8. Bukankah kau membenciku?

Gu Yu menatap nilainya sendiri di papan buletin, hanya diam.

Dalam keheningan Gu Yu, Shen Teng yang di samping melihat skor setelah nama Bo Shangyuan, dan sekarang dia tidak bisa untuk tidak mengumpat.

Meskipun Shen Teng memperkirakan bahwa skor total Shangyuan akan tinggi, tetapi Shen Teng tidak pernah menyangka akan menjadi sangat tinggi.

Total skor adalah 770 poin, dan skor Shangyuan 755 poin!

Bukankah Itu berarti nilai bahasa dan matematikanya yang dikurangi 15 poin?

Apakah dia benar-benar manusia? 

Jika saja Shen Teng tahu...

Faktanya, matematika Bo Shangyuan juga merupakan skor sempurna, dan lima belas poin yang dikurangkan sepenuhnya adalah dari subjek bahasa. Entah bagaimana reaksi Shen Teng jika tahu kemudian.

Shen Teng melihat hasil yang menakutkan dari Bo Shangyuan, dan tiba-tiba mengerti mengapa para gadis ingin tahu apakah dia punya kekasih atau tidak.

... karena itu Shen Teng sekarang juga penasaran.

Dia ingin tahu apakah kinerja kekasih Shangyuan juga sama abnormalnya.

Memikirkan hal ini, Shen Teng tidak bisa membantu tetapi menoleh dan melihat Gu Yu.

Shen Teng berkedip, "Big bro, jika kau punya waktu, bagaimana kalau kau benar-benar bertanya pada Shangyuan tentang kekasihnya?"

Gu Yu mengerutkan kening dan ekspresinya aneh. "Kenapa aku harus menanyakan hal ini?"

Shen Teng menampakkan wajah polos. "Aku penasaran."

Gu Yu terdiam selama dua detik dan bertanya, "... kau ingin menjadi kekasihnya?"

Shen Teng langsung terdiam.

Diam memandang Gu Yu dengan ekspresi bengong.

Detik kemudian matanya melebar, tidak dipercaya.

Shen Teng menunjuk wajahnya, "Kapan aku mengatakan bahwa aku ingin menjadi kekasihnya? Lagipula, dimana aku terlihat seperti pengagum rahasia?"

Gu Yu membalas ringan, "Tapi bukankah kau bercerita tentang Shangyuan semalam?"

Wajah Shen Teng memerah dan dia membela diri, "Aku mengoceh!"

Gu Yu mendengus dan berkata, "Jadi kau mengoceh semalam?"

Setelah itu, Gu Yu teringat sesuatu dan mengubah mulutnya dalam sekejap. Dia berkata dengan tenang, "Salah, siang dan malam."

Shen Teng tidak lagi bersuara beberapa saat sebelum berkata dengan cepat. "Anggap saja aku tidak mengatakan apa-apa tadi."

Seakan takut Gu Yu akan kembali menyebutkan topik yang mengerikan ini, Shen Teng segera mengalihkan topik pembicaraan. "Xiao Yu di kelas mana?"

"Kelas E."

Mendengar itu, Shen Teng segera mengecek namanya didaftar nama di kelas E.

Nilai dan nama yang diatur di papan pengumuman dipisahkan oleh garis pemisah setiap periode lainnya.

Dan setiap segmen garis, itu dibagi menjadi kelas.

Shangyuan di kelas A.

Gu Yu di Kelas E.

Shen Teng tampak gugup dan menelurusi setiap baris di papan buletin. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menemukan namanya di sudut kelas E.

Shen Teng pun menghela nafas panjang.

Untuk Shen Teng, nilainya hanyalah opsi kedua, yang penting dia bisa sekelas dengan Gu Yu.

Setelah memeriksa nilai dan kelas mereka, Shen Teng menatap Gu Yu berbinar*, penuh harap. "Big bro, mau pergi?"

*ekspresi tiap kali mau ngajak Gu Yu main game.

Setelah ujian selesai, pelatihan militer akan dimulai besok, dan kelas masih belum dimulai.

Jadi setelah melihat nilai, tidak ada yang harus dilakukan.

Jika tidak ada yang harus dilakukan ... maka tentu saja itu yang harus dilakukan ...

Gu Yu bergumam tanpa ragu. "Ayo pergi." setelahnya dia berbalik dan melangkah pergi.

Shen Teng menyusul Gu Yu dan tampak bersemangat, "Xiao Yu, Aku mencintaimu!"

Dia terjebak selama seminggu memainkan Diablo 3, dan akhirnya akan bisa menyelesaikan game!

Gu Yu mendengarkan itu, dan tanpa sadar bertanya, "Kau tidak mencintai Shangyuan?"

Senyum di wajah Shen Teng menghilang tanpa jejak. Ekspresinya berubah kesal tersirat, "Big bro, bisakah topik ini tidak dibahas?"

Gu Yu mendengus dan menutup mulutnya.

Ketika Shen Teng menghela napas lega, Gu Yu kembali berkata ringan. "Malu?"

Shen Teng terdiam selama dua detik dan kemudian berkata, "Xiao Yu, aku ingin putus denganmu, benar-benar ingin putus ..."

Gu Yu mendengus, dan akhirnya tidak berbicara lagi.
.
.

Rumah Shen Teng tidak jauh dari SMA Chengnan

Hanya butuh tiga menit untuk sampai.

Gu Yu duduk di depan komputer di kamar Shen Teng, lalu berbalik dan bertanya, "Mau main apa?"

Shen Teng memindahkan bangku kecil dan duduk di sebelahnya, dia dengan gembira segera menunjuk ikon Diablo 3 di komputer. "Ini, ini!"

Gu Yu bergumam dan membuka permainan.
.
.

Gu Yu tinggal di Shen Teng selama dua jam sebelum akhirnya pulang ketika sudah hampir jam makan siang.

Karena permainan belum selesai, Shen Teng sangat enggan saat Gu Yu pamit pulang.

Rasanya dia ingin membiarkan Gu Yu langsung tinggal di rumahnya.

Namun, alasan untuk tidak membereskan misi permainan bukan karena Gu Yu tidak bisa mengalahkan.

Tetapi karena game ini terlalu besar, tidak mungkin untuk melewati menyelesaikan misi satu setengah jam. Itu setidaknya akan memakan waktu seminggu.

Berbicara tentang alasannya Shen Teng yang begitu gigih ingin sekelas dengan Gu Yu ...

Sebagian besar karena permainan.

Jika Gu Yu dan Shen Teng masing-masing ditempatkan ke kelas lain, ketika Gu Yu berteman 'baik' dengan orang lain, dia tidak akan lagi peduli dengan Shen Teng. Lalu, siapa yang akan membantunya menyelesaikan misi permainan?

Gu Yu meninggalkan rumah Shen Teng dan kembali ke apartemen keluarganya. Setelah naik lift ke atas, Gu Yu menggunakan kuncinya untuk membuka pintu. Dia melihat ibunya duduk di ruang tamu, entah berapa lama ibunya sudah duduk disana.

Mendengar langkah Gu Yu, Ibu Gu menoleh dan langsung bertanya. "Berapa banyak poin yang kau dapat? Masuk kelas mana?"

"430 poin, kelas E."

Ketika Ibu Gu mendengar itu, dia tidak heran, "Ibu tahu kau tidak bisa mendapat skor tinggi dengan nilaimu yang biasa."

Gu Yu tidak berbicara.

Tidak ada yang bisa dikatakan.

Sebenarnya, dengan prestasi Gu Yu ini, jika di sekolah lain, tidak mungkin dia ditempatkan dikelas rendah.

Namun, karena sebagian besar siswa baru di SMA Chegnan adalah siswa berprestasi, 430 poin Gu Yu sangat tidak berharga.

Oh, ada juga siswa bodoh yang membayar lebih untuk bisa masuk ke SMA Chengnan, dan juga siswa seni seperti Gu Yu.

Tapi itu minoritas.

Lagipula, semua minoritas ini ditempatkan ke Kelas E dan Kelas F.

Setelahnya Ibu Gu tanpa sadar kembali bertanya, "Berapa banyak poin diperoleh Shangyuan? Apa kau melihatnya?"

"Tidak."

Ibu Gu mengerutkan kening, "Apa itu tidak terlihat atau kau tidak melihatnya?"

Tidak terlihat dan tidak melihat ada perbedaan antara keduanya, walaupun dari kata yang sama, tetapi artinya sangat berbeda.

"Aku tidak melihatnya."

Wajah Gu Yu tenang dan tidak merasa bersalah.

Ibu Gu yang melihat ekspresi Gu Yu itu menjadi bertanya-tanya apakah dia salah dengar.

Ibu Gu mengerutkan kening dan mengurai ingatan, "Tidak mungkin. Pada hari itu, ibu Shangyuan memberitahuku kalau Shangyuan masuk ke SMA Chengnan---"

Ayah Gu yang telah lama berada di samping memandang jam di dinding dan tidak sabar lagi untuk bersuara, "Ibu Gu...."

Ibu Gu langsung mengoceh. "Persetan! Makan, makan dan makan! Makan saja setiap hari yang kau pikirkan! Kau bisa mati kelaparan jika tidak makan!"

Meski terus mengoceh, Ibu Gu tetap berdiri dari sofa dan berjalan ke dapur.

Setelahnya, Gu Yu berjalan masuk ke kamar.
.
.

Satu hari berlalu dengan cepat.

Setelah ujian dasar berakhir, selanjutnya adalah pelatihan militer selama lima belas hari.

Karena absensi pelatihan militer pukul 7:30, maka Gu Yu bangun sangat awal.

Gu Yu bangun pagi-pagi, mengenakan pakaian latihan, dan siap untuk pergi.

Pakaian pelatihan diberikan pihak sekolah pada hari pendaftaran, dua set per orang.

Namun, dibilang pakaian pelatihan, itu sebenarnya hanyalah seragam sekolah.

Bahan pakaiannya longgar dan lembut, sekolah ingin menghemat waktu jadi hanya memberikan seragam sekolah pada siswa sebagai pakaian pelatihan.

Atasan berwarna putih dengan bawahan berwarna biru, warnanya tidak jelek.

Hanya karena terlalu longgar, kainnya terlalu lembut, jadi ... meskipun perpaduan warnanya bagus, tetapi sama sekali tidak cocok ditubuhnya.

Sebelum pergi, Gu Yu menatap seragam sekolahnya.

Karena terlalu longgar, Gu Yu bahkan merasa bahwa setiap kali melangkah pakaiannya dipenuhi angin.

Ketika baru saja keluar, Gu Yu tertegun sejenak saat melihat Shangyuan yang juga baru keluar dari pintu sebelah.

Ini bukan pertama kalinya berpapasan, jadi Gu Yu tidak begitu terkejut.

Karena pelatihan militer harus mengenakan pakaian latihan, oh tidak, seragam sekolah, maka tentu saja pakaian yang dikenakan Shangyuan juga sama.

Sangat aneh, pakaian yang jelas sama, tekstur kain yang sama, warna yang sama ... Namun, ketika dikenakan Shangyuan, tampaknya menjadi sangat berbeda.

Seragam sekolah yang longgar dan besar terlihat jelek ditubuhnya, setelah dikenakan Shangyuan, seperti desain berkelas, menjadi indah dan penuh kekuatan.

Gu Yu menatap Shangyuan lalu memandang dirinya sendiri, tidak berbicara.

- Benar-benar menjengkelkan.

Setelah memikirkan itu, Gu Yu dalam diam mengambil langkah melewati Shangyuan dan berhenti didepan pintu lift, menunggu.

Dalam beberapa detik, Shangyuan juga berdiri di depan lift.

Keduanya tidak memiliki kata-kata, tidak ada yang berbicara, menunggu lift perlahan tiba.

Disaat Gu Yu berpikir bahwa keduanya sama seperti sebelumnya, saling mengabaikan sampai tiba di sekolah, tiba-tiba Shangyuan mengajukan pertanyaan tak terduga.

"... Bukankah kau membenciku?"

Suara Bo Shangyuan yang selalu tanpa emosi, terdengar dingin dari sebelah, Gu Yu tidak menanggapi untuk sementara waktu.

Dia kemudian menoleh, "Hm?"

... apa?

Melihat ekspresi Gu Yu yang tidak mengerti, Shangyuan tiba-tiba teringat akan sikap Gu Yu yang biasanya suka berbohong.

"Tidak."

Gu Yu makin tidak mengerti.

Setelah naik lift kelantai bawah, keduanya pergi menunggu bus di depan halte di luar komunitas.

Keduanya berdiri diam menunggu bus di bawah tanda berhenti, tidak ada yang bersuara.

Gu Yu tidak bisa berkata apa-apa, dan tidak tahu harus berkata apa dengan Shangyuan.

Sedangkan Shangyuan, setelah terakhir membuka suara, dia tidak lagi mengatakan sepatah kata pun.

Gu Yu bahkan tidak bisa tidak berpikir bahwa kalimat yang diajukan Shangyuan mungkin hanya halusinasi pendengarannya.

Tidak.

Sebenarnya, itu adalah halusinasi pendengarannya kan?

Mengapa Shangyuan tiba-tiba berbicara padanya?

Bukankah dia selalu menganggap Gu Yu seakan tidak ada disekitarnya?

Selain itu, mengapa Shangyuan tiba-tiba bertanya kepadanya bukankah dia membencinya?

Gu Yu benar-benar tidak bisa memahami alasan mengapa Shangyuan tiba-tiba mengatakan kalimat itu.

Dan ...

Bagaimana dia tahu bahwa dia membencinya?

Gu Yu sepertinya tidak mengatakan padanya bahwa dia membencinya.

Tidak, dia bahkan tidak mengatakan apa-apa.

Apa Shangyuan bisa membaca pikiran?

Sulit dimengerti.

Jadi, sebenarnya, barusan ini halusinasi pendengarannya?

Disaat pikiran Gu Yu tengah kebingungan, Bus tiba.

Shangyuan melangkah naik lebih, Gu Yu mengikuti dalam diam.

Mungkin karena bersamaan dengan jam bekerja dan sekolah, ada banyak orang di dalam bus dan penuh sesak.

Gu Yu tidak berniat untuk berdiri dengan Shangyuan, tetapi karena tidak ada ruang kosong lain kecuali disebelah Shangyuan, Gu Yu yang ragu-ragu sejenak, akhirnya  mengangkat kakinya, berdiri disebelah Shangyuan.

Sedangkan Shangyuan sama sekali tidak menoleh dan bahkan tidak melihat Gu Yu.

Ekspresi ketidakpeduliannya seakan tidak menganggap kehadiran Gu Yu.

Melihat wajah Shangyuan yang acuh tak acuh dan tidak responsif. Pada saat yang sama, Gu Yu juga menentukan jawabannya.

Yah, tadi itu adalah halusinasi pendengarannya.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments