81. Kebaikan darimana?

Dalam persiapan yang intens untuk pesta perayaan, kehidupan kampus yang membosankan diulangi karena pesta menjadi hidup dan sibuk, menyiapkan panggung dan mempersiapkan program, sehingga kampys dapat memulihkan umur pendeknya. Guo Zhi berdiri di luar kamar tidur, memegang kamera, memandangi para siswa yang sibuk di bawah melalui lensa, ia menantikan pestanya. Ia pasti akan melihat banyak orang berbeda di pesta itu. Ia tidak tahu apakah ia bisa mengambil materi yang diinginkan.

Ponsel disaku celananya bergetar, Guo Ruojie memintanya pergi ke lapangan. Dia menyimpan kembali kamera dan berlari ke bawah. Dia bertemu dengan Hua Guyu yang tampak berkilau di tangga. Kemewahannya tak bisa Guo Zhi gambarkan dengan jelas. Warnanya cerah dan gayanya dilebih-lebihkan. Seperti pakaian yang dikenakan oleh para pangeran eropa dijaman dulu dengan wajahnya itu terlihat sedikit elegan.

“Hua er, pergi kencan buta?”

“Siapa yang berpakaian seperti ini untuk pergi kencan buta! Aku akan melakukan sandiwara panggung, Romeo dan Juliet di pesta perayaan. Murahan. Wanita yang memainkan Juliet mungkin menangis bahagia di suatu tempat sekarang.” Dia menopang siku di pegangan, berpose sebagai raja.

“Ternyata kau akan tampil di atas panggung tidak layak, Hua er.” Guo Zhi tidak pelit untuk memujinya.

“Tentu saja, bagaimana, aku khawatir tentang tidak sedikit terlalu tampan, aku tidak ingin memberikan terlalu banyak tekanan ke Shi Xi, melihatku begitu rendah hati menyembunyikan tidak ingin melihat orang.”

Guo Zhi mengayunkan tangannya. “Tidak, Shi Xi sangat baik hati, tidak akan berkelahi denganmu, jangan khawatir.”

“Bah! Bah!* Aku ingin dengar bagian mana darinya yang kau sebut baik.”

*Meludah

“Aku memikirkannya dulu.” Guo Zhi berpikir sebentar, “Terlalu banyak, yang mana yang harus aku katakan. Misalnya, dia tidak ingin mengganggu orang lain, jadi dia jarang berbicara dengan orang lain.”

“Bah! Bah! Bah! Dia memang sama sekali tidak peduli dengan orang lain.”

“Kau punya kesalahpahaman yang serius.”

“Kesalahpahaman yang serius adalah kebodohanmu itu idiot!” Hua Guyu mengumpat marah. Guo Zhi tidak ragu untuk membantah, “Lalu bagaimana kau menjelaskan tentang kebaikan Shi Xi yang selalu mengajakmu?” Hua Guyu rasanya ingin mendorong Guo Zhi jatuh ke lantai bawah sampai mati. Dia marah dan berteriak, “Aku! Bah! Bah! Bibi besar harus keluar*! Itu yang disebut baik? Dia jelas-jelas memerintahku.”

*Istilah gaulnya menstruasi, lol

“Hua er, apa kau punya bibi besar?!” Guo Zhi terkejut, “Bagaimana mungkin aku tidak tahu ini!”

Hua Guyu dengan menyakitkan meraih dadanya, “Jangan bicara padaku, kau sia-sia, kau benar-benar sia-sia! Aku menganggapmu sebagai teman, kau terlalu eksentrik. Katakan pada Shi Xi, aku benci dia!” Setelah selesai, Hua Guyu melarikan diri dengan terluka, meninggalkan Guo Zhi yang tidak mengerti.
.
.

Banyak orang di lapangan telah terlibat dalam pekerjaan konstruksi panggung yang keras. Guo Ruojie sangat mencolok dikerumunan, duduk di kursi memegang camilan ditangannya, kepalanya miring ke belakang, air liur mengalir keluar dari sudut mulutnya, gambarnya sangat kontras dengan siswa lain yang berkeringat seperti hujan, dan bahkan Guo Zhi tidak tahan melihatnya, ia mendekat dan bantu menegakkan kepala sepupunya. Guo Ruojie mengucek mata, “Kau disini.”

“Bagaimana sepupu di sini? Jangan memengaruhi pekerjaan orang lain.”

“Ini benar-benar merepotkan. Aku tahu akan seperti ini. Aku seharusnya tidak masuk serikat mahasiswa di awal.”

“Bagaimana kau bisa menjadi serikat mahasiswa?” Guo terkejut, nada suaranya sangat tidak menyenangkan.

“Aku bukan hanya dewan siswa tetapi menjadi sekretaris, punya pendapat?”

Guo Zhi tidak tahu apa yang dilakukan sekretaris serikat mahasiswa, tetapi ia mendengarkannya sebagai pejabat besar membuatnya kagum. “Sepupu, kau begitu…” Pujiannya sia-sia, Guo Ruojie segera berkata, “Sebagai sekretasis, aku tidak perlu melakukan apa-apa, aku hanya perlu mengarahkan tenaga kerja murah tingkat terendah, dan aku bisa menerima suap dari waktu ke waktu. Itu hanya menjengkelkan ketika mengadakan acara, aku harus berpartisipasi.”

“Negara ini akan korup karenamu.”

“Aku orang seperti itu? Kurasa Shi Xi-mu akan lebih baik daripada aku dalam hal-hal ini.”

“Shi Xi tidak bisa.” Guo Zhi berdiri dan menggelengkan kepalanya tak berdaya, “Aku heran, kenapa kau dan Hua er tidak bisa merasakan kebaikan Shi Xi? Jelas sekali.”

“Aku ingin tahu kenapa kau merasa bahwa dia baik.”

“Kau dibutakan oleh tampilan luar.”

“Kau dibutakan oleh cinta.” Guo Ruojie menendang Guo Zhi dan berkata, “Jangan mengobrol di sini, pergi membantu.”

“Aku tahu.”

Guo Zhi bergabung dengan pekerjaan konstruksi, menghancurkan papan, menggerakkan tripod, mengangkat peralatan, dan berkeringat. Dia melepas jaketnya dan meletakkannya di pundaknya. Tidak ada yang memperhatikan ia merangkak dirumput seperti binatang. Semakin jauh lalu dia melompat keluar dari rumput dan mengeluarkan suara aneh, “Ooh haa!”

Duduk diatas rumput, Shi Xi acuh tak acuh sedang membaca buku, lapangan dan stadion tidak jauh, Guo Zhi bisa menebak Shi Xi berada di sini.

“Apa aku menakutimu?” Pertanyaan itu berlebihan. Apa kau melihatnya sedang ketakutan? Guo Zhi mengusak kotoran dari rambutnya, duduk di sebelah Shi Xi dan menggosok keringat dengan jaketnya. “Panas yang mematikan.”

“Jangan bergerak.”

“Tidak bergerak, mati.”

“Lagipula tidak ada gunanya kau hidup.”

“Ini terlalu menyakitkan!” Guo Zhi meraih pergelangan tangan Shi Xi, dia meletakkan punggung tangannya diwajah dan mendesah dengan nyaman, “Haah dingin ~ Katakan, kenapa kau tidak bertanya-tanya bagaimana aku di sini?”

“Tidak ada yang membuatku penasaran darimu.”

Tidak peduli apakah Shi Xi mau mendengarkan, Guo Zhi terus mengatakan sendiri, “Sepupu tiba-tiba adalah serikat mahasiswa, aku membantunya, dia keterlaluan mengatakan kau tidak baik, kau jangan marah, mereka hanya tidak mengerti!” Hibur Guo Zhi, Shi Xi menarik kembali tangannya yang terkena keringat dan menyekanya pada pakaian Guo Zhi. “Jangan menyebar bakteri padaku.”

Guo Zhi kembali meraih tangan Shi Xi menempelnya diwajah. “Jangan khawatirkan aku, suhu ini tidak akan membuatku masuk angin.” Shi Xi penasaran apakah ada mesin di telinga Guo Zhi yang secara otomatis mempercantik percakapan.

“Pemikiranmu terkadang benar-benar…” Shi Xi tidak menyelesaikan kata-kata di belakang.

“Apa kau pikir aku terlalu banyak berpikir?”

“Tidak cukup untuk memikirkannya.”

“Luar biasa, kau bicara terlalu dalam, aku sering tidak mengerti.”

“Kau bisa bodoh seperti ini, dan kau bagus dalam hal ini.” Ini bukan hanya ironi, itu mudah untuk mengatakan bahwa Guo Zhi memang bodoh. Guo Zhi dengan malu melepaskan tangan Shi Xi. “Tahu aku bodoh dan meledekku, kau tidak akan terlalu baik.” Ia menyentuh ponsel untuk melihat waktu, “Aku harus kembali bekerja.” ia kembali merangkak diatas rumput, baru beberapa langkah, jaket dilemparkan dari belakang jatuh di punggungnya.

“Pakai jaketmu,” Shi Xi membalikkan halaman buku.

“Akan sangat panas untuk memindahkan barang.”

“Aku tidak akan merawatmu kalau nanti kau sakit.”

Guo Zhi meratakan mulutnya, ini ekspresi kebiasaannya. Dia mengenakan jaket, “Kau harus merawatku.”

“Cepat jalan.”

“Tidak jalan, aku merangkak. Aku tidak bisa dilihat orang lain.”

“Terserah, menghilang dariku.”

Guo Zhi menoleh, berlutut di rerumputan, tangannya mencabut ranting-ranting yang menghalangi pandangan, berkata sedikit serius, sedikit yakin, sedikit manis. “Tapi ada kau di dunia ini, aku tidak ingin menghilang begitu saja.”

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments