74. Hehe

Untuk membuat Shangyuan nyaman, Gu Yu membiarkannya bersandar pada tubuhnya selama perjalanan dengan taksi.

Tubuh Shangyuan lebih tinggi, dan jelas berat tubuhnya secara alami tidak bisa diremehkan.

Gu Yu memegang bahu Shangyuan dengan kedua tangan, dan hampir tidak bisa bernapas untuk sementara waktu.

Dengan posisi ini, jarak keduanya begitu dekat sehingga membuat aroma anggur yang tajam menguar dihidung Gu Yu.

Dia tidak memikirkan baunya yang tidak menyenangkan, tapi memikirkan ‘kekasih’ Shangyuan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

Suasana hati Gu Yu sangat rumit.

… Sepertinya Shangyuan sangat menyukai gadis itu.

Kalau tidak, dia tidak akan minum banyak anggur.

Karena sangat menyukainya, dia sangat sedih setelah mereka putus.

Gu Yu berpikir begitu karena dalam beberapa bulan tinggal bersama Shangyuan, dia belum pernah melihatnya mabuk.

Gu Yu merasa agak tidak nyaman ketika memikirkan gadis yang Shangyuan suka.

Tidak bisa dikatakan, pokoknya rasanya tidak menyenangkan.

Tapi …

Bukankah dia seharusnya bahagia karena Shangyuan menyukai seseorang?

Gu Yu tidak bisa mengerti suasana hatinya saat ini.
.
.

Taksi berhenti di luar komunitas. Kemudian, sopir yang duduk di kursi pengemudi segera berbalik dan berkata padanya. “Ongkosnya dua puluh.”

Gu Yu merogoh dua puluh yuan dari saku dan menyerahkannya.

Setelah menyerahkan uang itu, Gu Yu membuka pintu dan bersiap untuk menarik Shangyuan keluar.

Namun, dia kembali kesulitan.

Sopir yang duduk di depan melihat adegan itu dan bertanya, “Butuh bantuan, Nak?”

Gu Yu tidak suka menyusahkan orang lain, jadi segera menggelengkan kepalanya secara tidak sadar.

“Terima kasih, tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.”

Sopir tidak lagi berbicara.

Gu Yu meraih lengan Shangyuan dan menaruhnya di pundaknya. Kemudian, dia mengambil napas dalam-dalam dan berusaha keras hingga akhirnya berhasil menariknya keluar dari taksi.

Setelah keduanya turun, taksi pun pergi.

Gu Yu berdiri dengan satu tangan memeluk pinggang Shangyuan dan tangan lainnya memegang lengan Shangyuan dibahunya, dia mendongak ke arah gedung komunitas, menghela nafas, dan mulai berjalan.

Untungnya, lift tidak jauh, mereka tiba dalam beberapa menit.

Namun, Gu Yu merasa bahwa dia telah menghabiskan seluruh kekuatannya.

Setelah menekan tombol dan pintu lift terbuka, Gu Yu melangkah ke dalam.

Dia bersandar dan menghela napas lega.
.
.

Dua menit kemudian, dengan satu klik, pintu lift perlahan terbuka lagi.

Gu Yu kembali mengerahkan tenaga untuk memapah Shangyuan dengan perlahan hingga berhenti didepan pintu rumah.

Dia mengambil kunci dari saku Shangyuan, begitu pintu terbuka dan pemandangan yang akrab didalam rumah menyambutnya, dia merasa akhirnya bisa bebas.

Gu Yu menidurkan Shangyuan di sofa dengan lembut, dan kemudian dia juga menjatuhkan dirinya di sofa.

… sangat lelah.

Dia tidak ingin lagi mengalami hal ini untuk kedua kalinya.

Gu Yu berbaring di sofa sebentar, teringat sesuatu, dan kemudian kembali bangkit.

Pakaian Shangyuan bau alkohol yang tajam dan tentu saja tidak bisa tidur seperti ini.

Gu Yu berbalik dan menemukan satu set piyama dari kamar tidur, lalu datang ke kembali, dia berjongkok dan menepuk wajahnya.

“Bo Shangyuan, bangun.”

Tidak ada tanggapan.

Gu Yu meninggikan volume suara. “Bo Shangyuan!”

Masih tidak ada jawaban.

Gu Yu menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam.

Segera, dia membuka matanya lagi.

Gu Yu menjilat bibirnya, dan kemudian perlahan meraih ujung jaket Shangyuan untuk melepasnya. Namun, dia kesulitan.

Gu Yu terdiam sesaat, dia menoleh ke dapur untuk melihat apa ada sesuatu yang bisa menetralkan mabuk.

Matanya berbinar setelah melihat ada madu.

Dia bergegas ke dapur untuk membuat air madu, lalu kembali lagi ke sofa.

Karena tidak baik memberi minum dengan posisi berbaring, Gu Yu mendudukkannya.

Entah karena tindakan Gu Yu terlalu kasar, atau karena efek mabuknya sedikit menipis, ketika Gu Yu siap menyuapkan air madu, Shangyuan membuka sedikit matanya.

Gu Yu tertegun saat Shangyuan melihat ke arahnya, dia reflek ingin bertanya bagaimana keadaannya, tetapi Shangyuan tiba-tiba memegang dagu Gu Yu dan menipiskan jarak keduanya.

Bibir dingin dengan aroma anggur langsung menempel dibibir Gu Yu.

Gelas berisi air madu ditangan Gu Yu jatuh dan tumpah diatas karpet.

Shangyuan memegang dagunya dan tangan lainnya memeluk pinggangnya erat. Begitu gegabah dan agresif.

Lidah yang basah dan lunak membuka giginya lalu mengait lidahnya, mengisap dengan kuat, menghasilkan suara air dari waktu ke waktu.

Ciuman liar ini membuat kaki Gu Yu lemah. Jika bukan karena dipeluk Shangyuan, dia mungkin sudah merosot di lantai.

Pikiran Gu Yu kosong. Dia hanya bisa membiarkan Shangyuan semakin memperdalam ciuman dibibirnya dengan ujung lidah yang terus bermain didalam mulutnya.

Shangyuan tampaknya benar-benar tidak puas hanya menodai bibir Gu Yu.

Setelah memberi ciuman panjang di bibir Gu Yu, bibirnya yang dingin perlahan meluncur turun dan menempel di leher putihnya.

Shangyuan menggigit dan menghisap lehernya, memberi beberapa kiss mark disana.

Tindakan ini membuat Gu Yu gemetar, dan pada saat yang sama, dia akhirnya sadar.

Gu Yu dengan wajah memerah seketika mendorong Shangyuan lalu berlari pulang.

Jantungnya berdegup kencang dan setelah kembali ke kamar, dia merosot dengan lembut dilantai.

Gu Yu menyentuh bibirnya yang bengkak dan memerah, pikirannya kosong.

Dia … Dia baru saja … dicium Bo Shangyuan.

Batin Gu Yu semakin rumit.

Terkejut, tercengang, kaget, tak bisa percaya … Semua jenis emosi kompleks saling berbaur dibatinnya, selain rasa jijik.

Tetapi dia tidak menyadarinya.

Gu Yu duduk di lantai kamar, berusaha menenangkan diri untuk waktu yang lama.

Di luar pintu, Ibu Gu yang bangun di tengah malam untuk pergi ke toilet, secara tidak sengaja melihat lampu di kamar Gu Yu yang masih menyala. Langkah kakinya berhenti. “Yu Yu, kau belum tidur? Apa yang kau lakukan di tengah malam?”

Gu Yu tersentak, dia kembali berdiri, mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.

“Aku akan tidur sekarang.”

Dia segera mematikan lampu dan berbaring di tempat tidur.

Gu Yu bersiap memejamkan matanya, mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak memikirkan hal tadi, tetapi ketika dia menutup matanya, adegan ciuman itu kembali teringat.

Terlebih lagi, semakin lama matanya tertutup, detail adegan itu semakin jelas dipikirannya.

Ruas jari Shangyuan yang ramping dan putih …

Bibirnya yang tidak pernah senyum …

Bulu matanya yang tebal dan sempit …

Berpikir tentang itu, suhu di wajah Gu Yu naik lagi.

Dia tidak berani memikirkannya, dan dengan cepat membuka mata.

Tapi … sepertinya tidak ada gunanya.

Dalam benaknya, dia masih secara tidak sadar memikirkan adegan itu.

Gu Yu menutup wajahnya sambil berguling-guling di tempat tidur, mencoba berhenti memikirkannya, tapi itu sia-sia.

Gu Yu mengambil ponselnya dan mulai mencari cerita horor.

Dia berpikir, dengan melihat cerita yang menakutkan, dia pasti tidak memikirkan hal itu lagi.

Gu Yu menemukan cerita horor dengan rating tertinggi tentang hantu gentayangan. Baris bawah dari sinopsis mengingatkan pembaca baru untuk tidak membacanya di tengah malam.

Memutuskan cerita ini sangat tepat untuk mengalihkan pikirannya, Gu Yu perlahan membuka halaman pertama.
.
.

Tiga puluh menit kemudian.

Efek cerita ini sangat efektif.

Gu Yu benar-benar tidak lagi memikirkan hal tadi.

Namun, efek sampingnya adalah dia tidak berani menutup mata.

Matanya menyala, meremas selimut, dan menggigil takut.

Kenapa dia membaca cerita horor.

Gu Yu tetap terjaga selama beberapa jam. Setelah hari cerah, dia akhirnya mengantuk.

Gu Yu menutup matanya dan tertidur.

Dia bermimpi.

Gu Yu bermimpi Shangyuan sedang bermain basket di lapangan dengan siswa lainnya, dan dia hanya duduk diam menyaksikan mereka bermain.

Gadis-gadis disekitarnya memberi semangat pada Shangyuan.

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Skor di lapangan basket sangat terpaku, dan kemungkinan mereka akan kalah jika menjatuhkan bola.

Di paruh kedua pertandingan, skor masih belum membuka celah. Di akhir pertandingan, hanya ada lima detik tersisa. Pada saat ini, dia melihat aksi palsu dari Shangyuan yang menipu pemain lawan, dan kemudian mencegat bola. Setelah mencegat bola, Shangyuan langsung menembak untuk mencetak tiga angka.

Disaat bersamaan, peluit di akhir pertandingan berbunyi.

Tim Bo Shangyuan berhasil memenangkan pertandingan.

Semua gadis yang hadir berteriak dan meneriakkan nama Bo Shangyuan.

Gu Yu juga ikut bahagia, dan membuka mulut ingin mengatakan sesuatu. Namun, entah bagaimana dia tidak bisa mengeluarkan suara.

Dia menyentuh tenggorokannya dengan bingung.

… Kenapa dia tidak bisa bicara?

Disaat yang sama, Shangyuan di lapangan basket tiba-tiba berjalan ke arahnya.

Suasana di sekitar Gu Yu menjadi halus.

Gu Yu masih dalam kebingungan, mendongak.

Namun, sebelum dia bisa melihat wajah Shangyuan, dagunya seketika dipegang dan di bawah mata semua orang, Shangyuan tanpa ekspresi langsung menciumnya.

Gu Yu kaget dan tiba-tiba terbangun.

Dia menyentuh dahinya, penuh keringat dingin.

Mimpi ini … mengerikan.

Gu Yu menoleh dan melihat waktu, sudah jam 10:30 pagi.

Untungnya, ini akhir pekan, tidak ada kelas.

Gu Yu membuka selimut dan bangkit dari tempat tidur, mengganti piyama dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Tepat ketika Gu Yu berdiri di depan cermin kamar mandi, dia secara alami melihat beberapa titik merah di lehernya.

Itu seperti bekas gigitan nyamuk.

Namun, sekarang adalah musim dingin, mana ada nyamuk?

Gu Yu menyeka bekas merah itu.

Tidak sakit.

Dia semakin bingung.

Tapi setelah beberapa saat, dia tiba-tiba teringat sesuatu.

Gu Yu tertegun dan seketika memerah.

Dia cepat-cepat mencuci muka dan kemudian meninggalkan kamar mandi.

Ayah Gu yang sedang membaca koran di ruang tamu melihat wajahnya dan bertanya. “Kenapa wajahmu begitu merah? Demam?”

“… tidak.”
.
.

Sore.

Karena ayah Gu meminta Gu Yu untuk tidak menganggu Shangyuan, jadi sekarang di akhir pekan, Gu Yu mereview pelajaran sendirian di kamar tidur.

Kemarin, Gu Yu bisa meninjau dengan lancar seperti air mengalir, tetapi hari ini, dia tidak bisa tenang.

Dia berusaha keras untuk berkonsentrasi, tetapi setengah hari berlalu dengan sia-sia.

Gu Yu frustrasi dan berbaring di atas meja.

Dia menyerah.

Gu Yu mengambil ponsel dan menggeser layar mengeskplor pesan dan galeri dengan bosan.

Tiba-tiba, sebuah pop up pesan WeChat keluar.

Xiao Jin Jin Lucu [ Apa yang kalian lakukan di rumah hari ini ~]

Gu Yu melihat pesan itu kemudian membuka WeChat.

Setelah membuka WeChat, grup WeChat bernama ( Kami tidak suka belajar ) digantung di bagian atas bilah obrolan WeChat.

Grup WeChat ini baru saja dibuat.

Ujian akhir yang akan segera tiba membuat ketiga temannya merasa sangat gugup. Setiap pagi ketika mereka tiba di sekolah, mereka akan bertanya satu sama lain apa yang ditinjau di malam hari.

Setelah satu minggu, Jin Shilong mengusulkan bahwa lebih baik untuk membuat grup WeChat. Jika ada sesuatu untuk dikatakan, katakan saja dalam grup.

Jadi, grup beranggotakan empat orang itu dibuat.

Xiao Jin Jin Lucu adalah Jin Shilong.

Jin Shilong mengirim pesan dan dengan cepat mendapat dua tanggapan.

(= ∩ω∩ =) [ Sedang mengulas… ]

HEHEHEApa lagi, tentu saja main game! ]

(= ∩ω∩ =), Jiang Zhenshan

HEHEHE, Shen Teng.

Melihat Gu Yu tidak menjawab, topik tiba-tiba beralih ke Gu Yu.

HEHEHE [ Xiao Yu Yu, kau tidak balas. ]

(= ∩ω∩ =) [ Dia pasti sedang mengulas … ]

(= ∩ω∩ =) [ Ah, nilainya sangat bagus, dan masih bekerja keras, aku juga harus terus berusaha. ]

HEHEHE [ Siswa biasa tidak ingin bicara. ]

HEHEHE [ 🤐 ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Mungkin dia sedang mengulas bersama Bo Shangyuan? ]

(= ∩ω∩ =) [ Oh benar juga… ]

Gu Yu membalas…

[ Aku sedang bermain ponsel. ]

Karena Gu Yu tidak memiliki obsesi dengan nama panggilan, dan karena WeChat-nya hanya memiliki beberapa teman, nama panggilan WeChat-nya selalu menjadi nama aslinya.

HEHEHE [ Apa aku bilang, Xiao Yu Yu tidak suka belajar. ]

(= ∩ω∩ =) [ Eh, tapi bukankah Shangyuan  membelikanmu Huanggang? ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Ah ya, Bo Shangyuan tidak membantumu membuat kelas di akhir pekan? ]

Gu Yu terdiam.

Dia perlahan mengetik kata di keyboard.

[ Aku sudah pulang sekarang, tidak lagi tinggal bersamanya. ]

(= ∩ω∩ =) [ Ah, begitu …]

Xiao Jin Jin Lucu [ ah ah ah ah ah ah kenapa!!! ]

HEHEHE [ Bagus! Bagaimana kau bisa hidup dengan orang tidak normal seperti dia setiap hari! ]

Gu Yu menggosok bibirnya dan tidak menjawab.

Setelah sekian lama, kembali mengetik.

[ Aku ingin bertanya. ]

Xiao Jin Jin Lucu [ Ah? Mau tanya apa? ]

HEHEHE [ Tanya apa???? ]

HEHEHE [ 😯 ]

(= ∩ω∩ =) [ Ha? Tanya apa? ]

[ Apa saat seseorang mabuk, dia akan mencium orang didekatnya? ]

Detik berikutnya, Gu Yu mendapat tiga tanggapan yang identik.

Xiao Jin Jin [ Ah?? ]

HEHEHE [ Ah???? ]

(= ∩ω∩ =) [ Ah? ]

Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments