77. Tidak tahu harus berkata apa

Pelajaran kedua adalah pelajaran sejarah.

Guru kelas sejarah menerangkan pelajaran dengan penuh hasrat di podium. Namun, Gu Yu yang merupakan perwakilan dari kelas sejarah, hanya linglung selama kelas berlangsung.

Gu Yu menatap kosong buku didepannya dan matanya tidak berkedip.

Guru sejarah di podium telah menyebutkan isi halaman 163 di buku teks, namun buku teks yang tersebar di depannya masih berada di halaman 160.

Sepuluh menit, itu belum berubah.

Gu Yu biasanya berkonsentrasi saat kelas.

Namun untuk kali ini, dia tidak bisa menahannya.

Ujian akhir akan tiba dalam dua minggu, dan Gu Yu tahu bahwa ia harus fokus belajar. Namun jika dia seperti ini setiap hari, bahkan jika hasilnya masih bagus, itu pasti turun.

Tapi dia tidak bisa menahannya.

Gu Yu tahu kebenaran ini, tapi dia tidak bisa mengendalikan kepalanya.

Dia tidak bisa tidak memikirkan sesuatu yang lain diluar pelajaran.

Misalnya kata suka.

Atau mungkin, Bo Shangyuan.

Lalu adegan keduanya dalam bus seperti slide, telah diputar bolak-balik dalam pikirannya.

Bukan hanya itu, tetapi juga adegan di mana keduanya berpapasan di luar pintu.

Dan pada sabtu malam, adegan saat Shangyuan mabuk di sofa ruang tamu.

Gu Yu juga mengingat kata-kata yang dikatakan Jin Shilong dalam grup kemarin.

‘Tampaknya kau benar-benar menyukai pria dalam serial TV.’

‘Jika kau tidak menyukainya, kenapa kau memimpikannya.’

Dicium pria yang kaya dan tampan, itu bukan mimpi buruk!

Gu Yu merenung.

Suka …

Apakah dia suka Bo Shangyuan?

Tapi…

… Bagaimana itu disebut suka?

Pada saat ini, guru sejarah di podium tiba-tiba berteriak. “Gu Yu, kau bangun dan jawab pertanyaan ini.”

Gu Yu tanpa sadar berdiri. Tetapi karena dia hanya linglung, dan tidak memperhatikan sama sekali, jadi dia tidak tahu apa yang diminta guru sejarah.

Tepat ketika Gu Yu siap untuk jujur ​​bahwa dia tidak mendengarkan dengan cermat, pada saat ini, Jiang Zhenshan menyenggol dengan sikunya.

Gu Yu tertegun, melihat ke arahnya.

Jiang Zhenshan mendorong buku sejarahnya ke arah Gu Yu, dan kemudian menggambar lingkaran di suatu tempat.

Gu Yu dalam keadaan linglung menjawab pada guru sejarah, “Ini adalah Dinasti Jin.”

Guru sejarah bisa melihat situasinya itu, namun karena kinerja Gu Yu selalu baik, dan juga merupakan perwakilan dari kelas sejarah jadi belum mengatakan apa-apa untuk sementara waktu.

Namun setelah sepuluh menit berlalu, Gu Yu masih linglung, jadi guru sejarah tidak bisa menahan diri.

Seandainya tadi Gu Yu tidak bisa menjawab, guru sejarah akan memberi ceramah.

Namun tetap saja, begitu Gu Yu kembali duduk, guru sejarah tidak bisa menahan diri untuk mengatakan, “Sebentar lagi ujian akhir, dengarkan kelas dengan cermat, jangan melamun.”

Gu Yu tidak pernah diceramahi dan tiba-tiba ditegur agar tidak melamun, membuatnya malu.

Gu Yu menunduk dan berkata dengan sopan, “… Aku minta maaf guru, aku tidak akan melakukannya lagi.”

Guru sejarah selalu sangat diyakinkan oleh Gu Yu. Dia berkata dengan santai. “Kedepannya lebih perhatikan lagi.”

Setelah itu, kelas kembali dilanjutkan.

Gu Yu mencoba menyingkirkan suasana hati yang berantakan dan mulai mendengarkan dengan cermat.

Jiang Zhenshan dengan hati-hati menatap Gu Yu, ingin bicara namun mengurungkan niat.

Setelah kelas berakhir.

Shen Teng yang duduk di depan, segera berbalik dan dengan penuh rasa ingin tahu bertanya, “Xiao Yu Yu, apa yang kau pikirkan di kelas tadi?”

Secara alami, Gu Yu berbohong. “… Aku sedang memikirkan ke mana harus pergi selama liburan musim dingin.”

Seperti biasa, Shen Teng tidak curiga.

Dia mulai bersemangat mendengar tentang liburan.

Matanya berbinar. “Datang ke rumahku untuk bermain! Dirumahku ada makanan ringan dan pemanas, semuanya lengkap!”

Jin Shilong mencibir. “Game terus.”

Shen Teng menggaruk kepalanya dan tersenyum tengil, “Tidak mudah untuk berlibur. Waktu libur harus dimanfaatkan dengan bermain game.”

Jin Shilong mengabaikan topik game yang hanya ada dikepala Shen Teng. Dia bertanya hal lain, “Bagaimana dengan Ma Cheng? Kau tidak mengajaknya liburan musim dingin?”

Mendengar itu, Shen Teng sangat emosi, “Kenapa kau tiba-tiba membahasnya!”

Jin Shilong tidak ingin berpikir. “Bukankah dia kekasihmu?”

Shen Teng mengumpat, berteriak. “Sejak kapan dia jadi kekasihku!”

Jin Shilong berkedip, “Bukankah pengikutnya selalu memanggilmu kakak ipar?”

Shen Teng cemberut. “Itu … itu mereka sendiri yang memaksa memanggilku begitu, … apa … apa urusannya denganku!”

Tepat ketika Jin Shilong dan Shen Teng tengah berdebat, Gu Yu samar-samar mendengar sesuatu.

Itu dari barisan depan deret mereka.

“Aku dengar Liu Yue baru saja pergi ke Kelas A dan menyatakan cinta pada Bo Shangyuan, benarkah?”

“Ya, aku juga dengar.”

“Wow … Shangyuan baru saja putus dengan kekasihnya, dan dia langsung menyelinap masuk, itu terlalu menjijikkan.”

“Ini tidak terlalu normal. Jika dia tidak mengambil kesempatan ini, ketika kekasihnya tiba-tiba menyesal dan kembali memperbaiki hubungan dengan Shangyuan, maka tidak ada kesempatan.”

“Oke, apa menurutmu Shangyuan akan menerimanya?”

“Pasti ditolak. Gadis dikelasnya bahkan juga bunga di kelas F tidak diliriknya, bagaimana mungkin dia akan melihatnya?”

“Dan juga, selera Bo Shangyuan pasti sangat tinggi, bagaimana bisa dia akan terima. Kira-kira tipe seperti apa yang dia suka?”

“Aku tidak tahu … Pastinya harus cantik dan nilai bagus.”

“Oh, bagaimanapun, itu bukan kita.”

Gu Yu diam-diam mendengarkan dialog antara kedua gadis itu, kelopak matanya turun.

Hm … Lupakan saja.

Bahkan jika dia suka Shangyuan, memangnya Shangyuan akan menyukainya? Entah dia suka atau tidak, Shangyuan tidak akan menyukainya.

Jadi, mengapa repot-repot menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak berguna ini.

Pada saat ini, Shen Teng tiba-tiba memanggilnya. “Xiao Yu Yu! Menurutmu dia keterlaluan kan!”

Shen Teng menunjuk ke Jin Shilong sambil berteriak padanya.

Gu Yu tidak tahu apa yang dikatakan Jin Shilong dengan Shen Teng, dan tanpa sadar dia hanya bergumam mengiyakan.

Mendapat dukungan, Shen Teng semakin sombong berkata, “Ha, lihat, Xiao Yu Yu berpikir kau keterlaluan!”

Jin Shilong memandang kedua orang itu dan mendengus. “Kalian berdua membullyku!”

Setelahnya dia berbalik dengan depresi.

Shen Teng sangat sombong melihatnya, dia kembali mengatakan sesuatu kepada Jin Shilong, tetapi Gu Yu tidak mendengarkan.

Gu Yu menundukkan kepalanya dan mengeluarkan ponsel.

[ Kau pulang duluan saja siang ini. ]

Gu Yu merasa bahwa dia harus membuka sedikit jarak dengan Shangyuan dalam beberapa hari.

Atau, katakanlah, sedikit lebih jauh darinya.

Sampai dia benar-benar bisa melupakan kenyataan bahwa dia mungkin menyukai Shangyuan, dan ketika melihatnya lagi, dia bisa tenang seerti biasa, kinerjanya juga sama seperti biasanya, maka dia bisa menghadap Shangyuan lagi.

Pihak lain membalas dengan sangat cepat.

? ]

[ Aku ada urusan. ]

Apa yang terjadi. ]

[ Ada teman sekelas yang berulang tahun. Aku akan pergi membeli hadiah dengan teman sekelas yang lain. ]

Shangyuan melihat layar ponselnya tanpa ekspresi, lalu berbalik pada Duan Lun di belakangnya, berkata, “Beri aku nama semua siswa kelas E dan tanggal lahir.”

Duan Lun memandangnya dengan bingung, dia segera mengubungi ketua kelas dari kelas E untuk meminta datanya.

Setelah mengirimnya pada WeChat Shangyuan, Duan Lun bertanya. “Kenapa kau menginginkan nama siswa kelas E dan tanggal lahir?”

“Bohong.”

“… ha?”

Seperti tebakannya, si pembohong kecil … berbohong lagi.

Shangyuan menatap daftar ulang tahun dilayar ponselnya tanpa ekspresi.

Tapi dia belum akan mengekspos kebohongan Gu Yu.

Dia ingin melihat seberapa jauh Gu Yu akan terus berbohong.
.
.

Di kelas keempat pagi itu, siswa di kelas mulai mengepak barang-barang dan pergi, tetapi Gu Yu hanya duduk dan tidak bergerak.

Shen Teng yang sudah mengemas buku pelajaran dan akan bersiap pergi, bingung melihat Gu Yu, “Kau tidak berkemas?”

Gu Yu balas dengan pelan. “… menunggu.”

Shen Teng berpikir bahwa dia sedang menunggu Shangyuan dan tidak banyak berpikir, bergumam oh, lalu pergi.

Gu Yu menunggu sampai orang terakhir di kelas pergi, dan dia akhirnya bangkit, mulai mengemasi barang-barang di atas meja, siap untuk pergi.

Ketika Gu Yu meninggalkan ruang kelas, sekolah hampir sepi.

Melihat situasi ini, dia menarik napas panjang.

Tidak ada Bo Shangyuan didekatnya, memang jauh lebih mudah.

Meskipun … Sedikit tidak terbiasa.

Disisi lain, Bo Shangyuan berdiri dibalik jendela di lantai dua, dengan ekspresi kosong menatap Gu Yu meninggalkan sekolah, matanya dalam.
.
.

Gu Yu mulai menghindari Bo Shangyuan.

Posisi Gu Yu ada di dekat jendela, selama seseorang melewati jendela, selama dia menoleh, dia bisa melihatnya.

Jika teman sekelas yang memiliki hubungan baik dengan Gu Yu melewati jendela, tiga dari lima orang akan berjongkok di koridor lalu mengagetkannya ketika tidak memperhatikan.

Ada juga Bo Shangyuan yang menganggur akan pergi ke lantai pertama dan ‘menyentuhnya’. Baik mencubit wajah, atau menyentil kepalanya.

Selain itu guru kelas yang hanya berdiri di jendela tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menakutinya.

Sebelumnya, jendela selalu terbuka.

Tapi sekarang, Gu Yu menutup jendela.

Adapun alasannya, tidak perlu dikatakan lagi.

Tidak hanya itu, jika ini adalah waktu kelas, saat dia tidak sengaja melihat Shangyuan lewat di koridor, untuk mencegah keduanya saling berpandangan, Gu Yu langsung berpura-pura tidur di atas meja.

Ketika waktu rehat, Gu Yu tetap diam dibangkunya.

Bahkan jika dia ingin pergi ke toilet, dia mencoba untuk bertahan.

Pokoknya, selama dia tidak berpapasan dengan Shangyuan, itu cukup.

Untuk alasan ini, para guru di kelas E merasa tersentuh dengan Gu Yu yang sudah menjadi peringkat satu tetapi tetap berusaha keras untuk tetap dikelas.

Adapun WeChat, jika Shangyuan mengirim pesan, dia tidak akan membalasnya.

Jika itu benar-benar pesan yang harus dijawab, maka dia akan menunggu beberapa saat untuk membalas. 

Jika Shangyuan bertanya mengapa dia tidak membalas pesan lebih awal. Dia akan menemukan alasan ‘maaf, tidak melihatnya’.

Dan, setelah menjawab seperti itu, biasanya dia akan segera mencari alasan untuk mengatakan bahwa teman sekelasnya mencarinya, atau ponsel lowbat dan sebagainya sehingga obrolan keduanya tidak berlanjut.

Jadi saat ini, isi obrolan keduanya tidak lebih dari lima kalimat.

Secara alami, itu bukan karena Shangyuan, tetapi karena Gu Yu tidak berani mengobrol dengannya.

Dia takut jika lebih sering mengobrol, dia tidak bisa tenang dan mulai berpikir tentang sesuatu yang membingungkan.

Sejak Gu Yu terakhir kali membuat alasan membiarkan Bo Shangyuan pulang duluan, dia terus melakukan hal ini setelahnya.

Alasannya juga aneh.

Entah dia harus tinggal karena ada tugas piket, atau dia akan pergi ke suatu tempat, atau teman sekelas mengajak untuk pergi …

Bahkan jika dia tidak menemukan alasan, dia akan menyusun sementara.

Kadang-kadang, dia merasa alasannya sendiri terlalu konyol, tetapi ajaibnya, Shangyuan tetap percaya.

Bo Shangyuan yang selalu pintar malah percaya pada alasan konyolnya membuat Gu Yu sedikit terkejut.

Tapi apa pun itu, lebih baik begini.

Karena dia sekarang … masih tidak bisa dengan tenang menghadapi Shangyuan.

Namun, Gu Yu tidak tahu bahwa Bo shangyuan sejak awal tahu bahwa dia berbohong.

Pada akhir pekan, lebih mudah untuk menghindar.

Tidak perlu mencari alasan lain, cukup dengan alasan ‘sedang review’.
.
.

Sekarang, satu minggu telah berlalu dan keduanya bahkan belum berpapasan.

Shen Teng yang juga lemot samar-samar menyadari ada sesuatu yang salah.

Di kelas terakhir pagi ini, dia melihat ke arah pintu kelas dengan bingung lalu bertanya pada Gu Yu. “… Kenapa Bo Shangyuan belum datang?”

Shen Teng ingat bahwa dia tidak lagi melihat Shangyuan berdiri dipintu kelas E sejak seminggu yang lalu.

Gu Yu dengan tenang menjawab. “Dia pulang duluan.”

Shen Teng mengerutkan kening. “Kenapa? Apa dia tidak bisa menemukanmu?”

Gu Yu mengemas buku teks di atas meja, “Aku yang memintanya pulang lebih dulu.”

“… Kenapa?”

“Karena terlalu merepotkan.”

Shen Teng semakin lebih bingung, “Merepotkan? Apanya yang merepotkan?”

Hanya pulang sekolah bersama, apanya yang merepotkan.

Shen Teng tidak begitu jelas.

Gu Yu tidak menjawab.

Dia dengan cepat mengemas buku teks di atas meja dan berkata, “Aku pulang dulu,” lalu pergi.

Shen Teng melihat kepergian Gu Yu dengan rumit.

… Apa Xiao Yu Yu dan Bo Shangyuan bertengkar?

Disisi lain, Jin Shilong mengerutkan kening, ekspresinya tampak merenung, berkata. “Apakah mungkin … Bo Shangyuan dan kekasihnya balikan?”

Shen Teng bingung. “Mereka balikan, apa urusannya dengan Xiao Yu Yu?

Jin Shilong memandang Shen Teng dengan hina dan berkata, “Jika kau kekasihnya Bo Shangyuan, apa kau suka melihat kekasihmu terus bersama laki-laki lain setiap hari?”

Shen Teng tidak ingin berpikir. “Memangnya tidak normal bagi sesama laki-laki untuk bermain bersama? Kenapa kekasihnya tidak suka?”

“…”

Jin Shilong memutuskan untuk diam.

– Mengobrol dengan orang bodoh benar-benar lelah.

Sisi lain.

Setelah Gu Yu meninggalkan ruang kelas, dia tidak lewat gerbang utama sekolah, tetapi berjalan ke arah pintu samping sekolah.

Ya, untuk mencegah berpapasan dengan Bo Shangyuan.

Gu Yu berpikir begitu tetapi dia tidak tahu bahwa Bo Shangyuan tengah memperhatikannya dibalik jendela di lantai dua.
.
.

Dalam sekejap mata, hari Kamis tiba.

Ada pelajaran yang tidak ingin Gu Yu ikuti.

Kelas pendidikan jasmani.

Bagi yang lain, itu adalah harapan yang ditunggu-tunggu. Karena ujian akhir akan datang, belakangan ini mereka dikurung di ruang kelas setiap hari, pergi ke toilet tidak diizinkan, sepanjang hari hanya belajar.

Karena itu, kelas pendidikan jasmani seperti melihat fajar yang diharapkan.

Bagi Gu Yu, itu sangat menyedihkan.

Karena kelas ini berada pada level yang sama dengan Kelas A.

Ketika memikirkan itu, Gu Yu merinding.

Teman-teman sekelasnya sudah pergi ke lapangan satu demi satu, namun Gu Yu masih duduk diam.

– Dia tidak mau pergi.

Mungkin bersembunyi dari gelap terlalu lama, Gu Yu sekarang bahkan takut melihat Bo Shangyuan.

Jika bisa, Gu Yu ingin alasan sakit.

Disisi lain Jiang Zhenshan yang melihatnya tidak bergerak, bertanya. “Kelas akan dimulai, kau tidak turun?”

Gu Yu diam sejenak lalu berdiri. “Ayo pergi.”

Kenyataannya adalah bahwa tidak ada cara untuk melarikan diri.

Ngomong-ngomong, ini hanya pendidikan jasmani. Seharusnya bukan masalah besar.

Gu Yu mungkin hanya terlalu percaya diri, Shangyuan bahkan mungkin dia tidak akan mempedulikannya.

Kalau tidak, kenapa dia tidak mengirim pesan?

Ketika keduanya pergi ke lapangan, Shangyuan sudah ada disana.

Dia berdiri dengan wajah dingin. Meskipun tidak melakukan apa-apa saat berdiri di sana, itu masih jelas menarik.

Seakan cahaya fokus padanya dan langsung meredupkan laki-laki lainnya.

Gu Yu tertegun, lalu tanpa sadar mengalihkan pandangan.

Entah karena dia merasa bersalah, atau karena tidak berani menatapnya.

Jiang Zhenshan tidak melihat keanehan Gu Yu. Setelah melihat Shangyuan, dia bertanya. “… Apa kau tidak kesana dan menyapa siswa Bo?”

Gu Yu menggelengkan kepalanya.

Jiang Zhenshan bingung namun dia tidak bertanya tentang itu lagi.

Dia lanjut berkata. “… Kalau begitu, apa kau mau menemaniku ke supermarket untuk membeli air minum?”

Gu Yu bergumam mengiyakan.

Setelah itu keduanya pergi ke supermarket sekolah. Tidak jauh, Duan Lun yang melihat adegan ini mengangkat alis, dan ekspresi wajahnya sangat menarik.

Dia berbalik pada Shangyuan dibelakangnya, bertanya. “Bukankah hubungan kurcaci kecil dengan teman satu mejanya sedikit terlalu baik?”

Shangyuan tidak merespon. Seakan telinganya menjadi tuli.

Duan Lun tidak terkejut, dia hanya mengangkat bahu.

Belakangan ini suasana hati Shangyuan sangat buruk.

Karena itu, Duan Lun sampai pada suatu kesimpulan.

– Hubungan asmara sesama laki-laki sangat merepotkan.

Sisi lain.

Jiang Zhenshan membeli dua botol air.

Gu Yu berpikir bahwa sebotol air di tangan Jiang Zhenshan dibeli untuk gadis lain. Dia tidak menyangka itu akan dibeli untuknya.

Karena itu, ketika Jiang Zhenshan menyerahkan sebotol air kepadanya, Gu Yu tidak menanggapi untuk sementara waktu.

Melihat itu, Jiang Zhenshan langsung menaruh botol itu ke pelukannya.

Dia tersenyum, berkata. “… Ini untuk biaya perjalanan.”

Gu Yu reflek ingin mengembalikan, namun Jiang Zhenshan berkata dengan wajah merah. “Itu tidak mahal, hanya sebotol air.”

Gu Yu pun mengurungkan niat.

Detik berikutnya, Jiang Zhenshan teringat sesuatu.

“Oh ya, ada sesuatu …”

Gu Yu bingung dan menatapnya.

Jiang Zhenshan membuka mulutnya dan akhirnya tidak jadi.

“Itu … Nanti saja sampai ujian akhir selesai.”

Gu Yu tidak mengerti.

Masih ada dua menit untuk kelas dimulai, keduanya kembali ke lapangan.

Di usia remaja seperti mereka, interaksi antara laki-laki dan perempuan, bahkan jika itu hanya interaksi biasa, di mata teman-teman sebaya lainnya, artinya tiba-tiba ambigu.

Karena itu, ketika siswa lain di Kelas E melihat keduanya keluar dari supermarket dan memegang botol air yang sama, pikiran mereka langsung ambigu.

Para gadis mengerumuni Jiang Zhenshan sambil tersenyum.

Mereka menunjuk Gu Yu yang tidak jauh, dan berbisik, “Apa kalian bersama?”

Jiang Zhenshan memerah dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak … Kalian jangan bicara omong kosong … Kami hanya teman satu meja…”

Siswa laki-laki juga mengelilingi Gu Yu, merangkul bahunya dan bertanya langsung ke inti, namun bagaimana Gu Yu menjelaskan, mereka tidak mau percaya.
.
.

Tidak jauh dari sana, Duan Lun diam-diam melirik Bo Shangyuan.

Namun, seakan melihat sesuatu yang mengerikan, dia dengan cepat menarik kembali penglihatannya.

Hm, dia baru saja tidak melihat apa-apa.

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments