81. Bagaimana kau tahu?

… Ujian akhir tiga hari berakhir.

Karena kertas ujian tidak dapat dikoreksi dengan begitu cepat, sekolah memberikan cuti dua hari setelah ujian.

Setelah liburan dua hari, tiba saatnya mengumumkan hasil secara resmi.

Pagi ini, Shen Teng duduk diam dibangkunya, sudah bisa memperkirakan nilai. Sementara Jin Shilong takut untuk melihat nilainya turun, memikirkan tidak bisa lagi membeli komik gadis membuat putus asa dan memilih tetap duduk, diam.

Lain halnya dengan Jiang Zhenshan yang ingin melihat nilainya, tetapi dia tidak berani melihat sendiri.

Untuk itu, dia bertanya pada Gu Yu. “Apa kau mau pergi melihat nilai bersama?”

Gu Yu tidak khawatir tentang nilainya jadi dia setuju. Keduanya meninggalkan ruang kelas dan pergi ke papan buletin.

Seperti diperkirakan semua orang, nama yang tertulis di bagian atas papan buletin masih Bo Shangyuan.

Namanya sangat mencolok dan menarik perhatian.

Melihat itu, Gu Yu tidak terkejut. Dia dengan tenang mengalihkan matanya ke kelas E.

Namanya berada di tempat pertama dengan 582 poin.

Bahkan lebih tinggi dari tempat pertama di kelas D.

Jiang Zhenshan merasa sangat iri. Setelah melihat nilainya sendiri, dia tertekan. “Nilaiku turun…”

Dia kemudian bertanya pada Gu Yu. “Kapan kita mulai membuat kelas?”

Gu Yu berpikir sejenak. “… Besok?”

Setelah hasil ujian akhir diumumkan hari ini, guru akan mengatur tugas untuk liburan musim dingin nanti.

Setelah itu, maka, tentu saja hari libur.

Menurut akal sehat, secara umum, kebanyakan orang akan berpikir untuk bermain. Namun, karena Gu Yu tidak bisa memikirkan apa pun untuk dimainkan selama liburan musim dingin, ia merasa bahwa lebih baik pergi ke rumah Jiang Zhenshan untuk membuat kelas.

Jiang Zhenshan tidak menyangka Gu Yu akan mengatakan besok, jadi dia tidak bisa menahan diri untuk mengangguk senang. “Oke.”

Gu Yu mematah jari-jarinya, menghitung, lalu bertanya, “Apa besok pagi pukul sembilan?”

Gu Yu memeriksa di Internet, dan para guru tutor di luar sekolah biasanya mulai jam 9:00 pagi.

Jiang Zhenshan tidak keberatan dan mengangguk lagi. “Oke ~”

Setelah itu, dia tiba-tiba teringat sesuatu. “… Apa aku harus menyiapkan sesuatu?”

Gu Yu mengerutkan kening, ekspresinya rumit. “Aku tidak tahu apa yang harus dipersiapkan. Lihat saja nanti.”

“Oke ~”

Keduanya berbicara tentang rincian pelajaran untuk dibuat besok sambil berjalan ke arah kelas. Ketika kembali duduk, Jiang Zhenshan berkata. “… Berarti besok sesuai kesepakatan.”

Gu Yu mengangguk. “Hm.”

Shen Teng secara tidak sengaja mendengar, mau tak mau penasaran untuk bertanya. “Ada apa?”

Gu Yu seolah tidak mendengar dan Jiang Zhenshan tersenyum malu, tidak menjawab.

Shen Teng, “????”

Tidak lama kemudian guru kelas masuk sambil membawa pekerjaan rumah liburan musim dingin dan berdiri di podium.

“Hasil kalian telah keluar, semuanya ada di papan buletin, jadi aku tidak akan mengatakan lebih banyak. Ini hanya beberapa tugas liburan musim dingin, dan beberapa dari guru matematika, dia akan membawanya untuk dibagikan.”

Mendengar itu, orang di kelas mengeluh pada saat yang sama.

Yang di podium saja sudah banyak, tidak disangka ada tambahan lagi. Kejam!

Tidak lama, guru matematika masuk ke kelas dengan tumpukan tugas liburan musim dingin lalu menaruhnya dimeja podium.

Dia menatap dingin ke arah orang-orang yang hadir. “Siapa yang tidak puas, berdiri dan katakan padaku.”

Para siswa terdiam dalam sekejap, tidak ada yang berani berbicara.
.
.

Setengah jam kemudian, para siswa dengan ekspresi pahit menatap tumpukan tugas dimeja masing-masing.

Guru matematika bertepuk tangan dan berkata ringan. “Hm, ada begitu banyak tugas untuk liburan musim dingin.”

Para siswa yang hadir terdiam.

Dia tersenyum dan menambahkan kalimat khusus. “Jika ada yang berani untuk tidak mengerjakannya atau tidak menyelesaikannya … Aku akan membuat kalian terlihat baik.”

Semua siswa masih diam.

Ketika guru matematika melihat tidak ada yang menjawab, dia segera menepuk meja dan berkata, “Apa kalian mendengarnya!”

Para siswa yang hadir terkejut dan dengan cepat menjawab. “Dengar!”

Guru matematika puas dan melenggang pergi.

Begitu guru matematika itu pergi, guru kelas kembali ke podium.

Guru kelas mengatakan beberapa hal tentang liburan musim dingin dan waktu pendaftaran semester berikutnya. Dia akhirnya berkata, “Oke, kalian bisa pulang.”

Semua orang bersorak dan dengan senang berdiri dari bangku.

Akhirnya, dapatkan liburan!

Shen Teng juga senang.

Dia berbalik berkata pada Gu Yu. “Xiao Yu Yu, ayo pergi ke rumahku untuk bermain game.”

Ketika memikirkan level yang tertahan sudah hampir setengah bulan akhirnya akan bisa dilewati, Shen Teng sangat bersemangat.

“Tidak pergi.”

Gu Yu ingin langsung pulang untuk mempersiapkan pelajaran untuk besok. Tidak ada waktu untuk pergi ke rumah Shen Teng untuk memainkan permainan apa pun.

Mendengar itu, semangat Shen Teng hilang begitu saja.

“Kenapa …”

Gu Yu dengan kejam membalas. “Tidak ada waktu.”

“Oh …”

Disisi lain, Jiang Zhenshan menahan tawa.
.
.

Lantai dua.

Kelas A.

Sama seperti kelas E, setelah guru di podium mengumumkan untuk pulang, orang-orang di Kelas A juga dengan senang hati bersorak.

Namun, dalam sorakan yang memekakkan telinga ini, Shangyuan duduk tanpa ekspresi, sejak awal acuh tak acuh.

Duan Lun diam-diam mengintip ke arahnya dan kemudian menatap langit, pura-pura tidak melihat apa-apa.
.
.

Gu Yu yang baru saja pulang ke rumah dihentikan oleh ayah Gu dan ibu Gu yang duduk di ruang tamu.

Gu Yu dengan bingung berjalan mendekat. “… Apa ada sesuatu?”

Ayah Gu bertanya, “Sangat sulit mendapat hari libur, apa kau ingin kita pergi liburan?”

Gu Yu berkedip, tidak bicara.

Ayah Gu tersenyum dan menjelaskan. “Selama bertahun-tahun, kita sepertinya tidak pernah keluar untuk liburan bersama …”

Karena ayah Gu menemukan bahwa dia terlalu tidak kompeten, ayah Gu ingin menebus Gu Yu sepanjang waktu.

Karena itu, ketika Gu Yu belum pulang, kedua orangtua itu telah mendiskusikannya. Selama bertahun-tahun, keluarga mereka tampaknya belum pernah bepergian sebelumnya.

Jadi, ayah Gu pikir, manfaatkan liburan musim dingin ini untuk bepergian dan bersantai.

Meskipun pada awalnya, ibu Gu sangat menentang dan tidak setuju, tetapi setelah kata-kata sentimental dan masuk akal ayah Gu, ibu Gu pun setuju.

Ketika sebuah keluarga keluar untuk liburan, tentu saja akan menghabiskan banyak uang, tetapi karena itu bisa membuat anak bahagia, itu tidak masalah.

Ayah Gu berpikir begitu.

Tapi Gu Yu menolak tanpa ragu-ragu.

Dia menjilat bibirnya dan balas berbisik, “Aku tidak mau pergi.”

Ayah Gu berpikir bahwa Gu Yu enggan menghabiskan uang jadi dia meyakinkan. “Jangan khawatir tentang uang …”

Gu Yu memotong “… Ada banyak tugas untuk liburan musim dingin.”

Ayah Gu melihat tumpukan PR liburan musim dingin ditangan Gu Yu.

Ekspresi ayah Gu agak menyesal. “… Kalau begitu lain kali saja.”

Gu Yu bergumam lalu ke kamar tidur.

Dia duduk di mejanya dan mulai bersiap untuk ‘persiapan’.

Karena takut diganggu oleh notifikasi WeChat, ataupun Shen Teng, Gu Yu secara khusus mematikan ponsel, dan kemudian mulai berkonsentrasi untuk mempersiapkan pelajaran.

Pada saat bersamaan.

Bo Shangyuan mengirim pesan…

Namun, belum ada tanggapan.
.
.

Karena Gu Yu tidak pernah memberikan pelajaran untuk orang lain, dia mempersiapkannya sepanjang hari.

Saat itu hampir jam dua pagi, dan dia akhirnya menyiapkan isi kursus perbaikan tiga hari.

Dan karena baru tidur jam dua pagi, ketika bangun pagi berikutnya, Gu Yu masih lelah.

Rumah Jiang Zhenshan jauh dari rumahnya, jadi dia harus bangun lebih awal.

Pada jam 8 pagi, Gu Yu dengan masih mengantuk dan lelah bangkit dan bersiap.

Gu Yu menghabiskan sepuluh menit untuk mencuci muka, mengambil pekerjaan rumah dan bahan-bahan yang disiapkan kemarin, mengenakan sepatu lalu pergi ke rumah Jiang Zhenshan.

Namun, ketika dia membuka pintu rumah, Bo Shangyuan tengah bersandar di depan pintu, meliriknya tanpa ekspresi.

“Mau kemana?”

“… Teman sekelas.”

“Teman sekelas yang mana?”

Gu Yu ragu-ragu.

Shangyuan mengamatinya. “Jiang Zhenshan?”

Gu Yu tertegun. “Bagaimana kau tahu?”

Bo Shangyuan tidak menjawab. Dia melihat buku pelajaran dan tugas dipelukan Gu Yu dan bertanya, “Apa yang kau lakukan di rumahnya.”

Gu Yu diam.

Karena terlalu sulit untuk dikatakan.

Dengan prestasinya dia akan pergi untuk memberi pelajaran pada orang lain.

Jika Bo Shangyuan adalah siswa biasa di kelas F, dia bisa saja bicara jujur.

Tetapi Bo Shangyuan adalah siswa top dari kelas A yang selalu peringkat satu seangkatan.

Ini alasan kedua.

Alasan paling utama adalah jika bukan karena Bo Shangyuan yang membantunya selama beberapa bulan, prestasinya tidak akan sebaik seperti sekarang.

Melihat Gu Yu yang tidak menjawab, Shangyuan berubah dingin. “Tidak mau bilang? Jangan pikir kau bisa pergi.”

Gu Yu seketika mengangkat kepalanya.

Dia ingin protes, tetapi setelah melihat wajah dingin Bo Shangyuan, suaranya seketika melemah. “… Aku sudah membuat janji dengannya.”

Bo Shangyuan dengan acuh tak acuh bertanya retorik. “Kapan? tentang apa?”

Gu Yu terdiam.
.
.

Waktu perlahan berlalu.

Keduanya berdiri di tempat yang sama dan menemui jalan buntu.

Gu Yu tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, jadi dia semakin cemas.

Gu Yu takut waktu telah lewat jam sembilan dan Jiang Zhenshan akan berpikir dia berubah pikiran.

Gu Yu ingin pergi tapi Bo Shangyuan langsung menghalangi jalan.

Dia tidak bisa menahan diri lagi, “… Kenapa kau ingin tahu?”

“Hanya ingin tahu.”

Gu Yu seketika tidak tahu harus berkata apa.

Setelahnya dia memikirkan alasan yang sempurna.

“… Aku pergi ke rumahnya untuk bermain.”

“Kau pikir aku akan percaya?”

“…”

– tidak

Pada saat ini, Gu Yu tiba-tiba melihat sesuatu.

Dia berteriak, “Ibu.”

Bo Shangyuan yang sudah tertipu oleh trik yang dia gunakan terakhir kali, jadi kali ini, dia tidak akan mempercayainya.

Tanpa diduga, detik berikutnya, suara ibu Gu benar-benar terdengar dari belakang Bo Shangyuan.

Ibu Gu yang melihat Bo Shangyuan, terkejut. “Bukankah ini Bo Shangyuan? Kalian mengobrol di sini? Kenapa tidak masuk ke rumah?”

Mendengar itu, Bo Shangyuan berbalik.

Ibu Gu tengah menenteng dua tas plastik bahan makanan dan memandang keduanya dengan terkejut.

Meskipun terakhir kali karena urusan Li Shuhui, ibu Gu merasa sedikit rasa malu ketika melihatnya. Tetapi setelah Gu Yu pulang, perasaan itu perlahan menghilang.

“Halo bibi.”

Ibu Gu tertawa kecil dan berkata dengan antusias. “Kau masih sopan.”

Setelah itu, Ibu Gu berkata dengan hangat, “Jangan berdiri di luar, masuk kedalam dan bicara. Belum makan sarapan? Bibi akan menyiapkannya untukmu …”

Gu Yu membuka suara. “Bu, aku akan pergi ke teman sekelas untuk menulis pekerjaan rumah.”

Setelahnya dia langsung melarikan diri.

Bo Shangyuan menatap kepergiannya dengan suram.

Ibu Gu bingung melihat sosok Gu Yu yang sudah menghilang. “Kalau menulis pekerjaan rumah bisa dikerjakan di rumah. Kenapa harus pergi ke teman sekelas?”

Ibu Gu memalingkan matanya kembali ke Bo Shangyuan.

“Apa kau sudah sarapan? Jika belum makan, apa kau ingin datang ke rumah bibi …”

Bo Shangyuan langsung memotong. “Tidak, terima kasih Bibi.”

Dia melanjutkan dengan suara dingin, “Aku masih punya urusan, aku akan kembali ke rumah lebih dulu.” Setelah itu, dia berbalik masuk kerumahnya.

Ibu Gu hanya bisa menghela nafas.

Hah… Kapan anaknya bisa tumbuh setinggi Bo Shangyuan?
.
.

Sisi lain.

Karena takut terlambat, Gu Yu tidak naik bus dan langsung pergi dengan taksi.

Lingkungan tempat tinggal Jiang Zhenshan luas, bahkan jika Gu Yu naik taksi, dia tetap turun di luar komunitas, dan berlari dengan cepat.

Meskipun begitu, dia masih terlambat sepuluh menit.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam, mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.

Pintu dengan cepat dibuka dari dalam.

Gu Yu bersiap untuk minta maaf, tetapi Jiang Zhenshan dengan wajah menangis menyambutnya lebih dulu. “Gu Yu, kau akhirnya datang, aku pikir kau tidak akan datang …”

“… maaf, terlambat.”

Jiang Zhenshan membiarkannya masuk ke rumah. “Tidak masalah, silahkan masuk.”

Setelah memasuki rumah, Jiang Zhenshan bertanya, “Apa kita pergi ke ruang belajar atau ke kamarku?”

“… Ruang belajar.”

“Oke.”

Setelah keduanya memasuki ruang belajar, Gu Yu meletakkan bahan persiapan dan pekerjaan rumah di tangannya. “Aku membuat pelajaran untuk pertama kalinya. Mungkin tidak terlalu baik…”

Jiang Zhenshan merespon dengan mata berbinar. “Tidak masalah, yang penting kau bisa membuatku mengerti.”

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan mulai secara resmi membuat kelas.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments