73. Bah, bucin.

Berbeda dengan Xu Yang yang terlihat seperti kulit gandum, penampilan Shangyuan indah dan putih. Seperti barang mewah mahal yang dipajang di etalase dan keindahannya sempurna.
Gadis itu tertegun dan hatinya tampak stagnan sesaat.
Dia kembali menarik pandangannya, dan wajahnya entah bagaimana memerah.
Shangyuan jelas bisa mendeteksi gadis itu diam-diam mencuri pandang.
Tetapi dia abaikan.
Selain Gu Yu, dia terlalu malas untuk peduli pada orang lain.
Suasana hatinya tidak baik saat ini, dia masih minum dengan ekspresi dingin.
Xu Yang dan Duan Lun tahu bahwa Shangyuan tidak boleh diprovokasi. Jadi mereka mengambil posisi duduk yang berlawanan.
Karena mereka teman satu SMP, mereka tahu seperti apa temperamennya.
Tapi gadis yang dibawa oleh Xu Yang tidak demikian.
… karena ini pertama kalinya dia bertemu Shangyuan.
Dia melihat Xu Yang dan Duan Lun sibuk sendiri dengan bermain dadu dan minum anggur, mengabaikan Shangyuan.
Gadis itu bertahan untuk sementara waktu dan akhirnya tidak bisa menahan diri.
Dia merasa tidak adil. “… Kenapa kalian tidak bersamanya?”
Mendengar itu, Xu Yang dan Duan Lu tiba-tiba membeku.
Keduanya berbalik dan menatapnya tidak percaya.
Gadis itu berkedip melihat ekspresi kaku dari keduanya, tidak mengerti situasi saat ini.
Dia kemudian mencuri pandang ke arah Shangyuan.
… Lelaki itu tidak menanggapi.
Dia agak tertekan.
Xu Yang juga mengintip Shangyuan, seketika menghela napas lega.
Xu Yang kembali menatap gadis itu dengan kening berkerut. Nada suaranya sangat tidak sabar. “Kau begitu banyak mengatur, urus dirimu baik-baik. Jika kau tidak bisa tinggal, pulang saja sana.”
Meskipun keduanya berkencan, sikap Xu Yang terhadapnya selalu merupakan sikap tidak sabar. Hanya ketika dia dalam suasana hati yang baik, dia akan sedikit lebih lembut.
Awalnya gadis itu mengeluh tentang ketidakpuasan ini, tetapi setelah waktu yang lama, dia mati rasa.
Mendengar kata-kata Xu Yang, dia membuka mulut dan ingin merespon tetapi Xu Yang sudah membuang muka dan terus bermain dengan Duan Lun.
Dia kembali mencuri pandang ke arah Shangyuan, melihatnya diabaikan oleh dua orang itu dan dirinya sendiri juga diabaikan membuatnya merasa simpatik dari penyakit yang sama.
Dia berulang kali ingin berbicara dengan Bo Shangyuan, tetapi melihat bahwa Shangyuan tidak punya ide untuk berbicara sama sekali, jadi dia menyerah.
.
.
Seolah-olah tidak tahu cara berhenti, Shangyuan terus menuang anggur gelas demi gelas.
Seiring berjalannya waktu, botol-botol kosong berjejer di atas meja.
Melihat itu, Xu Yang terkejut.
Sebotol anggur ini bisa bernilai puluhan ribu. Lebih dari beberapa botol diakumulasikan … Bukankah itu ratusan ribu?
Duan Lun juga tampak kaget.
Bukan karena uang, tetapi karena Duan Lun tidak pernah melihat Shangyuan sampai seperti ini.
Ekspresi Duan Lun rumit.
Sebenarnya … apa yang terjadi antara dia dan kurcaci kecil?
Tapi ini bukan intinya.
Intinya, jika dia terus minum, Duan Lun merasa bahwa sesuatu akan terjadi.
Duan Lun mengerutkan alis dan beranikan diri untuk mencegat gelas di tangannya.
Namun Xu Yang di samping menghentikannya.
Xu Yang menatap Duan Lun dengan ekspresi seakan Duan Lun ingin mencari mati.
“Apa yang kau lakukan?”
Duan Lun tidak mau berpikir. “Akan terjadi sesuatu jika dia terus minum.”
Xu Yang tercerahkan.
Dia bernafas lega, berkata. “Aku pikir kau depresi dan mencari mati.”
“… Apa kau pikir aku seperti orang putus asa?”
“Ya.”
“…”
Xu Yang melambaikan tangannya, “Hanya minum saja, sesuatu apa yang akan terjadi? Paling-paling pergi ke rumah sakit untuk mencuci perut.”
Dia lanjut berkata dengan santai. “Selain itu, bukannya tadi kau bilang dia sedang dalam suasana hati yang buruk hari ini? Biarkan dia minum lebih banyak, mabuk dan tidur. Besok dia akan merasa lebih baik.”
Duan Lun mendengarkan dan mengangkat alisnya. Dia merasa ada benarnya juga jadi dia kembali duduk.
.
.
Seiring berjalannya waktu, musik di bar menjadi semakin keras.
Lampu merah di bar berwarna hijau dan suasana memabukkan.
Xu Yang dan Duan Lun duduk di sofa di bilik minum anggur sambil menonton pemandangan di bar dengan santai.
Tiba-tiba, keduanya tampak melihat sesuatu, dan mereka tertegun.
Keduanya memandang seorang wanita dengan pakaian seksi, mengangkat alis dan penuh minat.
Keduanya saling memandang, dan berada dalam satu kesimpulan yang sama.
“… Pergi?” – Duan Lun
“Pergi.” – Xu Yang.
“Lihat siapa yang bisa mendapatkan nomor telepon lebih dulu.”
“Hukuman apa bagi yang kalah?”
“Menari striptease di atas panggung.”
“… WTF! Hukuman ini terlalu liar!”
“Bilang saja kau tidak bisa bertaruh.”
“Oke, oke, siapa takut!”
Keduanya bersiap untuk pergi ke arah wanita itu, tetapi Duan Lun tiba-tiba memikirkan sesuatu.
Duan Lun menatap gadis yang dibawa Xu Yang.
Dagu Duan Lun sedikit terangkat dan menunjuk ke arah gadis itu. Dia berkata, “Kau punya kekasih dan kau masih berhubungan dengan gadis lain. Bukankah itu tidak bagus?”
Mata Xu Yang berkedut dan menatap Duan Lun. “Sadar tidak, kau orang yang paling tidak memenuhi syarat untuk mengatakan ini?”
Siapa yang tidak tahu bahwa Duan Lun adalah orang yang terkenal suka gonta-ganti kekasih seperti ganti baju.
Duan Lun mendengus dan berkata, “Aku mengatakan ini untuk kebaikanmu. Kau mau berhubungan dengan wanita lain di depan kekasihmu, apa kau tidak takut dia akan marah?”
Xu Yang mencibir, ekspresi hina. “Takut kentut! Apa yang ingin dilakukan Lao Zi, dia tidak bisa mengendalikan!”
Duan Lun memberi jempol pada Xu Yang dan berkata. “Luar biasa.”
Setelahnya keduanya berjalan pergi meninggalkan gadis itu dan Bo Shangyuan.
Biasanya gadis itu akan marah dan kecewa, tetapi kali ini, ketika Xu Yang pergi, dia benar-benar merasa lega.
Dia mencuri pandang pada Shangyuan.
Lelaki itu sudah mabuk.
Meski tampilannya tidak ada perbedaan, tetapi pada kenyataannya, dia sudah mabuk.
Pikiran dalam benaknya mulai agak berantakan.
Shangyuan memejamkan mata.
Melihat matanya terpejam untuk waktu yang lama, gadis itu dengan ragu-ragu bertanya, “Hei … Apa kau baik-baik saja?”
Tidak ada tanggapan.
Meskipun tidak ada respon, bulu matanya sedikit bergetar menunjukkan bahwa dia baik-baik saja pada saat ini.
Bulu matanya panjang dan padat, seperti kipas bulu lipat.
Sisi wajahnya sangat indah, dan bulu matanya panjang dan sempit, dibawah cahaya palang, wajahnya tampak memiliki makna yang memikat.
Gadis itu tertegun, lupa bernapas untuk sementara waktu.
Kemudian, seakan terpesona, dia perlahan mengulurkan tangan dan bersiap menyentuh wajah Shangyuan.
Jarak tangannya yang semakin dekat, pernapasan gadis itu juga disertai dengan semakin banyak ketegangan.
Dan ketika tangannya hendak menyentuh wajah Shangyuan, gerakannya tiba-tiba terhenti oleh suara dari belakang.
Duan Lun berdiri di belakangnya dan bertanya dengan dingin, “Apa yang kau lakukan?”
Gadis itu terkejut dan segera melangkah mundur.
Dia meremas sudut pakaiannya dan tanpa sadar meminta maaf. “Maaf, aku tidak tahu bagaimana … tanganku bisa terulur.”
Duan Lun mendengus dan ekspresinya tidak sabar.
Dia tidak menyangka hanya pergi sebentar, dan ini terjadi.
Tidak heran dia berpikir bahwa sesuatu akan terjadi, ternyata hal ini.
Wanita yang menjadi incarannya dengan Xu Yang tadi ternyata dengan dingin menolak memberikan nomor teleponnya.
Duan Lun sangat bijak, karena ditolak, dia secara sadar menarik diri.
Namun, Xu Yang tidak menyerah, atau bisa dibilang dia sangat gigih dalam taruhan menari striptease dengan Duan Lun.
Duan Lun yang menyerah lebih dulu kembali ke bilik, dan melihat pemandangan itu.
Suasana hati Duan Lun tidak terlalu baik.
Duan Lun menjambak rambutnya sendiri, merasa berang.
Shangyuan orang yang bersih dan tidak suka orang lain menyentuhnya. Jika dia tahu kekasih yang dibawa Xu Yang menyentuh wajahnya, Duan Lun pasti akan kuliti hidup-hidup.
Tentu saja, tidak hanya Duan Lun, tetapi juga Xu Yang.
Adapun gadis itu, karena Shangyuan tidak memukul perempuan, jadi hal itu akan dilimpahkan pada Duan Lun dan Xu Yang.
Begitu memikirkan adegan kemarahan Shangyuan, mata Duan Lun menghitam.
Dia menekan emosinya dan berkata, “Apa kau tidak tahu kalau dia tidak suka ada yang menyentuhnya?”
Gadis itu tertegun, kemudian berbisik, “Kenapa?”
Tanpa diduga, dia bahkan bertanya kenapa, tanda persimpangan imajiner muncul didahi Duan Lun.
Tepat ketika dia hendak meledak, Xu Yang tiba.
Xu Yang masuk kedalam bilik sambil mengayunkan kertas di tangannya, berkata pada Duan Lun. “Lihat, di tanganku …”
Dia berhenti bicara.
Xu Yang melihat bahwa atmosfir di depannya tidak terlalu tepat, jadi dia bertanya. “Apa yang terjadi?”
Duan Lun merespon tidak sabar. “Kau tanya saja pada kekasihmu ini.”
Xu Yang mengalihkan pandangannya pada gadis itu yang kini menyusutkan tubuhnya, diam.
Xu Yang bertanya. “Apa yang kau lakukan?”
Gadis itu tidak menyadari bahwa tindakannya sebelumnya akan memiliki konsekuensi serius, jadi dia dengan cepat menjawab. “Aku melihatnya duduk di sofa dengan mata tertutup dan tidak bergerak. Aku bertanya apa dia baik-baik saja, tetapi dia tidak menjawab. Jadi aku hanya …”
Meskipun dia belum selesai berbicara, Xu Yang seketika pucat.
Xu Yang segera menoleh ke Duan Lun.
Nomor telepon apa itu tadi, dia tidak lagi pedulikan, Xu Yang dengan cepat bertanya. “Apa Bo Shangyuan tahu?”
“Mana aku tahu sialan, kau tanya kekasihmu!”
Xu Yang hanya ingin mati.
Xu Yang menoleh dan menggertakkan giginya, “Katakan, apa yang kau lakukan!”
Ekspresi gadis itu polos. “… Hanya ingin menyentuh wajahnya, bukan apa-apa.”
Dan dia bahkan belum menyentuhnya.
Xu Yang akan meledak. “Apa kau tahu dia siapa?”
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“…”
Disisi lain, Duan Lun segera mengeluarkan ponsel dan menelepon ketua tim kelas E.
Telepon terhubung dengan cepat.
Duan Lun tidak banyak bicara, langsung ke inti.
“Hei, apa kau punya nomor ponsel Gu Yu?”
Pihak lain bingung. “Tidak. Tapi kenapa kau tiba-tiba meminta nomornya?”
Duan Lun tidak menanggapi itu tetapi berkata agak hina. “Kau ketua tim kelas E, tapi kau bahkan tidak punya nomor ponsel teman sekelas? Kau seharusnya tidak menjadi ketua tim, biarkan yang lain menjabat.”
Pihak lain membela diri. “Aku sudah minta, tapi dia tidak memberikannya!”
Duan Lun tidak punya rencana untuk terus berbicara omong kosong dengan pihak lain.
“Tidak ada, tutup telepon.”
Dia siap untuk menutup telepon.
Pada saat ini, pihak lain tiba-tiba berkata. “Meskipun aku tidak punya, tetapi aku punya nomor Shen Teng. Mereka berteman baik, dan duduk dideret yang sama, pasti ada nomor ponsel antara satu sama lain.”
Duan Lun tiba-tiba memikirkannya.
Oh benar, si pria kecil yang selalu bersama kurcaci kecil.
“Berikan nomornya.”
Pihak lain berkata, “Oh, tunggu, aku cari dulu.
Suara layar ditekan terdengar sejenak lalu setelahnya pihak lain berkata, “Ketemu, kau ingat, 188 ********.”
Duan Lun dengan cepat menulis dan berkata, “Terima kasih, aku akan mentraktirmu nanti.”
Setelah itu, Duan Lun menutup telepon, memasukkan nomor yang baru dicatat dan melakukan panggilan.
Xu Yang memandang Duan Lun dengan bingung.
“Kau menelepon siapa?”
Duan Lun mengangkat dagunya ke arah Shangyuan. “Yang membuat Xing Bo bad mood.”
Xu Yang seketika terkejut, “Kekasihnya?”
“Bisa ya, bisa tidak.”
Xu Yang mengerutkan kening, “Apa maksudmu?”
Duan Lun akan menjawab, tetapi telepon sudah terhubung.
Saat ini jam satu pagi, dan malam itu sunyi. Sebagian besar orang sudah tertidur.
Shen Teng juga tidur, dan masih membuat mimpi indah.
Shen Teng bermimpi bahwa tangan Gu Yu menjadi tangannya sendiri dan dia berubah menjadi master game.
Shen Teng bermimpi indah tetapi telepon yang tiba-tiba terdengar di samping tempat tidur membangunkannya.
Shen Teng membuka matanya dan mengangkat telepon, nada suaranya tidak bagus.
“Siapa ini! Menelepon di tengah malam, mengganggu orang tidur!”
Duan Lun langsung bertanya, “Berapa nomor ponsel Gu Yu.”
Shen Teng tertegun, dan langsung bangun.
Dia waspada. “Apa yang kau lakukan minta nomor Gu Yu di tengah malam? Dan kau ini siapa hah?”
Duan Lun mencoba bersabar. “Aku Duan Lun dari kelas A, mewakili Bo Shangyuan meminta nomornya.”
“Bukankah Bo Shangyuan sudah punya nomor Xiao Yu Yu?”
Duan Lun menekan api, “Hilang.”
Shen Teng mendengus dan berkata, “Kenapa kau memintanya di tengah malam, bukan tadi siang?”
Duan Lun mengertakkan gigi dan sudut matanya berkedut, “Tiba-tiba teringat, jadi aku baru memintanya.”
Shen Teng mendengus lagi dan berbisik, “Ada yang tidak beres …”
Meskipun suara Shen Teng sangat kecil, Duan Lun di ujung telepon dapat mendengar dengan jelas.
“…”
Shen Teng dengan enggan berkata, “Nomor Xiao Yu Yu 171 ********”
Duan Lun mencatat.
Setelah Shen Teng selesai, dia bertanya. “Apa ada hal lain untuk ditanyakan?”
Setelah mendapat nomor dari Gu Yu, wajah Duan Lun jauh lebih baik sekarang.
“Tidak.”
Shen Teng tidak mempercayainya. “Kau bilang tidak hah? Benar-benar babi kalau sampai kau meneleponku lagi.”
“…”
Kampret!!!
Duan Lun kini semakin memahami mengapa Bo Shangyuan menyukai kurcaci kecil.
Mulut kurcaci kecil itu beracun, dan teman kurcaci kecil itu juga beracun, satu pabrik dengan Xing Bo.
Duan Lun menutup telepon dan kemudian menghubungi Gu Yu.
Di sisi lain, Gu Yu yang tengah tidur nyenyak seketika terbangun begitu ponsel di samping tempat tidur tiba-tiba berdering.
Gu Yu membuka matanya dan mengangkat ponsel.
Dia melihat nomor asing di layar dengan tatapan samar.
Siapa?
Gu Yu bingung dan menjawab panggilan.
“… Halo?”
Pada saat ini, Duan Lun tidak memiliki kesabaran.
Duan Lun dengan cepat berkata. “Di South Street, bar tiga karat, kesini dan bawa pulang Xing Bo.”
“… ah?”
Duan Lun di ujung telepon telah menutup panggilan dengan cepat.
Dia melihat layar ponsel dan matanya kosong.
Gu Yu mendengar bahwa suara di telepon adalah Duan Lun, tetapi mengapa Duan Lun menyuruhnya pergi ke bar untuk membawa Shangyuan pulang? Apa yang terjadi dengan Bo Shangyuan?
Gu Yu memikirkannya sambil melihat waktu.
Dia hanya bisa bertanya-tanya.
Ini sudah lebih dari jam satu pagi, kenapa Shangyuan bisa ada di bar?
Gu Yu sangat bingung.
Dia menghela napas dan membuka selimutnya.
Meskipun tidak tahu mengapa Shangyuan ada di bar, tetapi karena Duan Lun mendesaknya untuk datang menjemputnya, dia harus pergi.
Gu Yu bangkit, mengganti piyamanya dengan pakaian biasa, dan bersiap untuk pergi.
Karena ini sudah tengah malam, Gu Yu melangkah dengan sangat hati-hati ketika melewati ruang tamu, khawatir membangunkan orangtuanya.
Gu Yu mengenakan sepatunya, meninggalkan rumah, dan kemudian naik taksi ke lokasi yang disebutkan Duan Lun.
Gu Yu pun tiba.
Ketika dia mengangkat kakinya untuk berjalan masuk ke bar, dia dihentikan oleh penjaga keamanan di pintu.
Penjaga keamanan menghentikan Gu Yu dan melihat tinggi badannya. Dia mengerutkan alis. “Siswa SMP tidak bisa masuk.”
Gu Yu tertegun, reflek merespon. “… Aku siswa SMA.”
Melihat wajah Gu Yu yang tampaknya tidak berbohong, penjaga keamanan membiarkannya masuk.
Gu Yu sedikit tertekan.
Kapan dia akan tumbuh lebih tinggi?
Ketika Gu Yu masuk, dia dikejutkan dengan suara musik yang memekakkan telinga di dalam bar.
Dia menyaksikan adegan di mana pria dan wanita menari di bar, membuatnya blank.
Gu Yu berkulit putih dan kecil, dan memiliki aura bersih yang murni dan alami. Terkesan seperti murid yang baik.
Begitu orang-orang di sekitar melihat Gu Yu, mata mereka langsung berubah.
Kemudian, beberapa lelaki berandal, dan beberapa gadis seksi datang mengelilingi Gu Yu dan mengulurkan tangan berniat menyentuhnya.
“Hei, berapa umur adik tahun ini.”
“Kau mau minum? Kakak akan mengajakmu minum.”
“Kau benar-benar putih dan lembut, ini adalah favoritku.”
“Ayo kesini, biarkan kakak menciummu.”
Gu Yu tidak pernah menghadapi situasi seperti itu, tidak tahu bagaimana menghadapinya, dan tidak bisa menahan diri untuk panik.
Disaat yang sama, Duan Lun yang baru saja bersiap untuk pergi ke pintu menunggu Gu Yu, dia melihat adegan ini.
Duan Lun seketika merasa ngeri, dia bergegas dengan cepat menyingkirkan orang-orang di sekitar Gu Yu.
Sial, jika terjadi sesuatu pada kurcaci kecil, dia benar-benar akan mati!
Setelah berhasil mengusir orang-orang itu, dia langsung bertanya dengan cemas, “Apa mereka melakukan sesuatu padamu?”
Gu Yu menggelengkan kepalanya.
Duan Lun mendesah lega.
… Dia masih bisa hidup.
Gu Yu yang tidak melihat Shangyuan bersama Duan Lun, tidak bisa menahan diri untuk bertanya. “… Mana Bo Shangyuan?”
Duan Lun mengangkat dagunya ke arah bilik. “Disana”
Gu Yu memandang Duan Lun dengan tatapan bingung dan berjalan ke arah bilik.
Begitu masuk, dia melihat Shangyuan tengah bersandar di sofa dengan mata terpejam.
Meja didepannya penuh dengan botol kosong.
Gu Yu berkedip dan bertanya-tanya apakah Shangyuan sedang tidur atau hanya menutup mata. Suasana hatinya menjadi rumit.
… Apa Shangyuan seperti ini karena kekasihnya mencampakkannya?
Gu Yu terdiam.
Xu Yang melihat kedatangan Gu Yu lalu melihat Shangyuan, ekspresinya aneh.
Dia berbalik untuk melihat Duan Lun dan bertanya lewat pandangan tentang situasi saat ini.
Mulut Duan Lun berkedut, dia tidak bicara.
Gu Yu membungkuk dan menepuk wajah Shangyuan.
“Bo Shangyuan, bangun.”
Di sisi Xu Yang, setelah melihat tindakan Gu Yu, dia seketika membeku
What … The … Fck!
Shangyuan penuh alkohol, tidak ada respon.
Gu Yu sedikit menghela nafas, kemudian meraih lengan Shangyuan untuk menariknya dari sofa.
Namun, karena tubuh Gu Yu terlalu pendek, dan lebih ringan, seberapa keras dia bersuaha, sulit untuk melakukannya.
Gu Yu berbalik melihat Duan Lun. “Aku tidak bisa menariknya, tolong bantu aku.”
Duan Lun tertegun sejenak lalu melangkah maju.
Hal utama yang dia lakukan adalah sedikit mendekat ke arah Shangyuan, entah bisa didengar atau tidak. “Dia yang memintaku untuk membantu, bukan inisiatifku.”
Gu Yu yang tidak mengerti. “?”
Setelah itu, Duan Lun menarik Shangyuan dan membantunya bersandar di bahu Gu Yu.
Gu Yu membenarkan posisi Shangyuan sampai dia merasa telah stabil, dan siap untuk pergi.
Adapun Xu Yang masih tertegun lama.
Gu Yu berjalan perlahan menyeret Shangyuan, dan untuk mencegah seseorang datang melecehkan di jalan, Duan Lun mengikuti kedua orang itu sampai keluar bar.
Sepanjang jalan, Duan Lun menatap punggung kedua orang itu dan bertanya. “… Apa kau tidak melakukan sesuatu pada Bo Shangyuan baru-baru ini?”
“Tidak.”
Duan Lun mengangkat alisnya, “Kenapa akhir-akhir ini dia tidak begitu baik?”
Gu Yu terdiam sejenak. “Dia sedang dalam suasana hati yang buruk, bukannya karena kekasihnya minta putus?”
Duan Lun kini terdiam sejenak.
Dia tidak bisa menahan diri. “Apa kau tidak tahu…”
Dia tiba-tiba berhenti bicara.
Gu Yu bingung. “Tidak tahu apa?”
Duan Lun melirik ke arah Shangyuan. “Bukan apa-apa.”
Gu Yu bukan tipe yang suka mendesak jika pihak lain tidak ingin lanjut bicara, jadi dia tidak bertanya lagi.
Duan Lun masih penasaran tentang alasan mengapa Bo Shangyuan berada dalam suasana hati yang buruk baru-baru ini. Jadi setelah beberapa saat, dia bertanya dengan tenang. “Bagaimana situasi Shangyuan saat dirumah belakangan ini?”
Gu Yu mendengar ini dan tanpa sadar menjawab. “Aku sudah pulang ke rumah dan tidak lagi tinggal di rumahnya.”
Duan Lun tiba-tiba terdiam.
Dia akhirnya tahu mengapa Bo Shangyuan berada dalam suasana hati yang buruk baru-baru ini.
Dia kembali bertanya, “Apa alasanmu tiba-tiba pulang?”
Gu Yu tidak banyak berpikir. “Itu rumah Shangyuan, bukan rumahku. Aku sudah tinggal cukup lama, bagaimana bisa aku akan tinggal lebih lama. Dan aku tidak bisa membantu selama di rumahnya, hanya bisa menyusahkannya saja. Jadi lebih baik aku pulang.”
Duan Lun membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya, dia menutup mulutnya.
Ketiganya meninggalkan bar, tiba di jalan dan mulai menunggu taksi.
Saat menunggu, Duan Lun menganggur, dan tiba-tiba memiliki pikiran nakal.
Duan Lun mengangkat alisnya, tersenyum jahil. “Ya, masih ada satu hal.”
Gu Yu berbalik. “Hm? Apa?”
Duan Lun berkedip dan berkata dengan tidak hati-hati, “Anggur yang dihabiskan Shangyuan belum dibayar.”
Benar saja, seperti yang diharapkan Duan Lun, Gu Yu mendengar itu langsung bertanya. “Berapa.”
“200.000.”
Setelah mengatakan itu, Duan Lun menatap wajah Gu Yu, menunggu ekspresi terkejutnya.
Namun, Gu Yu masih memiliki wajah yang tenang.
Di bawah tatapan Duan Lun, dia melihat Gu Yu dengan tenang mengambil ponsel dari saku Shangyuan dan kemudian membuka kunci ponsel lalu membuka halaman pembayaran Alipay.
Gu Yu mendongak dan bertanya. “Bisa bayar lewat Alipay?”
Mata Duan Lun melebar, syok.
“Bagaimana kau tahu kata sandi ponsel Bo Shangyuan?”
“Dia memberitahuku.”
“Apa kata sandi pembayaran juga?”
“Hm.”
“…”
Duan Lun dan Bo Shangyuan telah saling kenal selama bertahun-tahun, tetapi dia tidak pernah memberi tahu kata sandi ponselnya pada Duan Lun.
Sial, bahkan kata sandi pembayaran diberitahu, tetapi kurcaci kecil ini belum sadar Xing Bo menyukainya!
Duan Lun tidak tahan lagi.
Tepat ketika ekspresi Duan Lun berkedut, taksi tiba.
Duan Lun menghentikan taksi dan melambaikan tangannya. “Pergilah, cepat.”
Gu Yu membisikkan terima kasih, sambil menopang Shangyuan naik ke taksi.
Ketika mereka berdua pergi, Duan Lun berbalik dan kembali ke bar.
Xu Yang menyambutnya. “Siapa laki-laki tadi …?”
Duan Lun mengambil segelas anggur dan menyesapnya dengan sangat tidak senang.
Setelahnya dia merutuk. “Bah, bucin!”
“???”




Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments