82. Semoga beruntung

Gu Yu berpikir bahwa ketika membuat kelas, dia tidak akan bisa membuat Jiang Zhenshan mengerti.

Namun pada kenyataannya, apa yang dia khawatirkan tidak terjadi sama sekali.

Jiang Zhenshan sangat cerdas. Dia bisa langsung mengerti dalam satu kali penjelasan, tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Dalam hal ini, Gu Yu menghela nafas lega, akhirnya dia merasa tenang.

Pada minggu pertama liburan musim dingin, Gu Yu hampir selalu pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Gu Yu tiba pada jam 9 setiap pagi dan sampai 11:30, dia akan pulang untuk makan.

Setelah makan siang dan istirahat sejenak, dia naik bus dan kembali ke rumah Jiang Zhenshan.

Waktu untuk mengisi kembali kelas di sore hari dimulai pukul dua dan berakhir setengah delapan malam.

Total waktunya delapan jam. Ini sama dengan waktu kelas tambahan di luar sekolah.

Meskipun butuh delapan jam sehari, tampaknya ada banyak waktu yang tersisa, tetapi karena dibutuhkan satu jam untuk bolak-balik dengan bus, secara umum, Gu Yu menghabiskan sekitar sepuluh jam sehari.

Selain itu, dia harus menyiapkan pelajaran setiap malam, jadi pada dasarnya, Gu Yu menghabiskan sepanjang hari untuk kelas tambahan.

Meski sedikit lelah, Gu Yu merasa sangat bermanfaat.
.
.

Gu Yu keluar lebih awal dan pulang terlambat setiap hari dan itu sangat rutin, membuat kedua orangtuanya menyadari ada sesuatu yang salah.

Jadi pada siang hari, ketika Gu Yu siap untuk meninggalkan rumah, ayah Gu menghentikannya dan kemudian bertanya. "Kau mau pergi kemana?"

Gu Yu tampak tenang. "... Pergi ke teman sekelas untuk menulis pekerjaan rumah."

Ayah Gu tidak mengerti. "Kau bisa menulis di rumah, kenapa harus pergi ke teman sekelas?"

Gu Yu tertegun sejenak. "Setelah tulis pekerjaan rumah, kami bermain game."

Ayah Gu menyadari ini.

"Oh ... Begitu. Pergilah."

Gu Yu diam-diam menghela nafas lalu pergi.
.
.

Tiga hari kemudian.

Boxing Family Hall bawah tanah.

Bo Shangyuan sedang beradu tinju di atas ring.

Suasana hatinya sedang tidak baik, jadi hampir setiap pukulan menggunakan kekuatan penuh.

Lawan tinjunya juga kuat dan kokoh. Namun, tidak bisa menghindari pukulan Bo Shangyuan.

Baru bermain selama sepuluh menit, petinju itu tidak bisa bertahan lagi dan berteriak untuk berhenti.

Namun Bo Shangyuan benar-benar acuh tak acuh.

Lima menit kemudian, hidung dan wajah petinju itu bengkak.

Setelah petinju itu diseret ke bawah, tidak ada yang berani naik ke atas ring.

Petinju peraih medali emas dari gym tinju ini bahkan babak belur menghadapi Bo Shangyuan, bagaimana dengan mereka.

- Jika tidak ingin mati sebaiknya jangan maju.

Tidak ada yang berani naik ke ring lagi, Bo Shangyuan mendengus lalu melepas sarung tangannya.

Dia turun dan menuangkan segelas air dingin ke wajahnya.

Melihat Bo Shangyuan sudah turun, mereka yang tadi diam segera melompat ke atas ring tinju tanpa ragu, dengan penuh semangat menggosok tangan, siap untuk mencari lawan tinju.

Duan Lun mencebik melihat pemandangan di depannya.

Teringat sesuatu, dia menoleh pada Bo Shangyuan. "Beberapa hari lagi hari valentine. Apa Bo kami yang tampan punya rencana?"

Hari ini 10 Februari, dan ada empat hari lagi adalah hari valentine.

Duan Lun sangat ingin tahu bagaimana Xing Bo melewatkan hari itu.

Bo shangyuan hanya mendelik dingin.

Duan Lun mengangkat bahu dan mengubah topik pembicaraan. "Tidak, maksudku ... Bagaimana hubungan kalian berdua? Masih belum baik?"

Bo Shangyuan tidak merespon.

Duan Lun mengangkat alisnya, "Apa kau butuh bantuanku?"

"Enyahlah!"

Duan Lun mencibir, "Ck, lupakan saja."

Bo Shangyuan berbalik dan pergi.

Duan Lun bingung dan bertanya. "Xing Bo, kau mau kemana?"

... tidak ada jawaban.

Bo Shangyuan tidak keluar gym tinju, tetapi pergi ke sudut di mana tidak ada seorang pun.

Menenangkan diri.

Perasaannya sedang kesal.

Sejak Gu Yu pulang ke rumah, jarak antara keduanya menjadi semakin jauh.

Pada awalnya, mereka masih bisa pulang bersama, tetapi kemudian, jangankan pulang, mereka bahkan tidak bisa mengobrol.

Sekarang bahkan lebih buruk, Gu Yu bahkan tidak membalas pesan.

Pada awalnya, Bo Shangyuan berpikir si pembohong kecil diam-diam memikirkan sesuatu, dan dia tidak bisa memikirkannya untuk sementara waktu, jadi dia membuka jarak dan berpikir untuk menjauh darinya.

Tetapi sekarang, dia akhirnya menemukan alasan sebenarnya.

Itu karena Jiang Zhenshan.

Karena Gu Yu suka dengan gadis itu dan ingin tetap dengannya setiap hari, dia tidak ingin terus menyia-nyiakan waktu untuknya.

Memikirkan hal ini, perasaan Bo Shangyuan semakin kesal.

Dia sebelumnya khawatir akan menakuti pembohong kecil jadi dia menahan diri.

Mereka baru SMA, masa depan masih panjang dan dia punya cukup waktu untuk maju langkah demi langkah membuat si pembohong kecil menyadari perasaannya.

Namun, belum sampai ke tengah jalan, si pembohong kecil sudah pindah ke yang lain.

Dan dengan kejam dan dingin tidak lagi mempedulikannya.

Semakin memikirkannya, suasana hatinya semakin buruk.

Ini bahkan lebih buruk daripada dua tahun setelah Li Shuhui membawa anak haramnya masuk ke rumah utama Bo.

Setelah beberapa saat, dia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan pada Gu Yu.

Secara alami, tidak ada jawaban.

- Seperti sebelumnya.

Bo Shangyuan tidak bisa menahan diri. Dia langsung melakukan panggilan.

Telepon berdering sebentar sebelum akhirnya terhubung.

Bo Shangyuan langsung ke inti. "Dimana."

Gu Yu tertegun. Dia balas dengan pelan. "... Dirumah Jiang Zhenshan."

Suara Bo Shangyuan sangat dingin. "Apa yang kau lakukan di rumahnya."

Gu Yu diam.

Pada saat bersamaan, Jiang Zhenshan yang berada diluar ruang belajar berteriak keras. "Gu Yu, ibuku baru saja membuatkan kita roti kukus. Apa kau ingin keluar dan makan?"

Karena Gu Yu sopan dan pintar, ibu Jiang sangat menyukainya. Selama dia punya waktu, dia akan membuatkan mereka cemilan.

Pada awalnya, Gu Yu terlalu malu dan selalu menolak. Tetapi setelah beberapa kali, perlahan, dia tidak terlalu malu lagi.

Gu Yu berbalik dan segera menjawab, lalu mengalihkan perhatiannya kembali ke telepon.

Gu Yu takut Bo Shangyuan akan menanyakan sesuatu yang tidak bisa dia atasi jadi dengan cepat berkata. "... Aku akan makan roti. Kalau ada sesuatu, bicara saja lain kali."

Setelah itu, dia langsung menutup telepon.

Tut tut tut...

Bo Shangyuan terdiam.
.
.

Empat hari berlalu dengan cepat.

Pada hari ini, Gu Yu dan Jiang Zhenshan tidak membuat kelas di rumah, tetapi mereka pergi keluar.

Karena kertas konsep dan tinta pena habis, keduanya pergi membeli kertas dan pena. Lalu pergi ke toko buku untuk melihat apakah ada bahan tambahan yang bagus.

Mungkin karena belum pernah berbicara tentang cinta, keduanya tidak sensitif terhadap Hari Valentine, Festival Qixi, dll.

Ketika mereka membuat janji pada tanggal 14 untuk pergi membeli alat tulis, mereka tidak menyadari bahwa hari ini adalah Hari Valentine.

Sampai ketika keduanya melihat banyak pasangan yang penuh kasih di jalan, mereka baru sadar.

Melihat itu, wajah Jiang Zhenshan sedikit merah, cukup malu.

"Aku tidak tahu kalau hari ini adalah Hari Valentine ..."

Gu Yu dengan tenang merespon. "Aku juga tidak tahu."

Dia tidak merasa apapun jadi biasa saja.

Laki-laki dan perempuan berbelanja bersama hari ini, meskipun mereka tahu bahwa hubungan antara keduanya hanyalah teman sekelas, di mata orang lain, itu tidak terlihat seperti hubungan teman sekelas yang biasa.

Memikirkan hal ini, Jiang Zhenshan merasa sedikit malu, tetapi setelah melihat penampilan Gu Yu yang luar biasa tenang, dia kemudian berubah tenang.

Setelahnya Jiang Zhenshan memikirkan sesuatu, dia berbisik, "Apa kau tidak ingin kembali?"

Gu Yu bingung, "?"

"Bukankah ini hari valentine?"

"... Terus?"

Meskipun Jiang Zhenshan tidak berbicara tentang cinta, dia masih bisa memahami maksud hari ini.

Dia berkedip polos dan berkata, "Bukankah di Hari Valentine kau seharusnya bersama gadis yang kau suka?"

Gu Yu diam sejenak.

"... Aku tidak punya gadis yang aku suka."

Tetapi kalau laki-laki, mungkin ada.

Tetapi hal ini benar-benar mustahil untuk dikatakan.

"Oh begitu."

Gu Yu diam.

Setelah itu, Jiang Zhenshan bertanya lagi. "Kalau saat SMP?"

"Tidak ada."

Jiang Zhenshan mengerti lalu balas tersenyum dan berkata. "... Aku juga tidak ada."

Setelah itu, dia menurunkan volume suaranya. Takut pada orang lain untuk mendengar, dia mengecek sekitar lalu dengan pelan berkata pada Gu Yu. "Sebenarnya, aku pikir sebagian besar laki-laki di kelas kita sangat berisik dan masih sangat naif. Tidak ada yang bisa disukai sama sekali. Ah ... Tentu saja, kecuali kau!"

Disaat bersamaan, sebuah mobil sport yang melintas tiba-tiba rem mendadak.

Mobil sport itu menepi lalu jendelanya diturunkan.

Sosok yang duduk dibangku belakang itu memandang situasi didepannya dengan wajah sangat sulit dipercaya.

Dia mengeluarkan ponsel dari saku, mengambil foto, dan mengirimkannya kepada seseorang.

Dia menambahkan kata-kata.

Bukan photoshop, kalau palsu, aku bersedia mati atas nama seluruh keluarga. ]

Sosok itu mengangkat dagunya dan memberi isyarat kepada sopirnya di depan untuk mendekat.

Melihat sebuah mobil sport berhenti didekatnya, Gu Yu tampak tidak mengerti.

Disaat bersamaan, kaca jendela diturunkan dan wajah Duan Lun yang familier muncul di depan matanya.

Melihat Duan Lun, Gu Yu bahkan semakin tidak mengerti.

Duan Lun dengan santai menopang di bingkai jendela dan memandang Gu Yu. "Mau pergi kemana kurcaci kecil?"

Meskipun bertanya Gu Yu, mata Duan Lun menyapu Jiang Zhenshan di belakangnya.

Dia mengerutkan kening.

Duan Lun benar-benar tidak bisa paham. Xing Bo yang tinggi dan tampan begitu baik bisa kalah dari gadis biasa.

Sementara disisi lain, meskipun Jiang Zhenshan tahu Duan Lun yang juga terkenal di SMA Chengnan tetapi karena mereka tidak pernah berinteraksi, jadi di matanya, Duan Lun mirip dengan orang asing.

Karena itu, dia reflek bersembunyi dibelakang Gu Yu.

Gu Yu sadar namun tidak berpikir apa-apa, tetapi di mata Duan Lun, maknanya sangat berbeda.

Duan Lun berkedip memandang keduanya.

Gu Yu merespon. "Pergi ke toko alat tulis."

"Oh." Duan Lun kemudian bertanya. "Kalian berdua?"

"Hm."

Duan Lun menarik sudut mulutnya. "Setelah pergi ke toko alat tulis?"

Gu Yu dengan tenang membalas. "Pergi ke toko buku."

Duan Lun mengerti, dan kemudian dia berkata. "Pergi bersama, tampaknya hubungan kalian cukup baik."

Gu Yu tidak banyak berpikir, dia hanya bergumam mengiyakan.

Duan Lun masih berniat untuk menanyakan sesuatu, tetapi kali ini, ponselnya berdering.

Duan Lun melihat nama yang tertera dan mengangkat alisnya.

Reaksi pertama Duan Lun bukanlah menjawab telepon, tetapi menatap Gu Yu di sisi jalan.

Sudut bibirnya melengkung, dan perlahan berkata, "Aku masih punya urusan, aku pergi dulu."

Lalu dengan tersenyum cerah menambahkan. "Semoga beruntung."

Gu Yu, "?"

Beruntung apa?

Duan Lun tidak berbicara lagi, menutup jendela lalu dengan semangat memberi isyarat sopir untuk menjalankan mobil.

Setelah sedikit lebih lama, Duan Lun menjawab telepon. "Kurcaci kecil dan kekasihnya benar-benar romantis. Hari ini mereka pergi bersama ke toko alat tulis dan toko buku. Aku pikir mereka mungkin akan makan malam."

Orang diujung telepon tidak berbicara.

Duan Lun sudah menduga itu, dan terus berkata perlahan, "Ketika aku berbicara dengan kurcaci kecil, kekasihnya itu bersembunyi dibelakangnya. Adegan itu, ckck ...begitu intim."

Orang di ujung telepon masih diam.

Setelahnya Duan Lun dengan antusias bertanya. "Menurutmu, apa mereka akan berciuman hari ini?"

Telepon langsung dimatikan sepihak.

Mendengar panggilan terputus, Duan Lun mengangkat sebelah alisnya, merasa senang.
.
.

Malam.

Gu Yu pada awalnya berencana untuk membeli kertas dan pena isi ulang dengan Jiang Zhenshan, dan kemudian ke toko buku lalu kembali ke rumah Jiang Zhenshan untuk lanjut membuat kelas. Tetapi dia tidak menyangka bahwa setelah mengunjungi toko buku, sudah jam lima sore.

Tidak mungkin, dia harus pulang.

Karena toko buku agak jauh dari komunitas, sudah lebih dari jam enam sore ketika Gu Yu akhirnya dapat kembali ke rumah.

Langit di atas kepala semakin gelap, Gu Yu berjalan pulang, merasa lelah.

Dia tidak ingin lagi pergi berbelanja dengan perempuan...

Hanya membeli beberapa notebook dan pena isi ulang, tetapi karena penutup notebook, ketebalan isi ulang dan warnanya berbeda, Jiang Zhenshan memilih hampir satu jam.

Setelah tiba di toko buku, dia bahkan lebih rumit.

Dia merasa semuanya bagus dan ingin membelinya.

Pada akhirnya, jika bukan karena waktu sudah sedikit terlambat, Gu Yu pikir gadis itu akan terus berjuang.

Gu Yu dengan lelah melangkah ke dalam lift.

Dia bersandar di lift dan menunggu lantai naik perlahan.

Dua menit kemudian, lift mencapai lantai tujuh belas.

Pintu lift berbunyi, Gu Yu berdiri tegak dan bersiap mengangkat kakinya untuk keluar.

Tepat ketika berjalan keluar, tiba-tiba pergelangan tangannya dicegat seseorang diluar, belum sempat melihat, Gu Yu langsung diseret kembali ke dalam lift.

Orang itu berdiri dibelakangnya, menekan tombol tutup dan tombol lantai atas.

Gu Yu yang sudah lelah ditambah mengalami adegan aneh ini tidak bisa menahan diri untuk berbalik dan marah. Namun dia kemudian tertegun.

Semua kemarahan menghilang dalam sekejap, menghilang tanpa jejak.

Gu Yu menatap Bo Shangyuan dan mengajukan pertanyaan. "... Kenapa kita pergi ke lantai atas?"

Bo Shangyuan dengan wajah dingin, tidak merespon.

Gu Yu berpikir suaranya terlalu kecil, sehingga Shangyuan tidak mendengarnya jadi dia mengulanginya lagi dengan volume keras.

Namun Bo Shangyuan masih belum merespon.

Entah bagaimana, Gu Yu tiba-tiba merasakan firasat buruk.
.
.

Lift dengan cepat berhenti dilantai atas.

Bo Shangyuan meraih pergelangan tangan Gu Yu dan menyeretnya keluar dari lift.

Gu Yu ingin mengatakan dia bisa berjalan sendiri, tetapi melihat wajah Bo Shangyuan yang gelap dan tidak baik membuatnya mengurungkan niat.

Bo Shangyuan tidak membawanya jauh, sekitar dua atau tiga langkah, dia berhenti.

Ketika mereka berhenti, Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan siap untuk berbicara, tetapi detik berikutnya, Bo Shangyuan menekannya ke dinding dan langsung menciumnya.

Gu Yu seketika membeku.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments