79. Pembohong kecil berbohong lagi

Pada saat ini, kelas E.

Bel kelas sudah berdering beberapa waktu tapi Gu Yu belum kembali ke kelas.

Guru matematika di podium merasa aneh, bertanya pada teman satu mejanya. “Di mana Gu Yu, kenapa dia belun kembali ke ruang kelas?”

Jiang Zhenshan juga merasa sedikit aneh. Dia perlahan-lahan menggelengkan kepalanya. “… Aku tidak tahu guru.”

Guru di podium mengerutkan kening, dan ekspresinya sangat bingung.

Ini adalah pertama kalinya Gu Yu terlambat untuk waktu yang lama.

Guru matematika beralih bertanya kepada seluruh siswa di kelas.

“Siapa yang tahu ke mana dia pergi?”

Para siswa di bawah podium menggelengkan kepala.

Teman satu mejanya saja tidak tahu, bagaimana mereka bisa tahu.

Guru matematika menjadi lebih bingung.

Dia beralih memegang buku teks di satu tangan dan kapur di tangan yang lain, berbalik dan menulis di papan tulis sambil berkata, “Buka halaman 273 di buku kalian …”

Di bawah podium, Jiang Zhenshan menyelinap mengeluarkan ponsel dan dengan cepat mengetikkan kata pada keyboard ponsel untuk mengirim pesan ke Gu Yu.

Kenapa kau belum kembali ke kelas? ]

Apa yang terjadi? ]

Guru baru saja menanyakanmu. ]

Pihak lain tidak menjawab.

Jiang Zhenshan bingung.

Karena Gu Yu jarang tidak membalas pesan.

… Apa yang terjadi dengan Gu Yu?

Sisi lain.

Pesan masuk WeChat tiba-tiba terdengar di saku Gu Yu, dia reflek menunduk.

Tapi dia lupa seperti apa situasinya sekarang.

Shangyuan dengan tidak senang langsung menangkap dagunya, mempertahankan wajahnya agar tetap menghadap kedepan.

Gu Yu ingin menyiapkan sesuatu untuk dikatakan, tetapi setelah melihat wajah Bo Shangyuan yang tidak bahagia, dia diam-diam menelan kata-kata yang belum diucapkan.

Gu Yu menutup mulutnya dan berdiri diam, tidak lagi bergerak.

Melihat itu, raut wajah Shangyuan telah sedikit mereda.

Dia perlahan melonggarkan tangan yang menekuk dagu Gu Yu.

Jari-jarinya meluncur turun dengan lembut dan menjelajahi saku Gu Yu, mengeluarkan ponsel.

Sementara Gu Yu menghela nafas lega, kini bisa lebih banyak bersantai.

Bukan hanya itu, tetapi suhu yang terus meningkat di wajahnya tampak perlahan-lahan turun.

Gu Yu berpikir bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan diponselnya, jadi dia tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Isi pesan teksnya hanya dari Bo Shangyuan, dan tidak ada foto yang menarik, juga hanya ada beberapa teman di WeChat-nya.

Adapun pesan masuk WeChat tadi, Gu Yu mungkin bisa menebak apa isinya.

Jika tidak salah, itu pasti dari Shen Teng atau Jiang Zhenshan yang mengiriminya pesan dan bertanya alasan belum kembali ke kelas.

Tapi perlahan, Gu Yu tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang salah.

Tunggu sebentar.

– Riwayat obrolan dalam grup masih ada.

Ya, setelah malam itu, keesokan harinya pada hari minggu, ia mengobrol dengan ketiga temannya digrup.

Semua masih ada, tidak terhapus sama sekali.

Bo Shangyuan sangat cerdas.

Meskipun dia lupa apa yang terjadi pada sabtu malam, jika dia melihat catatan obrolan, dia bisa langsung menyadari apa yang terjadi pada malam itu.

Tapi ini bukan intinya.

Intinya adalah, jika dia melihat riwayat obrolan itu, dia akan segera tahu tentang perihal Gu Yu yang mungkin menyukainya.

Saat memikirkan ini, wajah Gu Yu seketika pucat.

Dia mungkin menyukainya tapi siapa tahu Bo Shangyuan tidak.

Tentu saja tidak.

Setelah menyadari bahwa riwayat obrolan dalam grup WeChat belum dihapus, Gu Yu segera mulai berjuang dan ingin meraih ponsel, tetapi Shangyuan langsung menangkap pergelangan tangannya dan menekannya ke dinding.

Shangyuan menatapnya dengan tanpa ekspresi dan bertanya dingin, “Kau tidak ingin membiarkanku melihat?”

Gu Yu menjilat bibirnya dan kemudian berbohong dengan tenang. “… tidak.”

Bibir Shangyuan bergerak ke atas. Jelas tidak mempercayainya.

Dia memasukkan kata sandi dan membuka kunci ponsel.

Gu Yu yang terjebak hanya bisa pasrah melihat aplikasi WeChat terbuka layar ponsel.

Ada empat kolom pesan di beranda WeChat.

Salah satunya adalah Tencent News, satu adalah nomor publik dari Sekolah Menengah Chengnan, satu Jiang Zhenshan dan yang terakhir adalah grup empat orang yang dibuat Jin Shilong ‘Kami tidak suka belajar‘.

Mata Shangyuan melewati nomor publik Tencent News dan Chengnan High School, dan akhirnya jatuh pada grup dan Jiang Zhenshan.

Jantung Gu Yu berdetak kencang, rasanya hampir siap untuk melompat keluar.

Gu Yu tegang, lima jarinya tergenggam, dan telapak tangannya yang gugup berkeringat.

Merasakan situasi Gu Yu, Shangyuan beralih mengamatinya sejenak sebelum pandangannya kembali ke WeChat.

“… Apa yang kau takutkan?”

Gu Yu terus berbohong. “… Tidak takut.”

Shangyuan menebak bahwa Gu Yu tidak akan pernah mengatakan yang sebenarnya, jadi dia tidak lagi menggubrisnya dan mulai membuka riwayat obrolan grup empat orang itu.

Gu Yu semakin pucat.

Jari-jari Gu Yu dingin, matanya gelap.

Dia belum berani memikirkan seperti apa ekspresi Shangyuan nantinya.

Atau, mata seperti apa yang digunakan untuk melihatnya.

… jijik?  … tidak suka?  … sulit dipercaya?

Tepat ketika hati Gu Yu bergetar dan memikirkan hal ini, pada saat ini, jari Shangyuan tiba-tiba berhenti.

Shangyuan mengerutkan alis melihat catatan obrolan dalam grup.

Karena di grup Gu Yu tidak sering mengobrol, jadi isi obrolan pada dasarnya hanya tiga orang lainnya mengobrol bersama.

Ketiganya membanjiri kotak obrolan tanpa henti. Terkadang, Shen Teng bahkan dapat mengobrol dengan Jin Shilong dan Jiang Zhenshan di grup selama satu hari penuh.

Bo Shangyuan terus menggulir sampai lima menit berikutnya, dia hanya bisa melihat Shen Teng mengobrol tentang omong kosong dengan dua lainnya, dan untuk Gu Yu, pada dasarnya tidak ada.

Akibatnya, Bo Shangyuan telah kehilangan minat dalam grup ini.

Dia langsung keluar dari grup.

Setelah melihatnya, Gu Yu diam-diam menghela nafas lega.

Pandangan Shangyuan beralih pada nama akun dengan emoji kucing.

“Siapa.”

“… Jiang Zhenshan.”

Gu Yu diam-diam menatap Bo Shangyuan menyeret akun gadis itu ke dalam daftar hitam.

Setelahnya Wajah Bo Shangyuan tampak jauh lebih baik.

Dia kembali menaruh ponsel ke saku Gu Yu, dan kemudian jari-jari putihnya yang panjang kembali bermain dengan wajah Gu Yu.

Tindakan Bo Shangyuan yang dengan senang lanjut menyentuh dan mencubit-cubit wajahnya, membuat suhu wajah Gu Yu seketika memerah lagi.

Untungnya, ini musim dingin, jadi wajahnya yang merah hanya akan dianggap beku.

Gu Yu sekali lagi hanya bisa pasrah karena tidak berdaya, namun setelah beberapa saat dia tidak bisa menahan diri.

Dia mengeluh dengan pelan. “Kau suka menyentuh wajah, kenapa tidak sentuh dirimu sendiri.”

Shangyuan merespon terus terang.  “Aku hanya suka menyentuhmu.”

Mendengar itu, Gu Yu menahan napas.

Jika sebelumnya dia biasa saja, kali ini sangat berbeda.

Sejak Gu Yu menemukan bahwa dia mungkin suka Shangyuan, meskipun jika itu adalah tindakan yang sangat sederhana, itu bisa membuatnya sensitif.

Jadi, apalagi mendengar ucapannya tadi.

Wajah Gu Yu semakin memerah.

Gu Yu merasa bahwa dia tidak bisa tetap lebih lama lagi di sini.

Jika tidak, dia bisa saja akan ketahuan lebih dulu tanpa bisa menghindar.

Gu Yu mengambil napas dalam-dalam dan tiba-tiba mendapat ide.

Dia melihat ke arah belakang Shangyuan dan berteriak. “… Halo guru.”

Benar saja, seperti yang diharapkan Gu Yu, Shangyuan sedikit terkejut dan menoleh kebelakang.

Gu Yu mengambil keuntungan saat ini dan segera mendorong Shangyuan lalu melarikan diri.

Gu Yu berlari kencang seakan ada sesuatu yang mengerikan di belakangnya.

Ini mungkin lari tercepatnya selama hidup 16 tahun.

Setelah menyadari tidak ada guru yang lewat, Shangyuan langsung bereaksi.

Pembohong kecil berbohong lagi.

Dia melihat kepergian Gu Yu yang berlari, lalu mengusak rambutnya.

… Ck.

Gu Yu terengah-engah kembali ke kelas E dan akhirnya berhenti di pintu ruang kelas.

Keduanya tadi berada di suatu tempat yang tidak begitu jauh dari gedung pengajaran, tetapi karena Gu Yu takut Shangyuan menyusulnya jadi dia terus berlari sepanjang jalan, tidak berani berhenti.

Ketika berhenti di pintu ruang kelas, Gu Yu merasa kakinya mati rasa.

Guru matematika di kelas melihat kedatangannya, mengerutkan kening. “Gu Yu, bagaimana situasimu saat ini, bisa kau jelaskan pada guru?”

Gu Yu tersentak sedikit, berdiri tegak, dan berkata dengan ekspresi alami. “… Aku sakit perut dan pergi ke toilet.”

Dia berbohong ataupun tidak, ekspresinya tetap sama.

Karena itu, guru matematika langsung percaya.

“Jika kau merasa tidak nyaman lain kali, ingatlah untuk meminta cuti terlebih dahulu pada guru. Jangan sampai guru tidak tahu apa yang terjadi.”

Gu Yu menunduk dan meminta maaf.

Guru matematika itu melambaikan tangannya. “Oke, kali ini, kau bisa masuk.”

Gu Yu menundukkan kepalanya dan berkata terima kasih lalu mengangkat kakinya ke ruang kelas.

Untuk kebohongan Gu Yu, tidak hanya guru matematika, tetapi Jiang Zhenshan juga percaya.

Ketika Gu Yu duduk, dia berbisik. “Apa perutmu masih sakit sekarang? Jika tidak nyaman, aku punya obat perut di sini.”

Karena pencernaan Jiang Zhenshan tidak baik, dia selalu menyiapkan satu set obat perut ke sekolah.

“… Tidak, terima kasih. Sudah membaik.”

Setelah itu, Gu Yu berbaring di atas meja.

Ah…

Wajahnya panas.
.
.

Sisi lain.

Bo Shangyuan berdiri di pintu kelas A dan meneriakkan laporan. Guru di podium melihatnya baru kembali, mengerutkan kening dan bertanya. “Apa yang kau lakukan, bagaimana bisa baru kembali sekarang?”

“Ada sesuatu.”

Guru di kelas tertegun sejenak.

Sikap Bo Shangyuan yang semena-mena sudah membuat para Guru kelas A terbiasa.

Guru di kelas dengan tidak berdaya melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk langsung masuk ke ruang kelas.

“Lain kali lebih perhatikan.”

Shangyuan berjalan ke ruang kelas, lalu duduk tanpa ekspresi.

Begitu dia duduk, Duan Lun yang duduk di belakangnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, “Bagaimana situasinya?”

Shangyuan tidak merespon.
.
.

Dalam sekejap mata, hanya ada satu minggu tersisa dalam ujian akhir untuk paruh pertama sekolah menengah.

Ujian akhir akan segera datang, menurut akal sehat, keluarga pada umumnya akan membuat makanan yang lezat untuk anak-anak, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi untuk meninjau dan mempersiapkan ujian.

Namun, karena keluarga Gu telah kehabisan ratusan ribu yuan, jadi hampir sampai ujian akhir mereka masih tidak bisa makan enak.

Setiap kali makan, hidangan diatas meja semuanya adalah hidangan vegetarian.

Melihat hari ujian akan segera tiba, mereka hanya bisa makan kubis rebus dan roti kukus sepanjang hari membuat ekspresi ibu Gu sangat frustasi.

“Setiap hari hanya menu vegetarian, orang-orang yang memungut makanan di pinggir jalan lebih baik daripada kita.”

Gu Yu duduk di samping, menundukkan kepala, dan mengunyah makanannya, diam.

Ayah Gu merespon. “Apanya yang lebih baik daripada apa yang kita makan. Mereka itu makan makanan sisa di restoran. Jika kau iri, kau ikut cara mereka saja.”

Ibu Gu tidak berbicara.

Ayah Gu juga tidak mengatakan apa-apa lagi jadi adegan itu hening untuk sementara waktu.

Setelah beberapa saat, Gu Yu tiba-tiba meletakkan sumpit.

“… Aku ingin kerja paruh waktu selama liburan musim dingin.”

Kedua orangtuanya terkejut sejenak.

Ayah Gu kemudian dengan bingung merespon. “Bagaimana bisa tiba-tiba berpikir tentang kerja paruh waktu?”

Suara Gu Yu sangat rendah. “… Bukankah keluarga kita mengalami situasi sulit.”

Keduanya tiba-tiba sadar.

Reaksi pertama ayah Gu adalah diam-diam melirik ibu Gu.

Lihatlah apa yang baru saja kau katakan.

Sekarang anak itu ingin pergi bekerja paruh waktu.

Setelahnya ayah Gu buru-buru berkata. “Yang tadi itu hanya bercanda, bagaimana kau menganggapnya serius?”

Ibu Gu juga dengan cepat berkata. “Ya, ibu hanya bercanda. Ibu tidak ingin makan terlalu banyak minyak baru-baru ini, jadi selalu memasak hidangan vegetarian …”

Ayah Gu menambahkan. “Keluarga kita masih punya uang, ibumu tidak mau membeli daging karena ingin menurunkan berat badan. Jangan khawatir tentang hal-hal di rumah, belajarlah dengan giat.”

Ibu Gu kembali berkata, “Kau masih sangat muda, kami tidak ingin kau pergi ke luar untuk bekerja. Selain itu, berapa banyak uang yang bisa kau dapatkan dengan bekerja paruh waktu? Bagaimanapun liburan musim dingin ini kau pergunakan untuk bermain di rumah dan belajar. Kalau tidak, kau bisa pergi ke teman sekelas lain untuk bermain, jangan khawatir tentang uang …”

Kedua orang tuanya dengan penuh perasaan untuk meyakinkan Gu Yu.

Namun, mereka tidak tahu, begitu Gu Yu memutuskan hal-hal tertentu, tidak peduli apa kata orang luar, dia tidak akan goyah.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments