83. Jadi karena ini kau selalu menghindar dariku? ( 16+ )

Mengapa begitu sederhana untuk memilih tempat di lantai paling atas gedung?

1. Tidak ada seorang pun.

2. Tidak bisa lari.

Jika itu di rumah, meskipun Bo Shangyuan dapat mengunci pintu, tetapi Gu Yu bisa saja mendorongnya ketika dia lengah, dan bersembunyi di kamar tidur atau ruang belajar.

Bahkan jika dia membuka pintu dengan kunci, Gu Yu bisa bersembunyi di bawah tempat tidur.

Bo Shangyuan jauh dari kesabaran sehingga dia langsung memilih tempat di lantai atas gedung.

Karena tidak ada begitu banyak kekhawatiran.

Lantai atas tidak berpenghuni, dan bahkan jika berteriak, tidak ada yang bisa mendengar.

Jika ingin bersembunyi, tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Jika ingin melarikan diri, itu bahkan lebih mustahil. Karena itu perlu menunggu lift datang, setidaknya menunggu sekitar tiga menit.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain untuk Gu Yu selain tetap berdiri di tempat yang sama.

Bo Shangyuan menekannya ke dinding dan menciumnya.

Satu tangan memegang wajah Gu Yu, dan tangan lainnya langsung memegangi belakang kepalanya dengan kuat, dan tidak diizinkan untuk menolak. Kemudian, ujung lidah Bo Shangyun membuka giginya dan mengaitkan akar lidahnya untuk mulai mengisap dan melekat.

Gu Yu tampak bodoh, dan mematung. Hanya bisa membiarkan tindakan itu.
Lidahnya terus disedot hingga menjadi mati rasa dan menyakitkan.

Semakin sedikit oksigen di rongga dada, Gu Yu tidak bisa bernafas, ia membuka mulut dan ingin mengambil napas. Akibatnya, siapa sangka, Bo Shangyuan mengikuti gerakannya dan lebih memperdalam ciumannya.

Bibir dan lidah tersumbat lagi, dan Gu Yu tidak bisa bernapas dan tubuhnya menjadi lebih lemah.

Tubuhnya perlahan merosot namun Bo Shangyuan peka dan langsung memeluk pinggangnya.

Pasokan oksigen di dada menjadi semakin tipis membuat Gu Yu mendorongnya tetapi kekuatannya lemah, di mata Bo Shangyuan hanya seperti rasa geli.

Bo Shangyuan tetap menyedot bibir Gu Yu, tidak ada respon, Gu Yu merasa oksigen terakhir di dadanya hampir habis, dia dengan susah payah membuka suara. “Bo …”

Suara Gu Yu serak dan napasnya tidak stabil tampak seperti orang yang sedang birahi. Pandangan Bo Shangyuan menggelap dan tangan yang memegang bagian belakang kepalanya mengencang tanpa sadar.

Meskipun Bo Shangyuan masih belum melepaskan Gu Yu, dia memberikannya napas langsung menggunakan mulut.
Meskipun metode ini agak tidak dapat diterima, tetapi sekarang, Gu Yu tidak punya waktu untuk bergulat dengan detail yang tidak penting ini. Dia meraih jaket di dada Shangyuan dan berjinjit, menyambutnya.

Sikap Gu Yu seperti menyenangkan bagi Bo Shangyuan, raut wajahnya membaik dan tindakan berciuman secara bertahap lebih lembut.

Bo Shangyuan mencium bibir Gu Yu yang sedikit bengkak dengan lembut, menguraikan bentuk bibirnya, dan kemudian perlahan turun ke bawah …
Karena perbedaan tinggi, Bo Shangyuan harus menunduk.

Dia menundukkan kepalanya dan mencetak beberapa tanda cupang di lehernya. Setelahnya mungkin merasa bahwa Gu Yu sangat lelah, jadi satu tangannya melepas pelukan dari pinggang Gu Yu beralih memegangnya bokongnya dan langsung menggendongnya.

Merasakan tubuhnya terangkat, Gu Yu reflek memeluk leher Bo Shangyuan dengan erat, takut dia akan jatuh secara tidak sengaja.

Satu tangan Bo Shangyuan menahan bagian belakang kepala Gu Yu terus menjelajah lehernya, Gu Yu menggigit bibir, tangannya yang lemah menekan pundak Shangyuan, membiarkan tindakan itu, tubuhnya gemetar.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan akhirnya dengan enggan menjauhkan kepalanya setelah meninggalkan beberapa tanda ciuman di tulang selangka Gu Yu.
Namun tangan yang menahan belakang kepala Gu Yu meluncur turun ke leher putihnya.

Jari-jari dingin menabrak leher belakang Gu Yu yang halus dan sensitif, membuat Gu Yu gemetar, dan kepalanya jatuh dengan lembut di pundak Bo Shangyuan, dia hampir berubah menjadi genangan air.
Gu Yu terengah-engah, suaranya rendah dan serak, tergagap. “Jangan sentuh… disana… geli …”

Jari Bo shangyuan tiba-tiba berhenti.
Tetapi di detik berikutnya, jari dingin itu turun lagi, berhenti di pinggang, dan kemudian, mengangkat ujung pakaian Gu Yu, menyelinap masuk secara fleksibel.
Kulit hangatnya tiba-tiba disentuh ujung jari dingin membuat tubuh Gu Yu tersentak dan hampir jatuh dari pelukan.

Gu Yu dengan cepat menepis tangan Bo Shangyuan.

Tetapi karena dia tidak memiliki kekuatan, gerakan itu sangat ringan, tidak bisa menepisnya.

Gu Yu bersandar di telinganya dan dengan suara serak bertanya. “… Apa kau mabuk lagi?”

Pergerakan jemari Bo Shangyuan berhenti.
Gu Yu berpikir bahwa jika Bo Shangyuan sadar, dia tidak akan mungkin untuk menciumnya yang seorang lelaki. Oleh karena itu, kesan pertamanya adalah Bo Shangyuan tengah mabuk.

Lagi pula, ketika menciumnya terakhir kali, Bo Shangyuan juga mabuk.

Bo Shangyuan mengerutkan alis.

Hm? … Lagi?

Dengan kata lain, itu sudah pernah terjadi.
Gu Yu yang bersandar pada bahunya mengendus aroma tubuh Bo Shangyuan, ekspresinya agak bingung.

Aneh, tidak ada bau anggur.

Apakah itu anggur tanpa bau? Atau baunya sudah hilang?

Gu Yu merenung.

Karena dia tidak pernah minum dan tidak pernah tahu tentang anggur, dia sama sekali tidak tahu bahwa tidak ada anggur tanpa tidak bau sama sekali.

Adapun bau alkohol, sangat sulit untuk hilang. Bahkan jika sudah mandi dan menyikat gigi, setidaknya butuh satu hari penuh untuk memudar.

Gu Yu mengangkat kepalanya untuk menatap Bo Shangyuan.

Bo Shangyuan juga menatap lurus padanya, matanya dalam dan gelap.
Gu Yu menatapnya sejenak.

… tidak ada yang berbicara.

Setelah menunggu sebentar dan Bo Shangyuan tidak bicara, jadi dia dengan cepat menyimpulkan.

– Bo Shangyuan mabuk.

Suasana hatinya rumit.

Gu Yu bergumam. “Kau mabuk lagi …”

Mata Bo Shangyuan semakin dalam dan lebih dalam.

… lagi.

Gu Yu tidak menyadari tatapannya, hatinya kini terasa tidak nyaman.

Dia sekali lagi disalahpahami sebagai kekasihnya.

Gu Yu menunggu kekuatannya pulih, seolah seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya, dia menjauhkan jemari Shangyuan dari balik pakaiannya dan kemudian melompat turun dari gendongannya.

Karena kakinya belum sepenuhnya pulih, saat menyentuh lantai, kaki Gu Yu yang lemah reflek goyah dan siap merosot.

Bo Shangyuan tanpa sadar siap untuk menjangkau dan memegang Gu Yu, tetapi teringat sesuatu, tangannya berhenti.

Disisi lain, Gu Yu dengan cepat menangkap sudut pakaian Bo Shangyuan, tidak membiarkan bokongnya mencium lantai.
Setelah berdiri stabil, Gu Yu melihat ke belakang pada Bo Shangyuan yang tetap diam, sekali lagi mengkonfirmasikan kesimpulannya.

Bo Shangyuan mabuk.

Jika dia terjaga. Ketika Gu Yu akan jatuh, Shangyuan akan langsung bereaksi.
Memikirkan ini, suasana hati Gu Yu menjadi rumit dan sulit dipahami.

Gu Yu mendongak dan bertanya pada Bo Shangyuan. “Apa ada masalah dengan kekasihmu lagi?”

Setelahnya dia bergumam sendiri. “Oh, aku lupa, kau mabuk dan tidak bisa menjawab.”

Bo Shangyuan hanya menatapnya, diam.
Gu Yu kemudian memegang pergelangan tangannya dan berjalan perlahan menuju lift dan menekan tombol lantai tempat tinggal mereka.

Butuh beberapa menit untuk lift tiba.

Keduanya diam.

Gu Yu menatap dirinya di cermin lift, dan pikirannya melayang.

Apa Bo Shangyuan juga akan mencium orang lain saat dia mabuk?

Selama dia mabuk, dia akan mencium orang, tidak peduli siapapun itu.

Pikiran Gu Yu tanpa sadar membayangkan adegan Shangyuan mencium orang lain.
Entah kenapa, dia agak … tidak senang.
Memikirkannya, emosi Gu Yu menjadi semakin rendah.

Dia menunduk dan lemah.

Setelah beberapa saat, lift tiba.
Gu Yu mengambil pergelangan tangannya dan berjalan ke lift.

Dia menekan tombol lantai dan menunggu lift turun.

Gu Yu dalam diam memperhatikan jumlah lantai pada layar tampilan elektronik di lift.
Adegan Bo Shangyuan akan melakukannya pada orang lain berputar dalam pikirannya dan melayang.

Meskipun Gu Yu tahu bahwa Bo Shangyuan tidak akan mendengar ini, dia tidak bisa menahan diri untuk bicara. “… Jangan minum alkohol lain kali. Jika kau ingin minum, tunggu saat kekasihmu ada di sana.”

Secara alami, tidak ada respon.
Setelah Gu Yu mengatakan kalimat ini dengan hambar, dia menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dua menit kemudian, lift terbuka.

Gu Yu memegang pergelangan tangan Bo Shangyuan menuju depan pintu rumahnya. Seperti terakhir kali dia mabuk, Gu Yu mengeluarkan kunci pintu dari sakunya dan kemudian membuka pintu.

Gu Yu membawanya masuk dan menekannya duduk ke sofa ruang tamu.
Setelahnya Gu Yu berbalik ke dapur untuk membuat air madu.

– Sama seperti ketika Bo Shangyuan mabuk terakhir kali.

Bo Shangyuan melihat gerakan Gu Yu yang familier, matanya sedikit menyipit.

Jawabannya sedikit demi sedikit semakin jelas.

Mengapa Gu Yu mulai menghindar darinya setelah mabuk, mengapa dia tidak berani menatapnya, dan mengapa gelas itu tergeletak di karpet …

Ekspresi Bo Shangyuan secara bertahap menjadi semakin halus.

Gu Yu yang berdiri membelakanginya sama sekali tidak sadar.

Setelah membuat air madu dengan sangat cepat, Gu Yu membawa gelas itu dengan perlahan-lahan berjalan ke arah Bo Shangyuan.

Gu Yu menginjak karpet lembut dan berjongkok didepannya.

Dia sedikit mendekat dan menyandarkan cangkir dingin itu ke bibir Bo Shangyuan. Namun, mulut Bo Shangyuan sama sekali tidak bergerak dan tidak merespon.

Jadi, Gu Yu berbisik pelan. “Buka mulutmu …”

Bo Shangyuan perlahan mengangkat mata dan menatapnya.

Perhatian penuh Gu Yu ada pada gelas air di depannya, jadi dia tidak siap ketika Bo Shangyuan tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya.

Gu Yu tersentak kaget dan menatapnya.
Kemudian, Bo Shangyuan tanpa ekspresi bertanya. “Jadi karena ini kau selalu menghindar dariku?”

Ekspresi Gu Yu linglung dan tanpa sadar dia bertanya, “… Apa kau sudah sadar?”

“Aku tidak mabuk.”

Gu Yu seketika membeku dengan bodoh.
Pikirannya kosong.

Gelas ditangannya kendur dan siap jatuh, namun Bo Shangyuan dengan sigap mengambil alih.

Dua kata muncul di benak Bo Shangyuan.

– Seperti perkiraannya.

Gu Yu disisi lain benar-benar dalam kondisi lamban.

Dalam pikirannya hanya tiga kata yang tersisa.

Aku tidak mabuk…

Aku tidak mabuk…

Tidak mabuk…

Tidak

Kalimat ini terus berulang.

Setelah waktu yang lama, Gu Yu dengan ekspresi bodoh bertanya. “Itu… yang kau lakukan… apa kau sadar?”

Gu Yu tergagap dan hampir tidak bisa mengatakan kalimat lengkap.

Karena itu terlalu sulit dipercaya.

Bo Shangyuan menatapnya dengan tenang, tanpa kata-kata.

Jawabannya telah diceritakan pada Gu Yu dalam diam.

… tentu saja sadar.

Wajah Gu Yu tiba-tiba menjadi merah.
Telinganya panas dan wajahnya merah, dan dia benar-benar lupa apa yang akan dia katakan.

Dia berulang kali membuka mulut namun tidak bisa berkata apa-apa.

Bo Shangyuan memandangnya penuh minat.

Setelah mengetahui alasan Gu Yu sengaja menghindarinya. Suasana hatinya yang telah lama suram seketika hilang dan berubah bahagia.

Bo Shangyuan masih memegang pergelangan tangan Gu Yu, dengan sabar menunggu dia berbicara.

Gu Yu membuka mulut beberapa kali, dan akhirnya berkata. “Itu … kau, kenapa, kenapa kau menciumku?”

“Menurutmu?”

Melihat Gu Yu yang tidak mengerti, Bo Shangyuan melanjutkan. “Menurutmu, kenapa aku memberimu kelas tambahan, membiarkanmu tinggal di rumahku, membeli makanan ringan untukmu, dan menghabiskan uang untuk membelikanmu pakaian … dan kenapa hanya padamu?”

Gu Yu mematung.

Dia kemudian bertanya. “Ke-kenapa …”
Bo Shangyuan menarik pergelangan tangan Gu Yu untuk mendekat.

Detik berikutnya, Bo Shangyuan menahan bagian belakang kepala Gu Yu dan menciumnya.

Setelah ciuman, Bo Shangyuan menggigit pelan bibir bawahnya, lalu melepaskannya.
Dia menatap Gu Yu yang tampak bodoh, “Kau pikir sendiri.”

Gu Yu tiba-tiba lemah dan merosot terduduk di karpet lembut, mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirnya yang sudah bengkak.

Otaknya benar-benar tidak mampu berpikir sekarang.

Pada saat ini, Bo Shangyuan tiba-tiba teringat sesuatu.

Suatu hal yang membuatnya tidak senang sejak lama.

Dia bertanya dengan tanpa ekspresi. “… Apa kau ada sesuatu dengan Jiang Zhenshan?”

Gu Yu mendongak.

Karena otaknya benar-benar kehilangan kemampuan untuk berpikir, dia tidak mengerti apa yang baru saja Shangyuan tanyakan.

Bo Shangyuan ulangi pertanyaan yang sama.

Gu Yu berkedip sejenak, “… tidak ada apa-apa.”

“Apa yang kau lakukan di rumahnya?”

Gu Yu tidak mau berpikir. “Aku membuat …”

Sadar sesuatu, dia dengan cepat menutup mulutnya.

Tetapi situasi saat ini tidak lagi seperti masa lalu, selama Gu Yu tidak mau mengatakan, Shangyuan tidak akan mendesak.

Dia kali ini turun dari sofa dan datang ke depan Gu Yu, lalu mengangkat dagunya.
Jari-jari putih ramping perlahan berayun di dagu Gu Yu, membelai, dan mencubitnya.
Kelopak matanya rendah, suaranya magnetis dan rendah. “Tidak jawab, aku cium.”

Benar saja, seperti yang sudah lama ditunggu-tunggu, wajah Gu Yu tiba-tiba semakin memerah dari sebelumnya.
Tubuh Gu Yu terkejut, dan alam bawah sadar segera bergerak mundur.

Reaksi Gu Yu sama sekali tidak terduga. Dia menatapnya dengan tenang. “Bilang atau tidak.”

Gu Yu sedikit mengeluh lewat pandangan, dan kemudian patuh menjawab. “… membuat kelas.”

Mendengar itu, Bo Shangyuan mengangkat alisnya, sedikit terkejut.

“Dia memberimu kelas tambahan?”

“Tidak … aku yang memberikannya.”

“Dia mencarimu?”

“Hm.”

“Kenapa tidak mencari orang lain.”

“… Dia tidak nyaman dengan orang asing.”

Bo Shangyuan mengamati ekspresi wajah Gu Yu sejenak.

Gu Yu menyusutkan tubuhnya.

Melihat Gu Yu tidak berbohong, Bo Shangyuan akhirnya mengembalikan penglihatannya.

“… Kalian punya janji untuk valentine hari ini?”

Entah kenapa Gu Yu mendengar makna berbahaya dalam kalimat pendek ini.
Dia balas berbisik. “Tidak … Kami hanya membeli alat tulis dan bahan pelengkap.”

Shangyuan bertanya retorik. “Membeli alat tulis dan bahan pelengkap pada Hari Valentine?”

Suara Gu Yu tiba-tiba menjadi rendah. “Kami baru tahu hari ini adalah Hari Valentine setelah pergi keluar.”

Bo Shangyuan mengamatinya sejenak.
Gu Yu menahan napas dan tidak berani bergerak.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan menarik garis pandang, berkata dingin. “Kau tidak boleh lagi membuat kelas.”

“Tidak, tidak bisa!”

Tanpa diduga, Gu Yu tidak setuju membuat Bo Shangyuan menatapnya tidak senang.

Melihat itu, Gu Yu berkata lemah. “Aku sudah, sudah … berjanji padanya.”

Bo Shangyuan acuh tak acuh dan tidak responsif.

Gu Yu menyusutkan tubuhnya, dan mengeluh pelan. “Festival Musim semi hanya lebih dari seminggu, aku hanya akan membuat kelas beberapa hari lagi…”

Bo Shangyuan menatap Gu Yu tanpa berkedip.

Gu Yu menunduk dan menarik-narik bulu karpet di kakinya.

Setelah beberapa saat, Bo Shangyuan bergumam sebagai kompromi.

Dia mendongak melihat waktu yang sudah lewat jam delapan malam.

Dia kembali fokus pada Gu Yu, bertanya samar, “Pulang atau tidur di sini.”

“Pulang!”

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments