8. Suaramu bisa melupakan rasa sakitku

Persepsi hari ini tampaknya sedikit berbeda, Guo Zhi mengerutkan kening, memegang wajah kirinya dan mengatupkan bibir.

"Ada apa dengan ekspresi aneh diwajahmu itu?" Tanya Wang Linlin.

Guo Zhi menatapnya kesal, "Gigiku sakit."

"Kenapa kau tidak ke dokter gigi?"

"Aku pikir sakitnya akan cepat hilang."

Hasilnya, rasa sakitnya bahkan semakin parah. Saat ini Guo Zhi tidak ingin duduk berdiam diri dikelas. Ia keluar melalui pintu belakang dan pergi ke kelas sebelah.

Selain Shi Xi, hanya ada beberapa buku dan tulisan papan tulis yang belum terhapus yang terlihat diruangan itu. Guo Zhi masih berdiri diluar kelas. "Shi Xi, apa gigimu akan sakit?"

"Tidak akan."

"Luar biasa!" Walau sedang kesakitan, Guo Zhi tak lupa untuk memberi pujian berlebihan pada Shi Xi. Ia melanjutkan, "Gigiku sedikit sakit saat ini, tapi aku yakin akan segera membaik."

Kali ini, Shi Xi mendongak dan melihat pipi kiri Guo Zhi yang membengkak. "Tidak perlu ke dokter gigi, sebaiknya kau pergi ke spesialis tumor untuk memeriksanya."

"Berlebihan. Bengkak ini tidak parah . Aw~" Rasa sakit tak tertahankan muncul sesaat ia menyelesaikan kalimatnya. Guo Zhi maju beberapa langkah mendekati Shi Xi. Berhenti sejenak dan melangkah lagi, lalu berhenti dan melangkah lagi sampai tiba dimeja Shi Xi.

"Cukup bertingkah idiot dikelasmu saja."

"Aku mencoba mendekatimu pelan-pelan  untuk meringankan rasa sakit."

"Tidak, itu hanya akan semakin sakit." Shi Xi memegang pulpen dan menyodok pipi kiri Guo Zhi. Rasa sakit Guo Zhi semakin berdenyut, ia menutupi wajahnya, mengerutkan kening melawan rasa sakit. Matanya melotot menatap Shi Xi, "Kau sangat luar biasa, tepat menyodok tempatku yang paling menyakitkan." Sudah seperti ini, masih saja memberi pujian berlebihan?!

Shi Xi memegang bukunya lalu beranjak keluar kelas. Guo Zhi masih berdiri diposisinya. Ekspresinya karena terabaikan terlihat sedikit menyedihkan. Shi Xi tidak berbalik, "Ayo pergi. Aku akan mengantarmu ke dokter gigi."

Mata Guo Zhi bersinar bagaikan cahaya mentari. Ia mengangguk semangat dan menyusul Shi Xi. Wajahnya jauh lebih berseri-seri dari biasanya. Wajahnya tidak pas untuk menampungnya dan ia hanya bisa menancapkan langsung ke hatinya.

Slogan untuk mengekspresikan suasana hati Guo Zhi sekarang: Dengan surat ijin palsu Shi Xi, tidak peduli seberapa ketat aksesnya, dia tidak akan takut ke mana pun mereka pergi. Hei, ini sangat bagus!
.
.
.

Cuacanya sangat panas, dan orang-orang dengan payung berjalan disekitar. Guo Zhi dan Shi Xi terkena silau matahari, dan bayangan mereka di tanah sedikit lebih dekat daripada jarak mereka sebenarnya.

Di tepi jalan, seorang pria yang compang-camping sedang berlutut di tanah, bersujud berkali-kali pada pengguna jalan yang terburu-buru, benar-benar gila. Guo Zhi buru-buru mengambil uang dari tasnya.

Shi Xi acuh tak acuh berdiri disamping Guo Zhi, tidak menghentikannya.

"Kasihan sekali, apa kau lihat yang tertulis di depan, orang tua meninggal dan sakit parah, kaki cacat karena kecelakaan di tempat kerja. Sekarang membutuhkan kaki palsu, menunggu uang untuk menyelamatkan nyawanya." Guo Zhi mengeluarkan 50 yuan untuk diberikan kepada pria lumpuh itu, dengan niat baik ia berkata, "Apakah cukup?  aku hanya punya sebanyak ini, yang masih tersisa akan aku gunakan untuk menemui dokter gigi. Maaf ah, gigiku benar-benar sakit.” Guo Zhi menatapnya penuh rasa bersalah.

Pria itu menitikkan air mata, "Terima kasih, terima kasih."

"Sama-sama."

Keduanya bertegur sopan sebentar, kemudian Guo Zhi dengan pipi bengkaknya lanjut berjalan dengan gembira. Shi Xi tidak terburu-buru pergi, dia berdiri di sisi pria itu. Pria itu mengira dia pelanggan besar, dia terus bersujud. Wajah tampan Shi Xi tanpa ekspresi, dia mengulurkan tangannya, "Kembalikan!"

Pria itu terkejut, "Ini sudah diberikan oleh temanmu, kau ingin memintanya kembali."

Shi Xi menendang kakinya, pria itu menyeringai menyakitkan. Shi Xi dengan dingin berkata, "Kakimu lumpuh, Apa kau masih bisa merasakan sakit?" Ia mengulurkan tangannya, jari-jari ramping bergerak. Shi Xi melihat ke bawah dari ketinggian menatap pria yang berlutut. Pria itu dengan marah mendongak, dia bisa melihat mata Shi Xi dari sudut ini. Mata gelap itu, hanya gelap gulita. Dengan ketakutan, pria itu mengembalikan 50 yuan Guo Zhi pada Shi Xi.

Guo Zhi yang sudah melangkah didepan, berbalik dan melihat Shi Xi masih berdiri didepan pria lumpuh itu. Guo Zhi memutuskan kembali sana.

"Apa yang kau lakukan?"

"Memberinya sesuatu."

"Shi Xi, kau sungguh baik hati!" Nada suara Guo Zhi terdengar begitu tulus.

"Itulah aku." Shi Xi dengan malas menjawab asal saja. Ia diam-diam menyisipkan 50 yuan itu disaku Guo Zhi.

.
.
.

Tiba di klinik dokter gigi, Guo Zhi memegang wajahnya, "Aku percaya dengan kemampuan dokter, tidak akan sakit."

"Mereka hanya menggunakan pisau, bor dan pengait kecil untuk menusuk gigimu.”

Guo Zhi meratakan mulutnya. Melewati pintu kaca, ia melihat peralatan dingin dan tiba-tiba berniat melarikan diri namun Shi Xi menangkapnya dan menyeretnya masuk kedalam. Akhirnya Guo Zhi duduk dikursi khusus. Dokter mengenakan masker dan mengarahkan cahaya lampu ke wajah Guo Zhi. "Buka mulutmu, aku akan memeriksanya." Dokter menggunakan kaca kecil untuk memeriksa didalam mulutnya. "Gigimu sudah berlubang dan meradang. Harus segera dilakukan tindakan, jila tidak akan semakin sakit."

Guo Zhi mengangguk.

"Apa kau ingin mencuci gigimu? Kami sedang diskon, dan gigi serimu tidak berguna, kau bisa mencabutnya, akan terlihat lebih baik." Umpan si dokter lagi.

"Benarkah?" Guo Zhi tampak tertarik.

"Dia tidak memerlukannya." Shi X dengan singkat menolak. Nada suaranya membuat orang tidak bisa berkata-kata. Guo Zhi dan dokter itu terdiam. Shi Xi duduk dibangku dan membuka bukunya.

Ketika semua sudah siap, dokter mengambil pengait dan mulai mengarahkannya ke mulut Guo Zhi.

Dahi Guo Zhi mengerut. "Ini sakit, menyakitkan." Ia tidak melihat dokter tetapi matanya tertuju pada Shi Xi.

Shi Xi tidak merespon.

"Jangan dulu bicara sekarang." Dokter mengingatkan.

"Sakit. Shi Xi ini sungguh sakit." mengabaikan ucapan dokter dan meringis kesakitan dikursinya.

Shi Xi mengerut dahinya tak sabar, matanya tertuju pada buku dan mulai bersuara, "Banjir merobohkan rumah dua anak kelinci bersaudara, mereka menangis keluar untuk melarikan diri dari kelaparan. Malam menyelimuti bumi, gunung-gunung dan hutan-hutan, dua anak kelinci bersaudara duduk menangis di lereng bukit untuk beristirahat, bahkan mata mereka merah karena menangis."

"Jangan menangis! Jangan menangis! Anak baik tidak pernah menangis."

"Siapa yang berbicara pada kita? Suaranya sangat indah." Kata si anak kelinci.

"Ini seperti suara ibu, suara ini datang dari surga." Anak kelinci yang lain merespon.

Dua anak kelinci itu menongak menatap langit. Disana ada bibi bulan yang sedang tersenyum.

"Apa kau berbicara pada kami?" Tanya si anak kelinci.

"Ya. Ketika langit menjadi gelap, bibi akan menuntun kalian." Kata si bibi bulan.

"Bibi bulan, kami tidak punya rumah, apa yang harus kami lakukan?" Tanya si anak kelinci.

"Rumah yang telah hancur, bisa dibuat yang baru. Kalian bisa mendidikannya dilereng bukit." Kata bibi bulan.

"Baik." Dua anak kelinci bersaudara bersiap membuat rumah baru. Membuat lubang di lereng bukit.

Hawa udara dingin menghembus di lereng bukit. Kedua anak kelinci bersaudara bekerja keras membuat rumah baru. Mereka tidak merasa lelah, karena ada bibi bulan disisi mereka. Rumah baru berhasil dibuat, dua anak kelinci bersaudara akan tinggal disana. Bibi bulan tersenyum dan berkata, "Anak-anak, aku mendoakan hidup kalian dipenuhi kebahagiaan."

Suara Shi Xi tidak berintonasi, tidak memiliki emosi, tetapi suara itu bisa meredakan rasa sakit Guo Zhi. Rasa sakit giginya terlupakan oleh cerita dongeng yang dibacakan Shi Xi untuknya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments