76. Dia Tahu Bo Shangyuan Tidak Akan Menyukainya

Merenung sejenak, Shangyuan kembali mengirim pesan.

Kenapa ada gelas diatas karpet? ]

Gu Yu mengurai ingatan sejenak sebelum menyadari maksudnya.

Karena semalam dia terlalu kaget tiba-tiba di cium Shangyuan, dia secara tidak sengaja menjatuhkan dan sama sekali tidak memperhatikan.

Jika Shangyuan tidak membahasnya, dia mungkin tidak akan ingat.

Memikirkan ini, ingatan tadi malam tiba-tiba mulai terbangun di benak Gu Yu.

Bagaimana Shangyuan menciumnya begitu detail.

Gu Yu ingat dengan jelas, tapi Shangyuan tidak ingat apa-apa.

Tidak.

Harus dikatakan bahwa Shangyuan sama sekali tidak tahu apa yang dia lakukan.

Menurut akal sehat, lebih baik dia harus mengatakan yang sebenarnya dan mengingatkan Shangyuan lebih mengontrol diri meminum anggur agar tidak lagi mengulangi kejahatan yang sama.

Tapi mungkin karena terbiasa berbohong, Gu Yu tidak berbicara yang sebenarnya.

[ Kemarin aku membuat air madu didapur untuk menetralkan mabukmu. ]

[ Tapi aku sangat ceroboh dan menumpahkannya di karpet. ]

[ Maaf. ]

Kenapa gelasnya tidak diangkat? ]

[ Lupa. ]

Benarkah? ]

Sebenarnya, dalam beberapa hal, Gu Yu tidak berbohong.

Dia memang pergi ke dapur dan membuat segelas air madu.

Juga karena ceroboh jadi menumpahkannya.

Dan dia memang lupa mengangkat gelasnya.

Tidak ada yang salah dengan kalimat Gu Yu.

Tapi Shangyuan tidak percaya.

Si pembohong kecil masih melekat sebagai nama panggilan, mencolok dan eye-catching.

Dan yang paling penting adalah Shangyuan ingat bagaimana ekspresi Gu Yu saat berbohong di depan orang lain, begitu mudah dan lancar dengan raut wajah yang biasa dan begitu meyakinkan.

Jika itu Shen Teng atau Duan Lun, mereka mungkin percaya.

Tapi Shangyuan tidak akan pernah percaya.

Namun, dia tidak bertanya lebih lanjut.

Menurutnya, jika Gu Yu sendiri tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tidak peduli seberapa keras membujuknya, dia tidak akan pernah mengungkapkan sepatah kata pun.

Shangyuan kemudian mencoba untuk merenung sebentar.

Mengingat apa yang terjadi semalam.

Namun, seberapa keras dia mencoba, yang dapat diingat hanya sebelum dia mabuk.

Sedangkan untuk kenangan setelah mabuk, kosong.

Dia menekan alis, sedikit kesal.

… Ck.

Dia mendongak dan memandang waktu.

Hampir pukul dua siang.

Dia kembali mengirim pesan pada Gu Yu.

Aku luang sekarang. ]

[ ? ]

Apa kau ingin datang dan mengulas. ]

Gu Yu diam sejenak.

[ … Aku tidak kesana. ]

[ Aku bisa memeriksanya sendiri di rumah. ]

[ Kau minum banyak anggur kemarin. ]

[ Sebaiknya istirahat hari ini. ]

Shangyuan sudah menduga akan seperti ini tetapi wajahnya tetap berubah sedikit jelek.

Disisi lain Gu Yu menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam.

Itu hanya satu dari sekian alasan.

Padahal, alasan sebenarnya adalah dia masih belum tahu bagaimana menghadapi Shangyuan.

Mengobrol lewat pesan saja membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Jika dia benar-benar di depan Shangyuan, dia tidak tahu bagaimana mengangkat wajahnya.

Karena takut Shangyuan tiba-tiba menanyakan sesuatu, Gu Yu dengan cepat kembali mengirim beberapa pesan.

[ Sudah siang. ]

[ Aku akan lanjut meninjau. ]

[ Selamat tinggal. ]

Untuk mencegah Shangyuan menghubunginya lagi, Gu Yu segera mematikan ponsel.

Dia merasa lega.

Setelahnya dia kembali berbaring di meja yang dingin.

Gu Yu menatap kosong ruang didepannya.

Dia … suka Bo Shangyuan?

… benarkah?

Tapi…

… Apa itu suka?

Bagaimana rasanya?

Gu Yu tidak mengerti.

Dia tidak pernah menyukai siapa pun sebelumnya.

Ketika teman-teman lain mulai merasa senang dengan gadis di kelas yang sama, hanya dia yang acuh tak acuh dan tidak responsif.

Saat di SMP ataupun ketika SMA, dia tidak pernah menyukai siapa pun.

Baik perempuan, maupun laki-laki.

Dia tidak tahu bagaimana rasanya menyukai seseorang.

Karena itu, jika dibilang dia benar-benar suka Bo Shangyuan, dia bingung.

Malam ini, Gu Yu menderita insomnia lagi.

Dia bertanya-tanya apakah dia benar-benar menyukai Shangyuan.

Memikirkannya sepanjang malam, namun, dia masih tidak bisa mendapatkan hasilnya.
.
.

Senin, keesokan harinya.

Sudah waktunya untuk pergi ke sekolah.

Pagi ini, Gu Yu bangun jauh lebih lambat dari biasanya.

Adapun alasannya, tidak perlu dikatakan lagi.

Pukul setengah tujuh pagi, Gu Yu bangkit dari tempat tidur dengan sepasang lingkaran hitam dibawah matanya, dan pergi mencuci muka di kamar mandi.

Berdiri di depan cermin, dia melihat lehernya.

Untungnya, Shangyuan tidak terlalu kuat memberinya tanda.

Bekas merah masih sangat jelas kemarin, tetapi hari ini sudah terlihat samar. Jika tidak melihat dengan hati-hati, tidak ada yang akan menyadarinya.

Dia menghela nafas lega.

Selesai mencuci muka, Gu Yu dengan cepat berganti pakaian dan memakai sepatu, lalu membawa pekerjaan rumah dan keluar.

Ketika akan keluar, Gu Yu tiba-tiba teringat sesuatu, dan aksinya melambat.

Gu Yu menekan gagang pintu, dan kemudian dengan hati-hati membukanya.

Namun … Keberuntungan tidak berpihak padanya.

Ketika membuka pintu, dia melihat Shangyuan baru saja akan pergi ke sekolah.

Ini bukan intinya.

Intinya adalah Shangyuan melihatnya.

Ekspresi Gu Yu kaku sejenak.

Dia tanpa sadar kembali menutup pintu.

Setelahnya, Gu Yu menyadari apa yang baru saja dia lakukan.

Gu Yu terdiam beberapa saat, lalu mengambil napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya.

Sampai Gu Yu merasa bahwa penampilannya saat ini tidak berbeda dari sebelumnya, dia memiliki keberanian untuk kembali membuka pintu.

Benar saja, seperti yang dia pikirkan, Shangyuan masih ada disana.

Tidak hanya itu, Shangyuan masih menatapnya dengan tanpa ekspresi.

Meskipun Gu Yu terus mengatakan pada dirinya sendiri untuk tenang, berpura-pura tidak ada yang terjadi pada sabtu malam.

Tapi …

Sangat sulit untuk bertingkah biasa.

Setelah melihat wajah Bo Shangyuan yang tampan, ingatan akan sabtu malam tiba-tiba pulih dalam benaknya lagi.

Ekspresi wajah Gu Yu kembali kaku, dan kemudian detik berikutnya, tanpa sadar dia mengalihkan pandangannya.

Reaksi Gu Yu secara alami terlihat oleh Shangyuan.

Wajahnya sedikit lebih dingin.

Pada saat yang sama, dia lebih yakin, ada sesuatu yang terjadi pada sabtu malam.

Pandangan dingin Shangyuan menyapu lingkaran hitam di bawah matanya, dan berhenti saat tertuju pada leher.

Meskipun jejak itu samar, itu masih terlihat sekilas.

Kiss mark.

Menatap jejak itu, ekspresi wajahnya tiba-tiba menjadi dingin.

“Dari mana asal tanda di lehermu itu?”

Gu Yu membeku. Tidak menyangka Shangyuan memperhatikan lehernya.

Dia mencoba tenang. “Gigitan nyamuk.”

“… benarkah?”

Gu Yu dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan.

Dia berkata dengan datar, “… Ayo pergi, hampir terlambat.”

Tanpa menunggu jawaban, dia pergi ke lift lebih dulu.

Shangyuan menatap kepergian Gu Yu, matanya menjadi semakin suram.
.
.

Di lift, keduanya diam.

Suasana kental.

Gu Yu tidak tahu harus berkata apa, dan tidak ingin berbicara.

Kenangan yang dia enggan ingat mulai perlahan pulih dalam benaknya, dan seiring berjalannya waktu, detail memalukan itu menjadi lebih jelas di benaknya.

Gu Yu menundukkan kepalanya dan pikirannya benar-benar kacau.

Karena itu, bahkan jika dia tidak melihatnya, dia tidak berani berbicara dengannya.

Meskipun Gu Yu tidak tahu apa dia suka Shangyuan atau tidak dan tidak tahu bagaimana dia menyukainya, tapi dia sangat jelas bahwa dia tidak ingin Shangyuan tahu hal ini.

Entah dia menyukai Shangyuan atau tidak, jelas, sangat mustahil bagi Shangyuan untuk menyukainya.

Yang juga laki-laki.

Shangyuan tinggi, tampan, nilai baik, luar biasa, dan populer, begitu banyak gadis yang menyukainya.

Gadis itu imut dan perhatian, jelas bisa membuatnya suka, dan untuk menyukai laki-laki, itu mustahil.

Yang paling penting adalah bahwa Shangyuan sudah memiliki kekasih. Melalui ini, dapat dilihat bahwa Bo Shangyuan tidak akan pernah menyukai laki-laki.

Dan … bahkan jika dia menyukai laki-laki, dia tidak akan menyukainya.

Ada begitu banyak lelaki yang luar biasa di kelas A, kenapa Shangyuan harus menyukainya yang pendek, memiliki nilai rata-rata, dan tidak ada kelebihan.

Alasan paling penting mengapa dia tidak ingin memberi tahu Bo Shangyuan tentang dia yang mungkin menyukainya, karena menurut temperamen Bo Shangyuan, dia mungkin tidak akan menganggapnya teman lagi.

Oh tidak…

Shangyuan pernah bilang dia tidak ingin berteman dengannya.

Jadi, lebih tepatnya – Shangyuan tidak akan lagi menganggapnya sebagai tetangga.

Gu Yu memikirkannya di lift, sementara Shangyuan hanya berdiri tanpa ekspresi, dan tidak mengatakan apa-apa.

Matanya lurus menatap Gu Yu di cermin lift.

Tepat di bawah keheningan yang kaku dan kental, keduanya turun dari lift dan pergi ke luar komunitas.

Lima menit kemudian, keduanya naik bus.

Karena mereka pergi terlambat hari ini, bangku bus telah terisi penuh.

Keduanya menemukan ruang kosong untuk berdiri, dan kemudian, seperti di lift, diam, tidak ada yang bicara.

Setelah beberapa saat, Shangyuan membuka suara.

“Ada yang ingin kau katakan.”

Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.

Gu Yu tertegun sejenak. “… tidak.”

Shangyuan tidak bertanya lagi.

Pada saat ini, entah apa yang terjadi, bus tiba-tiba rem mendadak.

Gu Yu tanpa sadar membungkuk kedepan.

Melihat bahwa ia akan menabrak sisi kursi, Gu Yu reflek berpegang pada orang didekatnya.

Setelahnya, dia menghela nafas lega.

Namun dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan perlahan menoleh.

Setelah melihat dia berpegang pada Shangyuan, dia tiba-tiba membeku.

Adegan ini pernah terjadi selama periode pelatihan militer.

Tapi masalahnya…

Pada saat itu, Gu Yu merasa biasa saja karena keduanya hanya seperti orang asing.

Tapi sekarang, mereka pernah tinggal bersama selama beberapa bulan, dan Shangyuan sudah sering kontak fisik entah memegang tangannya, menyentuh wajahnya, memeluknya saat tidur … Itu bukan lagi hal yang langka.

Namun, ketika hanya meraih lengannya, Gu Yu tiba-tiba membeku.

Shangyuan tidak bicara tetapi sudut bibirnya sedikit naik.

Dia memandang Gu Yu tanpa berkedip.

Gu Yu dengan cepat menarik tangannya seakan ada sengatan listrik.

Dulu dia tidak merasakan apa-apa.

Tapi sekarang, hanya menyentuh lengannya saja, hati Gu Yu terasa agak aneh.

Canggung dan agak tidak biasa.

Lebih dari itu, Gu Yu merasa bahwa suhu di wajahnya naik sedikit tanpa sadar.

Gu Yu menyentuh wajahnya yang agak panas.

Meskipun Gu Yu tidak tahu alasannya, tapi dia tanpa sadar diam-diam melebarkan jarak dari Shangyuan.

Gu Yu mengambil setengah langkah ke samping, dan secara ajaib, suhu di wajahnya tiba-tiba turun banyak.

Setelah menyadari ini, Gu Yu tetap menjaga jarak dan tidak berani mendekat lagi.

Gerakan Gu Yu sangat hati-hati, seperti takut Shangyuan memperhatikannya.

Namun, Gu Yu tidak tahu, garis pandang Shangyuan selalu tertuju padanya sejak awal.

Dia memperhatikan gerakan Gu Yu yang menjaga jarak dan mendesah lega setelahnya.

Meskipun wajahnya masih dingin dan tidak bicara, tetapi string kewarasan di otaknya sudah putus setengah.
.
.

Dua puluh menit kemudian.

Ketika turun dari bus, Gu Yu berkata, “Sudah terlambat, aku ke kelas duluan,” lalu sambil memeluk pekerjaan rumahnya, dia melarikan diri.

Namun, nyatanya, masih banyak siswa yang baru berdatangan.

Dia berlari tidak seperti takut terlambat, lebih seperti ingin menjauh dari Shangyuan.

… Memang begitu.

Setelah dicium Shangyuan, Gu Yu merasa aneh saat bertemu dengannya.

Dia tidak tahu harus berkata apa, dan tidak berani memandangnya.

Dan tepat di bus, dia takut untuk menyentuh Shangyuan.

Padahal sebelumnya dia tidak merasakan apa-apa bahkan saat tidur bersama.

Hal-hal yang tampak sangat biasa sebelumnya tiba-tiba menjadi canggung.

Sekarang, tidak ada Shangyuan didekatnya, dia benar-benar jauh lebih lega.

Gu Yu datang terlambat, ketika dia masuk kelas, tiga temannya sudah datang.

Saat Gu Yu duduk, ketiganya langsung berbalik fokus padanya.

Jin Shilong bingung. “Gu Yu, cerita yang kau katakan tentang pria yang mabuk lalu mencium orang itu apa judul serialnya? Aku belum menemukannya sampai sekarang.”

Jiang Zhenshan berkata pelan. “Aku juga tidak menemukannya …”

Shen Teng yang mengunyah buah pir berkata. “Aku tidak ingin melihatnya, tetapi aku penasaran tentang serial TV yang aneh ini.”

“…”

Gu Yu terdiam sejenak “… Aku lupa.”
.
.

Pada saat bersamaan.

Kelas A.

Duan Lun menatap wajah Shangyuan yang begitu gelap dan suram membuatnya menelan ludah.

Fck … Bukankah setelah bangun dari mabuk, suasana hatinya akan lebih baik? Bagaimana ini terlihat semakin buruk?

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments