78. If You Can't Tell the Truth, Don't Think About Going Back to Class

Guru pendidikan jasmani belum tiba, semua orang berdiri di lapangan, menunggu.

Gu Yu berdiri dengan gelisah.

Karena Shangyuan, tidak jauh di samping.

Selama Gu Yu menoleh, dia akan bisa melihat Shangyuan berdiri tanpa ekspresi di kerumunan Kelas A. Shangyuan hanya berdiri di sana, tidak melakukan apa-apa, tetapi figurnya yang paling menonjol.

Gu Yu tidak berani melihatnya.

Belakangan ini dia terus menghindar hanya untuk membiarkan dirinya melupakan malam itu, dan juga membiarkan suasana hatinya tenang.

Namun … Saat ini adegan malam itu masih tidak dapat dihindari dan mulai berangsur-angsur muncul dalam pikirannya.

Karena siswa lelaki di kelas membicarakan Shangyuan.

Dalam beberapa hari terakhir, wajah Bo Shangyuan menjadi semakin jelek dan ini membuat mereka penasaran.

Mereka berkumpul dan mulai membahas.

“Wajah Bo Shangyuan baru-baru ini tampaknya semakin tidak baik.”

“Fck, bukankah itu benar-benar karena kekasihnya?”

“Secantik apa sih gadis itu sampai membuat Bo Shangyuan gagal move on?”

“Yang pasti lebih cantik daripada bunga kelas F.”

Mereka terus mengobrol dan entah bagaimana tiba-tiba beralih ke topik ciuman.

“Menurut kalian, apa Bo Shangyuan masih menjaga ciuman pertamanya?”

“Seharusnya sih tidak lagi.”

“Aku pikir masih. Bukankah Bo Shangyuan itu bersih? Menurut wataknya, aku berpikir dia akan memberikan ciuman pertamanya saat menikah.”

“Ada juga kemungkinan ini.”

“Kalau begitu apa kau masih menjaganya?”

“… Fck, baba masih lajang selama 16 tahun, kau pikir bibirku sudah tidak suci?”

Gu Yu yang tidak jauh mendengarkan ini, dan beberapa adegan yang segera dilupakan, kini tiba-tiba muncul dari benaknya.

Gu Yu tampak kaku dan merasa suhu di wajahnya semakin panas.

Shen Teng yang melihat wajahnya, bertanya. “Apa yang terjadi?”

Ekspresi Gu Yu tenang, “Ini agak panas.”

Shen Teng mengerutkan kening, menatap langit musim dingin.

… Panas???
.
.

Karena itu musim dingin dan cuacanya agak dingin, maka guru pendidikan jasmani membiarkan mereka berlari beberapa putaran dilapangan lalu setelahnya bebas bermain sendiri.

Gu Yu tidak berani dekat dengan Bo Shangyuan, jadi ketika orang lain di kelas sedang berlari dan melompat dengan ceria, dia duduk diam di tiang bendera, menunggu bel kelas selanjutnya.

Gu Yu takut Shangyuan akan memperhatikannya jadi sambil memeluk kakinya, dia menyusutkan diri diantara keramaian, untuk mengurangi eksistensi.

Dia takut Shangyuan akan datang mendekat.

Takut Shangyuan akan bertanya tentang alasan dia mengindar akhir-akhir ini.

Gu Yu jelas tahu tentang temperamen Shangyuan.

Jika Shangyuan tidak bisa menahan diri lagi, 100% dia akan datang dan menuntut jawaban.

Tapi tanpa diduga … tidak.

Apa yang ditakutkan Gu Yu tidak terjadi.

Gu Yu duduk sampai kelas berakhir, Bo Shangyuan tidak datang menemuinya.

Ini seharusnya menjadi hal yang membahagiakan.

Tetapi entah bagaimana, Gu Yu tidak senang.

Hatinya terasa ada yang hilang.

Ditanya mengapa, Gu Yu tidak mengerti.

Pada saat bersamaan, Jiang Zhenshan menghampiri Gu Yu. “Itu … Siswa Gu, bisakah kau membantuku?”

Gu Yu mendongak. “Apa yang terjadi?”

Jiang Zhenshan tampak sulit bicara sejenak, “… Apa kau bisa meminjamkanku uang?”

Gu Yu tertegun.

Karena gadis itu bukan tipe orang yang suka mencari seseorang untuk meminjam uang.

Jiang Zhenshan menundukkan kepalanya dan memutar jari-jarinya. “Aku… Aku harus membeli sesuatu … tapi uangku tidak cukup untuk membelinya hari ini, jadi …”

Jiang Zhenshan orang yang introvert dan hanya punya sedikit teman di kelas. Dia sudah meminta bantu pada satu teman gadisnya. Namun, sayangnya, pihak lain tidak membawa uang hari ini. Jadi dia akhirnya tidak punya pilihan selain meminta bantuan pada Gu Yu.

Gu Yu paham lalu merogoh uang di saku dan menyerahkannya.

“Apa ini cukup?”

Wajah Jiang Zhenshan memerah dan malu karena harus meminjam uang. “Cukup … terima kasih … Aku akan mengembalikannya besok.”

Gu Yu merespon, lalu bertanya. “Apa kau ingin aku menemanimu ke supermarket?”

Jiang Zhenshan menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata, “Tidak, aku akan pergi sendiri.”

Saat dia berbalik dan hendak pergi, Gu Yu tiba-tiba memikirkan sesuatu lalu memanggilnya.

Jiang Zhenshan berbalik, menatapnya bingung.

Gu Yu melepas syal di lehernya dan menyerahkannya.

Jiang Zhenshan menerimanya dengan tidak mengerti.

“… Untuk apa?”

Gu Yu menunjuk ke leher kosong Jiang Zhenshan, dan kemudian dengan tenang berkata. “Bukankah kau sedang flu belakangan ini.”

Jiang Zhenshan akhirnya paham. Mata sedikit melengkung, tersenyum, “Terima kasih.”

Ekspresi Gu Yu tenang. “Sama-sama.”

Jiang Zhenshan melilit syal Gu Yu di lehernya dan berbalik pergi.

Setelahnya Gu Yu juga berbalik dan bersiap untuk kembali ke ruang kelas.

Namun baru berjalan dua langkah, tiba-tiba ada yang meraih kerah punggungnya. Tanpa bisa mencegah, Gu Yu langsung ikut terseret dibawa pergi.

Tidak jauh dari sana, Duan Lun memandangi wajah hitam Shangyuan dan adegan kejamnya menyeret Gu Yu pergi, dia mendengus dan menggelengkan kepalanya.

– Dia tahu Xing Bo tidak akan bisa bertahan lama.

Sisi lain.

Ketika Gu Yu sadar, dia sudah diseret ke sudut terpencil yang tidak dilihat siapa pun.

Gu Yu melihat sekeliling lalu mengalihkan pandangannya ke depan mata, dan seketika membeku.

Shangyuan yang sudah kehilangan kesabaran. Setelah menyeret Gu Yu ke sudut terpencil dari siapa pun, ia langsung menekan kakinya ke dinding.

Dia bahkan langsung memegang dagu Gu Yu untuk mengunci pergerakannya membuang pandangan.

Gu Yu memandangi wajah Bo Shangyuan, dan pikirannya berubah menjadi kosong.

Untuk sesaat dia lupa untuk membebaskan diri.

Shangyuan menekuk kakinya mengurung Gu Yu, satu tangan memegang dagunya, tangan lainnya menopang dinding di belakangnya.

Bo Shangyuan sepenuhnya memblokir ruang gerak Gu Yu, kecuali dia bersedia untuk melepaskan, jangan pikir Gu Yu bisa lolos.

Shangyuan mulai membuka suara, tidak ada sedikitpun suhu dalam suaranya. “Jangan bilang, kau sekarang bersama Jiang Zhenshan.”

Gu Yu diam sejenak, berpikir kenapa Shangyuan menanyakan ini, dan setelahnya dia menjawab. “… tidak.”

“Apa yang terjadi barusan.”

“Dia sakit. Aku takut dia akan masuk angin saat kedinginan.”

Suara Shangyuan penuh cemooh. “Kau penuh perhatian.”

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian, Shangyuan bertanya, “Bagaimana dengan air?”

Gu Yu balas berbisik, “Dia hanya membeli lebih, tidak ada artinya.”

Shangyuan terdengar tidak senang. “Jadi kau mengambilnya.”

Gu Yu tidak mau mengambil keuntungan darinya. Tetapi ketika Jiang Zhenshan membelikannya, dia tidak ragu untuk mengambilnya.

Gu Yu mendengar ketidakbahagiaan dalam suara Bo Shangyuan, dan menjawab dengan jujur. “Aku menolak, tetapi dia bilang itu hanya sebotol air, itu tidak mahal …”

Shangyuan memotong. “Saat aku bilang tidak mahal, kenapa kau tidak mengambilnya.”

Gu Yu tertegun sejenak, berbisik. “… itu tidak sama.”

“Apa yang tidak sama.”

Gu Yu tidak bisa mengatakannya, jadi dia tidak mengatakan apa-apa.

Jika ditanya kapan Bo Shangyuan merasakan iritabilitas abnormal, mungkin saat ini.

Dia mengubah topik, bertanya. “Kenapa kau menghindar?”

… tidak ada jawaban.

Mata Gu Yu terkulai dan masih tidak bicara.

Melihat situasinya, Shangyuan dengan kesal mengusak rambutnya sendiri ke belakang.

“Lihat aku.”

“…”

Gu Yu seakan tidak mendengar, tidak ada respon.

Shangyuan tidak bisa menahan diri untuk mencemooh. “Kenapa? Kau begitu bosan dengan wajahku sampai tidak mau melihatku lagi?”

Setelah mendengar ini, Gu Yu menyangkalnya. “… tidak.”

“Lalu kenapa?”

Gu Yu tidak menjawab.

Bo Shangyuan berpikir mungkin ada sesuatu terjadi dikeluarga Gu Yu sehingga dia tiba-tiba ingin menjernihkan hubungannya dan tidak lagi terlibat dengannya, tidak membalas pesan juga menghindar darinya.

Termasuk saat ini, dia enggan bicara, dan tidak mau melihatnya.

Bagaimanapun, pembohong kecil ini belum pernah melakukan hal semacam ini.

Namun, alasan sebenarnya adalah Gu Yu hanya tidak berani menatap wajah Bo Shangyuan.

Segera setelah dia melihat wajah sempurna Bo Shangyuan, suhu di wajahnya tiba-tiba naik dengan cepat.

Bukan hanya itu, tetapi beberapa ingatan dan adegan yang sudah hampir terlupakan, mulai perlahan-lahan muncul di benaknya.

Malam itu, Bo Shangyuan seperti ini dengan tangan memegang dagunya, sedikit membungkuk, menundukkan kepalanya dan menciumnya. Satu tangan lainnya memeluk pinggangnya erat …

Rincian memalukan, secara bertahap, menjadi semakin jelas dalam pikiran Gu Yu.

Jari-jari Gu Yu gemetar dan suhu di wajahnya menjadi semakin panas.

Dia ingin berhenti memikirkannya, tetapi Bo Shangyuan saat ini ada didepannya, sulit untuk tidak memikirkannya.

Oleh karena itu, Gu Yu bahkan lebih takut untuk melihatnya.

Pada saat yang sama, wajah Bo Shangyuan semakin jelek.

Dia menutup matanya untuk menekan amarah dan kemudian bertanya dengan sabar. “… Apa ada yang terjadi dirumah?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya perlahan.

“Apa Duan Lun mengatakan sesuatu?”

Gu Yu masih menggelengkan kepalanya.

Shangyuan menarik napas dalam-dalam. “Lalu karena apa.”

Gu Yu tidak menanggapi.

Bo Shangyuan akhirnya tidak bisa menahan lagi.

“Jika kau tidak bicara jujur…”

Gu Yu tertegun, ekspresinya kosong.

“Jangan harap kau bisa kembali ke kelas.”

Gu Yu kaget dan canggung, dia ingin mengatakan sesuatu tapi setelah melihat wajah dingin Bo Shangyuan tanpa senyum, suaranya tiba-tiba melemah.

“Ujian akhir akan segera tiba … kau tidak bisa melakukan ini.”

“Aku bisa.”

Gu Yu melihat bahwa Shangyuan benar-benar tidak peduli, dia berkata, “… tidak masuk kelas, guru akan menghukumku menulis ulasan.”

Bo Shangyuan tidak merespon.

Gu Yu diam sejenak.

Tubuhnya menyusut dan perlahan berkata. “… Apa bisa aku mengatakannya nanti dalam beberapa hari.”

Setelah beberapa hari, suasana hatinya ‘tenang’, dan kemudian dia akan berbicara dengan Bo Shangyuan … Oh tidak, itu alasan untuk mengelabuinya.

Shangyuan sangat dingin dan kejam.

“Tidak.”

Semua alasan Gu Yu diblokir sejenak.

Tapi jujur ​​saja, Gu Yu tidak bisa mengatakannya.

Jadi, Gu Yu menutup mulutnya lagi.

Bo Shangyuan peringkat satu dan terbiasa bertingkah sesukanya, jadi dia tidak terburu-buru untuk menghadiri kelas.

Bahkan jika dia dan Gu Yu tetapi disini seharian, dia tidak cemas.

Dia bisa menunggu untuk melihat sampai kapan Gu Yu bersedia mengatakan yang sebenarnya.

Gagasannya hanya untuk memaksa Gu Yu mengatakan yang sebenarnya, tetapi disaat menunggu, arti pandangannya perlahan-lahan berubah.

Gu Yu lembut dan putih, dan dengan tidak berdaya terkurung dalam lengannya. Dari tinggi Shangyuan, dia bisa melihat rambutnya yang halus, juga pusar kepalanya yang imut.

Melihat ini, matanya perlahan dalam.

Dalam sentuhan pelukan, Shangyuan tidak suka menahan kesabaran.

Jadi, dia segera menekan Gu Yu ke sudut, satu tangan di atas kepalanya, dan tangan lainnya menyentuh wajahnya.

Jari-jari ramping putih menyentuh pipinya ke cuping telinga, dan kemudian meluncur di sepanjang lekuk sisi wajah hingga ke sudut bibirnya.

Jari-jari dingin itu perlahan meluncur lembut di sepanjang garis bibir, dan kemudian menggosoknya membuat Gu Yu merinding.

Suhu di wajah Gu Yu tanpa sadar semakin meningkat. Dia masih bertahan dan bertahan, sampai akhirnya, dia tidak bisa menahan diri. Dia meraih pergelangan tangan Shangyuan.

Suara Gu Yu bergetar dan pipinya merah. “Kau … jangan sentuh.”

Shangyuan hanya menatapnya. Meskipun tidak berbicara, makna yang diungkapkan jelas.

– Selama Gu Yu mengatakan yang sebenarnya, dia akan berhenti.

Jadi, Gu Yu menutup mulutnya lagi, dan melepas tangannya, membiarkan Shangyuan terus ‘menyentuh’nya.

Bo Shangyuan saat ini begitu senang, dan untuk jawaban dari Gu Yu, dia tidak begitu mendesak.

Dia terus menyentuh dan mencubitnya wajah Gu Yu dengan penuh antusiasme.

Sementara hati Gu Yu terus berdebar lebih kencang mendapat perlakuan ini.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments