71. Aku tidak bisa selalu menganggumu.

Shangyuan hanya menatap Gu Yu dan tidak berbicara.

Gu Yu tidak mengerti makna ekspresinya.

“…?”

… Apa yang terjadi?

Shangyuan mengalihkan kembali pandangannya.

Gu Yu berniat untuk bertanya lagi. Namun Shangyuan akhirnya merespon dingin. “Lupa.”

Gu Yu tertegun, lalu cukup tertekan, oh.

Tapi kemudian, Gu Yu dengan cepat memikirkan sesuatu.

“… Apa label harganya masih ada?”

Selama itu masih ada, harga bisa dihitung.

“Tidak.”

Gu Yu tertekan lagi.

Kemudian dia dengan ragu berkata. “Kalau begitu kau ingat perkiraan harganya …”

“Tidak ingat.”

Gu Yu yang tidak berdaya menundukkan kepalanya, “… oh.”

Namun, seperti diketahui, pada kenyataannya, ingatan Shangyuan selalu baik.

Keduanya pulang dengan bus, dan tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang jalan.

Shangyuan sedang bad mood, sementara pikiran Gu Yu penuh tentang harga pakaian.

Shangyuan tidak ingat harga pakaian, jadi bagaimana dia bisa mengembalikan uangnya?

Gu Yu merasa tertekan.

Meskipun Gu Yu tahu bahwa Bo Shangyuan tidak kekurangan uang, tapi tetap saja itu bukan haknya menerima sesuatu dengan percuma, dia harus membayar kembali uang itu.
.
.

Tiga puluh menit kemudian, bus tiba di luar komunitas.

Keduanya keluar dari bus dan seperti di biasanya, naik lift ke atas lalu pulang kerumah.

Karena dalam beberapa bulan ini, Gu Yu sudah terbiasa mengikuti Shangyuan, jadi ketika Shangyuan membuka pintu rumahnya, Gu Yu secara tidak sadar mengikutinya masuk ke dalam rumah.

Namun detik berikutnya, dia tiba-tiba teringat…

Ah … dia sudah pulang kemarin.

Suasana hatinya seketika menjadi rumit.

Gu Yu pun melangkah mundur.

Di sisi lain, gerakan Gu Yu terlihat dari awal hingga akhir dipandangan dingin Shangyuan.

Gu Yu sedikit malu. “Aku hampir ikut masuk …”

Shangyuan diam dan tidak ada senyum di wajahnya.

Watak Gu Yu memang lamban dan dia tidak menyadari ada yang salah dengan situasi saat ini.

Dia lanjut berkata. “Kalau begitu aku kembali.”

Shangyuan masih tidak bicara.

Gu Yu tahu bahwa Bo Shangyuan tidak suka berbicara terlalu banyak, jadi dia tidak terlalu banyak berpikir. Setelah mengucapkan selamat tinggal, dia berbalik, bersiap pergi.

Namun, Gu Yu tiba-tiba teringat hal lain.

Soal kekasih Shangyuan.

Gu Yu ragu-ragu dan ingin bertanya, tetapi pada akhirnya, dia menyerah.

Bahkan jika dia bertanya … Lalu akan bagaimana?

Dalam beberapa bulan terakhir, Shangyuan tidak pernah memberitahu tentang kekasihnya, dan itu berarti Shangyuan memang tidak ingin cerita padanya.

Karena itu, mengapa dia harus mempermalukan diri bertanya tentang ini?

Memikirkan hal itu, Gu Yu menunduk, mengurungkan niat lalu pergi masuk ke rumahnya.

Shangyuan hanya diam melihat kepergiannya.

Sisi lain.

Setelah Gu Yu kembali ke rumah, kalimat pertama ayah Gu adalah bertanya. “Berapa harga pakaian yang dia belikan untukmu?”

Gu Yu balas dengan pelan. “Aku sudah tanya, tapi dia lupa.”

Ayah Gu mengernyitkan alisnya dan ekspresinya sulit. “Bagaimana ayah bisa mengembalikan uangnya?”

Kemudian dia bertanya lagi. “Apa kau masih ingat perkiraan harga pakaiannya?”

Gu Yu merenung sejenak, lalu berkata. “Sepertinya enam atau tujuh ribu …”

Ayah Gu tanpa berpikir merespon, “Enam atau tujuh ribu? Tidak apa-apa …”

Dia bersiap untuk mentransfer uangnya. Sambil menggosok bibir, bergumam pelan, “Pakaian dengan harga enam atau tujuh ribu …”

Ayah Gu tiba-tiba membeku.

Cukup lama sebelum menarik napas panjang dan bertanya, “Berapa banyak pakaian yang dia belikan?”

Gu Yu berpikir sejenak dan tidak yakin. “Sekitar dua puluhan … dan beberapa piyama …”

Ayah Gu hampir tidak bernapas.

Suaranya bergetar dan bertanya. “Berapa harga piyama?”

Gu Yu berpikir sejenak dan berkata, “Sepertinya tidak mahal, hanya beberapa ratus …”

Ayah Gu menghela nafas dan kemudian dengan ragu bertanya. “… Berapa banyak piyama?”

Suara Gu Yu tiba-tiba lebih rendah.

Gu Yu menunduk dan bergumam, “Dua puluh…”

Ayah Gu seketika tampaknya telah kehilangan semua suara.

Meskipun harga piyama jauh lebih murah daripada pakaian lain, hanya beberapa ratus, tetapi jika itu dua puluh potong diakumulasikan … maka itu tidak murah.

Ayah Gu tidak mengerti. “Bagaimana dia membeli begitu banyak pakaian untukmu? Kau meminta untuk membelinya, atau dia yang membelinya untukmu.”

“… dia membelinya sendiri.”

Ayah Gu mengerutkan kening. “Kau tidak menghentikannya?”

“Aku tidak tahu kapan dia membelinya.”

Ayah Gu jatuh dalam pikiran yang dalam.

“Bukankah dia terlalu baik padamu?”

Gu Yu tidak mengatakan apa-apa.

Ayah Gu berkata, “Dia membiarkanmu tinggal di rumahnya. Menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli pakaian untukmu dan juga memberimu kelas tambahan … Bukankah itu terlalu baik?”

Gu Yu juga mempertanyakan itu, tetapi ia tidak mendapat jawaban.

Gu Yu terdiam.

Ibu Gu yang tengah memasak di dapur mendengar percakapan mereka, jadi berteriak. “Bukan Yu Yu yang minta dibelikan, tidak perlu bayar kembali uangnya.”

Jika satu atau dua ribu, bahkan jika dijumlahkan, itu akan lebih dari seratus ribu, bagaimana mereka bisa menanggungnya.

Ayah Gu mengerutkan alis, tidak senang. “Bagaimana seperti itu? Kita tidak bisa mengambil keuntungan! Uang tidak dikembalikan, mau taruh dimana wajah kita!”

Setelahnya, ayah Gu menggigit giginya dan segera mengirim lebih dari 100.000 pada Gu Yu.

“Kau berikan uang itu padanya, dan jangan biarkan dia membelikanmu pakaian lagi.”

Gu Yu merasa sangat bersalah karena orangtuanya harus menanggung biaya yang besar karena dirinya.

Dia menunduk dan matanya masam.

Fokus ayah Gu bukan pada uang, tetapi yang lain.

“Apa kau melakukan sesuatu untuknya dalam beberapa bulan terakhir?”

Gu Yu merenung dan perlahan menggelengkan kepalanya.

Ayah Gu mengernyitkan alisnya dan berkata dengan nada berat. “Ayah tahu kau tidak bermaksud dan pakaian itu Shangyuan belikan untukmu … Tapi kau tidak bisa selalu menerima kebaikan orang lain begitu saja, tanpa memberinya timbal balik. Jika kau tidak dapat membayar kembali, jangan menerima kebaikan orang lain. Terus menerima lebih banyak, itu bukan lagi tidak ingin menolak kebaikan orang lain, tetapi itu terkesan ingin memanfaatkannya.”

Gu Yu menunduk, mendengarkan.

“Apa Shangyuan masih memberimu kelas tambahan akhir pekan ini?”

“… Ya.”

“Jangan biarkan dia memberimu kelas lagi. Jangan merepotkannya lagi. Dia selalu meluangkan waktu untukmu. Kau harus bisa bekerja keras sendiri.”

Gu Yu diam sejenak.

“… Aku mengerti.”

Gu Yu merenung dengan hati-hati, jika bukan karena dia menghabiskan waktu lebih lama, bahkan pada akhir pekan untuk membuat kelas, mungkin kekasih Shangyuan tidak akan memutuskannya.

Shangyuan selalu tidak pernah pergi menghabiskan waktu bersama kekasihnya, tentu saja akan putus.

Ayah Gu tidak berbicara lagi, dan melambaikan tangannya, menunjukkan bahwa Gu Yu bisa kembali ke kamar.

Saat masuk kamar, Gu Yu bersiap mentransfer uang yang diberikan ayahnya untuk Shangyuan.

Ratusan ribu dari ayah Gu ditransfer ke akun Alipay-nya, dan akun Alipay memiliki fitur bahwa setelah pembayaran dilakukan, itu akan langsung mencapai saldo akun pihak lain, tanpa perlu mengkonfirmasi tanda terima seperti di WeChat.

Gu Yu ingat nomor rekening Bo Shangyuan Alipay, jadi ia langsung mentransfer ratusan ribu.

Setelahnya Gu Yu mengirim beberapa pesan.

[ Ini adalah uang untuk pakaian yang kau belikan. ]

[ Ayahku memintaku mengembalikannya padamu. ]

[ Aku hanya ingat perkiraan harga, tidak ingat spesifik, jika tidak cukup, kau beri tahu aku. ]

Gu Yu mengirim tiga pesan, lalu dengan sabar menunggu balasan.

Tapi tidak pernah mendapat jawaban.

Pada saat bersamaan.

Rumah Bo.

Shangyuan duduk sendirian dimeja makan dan makan siang tanpa ekspresi.

Biasanya yang duduk di depannya adalah Gu Yu, dan sekarang, hanya udara hampa.

Ekspresinya mati rasa dan acuh tak acuh, gerakannya mekanis dan formula, seolah tidak makan, tetapi hanya untuk menyelesaikan tugas.

Shangyuan melihat pesan yang masuk.

Bukan hanya itu, tetapi juga ada informasi transfer ratusan ribu.

Namun dia tidak membalas.

Alasan mengapa tidak ada balasan … Gu Yu tidak tahu.

Gu Yu mau tak mau merasa heran.

Karena biasanya Shangyuan akan segera membalas.

Gu Yu bersiap mengirim pesan lagi, namun ibu Gu berteriak dari ruang tamu. “Keluarlah untuk makan siang!”

Gu Yu mengiyakan dan meletakkan ponselnya.

Tiba dan duduk dimeja makan, dia mendengar ibu Gu menghela nafas dan berkata dengan lemah. “Ini terakhir kalinya kita makan daging. Kedepannya kita hanya bisa makan sayur.”

Ketika Gu Yu mendengar ini, dia menundukkan kepalanya dan berbisik, “Maaf.”

Ayah Gu melirik ibu Gu dan berkata, “Masalah uang, bisa menghasilkannya nanti. Tidak apa sayuran, ini bisa menurunkan berat badan.”

Ibu Gu menatap perut buncit ayah Gu dan mengangguk.

“Sudah waktunya untuk menurunkan berat badan. Jika kau tidak menurunkan berat badan, benar-benar seperti babi.”

“…”

Kedua orang tuanya bercerita, disisi lain Gu Yu menunduk dan makan, tidak mengatakan apa-apa.

Gu Yu merenung: Jika dia bisa menghasilkan uang, itu akan baik-baik saja.
.
.

Sore.

Ketika tiba di sekolah pada sore hari, wajah Bo Shangyuan bahkan lebih jelek daripada di pagi hari.

Wajah tampan dan acuh tak acuh tampaknya ditutupi dengan lapisan es tebal, dan orang yang melihatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak gemetaran.

Semua orang secara sadar tidak mendekat, mereka takut Shangyuan tiba-tiba akan meledak.

Di kelas pertama sore itu, dua siswa laki-laki bermain di ruang kelas, dan mereka bercanda dengan gembira.

Tetapi karena sangat bahagia, mereka tanpa sengaja menabrak meja Shangyuan.

Kedua siswa laki-laki itu memutar kepala mereka dengan kaku dan melihat ke arahnya.

Shangyuan tanpa bicara, hanya melirik mereka dingin.

Hanya sekilas namun keduanya membeku dalam sekejap, mereka segera mengatur kembali posisi mejanya kemudian ​​kembali ke bangku mereka.

Setelah kembali ke posisi semula, keduanya hanya bisa bertanya-tanya.

“Brengsek, apa kita seperti begitu takut padanya?”

“Ya!”

“… Apa kau pikir kita berdua bisa mengalahkannya?”

“Tentu saja! Kenapa harus takut?”

“Kalau begitu, lakukan sekarang?”

“… tidak mau.”

Meskipun mengatakan tidak takut, tetapi keduanya tidak berani memprovokasi Shangyuan.
.
.

Mood Shangyuan suram selama seminggu, sampai akhir pekan lebih baik.

Karena akhir pekan Gu Yu akan pergi ke rumahnya untuk membentuk kelas.

Namun, pagi ini, sebelum 9:00, dia tiba-tiba menerima pesan.

[ Aku tidak akan pergi membuat kelas padamu. ]

Shangyuan diam sejenak.

Kenapa? ]

Gu Yu merespon dengan cepat.

[ Aku tidak bisa selalu mengganggumu. ]

[ Aku selalu mengambil waktumu, kau tidak punya waktu untuk melakukan hal lain. ]

Aku tidak merasa terganggu. ]

Aku tidak punya hal lain untuk dilakukan. ]

[ Tidak, terima kasih. ]

Setelah mengirim pesan ini, Gu Yu memberikan emoji berterima kasih padanya.

Saat bertukar pesan, Gu Yu jarang memakai emoji.

[ Ini untuk nilaiku jadi aku harus bekerja keras sendiri. ]

Shangyuan kehilangan kata-kata.

Gu Yu tidak lagi mengirim pesan.

Shangyuan duduk di sofa, memejamkan mata, seolah menekan sesuatu.

Bo Shangyuan merasa bahwa kewarasannya hampir mencapai titik kritis.

Tampaknya menjadi string yang ketat, yang dapat putus kapan saja. Kemudian, kewarasannya akan menghilang.

Begitu hilang, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Shangyuan dengan dingin melirik layar.

Itu adalah Duan Lun.

Pada akhir pekan, biasanya hanya Duan Lun yang akan meneleponnya.

Adapun kenapa, Bo Shangyuan juga bisa menebak.

Menatap sejenak, Shangyuan akhirnya mengangkat ponsel dan menerima panggilan.

Suara Duan Lun yang akrab terdengar dari ujung telepon.

Duan Lun bersandar di meja bar, dengan santai menyaksikan gadis penari menari di tengah panggung, dia bersiul dan kemudian berteriak ditelepon, “Apa kau tahu siapa yang aku lihat sekarang?”

Shangyuan tidak bicara.

Duan Lun tidak terkejut.

Dia menghela nafas dan melanjutkan. “Aku melihat versi perempuan dari kurcaci kecil, apakah itu alis atau bentuk bibir, itu persis sama dengan kurcaci kecil. Bahkan tingginya hampir sama! Luar biasa.”

Setelah itu, Duan Lun tertawa tengil. “Apa kau tidak ingin datang dan melihatnya?”

Duan Lun sebenarnya sudah memperkirakan Bo Shangyuan tidak akan datang ke bar.

Bo Shangyuan suka suasana tenang, udara bersih, dan benci parfum … Dia tidak akan datang ke bar, tempat yang berantakan.

Oleh karena itu, Duan Lun hanya bertanya sekedarnya.

Tanpa diduga, Shangyuan merespon, “Bar mana.”

Duan Lun mengumpat dan tertegun.

Dia berpikir bahwa dia salah dengar.

Masih dengan tidak percaya, dia memberitahu lokasi bar, lalu Shangyuan diujung telepon langsung menutup panggilan.

Setelahnya, Duan Lun akhirnya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Tunggu, bukankah di akhir pekan Xing Bo biasanya membuat kelas dengan kurcaci kecil? Bagaimana dia mau kesini? Bagaimana dengan kurcaci kecil?

Lagipula, bukankah tempat yang paling dia benci adalah bar?

Apa Xing Bo sedang bergairah?

Atau … Apa kurcaci kecil itu benar-benar selingkuh???

Alis Duan Lun berkerut, ekspresinya rumit.


Donasi buat Choco
Chapter terbaru tidak muncul di Select Chapter jadi klik judulnya dibawah!
Loading

Comments