wajahnya sendiri untuk tetap terjaga.

Dia segera memotong ucapan gadis itu  "Oke, aku sadar sekarang, mari kita lanjutkan membuat kelas."

Jiang Zhenshan patuh dan membuka buku.
.
.

Waktu untuk membuat kelas sangat singkat, dan segera berlalu.

Pada siang ini, ketika Gu Yu bersiap pulang, Jiang Zhenshan tidak bisa untuk menahan diri, berkata. "Itu ... teman sekelas Gu Yu."

Gu Yu berbalik, bingung. "?"

Jiang Zhenshan menunjuk ke lehernya dengan hati-hati, "Apa jejak di lehermu itu..."

Gu Yu membeku.

"... Alergi."

Jiang Zhenshan seketika mengerti.

Cupang di leher Gu Yu, setelah hampir tiga hari, akhirnya sedikit memudar.

Pada hari keempat, Gu Yu berdiri di depan wastafel di kamar mandi, dan mendesah lega melihat cupang yang hampir menghilang sepenuhnya dari lehernya.

Jika masih tidak hilang, dia khawatir ibunya benar-benar akan membawanya ke rumah sakit.

Gu Yu merona lagi dan merenung.

Bo Shangyuan bilang dia tidak mabuk.

Tidak mabuk, bahkan menciumnya.

Dan lebih dari sekali.

Apakah itu berarti ...

Tidak benar...

Tunggu sebentar.

Wajah Gu Yu memucat.

... Bukankah Bo Shangyuan punya kekasih?

Lalu dirinya dianggap apa?

Apa yang baru saja dia pikirkan? Apa dia terlalu percaya diri?

Ekspresi Gu Yu kusut dan perlahan keluar dari kamar mandi.

Debaran dan wajah memerah tadi menghilang tanpa jejak.

Pada saat ini, ponsel tiba-tiba berdering.

Gu Yu mengambil ponsel dan melihat isi pesan masuk.

Setelahnya dia langsung mengirimkan pesan balasan.

[ Bukankah kau punya kekasih? ]

Bo Shangyuan dengan cepat membalas

[ ...... ]

Kapan aku punya kekasih? ]

Gu Yu berkedip.

Tapi bukankah Duan Lun bilang dia punya?

Gu Yu kemudian menyalin tautan di forum tentang gosip Bo Shangyuan dicampakkan kekasihnya.

[ http: //bbs.******.com ]

[ Ini. ]

Di sisi lain WeChat, Bo Shangyuan mengerutkan kening, lalu membuka tautan tersebut.

Tiga menit kemudian.

Kau tunggu. ]

[ ...? ]

[ Tunggu apa? ]

Bo Shangyuan tidak menjawab, keluar dari WeChat, mencari nomor ponsel seseorang lalu menelepon.

Telepon terhubung dengan cepat.

Detik berikutnya, suara Duan Lun yang terkejut dan bingung terdengar dari ujung telepon.

"Bagaimana Bo kami yang tampan tiba-tiba berpikir untuk meneleponku?"

Suara Bo Shangyuan sangat dingin. "Apa maksud pos itu?"

Duan Lun bingung dan bertanya, "Pos apa?"

"Forum sekolah."

Duan Lun menyadari hal ini, dan kemudian tidak bisa menahan senyum. "Kau melihatnya juga? Bukankah orang-orang itu sangat menarik? Aku hanya bicara omong kosong tentang kau dicampakkan, dan mereka sudah membuat drama besar. Apanya yang dicampakkan! ... menarik sekali."

Duan Lun berkata dengan santai, sementara disisi lain, wajah Bo Shangyuan semakin jelek.

"Jelaskan padanya."

Duan Lun mematung sejenak, mengira dia salah dengar. "Ha? Apa katamu?"

Di depan siapa pun selain Gu Yu, tidak ada kesabaran dalam Bo Shangyuan.

"Aku tidak ingin mengulangi yang kedua kalinya."

Duan Lun selalu pintar, meskipun dia belum mengatakan siapa yang harus dijelaskan, tetapi Duan Lu tiba-tiba menebak siapa itu.

Kalau bukan kurcaci kecil, siapa lagi.

Duan Lun mendengus dan bertanya, "Apa kurcaci kecil itu berpikir kau punya kekasih?"

"Waktumu dua menit."

Duan Lun langsung menolak. "Aku sedang balapan dengan yang lain diluar, tidak bisa sekarang, nanti saja saat waktu kosong."

"Setelah dua menit, jika kau belum jelaskan padanya, jangan berpikir untuk balapan lagi bulan depan."

Jangan berpikir untuk balapan lagi, artinya ... Dia akan dikirim ke rumah sakit.

Jika kedua kaki diperban, tidak mungkin untuk bergerak, dan memang tidak mungkin untuk balapan.

Mata Duan Lun berkedut dan tubuhnya bergetar tanpa sadar.

Fck! Xing Bo benar-benar beracun!

Duan Lun menjambak rambutnya, ekspresinya tak berdaya.

"Oke, oke, aku akan meneleponnya sekarang, tapi kau ..."

Pihak lain langsung menutup telepon.

Duan Lun, "..."

Dua detik kemudian, Duan Lun mengumpat lagi.

- Dia tidak lagi memiliki nomor Gu Yu, bagaimana bisa meneleponnya!

Tak berdaya, Duan Lun harus memintanya lewat Shen Teng lagi.

Setelah melalui 'ribuan rintangan', Duan Lun akhirnya menelepon si kurcaci kecil.

Setelah terhubung, Duan Lun langsung bicara lebih dulu. "Dalao, Xing Bo tidak punya kekasih. Jika Xing Bo punya kekasih, berarti itu kau. Dan tentang dia dicampakkan kekasihnya, itu hanya omong kosong. Kau jangan percaya."

Di ujung telepon, mata Gu Yu berkedip, dan akhirnya mengerti arti dari apa yang Bo Shangyuan katakan di WeChat.

Gu Yu terdiam sejenak dan bertanya, "... Apa Bo Shangyuan memintamu menelepon?"

Duan Lun serius. "Ya, dalao."

"..."

Duan Lun lanjut  bertanya, "Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"

"... tidak ada."

Duan Lun tidak tenang, "Kau tidak bertanya apa dia pernah punya kekasih sebelumnya? Dan berapa banyak mantannya?"

Bo Shangyuan tinggi dan tampan, nilainya bagus, bahkan jika dia telah berhubungan dengan banyak gadis sebelumnya, Gu Yu merasa itu normal.

Gu Yu tidak berniat untuk bertanya, tetapi karena Duan Lun sendiri mengatakannya, dia mengikuti.

"Oh ... Berapa banyak mantannya?"

Duan Lun serius. "Tidak ada."

Gu Yu tertegun.

Setelahnya Duan Lun menambahkan kalimat lain. "Kau benar-benar cinta pertamanya."

Wajah Gu Yu seketika memerah setelah mendengar kalimat ini.

Cinta pertama ...

Duan tiba-tiba bertanya, "Ah yaa, hari valentine yang lalu, setelah kau pulang, apa Xing Bo melakukan sesuatu padamu?"

Duan Lun sangat transparan pada watak Bo Shangyuan.

Dia sangat kesal, dan menurut temperamennya, tidak mungkin untuk terus bertahan dan tidak melakukan apa pun.

Tetapi untuk apa yang dilakukannya, Duan Lun tidak bisa menebak.

Namun, ketika Duan Lun penasaran bagaimana Gu Yu akan menjawab, pihak lain seketika langsung menutup telepon tanpa ragu-ragu.

Duan Lun, "..."

Dia menatap ponsel, dan matanya berkedut.

Fck, apa yang disebut bukan keluarga, tidak boleh masuk, dia sekarang mengerti.

Menutup telepon tanpa mengatakan apa pun persis sama dengan Xing Bo!
.
.

Sisi lain.

Setelah menutup telepon, Gu Yu duduk di tempat tidur dan kepalanya kosong.

Tidak punya kekasih ...

Dia adalah cinta pertama ...

Memikirkan ini, Gu Yu langsung membenamkan kepalanya di selimut.

Apa yang harus dilakukan ... Wajahnya panas ... Suhunya tidak bisa turun.

Dia seperti ini sekarang, bagaimana bisa pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Pada saat ini, ponselnya tiba-tiba berdering.

Gu Yu melihat isi pesan masuk.

Hanya ada satu kalimat.

Sudah jelas sekarang?  ]

[ ... Hm. ]

Bo Shangyuan membalas sangat cepat.

Kemari.]

[ ... Tidak. ]

Alasan. ]

[ Aku akan pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas. ]

[ ...... ]

Ujung lain WeChat, Bo Shangyuan mendengus tidak senang.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments